NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01

"Jangan! Tolong jangan bawa dia pergi!" Suara Amelia Hartono menggema di dalam ruangan rawat inap. Tubuhnya masih lemah setelah operasi caesar seminggu lalu. Jahitan di perutnya bahkan belum benar-benar pulih. Namun, saat melihat pria yang dicintainya akan membawa pergi bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya, Amelia nekat turun dari ranjang.

Air matanya mengalir tanpa henti.

"Evan, ku mohon..." suaranya bergetar. "Dia anak kita."

Langkah pria itu berhenti di depan pintu. Evan Cristian menoleh dengan tatapan dingin yang belum pernah Amelia lihat sebelumnya. Tatapan itu membuat jantung Amelia berdegup tidak nyaman.

Seolah pria yang berdiri di hadapannya bukanlah Evan yang selama ini dikenalnya. Bukan pria yang pernah berkata mencintainya. Bukan pria yang pernah menggenggam tangannya dan berjanji akan menjadi keluarga yang bahagia. Melainkan seseorang yang asing, seseorang yang kejam.

"Evan..." Amelia kembali memohon.

Namun, sebelum Evan sempat berbicara, seorang wanita cantik melangkah masuk dan berdiri di sampingnya. Gaun mahal yang dikenakannya terlihat begitu kontras dengan pakaian pasien milik Amelia. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi. Wajahnya sempurna seperti model majalah.

Dan memang benar, wanita itu adalah Carolin Baskara. Model papan atas yang wajahnya sering muncul di televisi, Amelia mengenalnya.

Semua orang mengenalnya. Hanya saja Amelia tidak pernah mengerti mengapa wanita itu berada di sini. Sampai hari ini, sampai beberapa menit yang lalu. Sampai Amelia mendengar sendiri percakapan mereka.

"Kenapa kamu masih menangis?" tanya Carolin sambil tersenyum sinis. "Bukankah sejak awal kau hanya ibu pengganti?"

Amelia membeku. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke jantungnya.

"A-apa?"

Carolin terkekeh kecil. "Kau benar-benar lucu."

Wanita itu mengulurkan sebuah map cokelat.

"Tanda tanganmu ada di sini."

Tangan Amelia gemetar saat menerima dokumen tersebut. Matanya membelalak, napasnya tercekat. Di setiap lembar kertas itu memang ada tanda tangannya. Tanda tangan yang sangat dikenalnya. Tetapi ia tidak pernah merasa menandatangani surat persetujuan menjadi ibu pengganti.

"Tidak..." bisiknya. Kau berbohong!"

"Benarkah?" Carolin tersenyum semakin lebar.

"Kalau begitu coba tanya pria yang selama ini tidur di sampingmu."

Pandangan Amelia langsung beralih kepada Evan. Harapan terakhirnya, satu-satunya orang yang bisa menyangkal semua ini.

"Evan..." suaranya lirih. "Katakan kalau ini tidak benar..."

Pria itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Lalu perlahan bibirnya bergerak.

"Ini benar."

Dunia Amelia runtuh dalam sekejap, tubuhnya limbung. Untung ia sempat berpegangan pada sisi ranjangnya.

"Apa maksudmu?"

"Anak itu memang anakku."

Harapan kembali muncul di mata Amelia. Namun, kalimat berikutnya menghancurkan segalanya.

"Dan Carolin."

Seolah petir menyambar tepat di atas kepalanya. Amelia tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir. Tidak bisa memahami apa yang baru saja didengarnya.

"Evan..." air matanya jatuh semakin deras. "Apa yang kau katakan?"

Pria itu menghela napas pelan. Seakan sedang menjelaskan sesuatu yang sangat sepele.

"Embrio yang ditanamkan ke rahimmu adalah milikku dan Carolin."

Amelia membeku.

"Kami hanya membutuhkan seseorang untuk mengandung bayi kami."

"Kau bohong..."

"Tidak."

"Evan, kau bohong! Apa maksudmu?" suara Amelia bergetar.

Carolin tersenyum tipis. Senyum yang terlihat anggun, tetapi begitu menusuk.

"Kau benar-benar belum tahu apa pun rupanya."

Wanita itu membuka map yang dibawanya lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Kalau begitu, biar aku yang menjelaskan semuanya."

Jantung Amelia berdegup tidak nyaman. Tatapannya beralih kepada Evan. Berharap pria itu menghentikan Carolin. Namun, Evan hanya berdiri diam sambil menggendong bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya. Seolah apa yang akan terjadi tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Carolin menyerahkan satu lembar dokumen.

"Pertama, selamat. Kau akhirnya tahu kalau bayi itu bukan anakmu."

Tubuh Amelia menegang, "dia anakku..." rilih Amelia.

"Bukan!" Carolin langsung memotong.

"Dia anak biologisku dan Evan."

Air mata Amelia mulai menggenang. Namun, Carolin belum selesai.

"Dan sekarang fakta kedua." Wanita itu mengeluarkan dokumen lain. "Kau dan Evan tidak pernah menikah."

Dunia Amelia seolah berhenti berputar.

"Apa?"

"Kau dengar dengan jelas." Carolin tersenyum mengejek.

"Pernikahan kalian tidak pernah terdaftar."

"Tidak mungkin..." Amelia menggeleng cepat. "Kami memiliki buku nikah."

"Buku nikah itu palsu." Kalimat itu menghantam Amelia seperti palu godam.

"Kau bohong..."

"Kalau aku berbohong, kenapa Evan tidak membantah?"

Amelia menoleh kepada pria yang dicintainya.

"Evan..."

Namun, pria itu hanya menatapnya dingin. Tatapan itu sudah cukup menjadi jawaban. Air mata Amelia jatuh semakin deras.

"Jadi selama ini..."

"Ya," sahut Carolin santai. "Selama ini kau hanya wanita simpanan yang bahkan tidak memiliki status."

Amelia merasa dadanya sesak. Napasnya sulit keluar. Tetapi Carolin kembali mengeluarkan dokumen lain. Dan kali ini senyumnya jauh lebih lebar.

"Oh ya, hampir lupa. Masih ada satu kejutan lagi." Carolin melemparkan dokumen itu ke atas ranjang.

"Kau tahu apa ini?"

Amelia menatap lembaran kertas tersebut. Matanya membelalak, nama perusahaan Hartono terpampang jelas di sana. Tangannya langsung gemetar.

"Tidak..."

"Oh, jadi kau mengenalinya." Carolin tertawa kecil.

"Seluruh saham pengendali Hartono Group sudah berpindah tangan."

"Tidak mungkin!"

"Kenapa tidak mungkin?" Carolin mengangkat bahu. "Kau sendiri yang menandatanganinya."

Amelia langsung menggeleng. "Aku tidak pernah menjual perusahaan itu!"

"Tentu saja tidak. Tapi kau menandatangani semua dokumen yang diberikan Evan tanpa membacanya, bukan?"

Tubuh Amelia membeku, ingatan demi ingatan bermunculan. Dokumen-dokumen yang selalu dibawa Evan. Berkas yang katanya untuk kepentingan perusahaan. Surat yang katanya hanya formalitas. Dan semua itu, seluruhnya telah menjadi jebakan.

"Kau..." suara Amelia bergetar. "Kalian menipuku, Evan!"

"Menipu?" Carolin terkekeh.

"Tidak, Amelia."

"Kau hanya terlalu bodoh untuk menyadarinya."

Wajah Amelia langsung pucat. Carolin melangkah mendekat. Lalu, berbisik tepat di depan wajahnya.

"Tahukah kau apa yang paling lucu? Kau sangat mudah ditipu. Begitu mudah dibohongi. Kau percaya semua yang dikatakan Evan. Kau percaya pernikahan pada palsu. Kau percaya bayi ini anakmu dan Kau percaya perusahaan itu masih milikmu. Kau bahkan tidak pernah memeriksa satu pun dokumen yang kau tandatangani."

Setiap kalimat terasa seperti pisau yang mengiris harga diri Amelia. Carolin tersenyum puas melihat wajah wanita itu.

"Sungguh menyedihkan. Keluarga Hartono membangun kerajaan bisnis selama puluhan tahun. Dan pewarisnya menghancurkan semuanya hanya karena jatuh cinta pada pria yang salah."

Air mata Amelia mengalir tanpa henti. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Dalam satu hari, dia kehilangan suami yang sangat dicintainya. Kehilangan anaknya dan kehilangan perusahaan peninggalan orang tuanya.

Luka operasinya terasa nyeri hingga membuatnya hampir jatuh. Namun, rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang terjadi pada hatinya.

Selama sembilan bulan, ia berbicara dengan bayi itu setiap malam. Sembilan bulan ia menjaga makanan. Sembilan bulan ia menahan mual, sakit, dan ketakutan. Sembilan bulan ia mencintai bayi itu sepenuh hati. Dan sekarang seseorang mengatakan bahwa ia hanyalah rahim sewaan.

"Kenapa?" tangisnya pecah. "Apa salahku?!"

Evan terdiam beberapa saat,a lalu berkata datar.

"Karena kau terlalu mudah percaya."

Kalimat itu menjadi pukulan terakhir. Air mata Amelia berhenti mengalir. Bukan karena rasa sakitnya berkurang. Melainkan karena hatinya benar-benar hancur. Perlahan ia menatap pria yang telah dicintainya sejak SMA.

Pria yang menjadi alasan dirinya percaya pada cinta. Pria yang telah mengambil perusahaan miliknya. Pria yang memalsukan pernikahan mereka. Pria yang kini merampas bayi yang baru dilahirkannya. Saat itulah Amelia akhirnya mengerti. Sejak awal dirinya hanyalah korban, dan Evan Cristian adalah penghancur hidupnya.

"Bawa bayinya." Suara Carolin terdengar santai.

Evan mengangguk. Lalu, berbalik pergi sambil menggendong bayi perempuan yang masih tertidur pulas.

"Jangan!" Teriak Amelia.

Pintu ruangan terbuka dan tertutup kembali. Amelia mengejar, namun baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya jatuh menghantam lantai. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi yang lebih menyakitkan adalah melihat sosok Evan semakin menjauh. Membawa pergi alasan terakhirnya untuk bertahan hidup.

"Anakku..." Tangis Amelia memenuhi koridor rumah sakit.

Tak seorang pun membantunya. Tak seorang pun peduli, dan di saat seluruh dunianya runtuh. Sebuah bayangan tiba-tiba berhenti di hadapannya. Sepasang sepatu hitam memasuki pandangannya. Lalu sebuah tangan terulur.

"Amelia." Suara pria itu terdengar berat. Perlahan Amelia mengangkat kepala. Matanya membelalak.

1
Lianty Itha Olivia
dlm cerita slalu byk org jahatnya
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!