"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Berita perceraian Naira dan Dimas naik ke akun gosip sebelum sore.
Judulnya dibuat seperti biasa: tajam, murahan, dan sengaja memancing orang berkomentar.
Istri pengusaha kesehatan gugat cerai setelah muncul dokter cantik?
Kolom komentar bergerak cepat.
Ada yang menyalahkan Dimas. Ada yang menyalahkan Clara. Lebih banyak lagi yang menyalahkan Naira tanpa tahu apa pun.
Perempuan zaman sekarang gampang minta cerai.
Kalau suami kaya, pasti ada yang kurang dari istrinya.
Dia siapa memang? Kok dijaga mobil hitam segala?
Naira tidak membaca semuanya. Maya membaca, Bagas membaca, dan Raka jelas membaca terlalu banyak karena malamnya Hanif mengirim daftar akun yang menyebarkan fitnah dengan tanda merah.
Naira menghapus pesan itu tanpa membalas.
Ia punya acara yang lebih penting.
Malam itu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengadakan gala kecil untuk penggalangan dana riset penyakit langka. Naira datang sebagai undangan tertutup dari Dekan FK, bukan sebagai tamu Dimas, bukan sebagai istri siapa pun.
Ia memakai kebaya modern warna hitam, rambut disanggul sederhana, tanpa perhiasan selain anting kecil milik ibunya. Begitu masuk ke ballroom hotel, beberapa dokter senior menoleh.
Sebagian mengenal wajahnya.
Sebagian mengenal nama ibunya.
Sebagian lain hanya mengenal rumor.
Clara juga hadir.
Ia berdiri di dekat meja sponsor bersama beberapa dokter muda dan influencer kesehatan. Begitu melihat Naira, senyum Clara melebar.
"Mbak Naira."
Naira tahu nada itu.
Terlalu ramah untuk orang yang benar-benar ramah.
"Clara."
Beberapa orang di sekitar Clara langsung memperhatikan. Salah satunya dokter muda bernama Tania, teman Clara sejak koas, menatap Naira dari atas ke bawah.
"Jadi ini Mbak Naira yang lagi ramai itu?"
Clara menyentuh lengan Tania, pura-pura menahan. "Tan, jangan."
"Kenapa? Aku cuma tanya." Tania tersenyum. "Aku penasaran. Katanya Mbak Naira dokter juga ya?"
Naira mengambil segelas air dari pelayan. "Katanya?"
Tania tertawa kecil. "Soalnya kami cari di beberapa daftar alumni spesialis, nama Mbak tidak muncul. STR juga susah dicari kalau pakai nama Naira Mahendra. Jadi orang-orang bingung."
Orang-orang di sekitar mereka mulai melambat.
Clara menunduk. "Mbak, aku sebenarnya tidak mau membahas ini. Tapi setelah kejadian di Cipta Medika, banyak yang khawatir. Dunia medis punya aturan. Kita tidak bisa hanya percaya karena seseorang terlihat percaya diri."
"Kamu mengkhawatirkan pasien atau reputasimu?" tanya Naira.
Wajah Clara berubah.
Tania langsung maju. "Mbak, kalau memang punya izin dan latar belakang jelas, tinggal tunjukkan saja. Tidak perlu menyerang Clara."
Naira menatapnya. "Kamu siapa?"
Tania terpukul oleh pertanyaan itu. "Saya dokter."
"Dokter yang sedang meminta data pribadi tenaga medis lain di ballroom hotel?"
Beberapa orang menahan tawa.
Tania memerah. "Kami hanya ingin transparansi."
Clara cepat mengambil alih. "Mbak Naira, bukan begitu. Aku tahu ini sensitif. Tapi setelah ada rumor Arkana itu, banyak orang merasa perlu memastikan. Jangan sampai publik salah paham."
"Publik atau kamu?"
Clara menggigit bibir, mata mulai berkaca-kaca. "Aku tidak mengerti kenapa Mbak selalu menganggapku buruk."
Naira menatap air di gelasnya.
Dulu ia mungkin akan menjawab panjang, agar semua orang tahu Clara memutar keadaan. Malam ini ia tidak tertarik.
"Karena kamu buruk dalam menyembunyikannya."
Suasana langsung pecah menjadi bisik-bisik.
Tania tersinggung. "Itu keterlaluan."
Clara menunduk, air matanya benar-benar jatuh satu tetes. "Aku hanya tidak ingin dunia medis dipermainkan."
Kalimat itu cukup membuat beberapa dokter muda berpihak padanya.
"Kalau memang benar, tunjukkan saja."
"Iya, ini acara akademik. Jangan sampai orang tanpa kualifikasi masuk hanya karena koneksi."
Naira baru hendak meletakkan gelas ketika suara berat terdengar dari belakang.
"Siapa yang bilang dia masuk karena koneksi?"
Kerumunan otomatis memberi jalan.
Seorang pria tua berambut putih berjalan mendekat. Jasnya sederhana, tetapi semua dokter di ruangan itu langsung berdiri lebih tegak.
Prof. Hadi Pranoto.
Mantan dekan, ahli bedah saraf senior, anggota majelis kehormatan profesi, dan salah satu nama yang tidak perlu menaikkan suara untuk membuat orang diam.
Clara membeku.
Tania langsung menunduk. "Prof."
Prof. Hadi tidak melihat mereka lebih dulu. Ia menatap Naira dengan mata yang melembut.
"Kamu akhirnya datang juga."
Naira menunduk hormat. "Selamat malam, Prof."
"Jangan terlalu formal. Terakhir kamu memanggilku begitu, kamu baru selesai mengoperasi di tenda lapangan dan masih memarahiku karena jahitan tanganku kurang rapi."
Bisik-bisik langsung berubah menjadi suara tertahan.
Tania menatap Naira seperti melihat orang lain.
Clara memaksakan senyum. "Prof mengenal Mbak Naira?"
Prof. Hadi menoleh kepadanya. "Mbak?"
Satu kata itu cukup membuat wajah Clara memanas.
"Dr. Naira Salsabila Atmadja adalah salah satu dokter bedah terbaik yang pernah saya temui di misi kemanusiaan. Ia menyelesaikan pendidikan kedokteran dan riset doktoralnya jauh sebelum sebagian dari kalian selesai memahami etika bertanya."
Tania pucat.
Prof. Hadi melanjutkan, "Soal STR dan izin praktik, itu bukan bahan gosip ballroom. Tetapi karena kalian membuka ini di ruang publik, saya jelaskan satu kali. Dr. Naira terdaftar dalam roster konsultan khusus untuk misi kemanusiaan dan memiliki dokumen adaptasi praktik yang sah. Tindakan di Cipta Medika semalam dilakukan dengan mandat darurat dan persetujuan direktur. Ada masalah?"
Tidak ada yang menjawab.
Clara menggenggam tas kecilnya. "Prof, saya tidak bermaksud..."
"Saya tahu kamu tidak bermaksud." Prof. Hadi menatapnya dingin. "Orang sering bersembunyi di balik kalimat itu setelah telanjur merusak nama orang."
Dimas yang baru masuk bersama salah satu sponsor mendengar kalimat terakhir.
Ia melihat Naira berdiri di tengah ruangan, bukan sebagai istri yang ia kenal, melainkan sebagai seseorang yang bahkan profesor senior hormati.
Ia juga melihat Clara menunduk dengan mata basah.
Dulu, pemandangan itu otomatis membuatnya ingin berdiri di depan Clara.
Hari ini kakinya tidak bergerak.
Naira menatap Prof. Hadi. "Terima kasih, Prof. Tapi saya tidak datang untuk membahas diri saya."
"Aku tahu." Prof. Hadi tersenyum tipis. "Kamu datang untuk ibumu."
Ruangan kembali hening.
Nama Dr. Sari Anggraini tidak diucapkan keras di acara seperti ini selama bertahun-tahun. Terlalu banyak orang merasa bersalah, terlalu banyak yang dulu memilih diam.
Prof. Hadi menghadap ruangan.
"Malam ini, sebelum acara utama, saya ingin mengumumkan bahwa komite kecil akan membuka kembali arsip riset penyakit vaskular-genetik yang dulu dipimpin Dr. Sari Anggraini."
Beberapa dokter senior saling pandang.
Clara mengangkat wajah.
Dimas menatap Naira.
Naira sendiri tampak tidak terkejut, tetapi jari-jarinya mengencang di sisi gelas.
Prof. Hadi berkata, "Dan Dr. Naira akan menjadi konsultan utama pembukaan arsip tersebut."
Kali ini tidak ada yang berbisik.
Semua menunggu reaksi Naira.
Naira menurunkan gelasnya.
"Dengan satu syarat."
Prof. Hadi mengangkat alis.
"Semua data dibuka lengkap. Tidak ada nama sponsor yang disembunyikan."
Di sudut ruangan, seorang pria dari Cakradinata Farma yang sejak tadi diam langsung menegang.
Naira melihatnya.
Dan untuk pertama kali malam itu, ia tersenyum.
Pria dari Cakradinata Farma segera menunduk, pura-pura membaca ponsel. Tapi Naira sudah mengingat wajahnya. Orang seperti itu jarang bergerak sendiri. Mereka selalu menjadi mata sebelum tangan yang lebih besar datang.
Prof. Hadi mendekat dan berkata pelan, "Jangan pancing mereka terlalu cepat."
"Mereka sudah memancing ibuku sebelas tahun lalu."
"Kali ini kamu tidak sendirian."
Naira menatap ruangan. Ada yang takut, ada yang penasaran, ada yang menghitung untung rugi. Dukungan di ruangan seperti ini tidak pernah murni.
"Saya tahu, Prof. Justru karena itu saya harus memilih siapa yang boleh berdiri dekat."
Di pintu ballroom, Dimas mendengar kalimat itu.
Ia sadar dirinya tidak termasuk.
Clara juga mendengarnya.
Ia berdiri di samping meja minuman, jari-jarinya mencengkeram gelas sampai buku jarinya memutih. Selama ini ia percaya dunia sosial bisa diatur: siapa tersenyum kepada siapa, siapa duduk di meja depan, siapa dipanggil dokter, siapa hanya disebut istri.
Malam itu, urutannya kacau.
Naira tidak meminta kursi depan.
Kursi itu yang bergerak ke arahnya.
Clara meneguk air, tetapi tenggorokannya tetap kering.
Untuk pertama kali, ia membenci suara tepuk tangan yang bukan untuknya.
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.