NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:202.2k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. TES KECIL

Pintu besar dari kayu ek tua terbuka perlahan ketika Edgar mendorongnya.

Engselnya mengeluarkan suara berat yang dalam, seperti gema dari masa lalu yang panjang.

Elara melangkah masuk.

Ruang Kepala Akademi Sihir Oberyn ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Langit-langitnya sangat tinggi, ditopang oleh pilar-pilar batu besar yang dipenuhi ukiran rune sihir kuno.

Di atas, jendela kaca patri yang tinggi membiarkan cahaya matahari masuk dan memantul ke lantai marmer putih. Cahaya itu berkilauan seperti serpihan kristal yang menari di udara.

Di sisi kiri ruangan terdapat rak buku raksasa yang penuh dengan gulungan kuno, buku sihir tebal, dan artefak yang memancarkan aura magis halus.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja panjang dari kayu hitam yang tampak sangat tua namun terawat sempurna.

Di sisi tengah tampak meja yang diduduki empat orang.

Satu orang yang duduk di tengah jelas adalah kepala akademi.

Ia seorang pria tua dengan janggut putih panjang yang terawat rapi. Rambutnya juga memutih seluruhnya, namun matanya masih tajam dan penuh kebijaksanaan. Jubahnya berwarna biru tua dengan bordir emas yang rumit.

Di sebelah kanan dan kirinya duduk tiga orang guru.

Seorang pria paruh baya dengan wajah ramah.

Seorang perempuan berkacamata dengan ekspresi tenang dan cerdas.

Dan seorang pria lain yang sejak awal hanya duduk diam dengan tatapan tajam dan dingin.

Edgar berhenti beberapa langkah di depan meja. "Elara Ravens telah tiba, Kepala Akademi," katanya dengan sopan.

Elara maju selangkah. Ia berdiri tegak lalu membungkuk dengan hormat.

"Saya memberi salam kepada Kepala Akademi dan para guru," ujar Elara. Sikapnya sangat sopan.

Sikap yang biasa diajarkan di keluarga Ravens.

Kepala Akademi tersenyum lebar. "Terima kasih Edgar, kau boleh kembali ke kelasmu."

Edgar pun pergi meninggalkan ruangan setelah melirik sebentar Elara.

"Ah, jadi kau Elara Ravens," ucap Kepala Akademi ramah. Suaranya berat namun hangat. "Selamat datang di Akademi Sihir Oberyn."

Dua guru lainnya juga tersenyum ramah.

Namun guru yang berwajah dingin hanya menatap Elara tanpa berkata apa-apa. Tatapannya tajam seperti sedang menilai sesuatu.

Elara tetap berdiri dengan tenang.

Kepala Akademi lalu menunjuk kursi di depan meja. "Duduklah, Nona Elara."

Elara mengangguk. "Terima kasih."

Ia duduk dengan sikap tegak.

Kepala Akademi melipat kedua tangannya di atas meja lalu berkata, "Baiklah. Sebelum kita mulai, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Magnus Alderion, Kepala Akademi Oberyn."

Ia lalu menunjuk satu per satu guru di sampingnya.

"Di sebelah kananku ini Profesor Adrian Holt."

Pria paruh baya yang ramah itu mengangguk sambil tersenyum. "Senang bertemu denganmu," sapanya.

Magnus kemudian menunjuk guru perempuan berkacamata.

"Ini Profesor Celestine Arkwright."

Perempuan itu tersenyum lembut. "Selamat datang di akademi."

Lalu Magnus menunjuk pria terakhir.

"Dan ini Profesor Garrick Thorne."

Pria itu hanya mengangguk singkat. Tatapannya masih tajam. Seperti seorang komandan militer yang sedang menilai calon prajurit.

Elara kembali membungkuk sedikit. "Senang bertemu dengan para profesor."

Magnus tersenyum. "Baiklah. Sekarang mari kita berbicara sedikit tentangmu. Kau adalah murid pindahan dari Kerajaan Aurelius. Putri dari Duke Alaric Ravens dan Duchess Liora Ravens."

Elara mengangguk. "Benar."

Magnus melanjutkan. "Kami juga sudah mendengar sedikit tentang kejadian yang terjadi padamu."

Elara tahu apa yang dimaksud. Ledakan energi sihir saat monster menyerang ibu kota.

Magnus menatap Elara dengan penuh minat. "Dari laporan yang kami terima, energi sihir itu tiba-tiba muncul dalam dirimu. Apakah ada anggota keluargamu yang memiliki kemampuan sihir?"

Elara menjawab dengan santai. "Tidak secara langsung. Tapi orang tua saya sudah melakukan penelitian tentang garis keturunan keluarga. Kemungkinan besar kemampuan sihir itu berasal dari garis nenek moyang ibu saya."

"Seorang penyihir kuno dalam silsilah keluarga," ucap Kepala Akademi.

Ketiga guru langsung mengangguk.

Profesor Adrian berkata, "Masuk akal. Sebagian besar sihir memang diwariskan melalui darah."

Profesor Celestine menyesuaikan kacamatanya. "Namun dari laporan Duke Arram. Sihir yang muncul dalam diri Nona Elara bukan sihir biasa. Melainkan energi sihir kuno."

Magnus mengangguk pelan. "Benar. Karena itulah Duke Arram mengirimkanmu ke Akademi Oberyn. Untuk mencari cara agar kau bisa hidup berdampingan dengan energi sihir itu."

Profesor Adrian mengangguk. "Pilihan yang tepat. Karena tidak ada yang lebih bahaya dibandingkan dengan sihir yang tidak terkendali. Mungkin ini akan menjadi penelitian baru kita. Bisa saja bukan hanya Nona Elara yang memiliki kebangkitan sihir kuno."

"Terlebih dari laporan, ledakan energinya bahkan mampu menghanguskan monster dalam sekejap," kata profesor Calestine. Ia mencondongkan tubuh. "Pertanyaannya ... tipe energi sihir apakah itu?"

Magnus menyilangkan jarinya. "Berdasarkan analisis awal. Kemungkinan besar itu adalah sihir kuno bernama Aether."

Ruangan itu menjadi sedikit hening.

Profesor Celestine terlihat terkejut, mengingat ia tahu tipe sihir itu, sihir yang tidak lagi ada yang memakainya. "Aether?"

Magnus mengangguk. "Tapi rincian lebih lanjut akan kita bahas nanti."

Elara hanya mendengarkan. Ia tidak benar-benar memahami apa arti semua itu. Namun ia tahu satu hal. Sihir dalam tubuhnya bukan sesuatu yang biasa.

Saat itu Profesor Garrick Thorne yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Suaranya berat dan tegas. "Akademi ini tidak seperti tempat latihan bangsawan biasa. Pelajaran di sini keras. Jika ada yang tertinggal, maka dia akan ditinggalkan."

Elara menelan ludah pelan.

Aura pria itu benar-benar seperti komandan perang.

Garrick melanjutkan. "Aku juga mendengar bahwa kau dulunya berlatih sebagai kesatria."

Elara mengangguk. "Benar."

Garrick berkata singkat, "Kalau begitu kau kemungkinan besar akan ditempatkan di Divisi Vanguard. Divisi kesatria yang menggunakan atribut sihir."

Elara mengangguk.

Profesor itu menatap Elara tanpa berkedip. "Dan kebetulan ... aku adalah wali divisi Vanguard."

Elara merasakan sedikit tekanan. Namun ia tetap menjawab tegas, "Saya akan berusaha keras!"

Garrick mendengus kecil. "Kerja keras bukan hanya diucapkan saja. Buktikan. Jangan besar kepala hanya karena kau putri seorang Duke dari kerajaan tetangga. Aku tidak akan menurunkan standar pengajaranku."

Namun alih-alih gentar Elara justru merasa tertantang. Matanya bersinar dan menjawab, "Saya akan mengingatnya, Profesor."

Magnus tertawa kecil. "Baiklah, baiklah." Ia mengangkat tangan. "Profesor Thorne, jangan langsung memprovokasi murid baru."

Garrick hanya menyilangkan tangan.

Magnus kemudian berkata, "Sekarang kita akan mengukur tingkat sihirmu."

Elara sedikit bingung. "Mengukur?"

Magnus mengambil sebuah benda dari laci meja. Sebuah bola kristal transparan sebesar kepala manusia. Ia meletakkannya di atas meja.

"Ini adalah kristal pengukur sihir. Mendekatlah dan letakkan tanganmu di atasnya," suruh sang kepala akademi.

Elara berdiri. "Baik."

Ia melangkah maju. Kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kristal.

Ruangan menjadi hening.

Beberapa detik berlalu.

Tidak terjadi apa-apa.

Elara mulai berpikir apakah ia melakukan sesuatu yang salah.

Namun kemudian ...

Cahaya kecil muncul dari dalam kristal.

Cahaya itu perlahan membesar.

Semakin terang.

Semakin terang.

Profesor Celestine mengerutkan kening.

Profesor Adrian mencondongkan tubuh.

Cahaya itu kini bersinar seperti matahari kecil.

Retakan kecil tiba-tiba muncul di permukaan kristal.

KREK ...

KREK ...

Magnus langsung berdiri.

Namun ...

KRASH!

Bola kristal itu pecah berkeping-keping.

Elara langsung menarik tangannya dengan panik. "Aku tidak melakukan apa pun!"

Gadis itu menatap Magnus dengan wajah cemas.

Namun ...

Tidak ada yang menjawab.

Keempat orang di ruangan itu hanya menatap pecahan kristal. Lalu menatap Elara. Dengan ekspresi tidak percaya.

Bahkan Profesor Garrick Thorne yang sebelumnya sangat dingin kini menatap Elara dengan mata tak percaya.

Kemudian ...

Profesor Garrick tiba-tiba tertawa. Tawa yang berat namun penuh kegembiraan.

"Ha! Sepertinya tahun ini akan menjadi kelas yang sangat menarik," katanya.

Elara berkedip bingung. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Magnus dan para guru lain langsung kembali memasang ekspresi santai. Magnus mengelus janggutnya.

"Jangan khawatir," kata Magnus. Ia tersenyum. "Kristal ini mungkin sudah terlalu tua. Karena itu dia pecah."

Elara masih sedikit ragu. "Benarkah?"

Magnus mengangguk. "Kau gadis yang cukup kuat. Jadi saranku sebagai Kepala Akademi adalah jangan menyerah. Dan tetaplah rendah hati. Nikmati menjadi murid di sini."

Magnus berdiri dan melanjutkan, "Selamat datang di Akademi Sihir Oberyn, Elara Ravens."

Elara tersenyum. "Terima kasih."

Magnus kemudian berkata, "Profesor Thorne."

Garrick menoleh.

"Antarkan dia ke kelasnya. Ajarkan juga aturan dasar akademi," perintah Magnus.

Garrick mengangguk. "Baik."

Profesor itu berdiri lalu membungkuk hormat kepada Magnus.

Elara juga membungkuk kepada Kepala Akademi dan para profesor lainnya. "Terima kasih atas bimbingannya," katanya.

Kemudian ia mengikuti Garrick keluar ruangan.

Pintu besar itu tertutup kembali.

Begitu Elara pergi ... suasana langsung berubah.

Profesor Adrian langsung berdiri panik. "Itu ... itu tidak mungkin!"

Profesor Celestine juga terlihat pucat. "Tingkat sihirnya terlalu tinggi! Tingkatnya bahkan tidak bisa diukur oleh kristal!"

Adrian menatap Magnus. "Kepala Akademi. Gadis itu!"

Celestine menambahkan dengan suara bergetar, "Dia adalah permata yang harus diasah. Masukkan saja dia ke dalam Divisiku, aku akan membimbingnya dengan sangat baik!"

Adrian menyela, "Tidak, tidak. Masukkan saja ke Divisiku. Aku yakin dia akan berkembang di sana!"

Magnus mengangkat tangannya. Memberi isyarat agar mereka tenang.

Ruangan kembali hening.

Magnus memandang pecahan kristal di meja. Lalu berkata pelan, "Ini akan menjadi rahasia kita untuk sementara."

Kedua profesor menatapnya.

"Jangan sampai kabar ini keluar dari ruangan ini," perintah Magnus. Magnus menatap pintu tempat Elara pergi. "Gadis itu bisa menjadi target bahaya dan politik jika sampai didengar. Saat ini dia bahkan belum memahami sihirnya sendiri. Biarkan dia belajar di sini. Biarkan dia menikmati masa remajanya. Tanpa terlibat dalam politik atau perebutan kekuatan."

Para profesor akhirnya mengangguk.

Mereka mengerti.

Namun dalam hati mereka semua tahu satu hal.

Hari ini ...

Akademi Sihir Oberyn baru saja menerima seorang murid yang mungkin akan mengubah masa depan dunia sihir.

1
Ir
jujur deh paling benci sama musuh kalo udah terdesak terus main nya curang 😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐋𝐚𝐥𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐠𝐫𝐢𝐧 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 🥺🥺😭😭
Made Putu Sridana
💪💪💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐤𝐩𝐧 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐢𝐧𝐨𝐬𝐚𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐠𝐤 𝐦𝐚𝐭𝐢𝟐 🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚 𝐔𝐝𝐢𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐢𝐧𝐨𝐬𝐚𝐮𝐫𝐮𝐬😭😭
total 2 replies
Mulyani Asti
kan pasti sihir ilusi deh soal nya ada Liora sama Evan kan mereka belum Dateng ke oberyn ya
Archiemorarty: Betul 🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kerennn banget thorr😍
Archiemorarty: Terima kasih kembali karena kakaknya udah baca ceritanya 🥰
total 1 replies
mimief
hissss...udah nahan nafas
kirain beneran 😭😭😭
Archiemorarty: Hahahaha....
total 1 replies
mimief
Waduuh... waduuuh
mau ngumpet dimana ini
langit udah gelap semua😭

jangan yaaa..,jangan ngimpinya elera jadi kenyataan 🥹🥹
Archiemorarty: Ehhh... gimna ya 🤭
total 1 replies
mimief
expalirimusss
tambahin Thor
apa

Avra kadabra🤣🤣
Archiemorarty: Seketika mantra kutukan keluar 🙄
total 3 replies
j4v4n3s w0m3n
lanjut kaka lagi seru serunya jgn di potong🤭
mimief
CK...lama lama othorr kita sekep aja yuuk di ujung🫣🫣🤣
Archiemorarty: Kok gitu weehhh...
total 1 replies
mimief
heiii... permisi
kalau mau belagu juga mesti punya modal pak🫣🤣🤣
Archiemorarty: Bener, Edgar mah bisa belagu karena emang dah pengalamannya banyak abah satu itu 🤣
total 1 replies
j4v4n3s w0m3n
waduhhh siapa atu yg bisa mengalahkan musuh yg kuat itu apakah elara ??????
ade anggraini
menikmati tiap alur nya
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
ade anggraini
Titania yg selalu membimbing elara tiap kali terjebak ilusi
Archiemorarty: Hebat kali kakaknya sadar ....
total 1 replies
Miss Typo
penasaran sama lanjutannya,,, Elara selalu terjebak dgn sihir ilusi.
tetap kuat Elara kamu pasti bisa 💪
Miss Typo: harus lebih hati-hati dan waspada, eh kayak perang aja hehe
Elara harus lebih banyak belajar dan berlatih 💪
total 2 replies
Vina Fy
ihhh hebatnya diriku,,di tengah cerita aku udah nebak kalo ini ilusi loh thor 🤭🤭
Archiemorarty: Goog job kakak
total 1 replies
Miss Typo
Elara kah yg bisa mengalahkan Astrelia nantinya????
mimief: othor peliit🫣
total 3 replies
Miss Typo
akhirnya ayang Edgar muncul juga 😍

dah selesaikah makan seblaknya dgn othor???😁
Miss Typo: kagak ngajak² mkn seblak berdua aja 🥺
akhirnya tadi aku beli seblak sendiri 🥹
total 2 replies
Vina Fy
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!