Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. SBR
...~•Happy Reading•~...
Gevaro tidak beranjak, walau sudah selesai minum. Dia tetap duduk memperhatikan Janet dan Asyer dari jauh.
Hatinya seperti aliran sungai yang mengalirkan air hangat saat melihat Janet memeluk Asyer sambil menepuk punggungnya. Rasa sayang tergambar jelas dari setiap gerakan pada putranya. Begitu juga sebaliknya. Hingga membuat dia seperti tersihir oleh kasih sayang mereka.
Jensen yang memperhatikan arah pandangan bossnya, jadi tertegun saat melihat anak lelaki di pangkuan Janet. Dia baru menyadari kemiripan wajah dengan bossnya.
'Inikah yang mengakibatkan Pak Gevaro memperhatikan Janet secara khusus? Apa karena mereka pernah punya hubungan khusus?' Jensen membatin sambil memperhatikan Asyer dan Janet. 'Pantas boss bilang jangan tanya dan tidak mau dibahas.' Jansen bertanya dan menjawab dalam hati. Jensen mulai berhati-hati terhadap Janet, walau belum tahu yang sebenarnya.
Janet tidak menyadari sedang diperhatikan empat pasang mata dengan rasa dan ingin tahu yang berbeda. Dia terus berbicara dengan Asyer yang bertanya tentang Omanya dan menceritakan yang terjadi di rumah setelah Janet berangkat kerja.
Mimik wajah mereka berubah-ubah saat berbicara. Kadang serius, tersenyum, sedih, was-was, sesuai dengan topik yang diceritakan. Hal itu seakan menciptakan dunia sendiri bagi mereka berdua, hingga tidak menyadari kedatangan Andri.
"Mari kita pulang." Ajak Andri sambil memegang bahu Janet dan mengambil Asyer dari pangkuannya.
"Pulang, Mas? Mama sudah bisa pulang?" Janet bertanya sambil menatap Andri. Dia tidak menyangka Bu Dessy akan langsung pulang.
"Iya. Kau tahu sendiri Mama, kalau tidak bisa bertemu Asyer." Andri menjelaskan dan menunjukan ketidakberdayaannya.
"Omaaa..." Teriak Asyer saat melihat Omanya didorong oleh Bibi di kursi roda. Wajah Bu Dessy seketika berubah cerah mendengar suara Asyer.
Janet mendekati Bu Dessy. "Mama sudah bisa pulang?" Tanya Janet setelah salim dan mencium pipinya.
"Dokter sudah ijinin." Bu Dessy menjelaskan karena melihat wajah Janet yang was-was. "Mama gak tahan di sini. Gak bisa lihat Asyer." Ucap Bu Dessy setelah mencium tangan kecil yang ingin menyentuh pipinya.
"Oma gak sakit lagi?" Tanya Asyer dengan sedih.
"Gak lagi. Ini Oma sudah bisa memegang Asyer."
"Asyikkk. Oma Asyel uda sembuh." Asyer berkata sambil melompat girang. Hal itu diperhatikan Gevaro, tanpa berkedip.
"Nanti di rumah baru cerita. Kalian tunggu di depan, ya. Aku ambil mobil." Andri mengusap pundak Janet lalu berjalan cepat ke tempat parkir.
Gevaro yang masih duduk menunggu, terkesima dengan pemandangan sebuah keluarga di depannya. Dia berpikir dan menarik nafas kuat atas ketidak mengertian tentang Janet dan Asyer.
Gevaro berdiri dan menghembuskan nafas kuat setelah melihat Janet tidak ada lagi lobby. "Mari kita pulang." Gevaro mengajak Jensen meninggalkan rumah sakit.
"Baik, Pak. Tunggu sebentar. Saya hubungi sopir." Jensen segera menelpon sopir.
"Saya mau istirahat dua hari lagi. Kita kerja di rumah." Ucap Gevaro setelah berada dalam mobil.
"Baik, Pak. Saya siapkan semua dan reschedule pertemuan." Jensen mengerti maksud bossnya yang sedang tidak bisa konsentrasi pada pertemuan-pertemuan.
~▪︎▪︎
Tiga hari kemudian ; Gevaro dan Jensen masuk pagi seperti biasa. Valeri tersenyum senang melihat kehadiran pimpinannya.
Bunga-bunga bertebaran di hatinya, setelah sekian lama tidak melihat pimpinannya yang tampan dan karismatik. Walau cendrung dingin dan cuek, Valeri tidak menyerah.
Setelah melihat pimpinannya masuk ruang kerja, Valeri tidak melakukan apa pun. Dia hanya menunggu dipanggil untuk melakukan tugas, setelah dua minggu lebih seperti anak ayam kehilangan induk.
Jansen tidak menghubungi atau memberikan tugas untuk dikerjakan. Sehingga waktu yang ada dipakai untuk menyelidiki Janet dan melaksanakan rencananya dengan bebas.
Sekian lama menunggu, Valeri jadi heran. Pintu tidak dibuka, tidak ada telpon, bahkan tidak ada pesan masuk dari Jensen.
~▪︎▪︎
Di dalam ruang kerja ; Gevaro dan Jensen sedang membahas schedule yang harus didahulukan sesuai prioritas. "Pesankan kopi buat kita." Ucap Gevaro sambil memperhatikan layar laptop.
"Baik, Pak." Jensen segera merai ponsel. Dia lupa kebiasaan baru bossnya kalau sudah tiba di kantor, minta kopi instan yang dibuat oleh Janet.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Janet sopan, saat melihat Jensen yang telpon.
"Pagi. Tolong ke ruang kerja." Ucap Jensen singkat. Dia yakin Janet sudah tahu maksudnya, kalau minta datang ke ruang kerja.
"Maaf, Pak. Saya sudah tidak kerja lagi di perusahaan." Janet berkata dengan suara pelan sambil menggerakan tangan ke Bibi untuk menemani Asyer yang sudah dipakaikan baju.
"Maksud anda apa? Anda resign?" Pertanyaan Jensen membuat Gevaro memberikan isyarat untuk meletakan ponsel di atas meja dan dispiker. Gevaro langsung menutup laptop dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi.
"Tidak, Pak. Saya dipecat dua hari lalu." Janet mengatakan yang terjadi tanpa penjelasan. Dia yakin, Jensen sebagai asisten pimpinan, pasti tahu. Jadi dia tidak mau buang waktu untuk menjelaskan.
Suatu hal yang dia sesali, adalah dipecat. Padahal dia sudah berniat untuk mengundurkan diri. Tetapi malah dipecat dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Anda dipecat? Segera masuk kantor sekarang." Perintah Jensen sesuai dengan isyarat tangan Gevaro yang meminta Janet masuk kerja.
"Tapi, Pak. Saya sudah serahkan ID card dan ini sudah lewat jam kerja..." Janet tidak meneruskan karena mendengar suara bentakan Gevaro. "Masuk kerja sekarang." Perintah Gevaro dan langsung mematikan telpon.
Janet terkejut mendengar suara Gevaro yang belum pernah didengar sebelumnya. 'Apa yang terjadi? Mengapa aku dimarahi? Mereka yang pecat aku, kok, aku yang dimarahi?' Janet membatin sambil berjalan keluar untuk bicara dengan Bu Dessy.
Di ruang kerja CEO terjadi keteganan setelah tahu Janet dipecat tanpa diketahui. "Cari tahu. Siapa yang lakukan ini." Gevaro berkata dengan emosi yang naik level.
"Siap, Pak." Jensen bergerak cepat melihat reaksi pimpinannya yang tidak seperti biasanya. Dia langsung menghubungi Bu Letti.
"Tanya detail. Apa alasannya pecat Janet atau siapa yang perintah dia lakukan itu." Ucap Gevaro sambil berdiri.
"Tidak usah pikirkan usianya saat interogasi. Saya ingin tahu, Janet lakukan kesalahan apa sampai dipecat." Gevaro tidak bisa kendalikan emosinya. Dia ingatkan Jensen, karena Bu Letti sudah berusia lebih dari setengah abad.
Valeri yang sedang memperhatikan pintu masuk CEO, sangat terkejut melihat Bu Letti datang dan mengetok pintu. Wajahnya memutih saat melihat Jensen membuka pintu dengan wajah tegang.
"Silahkan duduk Bu Letti." Jensen mempersilahkan duduk. Sedangkan Gevaro berdiri seperti patung sambil melihat keluar jendela.
"Bu Letti, anda yang pecat karyawan yang bernama Janet Mathilda?" Pertanyaan Jensen membuat Bu Letti tegang.
"Iya, Pak." Jawab Bu Letti pelan dan hati-hati.
"Apa alasannya?" Tanya Jensen lagi.
"Pertama, dia tidak mengatakan sudah menikah, Pak. Dia berbohong untuk menutupi rencana sebenarnya, bekerja di sini." Jawab Bu Letti, tapi jadi panik melihat Gevaro berbalik dengan wajah marah.
"Sebelum anda mengatakan rencananya, hingga mau berbohong. Jawab saya. Apa anda sudah periksa statusnya yang tercantum di CV?" Pertanyaan Gevaro membuat mata Bu Letti terbelalak.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...