Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Halang Rintang
Latihan halang rintang itu dibuat untuk lucu-lucuan.
Setidaknya begitu kata Dimas.
Ada ban bekas yang harus dilompati, tali rendah untuk merangkak, papan keseimbangan, karung pasir kecil yang harus dipindahkan, lalu bendera warna merah di ujung lintasan. Mahasiswa baru diminta berlari dalam kelompok, saling membantu, dan menjaga bendera agar tidak direbut kelompok lain.
Nisa menatap lintasan itu seperti menatap daftar utang.
“Aku yakin fakultas lain tidak disiksa begini.”
Melati berkata datar, “Mungkin anak desain dianggap kurang gerak.”
Riko memegang inhaler. “Aku mendukung anggapan itu.”
Fajar justru bersemangat. “Kita punya Ayla. Kita menang.”
Ayla mengikat rambut lebih kencang. “Kalau kalian jatuh, aku tidak bisa menang sendirian.”
Fajar menepuk dada. “Tenang. Aku cepat.”
Melati menatapnya. “Kamu tadi hampir keluar lintasan.”
“Itu strategi mengecoh lawan.”
Nisa berbisik pada Ayla, “Dia percaya diri sekali.”
“Lebih baik daripada percaya pada Alina.”
Nisa hampir tertawa, lalu cepat menutup mulut karena Alina sedang berjalan mendekat.
Alina membawa botol air mineral dan beberapa handuk kecil. Dia membagikannya pada mahasiswa baru dengan senyum lembut. Saat sampai pada kelompok Ayla, dia menyerahkan satu botol pada Nisa.
“Kamu hebat tadi,” katanya. “Jangan terlalu gugup.”
Nisa menerima dengan kaku. “Terima kasih, Kak.”
Alina lalu menawarkan botol pada Ayla.
“Kak, minum dulu.”
Ayla melihat botol itu.
Masih tersegel.
Tetapi orang bodoh pun bisa mengganti segel jika punya alat.
Ayla mengambil botolnya, memutar-mutar sebentar, lalu menyerahkannya pada Dimas yang kebetulan lewat.
“Kak Dimas haus?”
Dimas berhenti. “Apa?”
“Minum.”
Wajah Alina berubah sangat halus.
Dimas yang masih merasa bersalah karena kemarin menerima botol itu tanpa banyak berpikir. “Makasih.”
Dia hendak membuka tutupnya.
Alina cepat berkata, “Dimas, itu untuk Ayla.”
Dimas berhenti.
Ayla tersenyum. “Air punya perasaan?”
“Bukan begitu. Aku cuma... Kak Ayla mungkin lebih butuh.”
Dimas melihat botol di tangannya, lalu menatap Alina. Kecurigaan kecil melintas di wajahnya.
Ayla mengambil botol itu kembali.
“Aku bercanda.”
Dia membuka tutup botol.
Alina tampak menahan napas.
Ayla menuangkan air itu ke tanah.
Perlahan.
Semua orang melihat.
“Sayang,” kata Nisa spontan.
Ayla menatap Alina. “Benar. Sayang kalau diminum orang yang salah.”
Wajah Alina pucat.
Dimas menatap Alina lebih lama. “Lin?”
Alina langsung tertawa kecil, tetapi suaranya tidak stabil. “Kak Ayla memang suka bercanda aneh. Aku hanya memberi air.”
Ayla membuang botol kosong ke tempat sampah.
“Aku juga hanya menyiram rumput.”
Peluit Pak Joko menyelamatkan Alina dari pertanyaan berikutnya.
“Kelompok berikutnya siap!”
Kelompok Ayla maju ke garis start. Di sisi lintasan lain, kelompok dari jurusan film sudah bersiap. Salah satu dari mereka laki-laki bertubuh besar yang sejak tadi menatap Ayla dengan kesal. Mungkin teman Dimas. Mungkin penggemar Alina. Atau mungkin hanya tidak suka melihat perempuan lebih cepat darinya.
Saat peluit berbunyi, semua berlari.
Ayla menahan diri di belakang, membiarkan Riko dan Nisa melewati ban lebih dulu. Riko hampir tersandung, tetapi Melati menarik kerah belakangnya. Nisa merangkak di bawah tali sambil mengeluh pelan, “Aku bukan tentara.”
“Syukuri itu,” kata Ayla sambil melompati ban.
Fajar berlari terlalu cepat dan hampir jatuh dari papan keseimbangan. Ayla menangkap lengannya tanpa memperlambat langkah.
“Strategi?” tanya Melati.
Fajar meringis. “Kali ini bukan.”
Kelompok lawan mulai mendahului saat bagian memindahkan karung pasir. Karung itu sebenarnya ringan, tetapi beberapa mahasiswa panik dan menjatuhkannya. Laki-laki bertubuh besar dari jurusan film mengambil dua karung sekaligus, lalu menatap Ayla dengan senyum menantang.
Ayla mengambil tiga.
Nisa berteriak, “Ayla, itu nggak perlu!”
Ayla berjalan santai melewati laki-laki itu.
Senyum pria itu hilang.
Saat mereka sampai di bagian akhir, bendera merah berada di tiang pendek. Aturannya sederhana: siapa mengambil bendera dulu menang. Namun kelompok lawan boleh menghalangi tanpa kontak keras.
Tentu saja kontak keras selalu terjadi ketika orang bodoh diberi aturan abu-abu.
Laki-laki bertubuh besar menghadang Ayla.
“Mau lewat?”
Ayla menatapnya. “Tidak. Aku mau terbang.”
Dia bergerak ke kiri. Pria itu mengikuti. Ayla berhenti, lalu menatap kakinya.
“Tali sepatumu lepas.”
Pria itu refleks menunduk.
Tidak lepas.
Saat dia sadar tertipu, Ayla sudah melewatinya.
Dia mengumpat dan mencoba menarik lengan Ayla dari belakang.
Ayla tidak berbalik. Dia hanya memutar pergelangan, menangkap jari pria itu, lalu mengubah arah tarikannya. Tubuh besar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke matras samping lintasan.
Tidak cedera.
Sangat malu.
Ayla mengambil bendera.
Kelompok animasi menang.
Sorakan meledak.
Pak Joko meniup peluit. “Gerakan bagus!”
Bu Ratri yang menonton dari tenda langsung menatap Pak Joko.
Pak Joko berdeham. “Maksud saya, jangan ditiru tanpa pengawasan.”
Dimas menatap laki-laki yang jatuh itu, lalu menatap Ayla. Dia seperti ingin marah, tetapi tidak punya dasar. Video panitia jelas menunjukkan pria itu menarik duluan.
Nisa dan Fajar melompat kegirangan.
Melati menepuk tangan pelan. “Hidup terlalu pendek, tapi menang tetap enak.”
Riko duduk di tanah. “Aku melihat akhir hidupku tiga kali.”
Ayla menyerahkan bendera pada Nisa. “Pegang. Kamu paling senang.”
Nisa memeluk bendera itu seperti piala.
Di akun menfess, video baru muncul hanya beberapa menit kemudian.
Ayla Prameswari tipu lawan pakai tali sepatu.
Dia bukan manusia, dia karakter game.
Kalau ini anak angkat bermasalah, aku juga mau bermasalah.
Komentar mulai berubah.
Tidak semuanya memuja Ayla. Masih banyak yang menyebutnya arogan, kasar, terlalu berbahaya. Tetapi narasi tunggal tentang Alina yang malang mulai retak.
Retakan kecil cukup.
Retakan kecil selalu bisa diperbesar.
Setelah latihan selesai, Bu Ratri memanggil Ayla.
“Air botol tadi,” kata Bu Ratri.
Ayla mengangkat alis. “Ibu lihat?”
“Saya punya mata.”
“Selamat.”
Bu Ratri menahan napas. “Kamu mencurigai sesuatu?”
“Belum tentu.”
“Kalau belum tentu, kenapa dibuang?”
“Karena saya tidak haus.”
Bu Ratri menatapnya datar.
Ayla akhirnya berkata, “Bu, kalau nanti ada kejadian aneh, CCTV tenda panitia jangan sampai hilang.”
Ekspresi Bu Ratri berubah.
“Kamu sedang terseret masalah apa sebenarnya?”
Ayla melihat ke arah Alina yang sedang berbicara dengan Dimas. Kali ini Dimas tidak terlihat sehangat sebelumnya.
“Masalah keluarga.”
Bu Ratri menghela napas. “Keluarga biasanya tidak membawa ancaman ke kampus.”
“Keluarga saya hemat tempat.”
“Ayla.”
Ayla tersenyum sedikit. “Saya akan berusaha agar kampus tidak repot.”
“Dari pengalaman dua hari ini, kalimatmu tidak menenangkan.”
“Setidaknya jujur.”
Ponsel Ayla bergetar.
Pesan dari Arga:
Nomor ancaman bergerak. Terakhir aktif dekat kantor Prameswari Foundation. Jangan dekati yayasan tanpa koordinasi.
Ayla membaca pesan itu, lalu melihat Alina.
Alina juga sedang melihat ponsel.
Beberapa detik kemudian, Alina mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan Ayla.
Kali ini tidak ada air mata.
Hanya peringatan.
Ayla tersenyum cerah.
Dia membalas pesan Arga:
Definisikan koordinasi.
Balasan Arga datang cepat.
Jangan pergi.
Ayla memasukkan ponsel ke saku.
Sayang sekali.
Dia sudah ingin sekali melihat kantor yayasan itu.
Namun sebelum pergi, Ayla kembali ke tenda minuman.
Botol yang tadi dia buang sudah tidak ada di tempat sampah kecil. Seharusnya petugas kebersihan belum mengambil sampah, karena kantong plastik lain masih sama. Berarti seseorang mengambilnya.
Ayla berjongkok sebentar, melihat bekas air di tanah. Rumput di titik itu mulai sedikit menguning. Bukan efek air mineral biasa. Bisa jadi hanya kebetulan. Bisa jadi campuran ringan yang tidak mematikan, cukup untuk membuatnya pusing, muntah, atau terlihat lemah saat latihan.
Dia berdiri.
Dimas yang lewat berhenti. “Kamu cari sesuatu?”
“Botol.”
Wajah Dimas berubah. Dia jelas memikirkan reaksi Alina tadi. “Air dari Alina?”
“Kamu mulai pintar.”
Dimas tidak membalas sindiran itu. “Kamu benar-benar curiga dia...”
“Aku curiga pada situasi.”
“Aku sudah kenal Alina dua tahun.”
“Lalu?”
Dimas menunduk. “Dia selalu terlihat baik.”
Ayla menatapnya beberapa detik. “Kak Dimas, orang baik tidak perlu selalu terlihat baik. Mereka cukup tidak melakukan hal buruk.”
Dimas terdiam.
Kalimat itu tinggal di wajahnya bahkan setelah Ayla pergi.
Di sisi lapangan, Alina melihat Dimas memandangi tempat sampah, lalu melihat Ayla berjalan menjauh.
Untuk pertama kalinya, kepanikan di wajah Alina tidak bisa disembunyikan oleh senyum.