"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Rahasia di Balik Kehancuran
Cengkeraman tangan Xavier di rahang Aletta tidak menyakitkan, namun aura mematikan yang menguar dari pria itu membuat Aletta nyaris lupa caranya bernapas.
"T-tidak ada..." Aletta mencoba berkelit, suaranya bergetar hebat. "Aku tidak mengerti maksudmu, Xavier. Aku hanya mengobrol dengan ayahku—"
"Jangan menguji kesabaranku, Aletta!" bentak Xavier, suaranya menggelegar memantul di dinding ruang makan yang luas. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan serentak menunduk dalam, gemetar ketakutan.
Xavier melepaskan rahang Aletta secara kasar, memutar tubuhnya, dan menatap tajam ke arah pintu masuk. "Diego!"
Dalam hitungan detik, Diego muncul dari balik pintu dengan langkah tegap. "Ya, Bos."
"Seseorang menyusup ke lantai VIP rumah sakit hari ini. Retas seluruh sistem keamanan rumah sakit sekarang juga. Periksa setiap inci rekaman CCTV di lorong toilet selama waktu istriku berada di sana. Temukan tikusnya, bawa hidup-hidup ke ruang bawah tanah malam ini juga!" perintah Xavier mutlak, matanya berkilat penuh amarah.
Mata Aletta membelalak. Jika Xavier menemukan pria bermasker itu, Aletta tahu pasti penyiksaan macam apa yang akan terjadi di ruang bawah tanah malam ini. Rasa takut dan kemarahannya akhirnya melebur menjadi satu keberanian yang nekat.
Aletta bangkit dari kursinya dengan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang berdengung nyaring. "Berhenti!" teriaknya.
Xavier menoleh perlahan, menatap Aletta dengan sebelah alis terangkat, seolah menantang gadis itu untuk melanjutkan kata-katanya. Diego menghentikan langkahnya di ambang pintu, menunggu perintah lanjutan.
"Tinggalkan kami, Diego. Dan kalian semua, keluar dari ruangan ini. Sekarang," desis Xavier tanpa mengalihkan pandangannya dari Aletta.
Begitu pintu ruang makan tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, keheningan yang mencekam kembali merajai.
"Katakan," titah Xavier dengan nada sangat rendah, melangkah selangkah mendekati Aletta.
Aletta menelan ludah, matanya memanas oleh air mata yang siap tumpah. "Ya. Seseorang memberitahuku. Seseorang menyelinap dan memberiku sebuah pesan..." Aletta menatap langsung ke dalam mata kelabu suaminya. "Pesan yang mengatakan bahwa hutang dua triliun itu bukanlah kesalahan bisnis ayahku. Pesan yang mengatakan bahwa kau yang merancang semua ini. Bahwa kau yang sengaja menghancurkan perusahaan ayahku hanya untuk menjebaknya!"
Dada Aletta naik-turun memburu pasokan udara. Ia menunggu Xavier menyangkalnya. Ia sangat berharap pria ini menertawakannya, menyebutnya bodoh karena mempercayai omong kosong, dan meyakinkannya bahwa semua itu hanya fitnah dari musuhnya.
Namun, yang terjadi justru menghancurkan sisa harapan Aletta.
Wajah Xavier datar tak terbaca. Tidak ada kilatan keterkejutan. Pria itu justru memiringkan kepalanya sedikit, menatap Aletta dengan tatapan dingin dan kosong yang selalu ia gunakan saat berhadapan dengan musuhnya.
"Jika kau berharap aku menyangkalnya, maka kau akan kecewa, Istriku," ucap Xavier dengan tenang. Ketenangan yang justru terasa seperti ribuan belati yang menusuk dada Aletta. "Pesan itu seratus persen benar. Aku yang memanipulasi saham ayahmu. Aku yang menutup seluruh akses pinjaman bank untuknya. Dan aku yang mengirim para rentenir itu untuk menyiksanya."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Xavier.
Telapak tangan Aletta terasa kebas, panas, dan bergetar hebat setelah menampar pipi kokoh itu. Napas Aletta terengah-engah, air matanya akhirnya jebol membasahi pipi. Ciuman lembut pagi tadi, tatapan cemas Xavier saat ia terluka, semua itu... semua itu adalah ilusi paling kejam yang pernah diciptakan oleh iblis ini!
"Kau monster," isak Aletta, suaranya pecah berkeping-keping. "Kau berpura-pura menjadi pahlawanku, berpura-pura menyelamatkan ayahku, padahal kau sendiri dalang dari semua penderitaan kami! Kenapa, Xavier?! Apa salah ayahku padamu?!"
Xavier tidak bergeming. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah akibat tamparan Aletta dengan ibu jarinya, menatap noda merah itu sejenak, lalu kembali menatap Aletta. Mata kelabunya kini memancarkan kebencian murni yang belum pernah Aletta lihat sebelumnya.
Dalam satu gerakan kilat, Xavier mencengkeram kedua pergelangan tangan Aletta dengan satu tangannya, lalu mendorong tubuh mungil gadis itu hingga punggungnya membentur tepi meja makan dengan cukup keras.
"Kau bertanya apa salah ayahmu?!" desis Xavier tepat di depan wajah Aletta, napasnya yang hangat menerpa kulit Aletta yang mendingin. "Ayahmu yang terlihat sangat suci di matamu itu... tanyakan padanya apa yang dia lakukan lima tahun lalu demi memenangkan tender Pelabuhan Barat! Tanyakan padanya tentang kapal pesiar yang meledak dan menewaskan ibuku!"
Aletta terkesiap hebat. Matanya membelalak tak percaya. Napasnya seolah ditarik paksa dari paru-parunya. "T-tidak mungkin... Ayahku bukan pembunuh..."
"Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar bersih, Aletta!" raung Xavier, rahangnya mengetat hingga urat lehernya menonjol. "Ayahmu bermain kotor dengan kartel untuk menyingkirkan perusahaan keluargaku, dan ibuku yang menjadi bayarannya. Aku menghancurkan bisnisnya perlahan-lahan agar dia merasakan keputusasaan yang sama sepertiku."
Xavier menunduk, bibirnya menyapu telinga Aletta yang membeku. "Dan kau, sayangku... kau adalah puncak pembalasan dendamku. Aku sengaja menjeratmu, menjadikanmu milikku, agar ayahmu menyadari bahwa satu-satunya harta paling berharga yang tersisa dalam hidupnya... kini berada di bawah kendali iblis yang diciptakannya sendiri."
Xavier melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh Aletta merosot lemas ke lantai marmer yang dingin. Gadis itu menangis tanpa suara, dunianya hancur berkeping-keping. Pria yang mulai ia cintai, dan ayah yang selama ini ia puja... keduanya menyimpan kebenaran yang berlumuran darah.
Xavier berdiri menjulang menatap Aletta dengan sorot mata yang tak bisa ditebak, lalu berbalik melangkah pergi.
"Kunci dia di kamarnya. Jangan biarkan dia keluar satu langkah pun," perintah Xavier kepada para pengawal di luar pintu, sebelum akhirnya sosok pria itu menghilang ditelan kegelapan malam.