**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**
Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.
Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*
Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.
Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.
Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:
*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*
Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—
**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
# Bab 13
## Luka yang Belum Sembuh
Beberapa hari setelah pulang ke Surabaya, Arunika mulai bisa berjalan tanpa terlalu menahan napas.
Lututnya masih nyeri jika turun tangga terlalu cepat. Luka di punggung tangan kanannya sudah mengering, tetapi garisnya belum hilang. Dokter keluarga berkata bekas itu mungkin memudar perlahan, mungkin juga meninggalkan parut tipis.
Laksmi mendengar kata parut dan langsung menangis lagi.
Arunika justru hanya menatap tangannya.
"Tidak apa-apa, Ma," katanya. "Biar ada yang mengingatkan."
Laksmi menatapnya seolah ingin membantah, tetapi Bramantyo yang duduk di kursi dekat jendela lebih dulu berkata, "Tidak semua pengingat harus dibenci."
Sore itu mereka duduk di ruang keluarga Prawira. Hujan tipis turun di Surabaya, membuat halaman luas tampak basah dan tenang. Di meja ada teh jahe, pisang goreng, dan obat luka yang belum sempat dibereskan. Rumah itu tidak memaksanya berbicara. Justru karena tidak dipaksa, Arunika akhirnya merasa bisa membuka mulut.
"Aku membuat Bapak dan Mama malu tiga tahun lalu."
Laksmi langsung menggeleng. "Jangan mulai dari sana."
"Aku harus mulai dari sana."
Bramantyo menatap putrinya. "Kalau kamu ingin bicara, bicaralah. Kalau belum sanggup, rumah ini tidak akan menagih."
Kalimat itu membuat Arunika menunduk.
Tiga tahun lalu, ruangan yang sama pernah menjadi tempat pertengkaran terbesar mereka.
Arunika masih ingat dirinya berdiri di dekat pintu dengan koper kecil. Damar menunggu di luar rumah, tidak masuk, tidak menyapa Bapak dan Mama dengan benar. Ia hanya mengirim pesan singkat: aku tunggu di mobil.
Bapak waktu itu bertanya dengan suara rendah, "Laki-laki yang tidak berani masuk meminta restu, kamu yakini bisa menjagamu?"
Arunika menjawab terlalu cepat, terlalu keras, "Damar bukan pengecut. Dia hanya tidak ingin memperpanjang masalah."
Laksmi menangis di sofa. "Nika, keluarga Notonegoro tidak pernah melihatmu setara."
"Mama belum mengenal mereka."
"Justru Mama mengenal orang seperti mereka."
Arunika dulu tidak mau mendengar. Ia mengira semua peringatan adalah kesombongan keluarga kaya yang tidak ingin putri mereka menikah dengan pilihan sendiri. Ia mengira Bapak menolak Damar karena takut kehilangan kendali. Ia mengira Mama menangis karena tidak siap melepas anak.
Sekarang ia tahu, mereka bukan tidak percaya pada cintanya.
Mereka tidak percaya pada keluarga yang akan menerima cinta itu.
"Bapak sudah tahu?" tanya Arunika pelan. "Sejak awal?"
Bramantyo mengangkat cangkirnya, tetapi tidak langsung minum. "Bapak tahu Notonegoro ingin hubungan dengan Prawira. Mereka tidak mengatakannya langsung. Orang seperti Eyang Hardjo jarang meminta. Dia menekan lewat nama baik, lewat jaringan bisnis, lewat undangan yang tampak sopan."
Arunika mengingat acara-acara sebelum pernikahan. Senyum keluarga Damar. Cara mereka bertanya tentang Semesta dengan nada ringan. Cara mereka menyebutnya perempuan sederhana padahal mereka tahu persis siapa ayahnya.
"Mereka tahu aku anak Bapak?"
"Tahu. Tapi mereka lebih suka membiarkan orang luar mengira kamu hanya perempuan biasa yang beruntung menikah dengan Damar." Bramantyo meletakkan cangkir. "Itu membuat mereka terlihat dermawan. Sekaligus membuatmu mudah dikendalikan."
Laksmi menggenggam tangan Arunika yang tidak terluka. "Mama paling takut kamu percaya bahwa kamu harus berterima kasih karena diterima mereka."
Arunika tertawa kecil, pahit. "Aku memang percaya."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Hening di antara mereka bukan hening yang menghukum. Hening itu memberi ruang untuk rasa malu Arunika lewat tanpa perlu ditambah kata-kata.
"Aku memilih dia," kata Arunika. "Aku memaksa Bapak dan Mama menerima. Lalu ketika kalian tidak setuju, aku pergi. Aku bahkan tidak pulang waktu Lebaran pertama."
Laksmi menghapus air mata. "Mama marah waktu itu."
Arunika menatapnya.
"Mama marah karena kamu tidak pulang. Mama juga marah karena setiap kali Mama ingin menelepon, Bapak bilang jangan membuatmu merasa dikejar."
Bramantyo berdeham. "Bapak tidak sekeras itu."
"Kamu lebih keras," kata Laksmi, kali ini kepada suaminya. "Kamu duduk di ruang kerja tiap malam menunggu kabar, tapi kalau Nika telepon sebentar saja, kamu pura-pura sibuk."
Arunika menatap Bapak.
Bramantyo memalingkan wajah ke jendela. "Bapak tidak pandai terdengar tidak terluka."
Kalimat itu menghancurkan Arunika lebih pelan daripada tangis.
Ia bangkit dari sofa, lalu berlutut di karpet di depan orang tuanya. Laksmi langsung panik.
"Nika, lututmu!"
"Tidak apa-apa." Arunika memegang tangan ibunya. "Kali ini aku berlutut bukan karena dipaksa. Aku hanya ingin minta maaf dengan benar."
Bramantyo menegang.
Arunika menunduk. "Maaf karena memilih orang yang salah lebih keras daripada mendengar keluarga sendiri. Maaf karena membuat Bapak dan Mama melihatku terluka dari jauh. Maaf karena pulang setelah hancur, bukan sebelum."
Laksmi menangis terbuka sekarang. Ia turun dari sofa dan menarik Arunika ke pelukannya.
"Anak pulang tidak pernah terlambat," bisiknya. "Tidak di rumah ini."
Bramantyo berdiri, lalu berjongkok di dekat mereka. Untuk seorang laki-laki yang biasa membuat ruang rapat diam hanya dengan satu tatapan, gerakannya kali ini sangat hati-hati.
"Dengar Bapak," katanya.
Arunika mengangkat wajah.
"Kamu boleh salah memilih cinta. Tapi kamu tidak boleh mengira kesalahan itu membuatmu kehilangan hak untuk dilindungi."
Arunika mengangguk, air mata mengalir di pipinya.
"Dan soal Notonegoro," lanjut Bramantyo, suaranya mengeras sedikit, "Bapak tidak akan memintamu melupakan. Orang sering menyuruh perempuan melupakan agar keluarga lain tetap nyaman. Di rumah ini, kamu tidak perlu melupakan kalau memang belum selesai."
Laksmi menyeka pipi Arunika. "Tapi jangan balas dendam sampai lupa hidup."
"Aku tahu, Ma."
"Kamu yakin?"
Arunika melihat punggung tangan kanannya. Bekas luka itu tampak tipis di bawah cahaya sore, tetapi ia masih bisa mengingat dingin hujan dan lantai halaman Menteng.
"Aku tidak mau hidupku hanya tentang mereka," katanya. "Tapi aku juga tidak mau mereka terus berdiri seolah tidak pernah menginjak siapa pun."
Bramantyo menatapnya lama. Ada kesedihan di matanya, tetapi juga sesuatu yang mirip bangga.
"Kalau begitu, berdirilah dengan namamu sendiri."
Arunika menarik napas.
Arunika Dewanti Prawira.
Nama itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang ia tinggalkan. Nama itu terasa seperti tulang punggung.
Malam turun perlahan di luar jendela. Hujan berhenti. Lampu taman menyala satu per satu.
Arunika duduk kembali di sofa, kali ini di antara Bapak dan Mama. Laksmi tetap menggenggam tangannya seolah takut ia menghilang lagi. Bramantyo mengambil map kecil dari meja samping. Bukan map Semesta, melainkan map berisi beberapa foto lama keluarga.
"Besok kita bicara soal kerja," katanya. "Malam ini, kamu lihat dulu apa saja yang tidak pernah kami buang."
Arunika membuka map itu.
Foto masa kecilnya. Foto kelulusan. Foto ulang tahun yang ia lewatkan, dengan kursi kosong di antara Bapak dan Mama.
Ia menatap kursi kosong itu lama.
Lalu ia menutup map dengan pelan.
"Pa."
"Ya?"
"Kali ini, aku tidak akan lari dari nama Prawira."
Bramantyo mengangguk.
Arunika menatap bekas luka di tangannya, lalu ke arah jendela yang memantulkan wajahnya sendiri.
"Dan aku akan membuat orang-orang yang pernah meremehkannya mengembalikan semuanya, satu per satu."