Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Sikap yang Berubah dan Rencana yang Lebih Licik
Sejak kejadian penemuan kembali peralatan kebun itu, suasana di rumah besar itu berubah perlahan tapi jelas. Kecurigaan yang sempat menimpa Dika lenyap, digantikan dengan pandangan yang lebih hormat dan percaya dari sebagian besar penghuni rumah. Bahkan Bu Marni, yang sebelumnya selalu bersikap tegas dan menjaga jarak, kini mulai berbicara dengan nada yang lebih lembut, tidak lagi menatapnya dengan curiga setiap kali lewat.
Namun, bagi Paman Arga, kekalahan ini justru membuatnya semakin membara. Ia tahu rencananya gagal total, dan yang lebih parah, kepercayaan Nyonya Wijaya pada Dika justru bertambah kuat. Setiap kali melihat pemuda itu berjalan tegap, bekerja dengan rajin, dan diterima lebih baik oleh semua orang, rasanya ada sesuatu yang menyengat di hatinya. Tapi ia tidak berani bertindak terang-terangan lagi — jika sampai ketahuan, posisinya sendiri yang akan hancur.
Siang itu, saat Dika sedang merapikan bunga mawar di halaman depan, Kirana berjalan mendekat dengan langkah santai. Tidak ada lagi rasa ragu atau takut dicurigai, karena kini sudah jelas bahwa Dika bukan orang yang bisa dituduh sembarangan.
“Kamu hebat sekali, bisa menemukan barang itu padahal sudah tersembunyi rapat,” kata Kirana sambil tersenyum tulus.
Dika berhenti sejenak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. “Saya hanya berusaha mencari sampai ketemu, Non. Kalau hati sudah yakin tidak bersalah, biasanya jalan untuk membuktikannya akan terbuka sendiri.”
Kirana mengangguk, matanya menatap taman yang kini terlihat semakin indah dan terawat. “Sekarang Ibu sudah percaya sepenuhnya padamu. Semoga tidak ada lagi orang yang berusaha menjebakmu seperti itu.”
Dika hanya tersenyum tipis. Ia tahu dalam hatinya, meski tuduhan kali ini gagal, bukan berarti ancaman sudah hilang. Paman Arga tidak akan berhenti begitu saja. “Semoga saja begitu, Non. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang sampai ibu saya benar-benar sembuh total.”
Percakapan mereka berlangsung singkat dan wajar, tapi dari balik jendela ruang kerja, Paman Arga melihat semuanya. Giginya terkatup rapat, tangannya mengepal kuat di balik punggung. Ia merasa seperti sedang menyaksikan rencananya hancur berkeping-keping.
Malam harinya, saat suasana sudah sunyi, Paman Arga memanggil Sari lagi ke ruang kerjanya. Wajahnya terlihat dingin dan penuh amarah, tapi ia berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar orang lain.
“Kamu gagal menjalankan tugas dengan baik,” katanya tajam. “Barang itu justru ditemukan kembali, dan sekarang posisi dia malah semakin kuat. Apa gunanya mengawasi kalau tidak bisa mengatur keadaan?”
Sari menunduk gemetar, takut menghadapi kemarahan majikannya. “Maaf, Pak. Saya kira kalau ditaruh di tempat yang sudah lama tidak dibuka, tidak akan ada yang mencarinya. Siapa sangka Dika bisa sampai ke sana.”
Paman Arga berjalan mondar-mandir, pikirannya berputar mencari cara baru. Ia tahu, cara yang sama tidak akan berhasil lagi. Ia butuh rencana yang lebih rumit, yang tidak bisa dibuktikan dengan mudah, dan sekaligus bisa membuat Nyonya Wijaya benar-benar marah dan kecewa pada Dika.
Setelah berpikir lama, ia berhenti dan menoleh ke arah Sari dengan senyum licik yang jarang terlihat. “Baiklah, kita ubah caranya. Kali ini tidak soal barang yang hilang, tapi soal hal yang lebih dekat dengan hati Nyonya Wijaya — urusan keuangan dan kepercayaan keluarga.”
Sari mengangkat wajahnya sedikit, penasaran sekaligus takut. “Apa yang harus saya lakukan, Pak?”
“Dengarkan baik-baik,” bisik Paman Arga sambil mendekat. “Dalam beberapa hari ke depan, Nyonya akan mengirimkan sejumlah uang untuk keperluan belanja besar di kebun dan pembibitan tanaman baru. Biasanya uang itu diserahkan ke Bu Marni, tapi kali ini saya akan usulkan agar Dika yang membawanya, dengan alasan dia yang paling paham kebutuhan taman. Kalau sudah di tangannya, kita akan buat seolah-olah uang itu hilang atau digunakan untuk keperluan lain tanpa izin. Dan kali ini, saya pastikan tidak ada jalan keluar untuk membuktikan dirinya bersih.”
Mendengar rencana itu, Sari terlihat ragu. “Tapi Pak… kalau sampai ketahuan lagi, kita bisa kena masalah besar.”
“Jangan khawatir,” potong Paman Arga tegas. “Kali ini buktinya akan disusun rapi. Tidak ada jejak kaki, tidak ada tempat tersembunyi yang bisa dia cari. Kalau dia bilang tidak mengambilnya, berarti dia ceroboh dan tidak bisa menjaga amanah — itu saja sudah cukup alasan untuk memecatnya dan mengusirnya dari sini. Paham?”
Sari tidak berani menolak lagi. Ia mengangguk pelan, meski hatinya merasa tidak enak. “Baik, Pak. Saya akan ikuti perintah Bapak.”
Sementara itu, di kamarnya yang sederhana, Dika sedang menulis lagi di buku catatannya. Ia mencatat kejadian hari itu, dan perasaan yang ia rasakan.
“Setelah terbebas dari tuduhan kemarin, saya merasa lebih tenang, tapi juga lebih waspada. Tatapan Paman Arga tidak lagi penuh curiga yang terang-terangan, tapi justru terasa lebih dingin dan tersembunyi. Ibu selalu bilang, musuh yang tidak terlihat lebih berbahaya daripada yang terang-terangan. Saya harus tetap waspada, jangan sampai lengah karena merasa sudah aman. Kepercayaan yang baru didapatkan ini harus dijaga dengan hati-hati, dan saya tidak boleh memberi celah sedikit pun untuk diserang lagi.”
Ia menutup bukunya, lalu berdoa dalam hati agar diberikan kekuatan dan kebijaksanaan untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Ia sadar, perjuangannya belum selesai — bahkan mungkin baru akan memasuki tahap yang lebih sulit.
Beberapa hari kemudian, seperti yang sudah direncanakan Paman Arga, Nyonya Wijaya memanggil Dika ke ruang kerjanya. Di sana sudah ada Paman Arga dan Bu Marni yang menunggu.
“Dika,” kata Nyonya Wijaya dengan nada ramah. “Karena kamu yang paling paham sekarang kebutuhan taman dan tanaman, saya berikan tugas khusus. Besok kamu akan pergi ke pusat penjualan bibit dan pupuk, membawa uang ini untuk membeli semua kebutuhan yang sudah dicatat. Ini tugas yang membutuhkan kepercayaan, jadi saya serahkan padamu.”
Ia menyerahkan amplop tertutup yang cukup tebal. Dika menerimanya dengan kedua tangan, lalu menunduk hormat. “Terima kasih, Nyonya. Saya akan menjaga uang ini dengan sebaik-baiknya, dan membeli semua barang sesuai daftar yang diberikan.”
Paman Arga yang duduk di sampingnya tersenyum tipis, senyum yang terasa palsu dan penuh rencana tersembunyi. “Ingat, uang ini jumlahnya tidak sedikit. Jaga baik-baik, jangan sampai salah hitung atau terlewatkan barang yang harus dibeli. Kalau ada masalah, segera laporkan.”
“Siap, Pak,” jawab Dika tanpa curiga sedikit pun. Ia hanya menganggap itu sebagai bentuk perhatian biasa.
Namun, saat ia keluar dari ruangan itu, Paman Arga menatap punggungnya dengan pandangan penuh kemenangan. “Sekarang permainan baru dimulai. Mari kita lihat apakah dia bisa lolos kali ini.”