"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Jerat yang Kian Mencekik
Sentuhan Arkan malam itu terasa seperti bara yang menyengat sekaligus mematikan. Ketika pria itu akhirnya melepaskan pagutannya yang menuntut, napas mereka berdua memburu, saling berkejaran di keheningan penthouse lantai tiga puluh enam yang luas. Arkan menatap Viona dengan mata yang menggelap oleh gairah dan amarah yang bercampur aduk. Pria itu bisa merasakan jejak air mata yang basah di pipi Viona, namun senyum palsu yang sempat terukir di bibir gadis itu kini telah lenyap, digantikan oleh ekspresi kepasrahan yang dingin.
Arkan menjauhkan wajahnya sedikit, membiarkan jemarinya yang kekar mencengkeram kedua bahu ramping Viona. "Kenapa kau tidak melawanku, Viona? Kenapa kau hanya diam seperti patung?" desis Arkan, suaranya parau oleh frustrasi. Pria posesif itu terbiasa melihat kilat pemberontakan di mata Viona. Baginya, kepasrahan mekanis seperti ini justru terasa seperti ejekan yang paling kejam terhadap dominasinya.
Viona membuka kelopak matanya perlahan. Tatapannya kosong, seolah jiwanya telah terbang jauh meninggalkan raga yang sedang dikurung oleh sang CEO. "Bukankah ini yang Anda inginkan, Tuan? Seorang wanita simpanan yang penurut. Yang tidak banyak mengeluh, tidak menuntut status, dan selalu siap sedia kapan pun Anda membutuhkannya."
Rahang Arkan mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Kata-kata Viona menghantam egonya dengan telak. Dia melepaskan cengkeramannya dari bahu Viona dengan kasar, berbalik memunggungi gadis itu sambil menyugar rambut hitamnya ke belakang. Dada bidangnya naik turun dengan cepat.
"Cukup, Viona! Masuk ke kamar dan ganti pakaian sialan itu!" perintah Arkan dengan suara baritonnya yang kembali dingin dan berwibawa. Dia tidak tahan lagi melihat gaun satin merah marun tipis itu, yang kini justru terasa seperti simbol sindiran Viona atas status kontrak mereka.
Viona tidak membantah. Dia menundukkan kepalanya sekilas. "Baik, Tuan."
Dengan langkah pelan namun pasti, Viona berjalan meninggalkan ruang tengah menuju kamar tidur utama. Setiap ketukan langkahnya terasa berat. Di belakangnya, Arkan kembali menuangkan wiski ke dalam gelas kristalnya dengan kasar, menenggaknya dalam sekali teguk untuk meredakan gejolak asing yang kian menggerogoti dadanya.
Keesokan paginya, suasana di kantor pusat Mahendra Group terasa mencekam. Semua karyawan, mulai dari resepsionis hingga jajaran manajer, melangkah dengan sangat hati-hati. Aura dingin dan tiran dari Arkan Mahendra hari ini berkali-kali lipat lebih pekat dari biasanya.
Baskara, sang sekretaris pribadi, melangkah masuk ke dalam ruang kerja luas di lantai paling atas dengan berkas tebal di tangannya. Dia bisa melihat bosnya sedang menatap tajam ke arah dinding kaca besar yang menampilkan lanskap kota Jakarta, dengan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana bahan mahalnya.
"Tuan Arkan," panggil Baskara dengan nada suara yang sangat terukur.
Arkan tidak berbalik. "Katakan."
"Saya sudah menyelidiki aktivitas Nona Clarissa kemarin siang, sesuai dengan perintah Anda semalam," lapor Baskara dengan hati-hati. "Informasi itu benar. Nona Clarissa mendatangi kafe Le Petit di kawasan Menteng jam satu siang, dan beliau mengadakan pertemuan privat dengan Karyawan Viona."
Mendengar laporan itu, tubuh tegap Arkan menegang. Perlahan, dia memutar tubuhnya, menatap Baskara dengan sepasang mata elang yang memancarkan kilat kemarahan yang mengerikan. "Apa saja yang mereka bicarakan?"
"Orang kita tidak bisa mendengar seluruh percakapan karena area yang privat, Tuan. Namun, menurut informan di kafe, Nona Clarissa sempat mengeluarkan buku cek dan menuliskan sejumlah uang. Tampaknya... Nona Clarissa mencoba menyuap Karyawan Viona agar pergi meninggalkan Jakarta," jelas Baskara, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya saat melihat bagaimana rahang Arkan kian mengeras.
"Lalu, apa yang Viona lakukan?" suara Arkan terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan seorag predator yang siap menerkam.
"Karyawan Viona menolak cek tersebut, Tuan. Beliau mendorongnya kembali dan segera pergi setelah terjadi ketegangan singkat."
Mendengar fakta bahwa Viona menolak uang dari Clarissa, ada secercah rasa lega yang aneh menyusup ke dalam hati Arkan. Namun, rasa lega itu langsung tertutup oleh badai amarah yang meluap-luap. Berani-beraninya Clarissa mencampuri urusan pribadinya? Berani-beraninya wanita itu menyentuh properti eksklusif yang sudah dia ikat dengan kontrak mahal?
Arkan berjalan mendekati meja kerjanya, lalu menggebrak permukaan marmer itu dengan telapak tangannya. Brak!
"Baskara, hubungi keluarga besar Clarissa. Katakan pada mereka bahwa aku meminta pertemuan malam ini juga," perintah Arkan dengan nada suara yang mutlak dan tidak menerima bantahan. "Dan pastikan Clarissa hadir di sana."
"Baik, Tuan Arkan. Mengenai Karyawan Viona di kantor logistik, apakah ada perintah khusus?"
Arkan terdiam sesaat. Bayangan wajah pucat Viona dan luka memar di pergelangan tangan gadis itu akibat cengkeramannya semalam kembali terlintas. Pria posesif itu mengepalkan tangannya. "Kirimkan tim medis terbaik dari rumah sakit Mahendra secara rahasia ke rumah ibunya. Pastikan semua fasilitas medisnya ditingkatkan ke kelas tertinggi. Dan... awasi pergerakan supervisor bernama Rendy itu. Jangan biarkan dia mendekati kubikel Viona lagi."
"Dimengerti, Tuan." Baskara segera membungkuk hormat dan keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintah.
Di sisi lain kota, Viona sedang duduk di dalam taksi, dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Hari ini dia sengaja mengambil cuti setengah hari. Pikiran dan batinnya terlalu lelah untuk menghadapi tumpukan pekerjaan kantor, ditambah lagi dengan tatapan sinis dari rekan-rekan kerjanya yang masih menganggapnya memiliki hubungan gelap dengan sang CEO baru.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar rawat ibunya, Viona dikejutkan oleh pemandangan beberapa perawat dan seorang dokter spesialis yang sedang sibuk memeriksa peralatan medis di sekitar ranjang ibunya. Kamar rawat yang tadinya berkelas standar, kini telah berubah menjadi kamar VIP yang sangat luas dan mewah.
"Maaf, ada apa ini? Kenapa ibu saya dipindahkan ke kamar ini?" tanya Viona dengan nada panik, mendekati dokter yang sedang memeriksa grafik medis.
Dokter paruh baya itu menoleh dan tersenyum ramah. "Apakah Anda Nona Viona? Anda tidak perlu khawatir. Seluruh biaya pengobatan dan peningkatan fasilitas untuk Ibu Anda telah diurus dan ditanggung sepenuhnya oleh pihak Mahendra Group. Kami diinstruksikan langsung oleh manajemen pusat untuk memberikan perawatan terbaik tanpa batas."
Tubuh Viona seketika lemas. Mahendra Group. Arkan lagi.
Pria itu kembali menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk mendikte hidupnya. Di satu sisi, Viona merasa sangat bersyukur karena ibunya mendapatkan perawatan terbaik yang selama ini tidak pernah bisa dia jangkau dengan kemampuannya sendiri. Namun di sisi lain, tindakan Arkan ini terasa seperti rantai emas baru yang kian melilit lehernya dengan kuat. Arkan seolah sedang menegaskan seberapa besar utang budi yang Viona miliki padanya, memastikan bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa melarikan diri dari genggaman tangannya.
Viona berjalan mendekati ranjang ibunya yang sedang tertidur pulas dengan wajah yang tampak lebih segar dari beberapa minggu lalu. Dia menggenggam tangan ibunya yang kurus, lalu menempelkannya ke pipinya yang basah oleh air mata.
"Ibu... apa yang harus kulakukan?" bisik Viona lirih, isaknya tertahan di tenggorokan. "Aku terjebak di dalam neraka yang sangat indah. Pria itu... dia mengikatku terlalu kuat. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan menjadi wanita simpanannya tanpa kehilangan seluruh diriku."
Malam harinya, di sebuah restoran mewah bergaya privat di kawasan pusat bisnis Jakarta, Arkan Mahendra duduk di kepala meja panjang. Di hadapannya, duduk Clarissa bersama dengan kedua orang tuanya yang merupakan kolega bisnis penting dari keluarga Mahendra. Atmosfer di dalam ruangan privat itu terasa sangat tegang, kontras dengan hidangan mahal yang tersaji di atas meja.
"Arkan, ada apa dengan pertemuan mendadak ini? Ibumu bahkan tidak tahu tentang hal ini," ucap ayah Clarissa, seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mencoba mencairkan suasana dengan senyum formalnya.
Arkan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke arah Clarissa yang duduk di seberangnya dengan wajah yang mulai tampak pucat, meskipun wanita itu berusaha keras mempertahankan ekspresi anggunnya.
"Aku meminta pertemuan ini untuk memperjelas satu hal, Tuan dan Nyonya Wijaya," suara bariton Arkan menggema rendah, memotong kalimat ayah Clarissa tanpa ragu. "Terutama kepada putri Anda, Clarissa."
Clarissa berdehem pelan, mencoba menutupi kegugupannya. "Arkan, apa maksudmu? Jika ini soal persiapan pernikahan kita, bukankah kita bisa membahasnya bersama ibumu?"
"Pernikahan?" Arkan mendengus sinis, sebuah tawa meremehkan yang membuat semua orang di meja itu tertegun. Mata elangnya berkilat tajam menatap Clarissa. "Jangan pernah bermimpi tentang pernikahan atau pertunangan resmi, Clarissa. Hubungan kita dari awal hanyalah kesepakatan bisnis antar keluarga, dan aku bisa membatalkannya kapan saja aku mau."
Wajah Clarissa seketika memucat, sementara kedua orang tuanya langsung terperanjat dari duduk mereka.
"Arkan! Apa maksud perkataanmu?! Jaga bicaramu!" bentak ayah Clarissa, merasa martabat keluarganya sedang diinjak-injak oleh sang CEO muda.
Arkan berdiri dari kursinya, menumpu kedua tangannya di atas meja, menunduk ke arah Clarissa dengan aura dominasi yang sangat mengintimidasi. "Tanyakan pada putrimu apa yang dia lakukan kemarin siang. Berani-beraninya kau mendatangi wanita milikku, Clarissa? Berani-beraninya kau mengancamnya dengan uangmu yang tidak seberapa itu?"
Clarissa gemetar di tempat duduknya. Dia tidak menyangka bahwa Arkan akan mengetahui pertemuannya dengan Viona secepat ini, dan yang lebih membuat hatinya hancur adalah melihat bagaimana pria dingin ini meradang hebat hanya karena seorang wanita simpanan kelas bawah.
"Dia hanya wanita jalang murahan, Arkan! Dia hanya mengincar hartamu!" jerit Clarissa, emosinya pecah karena rasa cemburu dan terhina yang luar biasa. "Kenapa kau membela wanita simpanan itu di depan calon istri sahmu?!"
"Tutup mulutmu!" bentak Arkan, suaranya menggelegar hingga membuat suasana ruangan privat itu membeku seketika. "Satu-satunya alasan kenapa bisnis keluargamu masih berdiri tegak hari ini adalah karena aku masih menghormati orang tuamu. Tapi jika kau berani menyentuh atau mendekati Viona sekali lagi... aku bersumpah akan menghancurkan Mahendra Group dan Wijaya Corps bersamaan demi memastikan kau tidak punya apa-apa lagi untuk disombongkan."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman yang mematikan itu, Arkan memutar tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruangan privat restoran, mengabaikan teriakan histeris Clarissa dan amukan dari kedua orang tuanya.
Arkan melangkah menuju mobil Rolls-Royce hitamnya yang sudah menunggu di lobi. Pikirannya malam ini hanya tertuju pada satu tempat: penthouse lantai tiga puluh enam, tempat di mana wanita miliknya sedang mengurung diri dalam sangkar emas yang kian mengikat mereka berdua dalam takdir yang berbahaya.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.