NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Mau Cium, Bilang Saja

Naomi mulai memahami satu hal tentang menjadi pacar palsu Kelvin Hartono.

Bagian tersulit bukan berpura-pura di depan orang lain.

Bagian tersulit adalah berpura-pura pada dirinya sendiri.

Sore itu, Kelvin menunggunya di depan gedung fakultas dengan mobil hitam yang terlalu mudah dikenali. Tidak ada pengumuman. Tidak ada pesan panjang. Ia hanya mengirim satu kalimat lima belas menit sebelum kelas selesai.

"Aku di depan. Jangan kabur, Baby."

Naomi membaca pesan itu tiga kali, lalu memasukkan ponsel ke tas dengan wajah panas.

Sinta yang melihat ekspresinya langsung menyipitkan mata. "Dijemput?"

"Mungkin."

"Mungkin itu apa? Mobil hitam di depan itu sampai bikin satpam berdiri lebih tegak."

Ayu yang duduk di belakang mereka mendengus. "Kalau pacar kontrak saja dijemput begini, pacar asli nanti dapat helikopter?"

"Ayu," bisik Naomi panik.

"Apa? Aku mendoakan kemajuan transportasi."

Naomi tidak punya tenaga untuk membalas. Ia hanya merapikan buku, lalu keluar dengan dua pasang mata teman yang menatapnya seperti sedang menonton drama episode baru.

Kelvin bersandar di sisi mobil, memakai kemeja biru gelap dengan lengan digulung. Saat Naomi mendekat, beberapa mahasiswa terang-terangan memperlambat langkah.

"Kita mau ke mana?" tanya Naomi.

"Makan."

"Dengan siapa?"

"Danny dan Michelle."

Naomi berhenti setengah langkah. "Michelle?"

"Temanku."

"Saya belum kenal."

"Makanya dikenalkan."

Kelvin membuka pintu mobil. Gerakannya biasa saja, tapi cukup membuat dua mahasiswi di dekat tangga saling mencolek. Naomi masuk cepat, berharap wajahnya tidak terlalu merah.

Di dalam mobil, ia berusaha duduk tenang. Namun Kelvin berada terlalu dekat. Aroma sabun dingin itu kembali memenuhi ruang, bercampur wangi interior kulit. Di dashboard, satu kaleng es kola tergeletak di cup holder.

Naomi melirik.

Bukan ke kaleng.

Ke tangan Kelvin yang memegang kemudi.

Jari-jarinya panjang, ruasnya tegas, bergerak santai saat memutar setir. Entah kenapa Naomi teringat sentuhan ringan di bahunya setelah film. Hangatnya masih seperti tertinggal di kulit, padahal sudah beberapa hari.

Ia cepat menatap jendela.

"Kalau mau lihat, lihat saja."

Naomi membeku.

Kelvin tetap melihat jalan, tapi sudut bibirnya sedikit naik.

"Saya tidak melihat."

"Bohong."

"Saya lihat jalan."

"Jalan ada di luar. Matamu tadi ke sini."

Naomi merasa wajahnya terbakar. "Kamu terlalu percaya diri."

"Memang."

Tidak ada celah untuk menang.

Naomi menggenggam tali tas di pangkuan. Mobil berhenti di lampu merah. Kelvin akhirnya menoleh, menatapnya cukup lama sampai ia ingin menghilang ke bawah kursi.

"Mau cium," katanya pelan, "bilang saja."

Naomi tersedak napas.

"Apa?"

"Kamu dengar."

"Saya tidak mau."

"Belum."

"Kelvin."

"Iya, Baby?"

Naomi langsung menutup mulut. Memanggil namanya untuk memarahi ternyata tidak berguna jika ia menjawab seperti itu.

Lampu berubah hijau. Kelvin kembali menyetir seolah tidak baru saja menghancurkan ketenangan Naomi dalam tiga kata.

Restoran yang mereka datangi berada di Senopati, tidak terlalu besar, tapi setiap sudutnya tampak dipikirkan untuk difoto. Lampu temaram, meja kayu gelap, aroma daging panggang dan saus manis memenuhi udara.

Danny sudah duduk di meja dekat jendela bersama seorang perempuan berambut sebahu dengan blazer putih. Perempuan itu menoleh saat Kelvin dan Naomi datang.

"Akhirnya," kata Danny. "Gue hampir pesan buat kalian juga."

Kelvin menarik kursi untuk Naomi. "Pesan saja. Kamu yang bayar."

"Lihat? Begini nasib jadi teman Kelvin. Dieksploitasi."

Perempuan berblazer putih tersenyum kecil. "Michelle."

Naomi cepat membalas, "Naomi."

Michelle Tanoto menjabat tangannya dengan hangat, tapi matanya tajam. Bukan tajam yang menghakimi. Lebih seperti orang yang terbiasa melihat detail yang orang lain lewatkan.

"Aku sudah dengar banyak," kata Michelle.

Naomi menegang. "Tentang saya?"

"Tentang Felix." Michelle melirik Kelvin. "Katanya sekarang anjing itu punya Mommy."

Danny tertawa keras. "Nah, itu. Felix lebih cepat punya keluarga daripada Kelvin."

Kelvin duduk di sebelah Naomi. "Kamu mau makan atau mau diusir?"

"Makan. Tapi sambil ngomong."

Makan malam itu berjalan dengan cara yang membuat Naomi beberapa kali lupa bahwa semuanya palsu. Kelvin memindahkan piring saus yang terlalu jauh dari jangkauannya. Saat pelayan menawarkan menu pedas, ia berkata, "Dia tidak terlalu kuat pedas," padahal Naomi sendiri belum sempat menjawab.

Naomi menoleh kaget. "Kamu tahu dari mana?"

"Waktu makan sup di rumah, kamu minum dua gelas air setelah sambal sedikit."

Hal sekecil itu ia ingat.

Naomi menunduk, mengambil sumpit dengan jari yang mendadak canggung.

Danny memandang mereka berdua seperti menonton pertandingan. "Gue harus terbiasa lihat Kelvin memperhatikan orang, ya?"

"Tidak perlu," kata Kelvin. "Kamu tidak akan sering dapat kesempatan."

"Sombong."

Michelle hanya tersenyum, tapi matanya bergerak dari tangan Kelvin yang menaruh daging matang ke piring Naomi, lalu ke wajah Naomi yang berusaha keras terlihat biasa.

"Jadi," kata Danny sambil menuang teh dingin, "gimana ceritanya kalian bisa jadian? Versi resmi, ya. Jangan versi press release keluarga konglomerat."

Naomi hampir menjatuhkan sumpit.

Kelvin menjawab sebelum ia sempat panik. "Dia mengurus Felix. Felix suka dia. Aku ikut."

"Sesimpel itu?"

"Harus serumit apa?"

Danny menoleh ke Naomi. "Bener, Nao?"

Naomi tidak siap dipanggil Nao oleh teman Kelvin, tapi ia tetap mengangguk. "Felix memang... baik."

"Yang tanya Kelvin, jawabannya Felix," gerutu Danny. "Pasangan serasi."

Kelvin bersandar sedikit mendekat ke Naomi. Dari luar, mungkin terlihat seperti ia sedang membisikkan sesuatu yang manis. Padahal suaranya rendah dan malas.

"Aktingnya lumayan."

Naomi menahan napas. "Jangan bicara dekat-dekat."

"Nanti tidak terlihat pacaran."

"Kita duduk di meja yang sama."

"Kurang."

Naomi menatapnya dengan panik. Kelvin justru mengambil gelasnya, menukar posisi dengan gelas Naomi karena milik Naomi hampir kosong.

Gerakan kecil itu membuat Danny berhenti bicara sejenak.

Michelle melihat semuanya.

Danny mengetuk meja dengan ujung sumpit. "Oke, pertanyaan penting. Naomi, satu hal yang lo suka dari Kelvin apa?"

Naomi hampir tersedak teh.

Kelvin melirik Danny. "Kamu wartawan infotainment?"

"Gue teman yang peduli." Danny menunjuk Naomi. "Ayo, Nao. Jawab cepat. Kalau pacaran beneran pasti tahu."

Naomi memandang piringnya, otaknya kosong. Satu hal yang ia suka dari Kelvin? Terlalu banyak dan terlalu memalukan. Cara ia mengingat detail kecil. Cara suaranya turun saat memanggil Baby. Cara ia menaruh salep luka tanpa mengaku peduli.

Tidak ada yang bisa ia ucapkan di meja itu.

Akhirnya ia menjawab, "Felix."

Danny mematung, lalu tertawa sampai bahunya bergetar. Michelle juga tersenyum.

Kelvin mencondongkan tubuh sedikit ke arah Naomi. "Jawaban aman."

"Kamu sendiri belum menjawab apa-apa," bisik Naomi.

Kelvin menatapnya sebentar. "Dia tidak pernah benar-benar terserah."

Naomi terdiam.

Kali ini, yang panas bukan hanya wajahnya.

Setelah makan selesai, Naomi pergi ke toilet untuk menenangkan wajahnya yang terus panas. Kelvin menerima telepon singkat di luar restoran. Tinggallah Danny dan Michelle di meja.

Danny menyandarkan punggung ke kursi. "Menurut lo mereka beneran atau cuma Kelvin lagi iseng?"

Michelle mengaduk es di gelasnya. "Naomi mungkin sedang berusaha akting."

"Nah, kan. Gue juga merasa ada yang aneh."

Michelle menatap pintu kaca, tempat Kelvin berdiri di luar sambil menelepon. Matanya tidak ke jalan. Matanya sesekali kembali ke arah lorong toilet, tempat Naomi pergi.

"Tapi Kelvin," kata Michelle pelan, "dia bukan sedang akting."

Danny yang tadinya santai langsung terdiam.

Di luar kaca, Kelvin mengakhiri teleponnya.

Saat Naomi kembali, ia membuka pintu restoran lebih dulu, seolah sejak tadi memang menunggu.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!