Descnya dibaca dulu ya sayang❤️
novel ini dalam masa penulisan ulang untuk mengganti keseluruhan nama tokoh, para pembaca harap maklum atas ketidaknyamanan ini.
Thank you ♥️
***
~Hilangkan perasaanmu, balas dendam akan berhasil ketika kamu tak berperasaan~
.
.
.
Ini karya pertama Author semoga kaka-kaka semua suka.. kalau gak suka skip aja nee🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atika.NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~13 Wedding1
10 Agustus,
Hari pernikahan telah tiba, begitu singkat dan cepat ternyata Lisa sudah menjadi sandera Seidon selama 2 bulan.
Hari ini Lisa dan Seidon akan menikah disebuah gedung yang sangat mewah dan megah, lebih dari puluhan orang yang menghadiri pernikahan mereka.
Seperti yang di katakan Seidon sebelumnya, dia sengaja melakukan pernikahan dengan terang-terangan.
Lisa masih bersiap dan didandani oleh 3 desainer dan 5 pelayan yang mengatur pakaian Lisa. Semuanya di rekrut secara khusus dan detail keamanan yang lebih dari 100 orang. Saat didandani, MUA yang mendadani Lisa sangat kewalahan.
Mereka selalu meminta agar Lisa jangan menangis karena satu jam lagi pernikahan akan dimulai dan Lisa terus meneteskan air mata yang membuat riasan wajahnya rusak.
Salah satu pelayan memanggil Seidon karena tidak bisa mengatasi Lisa yang terus menangis entah apa yang terjadi padanya.
"Tuan muda?" Ucap pelayan itu.
"Hm?"
"Itu.. Nona Lisa terus menangis dan membuat riasannya rusak berkali-kali. Kami mencoba membuatnya mengerti tapi, ia semakin menangis sendu" ucapnya.
Seidon menghela nafas kasar spontan menggebrak meja dan berdiri menuju ruang ganti dengan dua pengawal dibelakangnya. Seidon memasuki ruang ganti pengantin wanita, betapa terkejutnya Lisa melihat Seidon dari pantulan cermin.
"Keluar!" Ucap Seidon menyuruh semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Kini diruang ganti itu hanya ada Seidon dan Lisa. Ia yang tadinya menangis kini terdiam menghapus air matanya kasar dengan tisu yang ada dihadapannya.
Seidon berjalan mendekati Lisa dan memutar kursi yang diduduki oleh Lisa agar menghadap kearahnya.
"ahh sayang, ada apa? Kenapa menangis di hari bahagia kita eum? Mau ku apakah agar berhenti menangis?" Tekan Seidon menatap Lisa dan menaikan dagunya.
"Aku.. ayahku, a-aku ingin ayahku. Tuan, aku ingin ayah ada disini untuk menyaksikan pernikahan"
"kau Memikirkan si tua itu ternyata? Hanya itu?!"
Lisa mengangguk sedih.
"Baik, kalau begitu akan ku suruh anak buahku memanggil ayahmu, bagaimana? Tapi kau harus berhenti menangis"
"Iya.. iya aku mau, aku akan berhenti menangis. tapi Tuan, kau sungguh membawanya kemari kan?" Ucap Lisa senang.
"Sayang.. apa aku pernah berbohong?" Lisa menggeleng mantap.
"Iyaa.. Tidak, tentu saja aku tidak pernah membohongimu jadi, berhentilah menangis!" ucapnya mengusap lembut air mata Lisa.
"Terimakasih, terimakasih banyak Tuan" ucap Lisa memeluk Seidon.
"sekarang bersiaplah dengan baik jangan membuat masalah karena aku bisa marah denganmu, Mengerti?" ucap Seidon membalas pelukan Lisa.
"Iyaa.. aku tidak akan membuatmu marah.. aku.. aku akan merias diri" ucap Lisa senyum.
Seidon mengusap pipi Lisa sekilas dan berjalan keluar menyuruh semuanya masuk dan merias Lisa.
"Kalian pergilah dan jemput orang tua itu secepatnya"
"Baik" ucap dia pengawal Seidon pergi untuk menjemput ayah Lisa.
"Merepotkan!" Ucap Seidon berjalan keruang ganti pria.
55 menit berlalu Lisa telah siap dengan gaun pengantinnya dan sangat cantik. saat itulah dimana ayah Lisa datang keruang ganti menjemput untuk mengantarkannya ke altar pernikahan.
Ceklek,
Pria yang mendorong kursi roda itu memasuki ruangan dan menuju kearah Lisa. ia melihat dari pantulan cermin bahwa itu adalah ayahnya betapa bahagianya dia saat melihat sang ayah berada disampingnya saat ia akan menikah.
Dengan cepat ia berbalik dan berlari menuju ayahnya memeluknya dengan erat. Semua orang yang ada didalam mengerti bahwa mereka harus bicara berdua. Semua orang keluar dan tersisalah Lisa dan sang ayah didalam sana.
Hampir 2 bulan lebih Lisa tidak melihat sang ayah dan menatapnya sedekat itu.
"Ayah"
"Halo Putriku.." ucap sang ayah membalas pelukan Lisa.
"Ayah.. kau baik-baik saja? Bagaimana lukamu? Sudah sembuh? Ayah katakan sesuatu padaku" ucap Lisa berjongkok menyamakan tinggi sang ayah yang duduk di kursi roda.
"Jangan menangis atau air mata itu akan menghapus riasan mu sayang" ucap sang ayah menghapus lembut air mata Lisa.
"Putriku tumbuh dengan cepat, dia akan menikah dan memiliki keluarga baru.. jangan menangis sayang.." ucap sang ayah senyum miris.
"Ayah, aku takut.. aku sangat takut" ucapnya lirih.
"Maafkan ayah Lisa, jika saja ayah tidak lumpuh maka ayah akan membawamu kabur dari sini" ucap sang ayah mengusap lembut kepala Lisa.
"Aku bisa, kita bisa kabur dari sini, ayo ayah kita kabur" ucap Lisa dengan suara bergetar.
"Lisa.. penjagaan begitu ketat, kita tidak akan bisa lari" kata sang ayah dengan mata berkaca-kaca.
"kita bisa, ayo ayah kita pergi dari sini.." ucap Lisa memutar kursi rodanya dan akan pergi tapi,
Brakk!!
"Mau kemana kalian?!"
"Tuan, k-kami.. kami akan keluar menuju ruang pernikahan"
Sangat gugup bukan main, Lisa terkejut saat pintu terbuka dengan keras. Tatapan Seidon padanya menunjukkan bahwa ia telah mengetahui dan mendengar percakapannya dengan ayahnya.
6 orang berbadan kekar yang ada dibelakang Seidon menutup jalan keluar. Satu dari mereka langsung mengambil alih ayah Lisa dan mendorong kursi rodanya keluar ruangan.
"Tuan.." Lisa tak bisa lagi berdiri tegap, kakinya gemetar. Selangkah demi selangkah Seidon maju mendekatinya. Pintu tertutup, sang ayah berada diluar bersama bodyguard.
"Apa kau pikir aku tidak dengar? Lisa, beraninya kau bertindak begitu. Apa kau pikir kau bisa lari?" Kata Seidon.
Suaranya teduh, wajahnya tidak begitu seram nafasnya terdengar santai tapi mampu membuat Lisa ketakutan.
"Tuan, m-maaf.. tolong jangan lukai ayahku"
"Kau selalu meminta hal yang sama dan aku selalu mengabulkan itu Lisa, kau tidak tau diri sekali.." kata Seidon.
Lisa tertunduk sempurna tak berani menatap pria tinggi dihadapannya itu.
"Maafkan aku Tuan.."
"Ayo ikut denganku, kita selesaikan pernikahan kita lalu.. aku akan memberimu hadiah" Seidon tersenyum mengangkat dagu Lisa menatap dua manik matanya yang mengeluarkan cairan bening.
"Aku tidak mau hadiah, Tuan tolong maafkan aku"
"Aku selalu memaafkan gadis pembangkang sepertimu, tapi kali ini hadiahnya akan tetap ku berikan. Ayo kita selesaikan dulu pernikahan kita"
Seidon menarik tangan Lisa dan menyeretnya keluar ruangan.
"Jangan membuatku kesal, menurut sekarang!"
Seidon meninggalkan Lisa dan ayahnya, membiarkan mereka bergandengan menuju altar.
"Lisa.. apa dia mengancam mu lagi? Katakan pada ayah"
"aku baik-baik saja ayah, kau jangan khawatir " ucap Lisa sedih.
Dengan mata berkaca-kaca sang ayah menatap lekat putri kesayangannya itu, nafas panjang terdengar berat sebelum akhirnya mereka berjalan keluar.
Dalam perjalanan ke ruang utama ayah Lisa berkata tidak bisa menemaninya sampai di altar dengan kursi roda seperti ini, tapi Lisa tidak masalah akan hal itu. Alhasil seorang pelayan mendorong kursi rodanya dan Lisa menggandeng tangan ayahnya.
Lisa tau pria yang berdiri dihadapannya itu adalah calon suaminya, tapi.. itu terasa seperti mengantarkan nyawa menuju kematian.
*Ayo ikut denganku, kita selesaikan pernikahan kita lalu.. aku akan memberimu hadiah*
*Hadiah, yang dimaksud dengan hadiah adalah menyiksaku kan, Tuan?* Batin Lisa
Andhika, Calvin, Minho, Glen, Mike dan Leon mereka terlihat duduk pada kursi VIP
Sesekali Lisa melirik kearah Glen dan hanya dibalas dengan senyuman. Ada rasa kecewa saat melihat senyuman yang Glen berikan padanya.
Dalam hatinya kenapa Glen tidak mencari cara untuk membantunya setidaknya agar pernikahannya bersama Seidon gagal. Matanya berkaca-kaca seakan tak sanggup menampung air mata yang hampir menetes.
Lisa menggenggam erat tangan sang ayah saat sang ayah hanya menenangkan Lisa. Seandainya waktu bisa diputar kembali ayah Lisa ingin sekali menebus semua kesalahannya pada Seidon. tapi sayangnya waktu itu tak akan pernah kembali. Orang bilang jika nasi sudah menjadi bubur, maka buatlah bubur yang enak, tapi belum sempat bubur itu di tambah bumbu, Seidon lebih dulu menambahkan darah kedalamnya.
*Aku pernah memiliki harapan pada Glen dan mengira bahwa dia adalah malaikat yang Tuhan kirimkan untuk melindungi ku, tapi ternyata selain diriku sendiri dan ayah tak akan ada yang bisa membantuku, bahkan Glen tak bisa menolongku untuk lepas dari genggaman Seidon* batin Lisa menatap Seidon dan tanpa sadar air matanya telah menetes.
Setelah sampai pada altar pernikahan ayahnya menyerahkan Lisa pada Seidon dan berkata.
"Saya orang pertama yang memeluknya, bukan kamu. Saya adalah orang pertama yang menciumnya, bukan kamu. Saya orang pertama yang mencintainya, bukan kamu," sambil terlihat menyeka air mata sang ayah menyatukan tangan Lisa dan seidon.
"Tapi saya harap kamu adalah orang yang bisa bersamanya selamanya. Jika suatu hari kamu tidak mencintainya lagi, jangan katakan itu kepadanya. Sebagai gantinya, katakan kepada saya. Saya akan datang dan membawanya pulang," tambahnya.
Seidon menggenggam tangan ayah Lisa dan hanya mengangguk mengerti seluruh tamu undangan dikejutkan dengan senyuman Seidon yang muncul saat menjabat tangan ayah Lisa.
Mereka mengira bahwa pernikahan ini benar-benar di landasi cinta dan kasih sayang sehingga mampu membuat seidon terlihat senang.
*Tidak disangka, kau sendiri yang menyerahkan Lisa padaku. Mana mungkin aku tidak mencintai putrimu, Aku pasti akan baik-baik menjaga putrimu ini* batin seidon tersenyum senang.
Selama ini Seidon dikenal dengan pria yang dingin, arogan, kejam dan tidak berperasaan. Tapi hari ini saat pernikahan, Seidon tersenyum dan itu senyuman yang terlihat tulus itu muncul lagi untuk pertama kalinya setelah 15 tahun lamanya Seidon kehilangan kedua orang tuanya.
Senyuman yang pernah menghilang kini muncul meskipun itu hanya beberapa detik. Selain Glen dan kelompok lain yang Seidon undang, para tamu merasa bahwa Lisa begitu beruntung.
Saat acara akan dimulai dan pendeta memulai acara, ayah Lisa turun dari altar pernikahan dan membiarkan putrinya berjalan dengan Seidon menuju altar utama dimana mereka akan mengikat janji suci di hadapan pendeta.
Seidon memberikan tangan kirinya untuk digandeng Lisa. dengan senyuman tipis ia menoleh menatap calon istrinya itu, tapi Lisa tau itu hanya senyuman sesaat sebelum penderitaannya dimulai.
Lisa hanya menurut dan menggandeng tangan Seidon untuk berjalan bersama ke altar pernikahan mereka untuk mengucap janji suci.
Dihadapan pendeta Lisa masih sempat menoleh kearah Glen dan lagi-lagi hanya dibalas senyuman.
*Aku pernah bermimpi bahwa Glen adalah jodohku, tapi ternyata Seidon lah yang menjadi suamiku* batin Lisa.
*Aku tidak akan bilang bahwa kebaikan Glen adalah palsu karena aku tidak tau apa tujuannya melakukan hal itu. Tapi, terimakasih telah melindungiku selama ini*
Lisa pernah bermimpi akan menikah dan bahagia dengan Glen karena baginya tak mungkin menikah dengan Seidon, hanya sedikit manusia yang menikah dengan orang yang di cintainya. Tapi ternyata mimpi itu lenyap ketika Seidon hadir dan Lisa mengetahui semua kebenaran nya. Setiap orang yang datang akan pergi dengan sendiri.
*Ternyata benar, people come and go itu nyata adanya* batinnya.
*Impianku menikah dengan seidon benar-benar menjadi kenyataan, bahkan dalam sekejap mata ini terlihat sangat mudah.. tapi, alasan kami menikah.. bukan ini yang aku harapkan..*
Lisa tau di setiap pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan, tapi bukan perpisahan seperti ini yang Lisa bayangkan. Bahkan terpikirkan untuk berpisah dengan Glen saja itu tidak pernah terlintas dipikirannya.
"Tamu yang terhormat, selamat datang di acara pernikahan Tuan muda Seidon Hayden dan Nona Lalisa Xavier. Hari ini pasangan yang berbahagia ini akan mengikat janji suci atas kesetiaan dan cinta mereka dihadapan hadirin" sambutan dari MC.
"Hadirin yang terhormat, pernikahan Tuan muda Seidon Hayden dan Nona Lalisa Xavier akan segera dimulai mari kita menyaksikan antara keduanya yang mengucapkan janji suci untuk selalu mencintai untuk selamanya"
Lisa memegang buket bunga putih dengan tangan dingin hingga sarung tangan yang ia kenakan terlihat basah. Air matanya lolos begitu saja setetes air matanya yang menetes pada mawar putih itu adalah bukti kasih sayangnya pada sang ayah.
"Apakah kau bersedia menikahi wanita ini? Mencintainya dan setia kepadanya baik dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan. Apakah kau bersedia" ucap sang pendeta memulai janji suci.
"Aku bersedia" ucap Seidon.
"Apakah kau bersedia menikahi pria ini? Mencintainya dan setia kepadanya baik dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan. Apakah kau bersedia?"
"Aku... " Ucap Lisa melirik kearah Glen, melihat senyumannya, Lisa seakan tak mampu melanjutkan janji suci itu tapi nyawa ayahnya...
"Aku bersedia" ucap Lisa cepat dengan mata berkaca-kaca.
"Silahkan mempelai pria mengucapkan janji suci pada mempelai wanita" ucap sang pendeta.
"Lalisa Xavier aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai mati!" ucap Seidon menggenggam tangan Lisa dan menatapnya tajam.
"Mempelai wanita silahkan mengucapkan janji suci kepada mempelai pria" ucap pendeta pada Lisa.
"Seidon Hayden, a-aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita" ucap Lisa dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca.
Dengan sedikit menunduk dan merasakan genggaman tangan yang menghangatkan tapi seperti ribuan pedang yang menusuk hatinya.
"Selesai, sekarang silahkan kedua mempelai bertukar cincin dan mari kita saksikan momen dimana keduanya berciuman sebagai tanda cinta dan kasih sayang mereka" ucap pendeta.
Prok__prokk__prokk__
Setelah bertukar cincin, Seidon mengecup bibir Lisa, Air matanya kembali menetes begitu saja. Pria yang kini menciumnya telah resmi menjadi suaminya. Perlahan Lisa membalas ciuman itu.
ia melepaskannya ciumannya kemudian menatap Lisa dalam dengan tatapan matanya yang sekarang Lisa tidak mungkin bisa menghindari. Ia hanya tersenyum tipis dan dibalas oleh Seidon meskipun itu hanya sementara.
"aku akan baik-baik untuk menjagamu sayang, jangan takut.." bisik Seidon.
_________________