Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sore itu, bias cahaya matahari yang mulai meredup menyelimuti langit Yogyakarta.
Kota budaya ini tampak begitu tenang, namun tidak bagi Tuan Bayu yang baru saja menempuh perjalanan udara darurat dari Jakarta.
Didampingi oleh Diko dan beberapa pengawal pribadi, langkah kaki Tuan Bayu terdengar tegas saat memasuki area kediaman pribadi Tuan Wijaya—salah satu investor paling berpengaruh sekaligus sekutu lama keluarga mereka.
Di dalam ruang kerja berarsitektur kayu jati klasik, Tuan Wijaya sudah menunggu dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan.
Di atas meja kerjanya, sebuah laptop militer berenkripsi tinggi yang dikirim langsung oleh tim IT Pratama Group sudah menyala, menampilkan layar biru dengan kolom enkripsi berlapis.
"Akhirnya Anda sampai, Tuan Bayu," ucap Tuan Wijaya, langsung berdiri dan menyalami sahabat lamanya itu dengan erat.
"Kekacauan yang ditinggalkan Mita hampir saja meruntuhkan seluruh data proyek strategis kita di wilayah Jawa Tengah. Wanita itu benar-benar mengunci akses utama dan mencoba menghapus seluruh jejak transaksi ilegalnya."
Tuan Bayu tersenyum tipis, lalu menepuk pundak sahabatnya untuk menenangkan.
"Tenang saja, Wijaya. Mita boleh merasa dia adalah ular yang cerdik, tetapi dia lupa bahwa pemilik asli dari seluruh jaringan sistem ini telah kembali."
Tuan Wijaya mengernyitkan alisnya, tampak terkejut.
"Maksud Anda... Diandra?"
"Benar. Dari ranjang rumah sakitnya beberapa hari lalu, putriku sendiri yang meretas balik dan membangun ulang seluruh dinding pertahanan sistem kita. Mita berpikir dia telah mengunci kita selamanya, padahal dia justru mengunci dirinya sendiri di dalam jebakan."
Tuan Bayu mengangguk ke arah laptop. "Silakan dicoba, Wijaya. Buka enkripsinya."
Tuan Wijaya menarik napas panjang. Ia duduk kembali di kursi kebesarannya, memosisikan jemarinya di atas papan ketik.
Dengan penuh kehati-hatian, Tuan Wijaya memasukkan sandi yang sudah diperbaharui oleh Diandra melalui jaringan satelit rahasia.
Sandi rumit berupa kombinasi kode biner, algoritma khusus, dan kata sandi pribadi yang hanya diketahui oleh lingkaran inti keluarga mereka.
Klik.
Suara ketukan tombol Enter terakhir menggema di dalam ruangan yang sunyi itu.
Dalam hitungan detik, layar laptop yang semula terkunci rapat langsung berubah.
Barisan grafik merah yang menandakan kegagalan sistem perlahan-lahan berubah menjadi hijau.
Satu per satu, partisi data rahasia proyek strategis, laporan keuangan riil, hingga daftar aset perusahaan cangkang milik Mita yang sengaja disembunyikan, terbuka lebar tanpa ada satu pun file yang rusak.
"Luar biasa..." gumam Tuan Wijaya dengan mata melebar, takjub melihat kejeniusan Diandra yang bahkan jauh lebih mematikan setelah bangun dari komanya.
"Semua data pulih seratus persen. Bahkan sistem keamanan yang baru ini secara otomatis mengisolasi seluruh akses IP milik Mita dan antek-anteknya."
Tuan Bayu melangkah mendekat, menatap layar monitor dengan kilat mata yang dingin dan penuh kepuasan.
"Kerja yang bagus, Diandra," bisik Tuan Bayu di dalam hatinya, bangga pada putri tunggalnya.
Ia kemudian menoleh ke arah Diko yang berdiri siaga di dekat pintu.
"Diko, hubungi Pratama di Jakarta. Katakan pada mereka, gerbang Yogyakarta sudah terbuka. Sekarang, saatnya kita menyeret tikus pelabuhan itu ke hadapan hukum."
Suasana kediaman utama keluarga Bayu di Jakarta begitu tenang sore itu.
Di dalam kamar tidur utama yang sejuk, Diandra akhirnya tertidur lelap setelah melewati sesi latihan fisik dan makan siang yang cukup menguras energinya.
Wajah aslinya tampak begitu damai dalam guratan tidur, sebuah pemandangan yang selama lima tahun ini selalu dirindukan oleh suaminya.
Pratama, yang baru saja menemani Diandra tidur siang, perlahan melepaskan dekapannya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, ia membenarkan selimut istrinya, lalu mengecup kening Diandra dengan penuh kasih sayang.
Tepat saat ia berdiri, ponsel khusus miliknya yang berada di dalam saku jubah bergetar tanpa suara. Layar ponsel menampilkan nama Diko.
Pratama segera melangkah taktis menuju pintu jati kamar.
Ia keluar dari kamar dan tidak mau mengganggu Diandra yang sedang membutuhkan istirahat total untuk memulihkan saraf-saraf kakinya.
Setelah memastikan pintu tertutup rapat tanpa derit, Pratama berjalan menuju balkon lantai dua yang menghadap ke arah taman belakang.
Ia menggeser layar ponselnya, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga.
"Bagaimana, Diko?" tanya Pratama langsung dengan suara bariton yang berat dan rendah, menjaga intonasi suaranya agar tidak menggema di koridor rumah yang sepi.
Dari seberang telepon, suara Diko terdengar begitu mantap dan dipenuhi nada keberhasilan.
"Melapor, Pak Pratama. Sore ini Tuan Bayu sudah bertemu dengan Tuan Wijaya di Yogyakarta. Akses data proyek strategis yang sempat dikunci dan dikacaukan oleh Mita kini sudah terbuka sepenuhnya."
Pratama mengembuskan napas lega, guratan ketegangan di dahinya perlahan mengendur.
"Sandi baru dari Diandra bekerja dengan baik?"
"Sangat sempurna, Pak," jawab Diko di seberang sana.
"Tuan Wijaya bahkan sangat takjub. Tidak ada satu pun file yang rusak, dan seluruh sistem keamanan baru buatan Nyonya Besar langsung mengisolasi jaringan milik Mita secara otomatis. Saat ini, posisi Mita di pelabuhan Jakarta juga masih dalam pengawasan ketat tim kita. Dia benar-benar sudah tidak memiliki jalan keluar."
Pratama mencengkeram pembatas besi balkon, matanya menatap lurus ke depan dengan kilat elang yang mematikan.
"Bagus. Katakan pada Papa untuk menyelesaikan urusan administrasi dengan Tuan Wijaya malam ini. Begitu Papa kembali ke Jakarta besok, kita akan eksekusi Mita dan Ferdian bersama-sama. Pastikan tikus pelabuhan itu tidak mati kelaparan sebelum aku sendiri yang menyeretnya ke pengadilan."
Pratama memutus sambungan teleponnya dengan Diko.
Setelah memastikan kondisi di sekitar kamar tidur Diandra tetap sunyi, ia melangkah taktis menyusuri koridor lantai dua, menuju ke ruang kerja pribadinya yang terletak di ujung sayap barat rumah.
Ruangan luas yang didominasi oleh panel kayu mahoni gelap dan jajaran buku-buku hukum serta bisnis itu tampak lengang.
Pratama berjalan langsung menuju meja kerja utamanya. Ia menyalakan monitor komputer berspesifikasi militer yang terhubung langsung dengan server satelit intelijen milik Pratama Group.
Pratama menuju ruang kerjanya untuk melihat di mana keberadaan Ferdian sekarang.
Pria itu tidak akan pernah melupakan nama bajingan yang telah menganiaya Gia hingga tewas demi menutupi konspirasi Mita.
Bagi Pratama, Ferdian adalah utang darah yang harus dibayar tunai.
Jemari tegap Pratama bergerak cepat di atas papan ketik, membuka enkripsi sistem pelacakan digital yang sebelumnya telah disiapkan oleh Diandra sebelum wanita itu tidur siang.
Sistem tersebut dirancang khusus untuk memindai aktivitas nomor identitas, pengenalan wajah (facial recognition) dari kamera pengawas publik, hingga transaksi gelap di pasar hitam yang biasa digunakan oleh para pelarian.
Bip. Bip.
Layar monitor berkedip merah, menampilkan sebuah peta satelit digital kota Jakarta yang perlahan memperbesar fokusnya ke sebuah wilayah pinggiran di bagian utara.
Sebuah titik koordinat berkedip konstan di sana, terkunci pada sebuah bangunan gudang kontainer terbengkalai yang tidak jauh dari kawasan industri pelabuhan.
"Jadi kamu bersembunyi di sana..." desis Pratama, netra elangnya menatap tajam foto profil Ferdian yang muncul di sudut layar beserta riwayat log aktivitas digital terakhirnya.
Berdasarkan data sadapan, Ferdian rupanya sedang berusaha mencari pasokan logistik dan identitas baru dari jaringan preman lokal untuk menyusul Mita melarikan diri.
Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya telah terpantau rapi dalam radar keluarga Bayu.
Pratama menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, senyuman dingin terukir di wajah tampannya.
Baik Mita maupun Ferdian kini telah masuk ke dalam jaring-jaring jebakan yang mereka pasang.
Sambil menunggu Papa Bayu kembali dari Yogyakarta, Pratama mulai menyusun rencana penyergapan mutlak yang akan memastikan kedua pelaku tersebut mendapatkan pembalasan yang setimpal.