NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Ditahan Sendiri

​​Pagi itu, matahari baru saja menyembul dari balik atap-atap rumah ketika Arkana sudah sibuk di dapur. Suara spatula yang beradu dengan wajan terdengar pelan, disusul aroma oseng sayur kangkung yang mengepul hangat. Ia sengaja memasak lebih pagi agar Hanifah tidak terlalu lama menghirup aroma bawang yang belakangan selalu membuat istrinya mual.

​Hanifah keluar dari kamar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. "Mas... sudah masak lagi?"

​Arkana menoleh sambil tersenyum. "Iya. Hari ini cuma oseng sayur kangkung sama telur dadar," ucapnya. "Besok kita ke pasar pagi ya beli beberapa bahan makanan."

​Hanifah berjalan mendekat, tetapi baru beberapa langkah ia langsung berhenti. Aroma bawang yang masih tersisa membuatnya refleks menutup hidung. "Hmm..."

​Arkana langsung mematikan kompor. "Sudah, jangan dipaksa dekat-dekat. Duduk saja."

​Hanifah tertawa kecil. "Kalau semua tugas istri dikerjakan oleh Mas Arkana, aku sebagai istri jadi merasa tidak berguna."

​"Loh, siapa bilang?" Arkana menghampiri lalu meraih kedua tangan istrinya. "Tugas kamu sekarang cuma satu."

​"Apa?"

​"Menjaga diri sendiri dan tiga calon penghuni rumah ini," ucap Arkana lembut.

​Hanifah menggeleng geli. "Mas ini..."

​Arkana ikut tertawa. Tak lama kemudian mereka sarapan bersama.

​Sebelum berangkat bekerja, Arkana kembali mengenakan helmnya. Ia menatap Hanifah dengan wajah serius. "Dek."

​"Iya, Mas?"

​"Kalau capek, langsung istirahat."

​"Iya."

​"Jangan berdiri terlalu lama."

​"Iya."

​"Kalau Bibi minta tolong, kerjakan yang ringan saja."

​Hanifah mengangguk. "Iya."

​"Kalau tidak sanggup, bilang sama Bibi."

​"Iya."

​Arkana terkekeh. "Kok jawabannya 'iya' semua?"

​Hanifah ikut tersenyum. "Soalnya kalau jawab yang lain nanti Mas ceramah."

​Arkana mengusap pelan kepala istrinya. "Mas cuma khawatir."

​Hanifah mengangguk. "Aku tahu."

​Setelah mencium punggung tangan suaminya, Hanifah berdiri di teras hingga motor Arkana menghilang di tikungan jalan. Rumah kembali sunyi.

......................

​Di ruang tamu, Bibi Ratna sudah duduk rapi di depan laptop. Hari itu ia bekerja dari rumah karena harus menyelesaikan laporan dan mengikuti rapat daring. Suara ketikan keyboard memenuhi ruangan.

​Hanifah melihat ke arah dapur. Ia kemudian mengambil teko, menyeduh teh hangat, lalu menggoreng beberapa potong pisang yang masih tersisa. Tak lama kemudian, ia membawa semuanya ke ruang tamu.

​"Bi..."

​Bibi Ratna mengangkat wajahnya dari layar laptop. Hanifah meletakkan secangkir teh hangat dan sepiring kecil pisang goreng di atas meja. "Silakan diminum."

​Bibi Ratna memandang teh itu beberapa saat. "Lain kali tidak usah begini."

​Hanifah tampak bingung. "Kenapa, Bi?"

​"Nanti Arkana marah sama Bibi," tukas Bibi Ratna datar. ​"Dia pasti mengira Bibi menyuruh kamu kerja."

​Hanifah buru-buru menggeleng. "Enggak kok, Bi. Aku memang ingin membuatkan."

​Bibi Ratna menutup laptopnya sebentar. Tatapannya kini mengarah lurus kepada Hanifah. "Hanifah."

​"Iya, Bi."

​"Bibi ini lebih tua dari kalian. Punya pengalaman hidup yang lebih banyak ketimbang kalian yang baru menikah. Kalau orang tua memberi nasihat... ya didengarkan."

​Hanifah menundukkan kepala. "Iya, Bi."

​"Jangan nanti kalau sudah menyesal... baru ingat ucapan orang tua. Kepikiran kalau nasihat yang diberikan ternyata benar," tambah Bibi Ratna dingin.

​Hanifah kembali mengangguk. "Iya, Bi."

​Bibi Ratna tidak melanjutkan pembicaraan. Ia kembali membuka laptopnya dan mulai mengetik seperti semula. Suasana kembali hening.

​Hanifah pun kembali ke dapur. Menjelang siang, Hanifah merasa bosan hanya duduk di kamar. Ia melihat beberapa piring bekas sarapan yang belum dicuci.

​"Ini ringan saja..." gumamnya.

​Ia mencuci piring perlahan. Setelah itu, ia mengelap meja makan. Melihat ruang tamu sedikit berdebu, ia mengambil sapu dan membersihkannya sebentar. Semua dilakukan tanpa terburu-buru.

​Namun setelah hampir setengah jam berdiri, pinggangnya mulai terasa pegal. Hanifah memegang punggungnya. "Astaghfirullah..."

​Ia kemudian mengusap perutnya yang terasa mengencang sesaat. "Adek... jangan nakal ya."

​Ia duduk di kursi ruang makan sambil menarik napas panjang. Bibi Ratna yang melihat dari ruang tamu menutup laptopnya. "Kenapa?"

​Hanifah tersenyum kecil. "Perutku agak kram sedikit, Bi."

​Bibi Ratna terlihat tenang. "Itu biasa. Apalagi kamu hamil pertama. Ditambah kembar tiga, rahimnya sedang beradaptasi."

​Hanifah mengangguk pelan. "Jadi tidak apa-apa ya, Bi?"

​"Kalau masih seperti itu, menurut Bibi masih wajar. Yang penting jangan panik," jawab Bibi Ratna santai.

​Ucapan itu membuat Hanifah sedikit lega. "Baik, Bi." Ia memilih kembali beristirahat di sofa.

​Menjelang sore, Bibi Ratna melirik jam dinding. Arkana biasanya pulang sekitar setengah jam lagi. Ia menoleh ke arah Hanifah yang sedang melipat beberapa pakaian bayi.

​"Hanifah."

​"Iya, Bi?"

​"Sudah. Masuk kamar saja," perintah Bibi Ratna.

​Hanifah tampak bingung. "Loh, kenapa?"

​"Istirahat. Nanti kalau Arkana pulang melihat kamu masih berdiri, dia salah paham lagi sama Bibi."

​Hanifah tersenyum kecil. "Iya, Bi."

​Tanpa berpikir macam-macam, ia membawa pakaian bayi itu ke dalam kamar lalu berbaring.

​Tak lama kemudian terdengar suara motor memasuki halaman.

​"Assalamu'alaikum."

​"Wa'alaikumsalam," sahut Bibi Ratna.

​Arkana masuk sambil melepas helm. Ia melihat Bibi Ratna masih duduk di ruang tamu. "Hanifah mana, Bi?"

​"Lagi istirahat. Tadi saya suruh masuk kamar."

​Arkana tersenyum lega. "Terima kasih, Bi."

​Bibi Ratna hanya mengangguk pelan. Arkana sama sekali tidak mengetahui bahwa sebelumnya Hanifah sempat mencuci piring, menyapu, dan mengelap meja. Ia langsung menuju kamar.

​Hanifah yang sedang berbaring tersenyum saat melihat suaminya. "Mas sudah pulang."

​"Iya. Gimana hari ini, Dek?"

​"Baik," jawab Hanifah singkat.

​Ia memilih menyimpan sendiri rasa kram yang sempat muncul siang tadi.

......................

​Malam itu, setelah makan bersama, mereka kembali ke kamar. Hanifah berbaring lebih cepat dari biasanya. Saat lampu dimatikan, rasa kencang di perutnya kembali datang. Kali ini sedikit lebih lama.

​Hanifah menggigit bibirnya pelan sambil mengusap perutnya. Ia melirik Arkana yang sudah tertidur karena kelelahan setelah bekerja seharian.

​Pelan sekali ia berbisik, "Mungkin benar kata Bibi... ini hanya kram biasa."

​Ia memejamkan mata, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang masih tertinggal.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!