Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di titik paling nadir dari kerak bumi Archeon, hukum fisika bukan lagi sekadar batasan; ia menjadi secarik kertas yang direnyuk dan dibuang ke dalam tungku api.
The Deepest Trench adalah palung mati tempat waktu tidak mengalir ke depan atau ke belakang, melainkan berputar dalam pusaran statis yang menyesakkan. Di atas Altar Primordial yang melayang di tengah kehampaan bawah laut, benturan antara Kael Ravenhart dan Aethelgard menciptakan riak kejut yang mampu menghentikan detak jantung makhluk fana mana pun dalam radius puluhan mil.
Setiap kali bilah pedang hitam-perak Kael beradu dengan pedang emas kusam milik Sang Penguasa Akhir, percikan partikel yang tercipta bukan lagi berupa api, melainkan pecahan realitas. Kadang kala, dalam sepersekian detik pascabenturan, bayangan masa lalu—pemandangan Eldravale sebelum terbakar, atau kemegahan Solaria masa kuno—muncul sesaat di udara sebelum akhirnya terfragmentasi dan lenyap ditelan kegelapan mutlak palung tersebut.
"Kau terlalu memaksakan wadah fana itu, Ravenhart!" suara Aethelgard bergema dari balik topeng peraknya, tenang namun memiliki berat seolah-olah seluruh pegunungan Archeon sedang runtuh di atas pundak Kael. "Kau mencoba menahan samudera dengan bendungan pasir. Cahaya dari gadis itu tidak akan bertahan lama!"
Kael tidak menjawab. Setiap otot di tubuhnya menegang hingga ke titik tertinggi. Pola Sigil di tangan kirinya kini merayap naik hingga ke leher dan pipi kirinya, memancarkan denyut cahaya putih-ungu yang tidak lagi beraturan. Rasa sakit di dadanya sudah melampaui batas yang bisa dipahami oleh otak manusia, rasanya seperti seluruh organ dalamnya dilelehkan dan dibekukan kembali secara berulang-ulang dalam hitungan milidetik.
Di belakangnya, Liora Ashveil berlutut dengan kedua tangan menempel pada lantai batu altar yang retak. Napasnya terengah-engah, dan keringat dingin membasahi zirah peraknya. Melalui tongkat transmisi yang tertanam di sampingnya, ia bisa merasakan bahwa jaringan magis di permukaan bumi sedang berada di ambang kehancuran total.
"Kael..." rintih Liora di dalam batinnya.
Ia bisa merasakan bahwa dari ratusan penyihir dan pendeta yang menyalurkan mana dari permukaan, setengah dari mereka telah gugur karena serangan balasan dari Legiun Abisal yang menjamur di daratan. Pasokan esensi fajar yang mengalir ke tubuh Kael mulai tersendat-sendat, menyisakan kekosongan yang langsung coba diisi oleh sifat agresif dari Sigil Void.
Melihat jeda mikro pada pergerakan Kael, Aethelgard mengayunkan pedangnya dalam gerakan melingkar yang anggun namun mematikan.
"ABYSSAL ABSOLUTION: THE END OF PATHS."
Sebuah gelombang berbentuk sabit kelabu vertikal membelah ruang di antara mereka. Kael mengangkat pedangnya untuk menahan serangan tersebut, namun karena pasokan energi cahaya yang tidak stabil, perisai Celestial Void-nya pecah seketika.
BOOM!
Kael terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam pilar batu purba hingga hancur berkeping-keping. Pedang Eldravale terlepas dari genggamannya, menancap jauh di sudut altar. Kael terbatuk, memuntahkan darah yang kini bercampur dengan bintik-bintik energi hitam yang menguap saat menyentuh udara.
"Kael!" Liora mencoba bangkit untuk berlari menuju posisi Kael, namun Aethelgard hanya perlu mengacungkan satu jari ke arahnya untuk mengunci tubuh Liora dengan tekanan gravitasi Abisal yang luar biasa.
"Diam di tempatmu, Anak Fajar," ucap Aethelgard dingin. "Saksikan bagaimana pahlawanmu ini kembali menjadi abu yang sunyi. Dia bukan penyelamat. Dia hanyalah sebuah anomali yang menolak takdir penghapusan."
Di dalam kegelapan pikiran Kael yang mulai memudar, sesosok entitas yang sangat ia kenal berjalan mendekat. Umbra tidak lagi berwujud bayangan yang mengerikan, ia kini mengambil wujud Kael saat masih menjadi seorang pemuda polos di Eldravale, sebelum tragedi merebut segalanya.
"Kau sudah kalah, Kael," ucap wujud palsu itu dengan suara yang lembut, hampir penuh belas kasihan. "Lihat dirimu. Kau mengorbankan tubuhmu, jiwamu, dan masa depanmu untuk orang-orang yang dulunya memburumu seperti binatang. Untuk apa? Pada akhirnya, mereka tetap gagal menopangmu dari atas."
Kael yang berada di dalam kesadarannya berlutut, menatap tangannya yang mulai mengabur menjadi debu hitam. "Aku tidak melakukannya untuk mereka..."
"Lalu untuk Liora? Jika kau mati di sini, Aethelgard akan menghapusnya dari keberadaan. Jembatan cahayamu akan runtuh, dan dia akan terjebak dalam ketiadaan abadi." Wujud Umbra itu mengulurkan tangan. "Lepaskan penahanan dirimu, Kael. Usir energi cahaya yang menyiksa wadahmu itu. Biarkan aku mengambil alih sepenuhnya. Aku akan melahap Aethelgard, aku akan melahap gerbang itu, dan aku akan membawa Liora kembali ke permukaan sebagai penguasa mutlak. Kau hanya perlu menyerah pada kegelapanmu."
Kael menatap tangan Umbra. Itu adalah penawaran yang sangat menggiurkan. Menyerah pada kekosongan berarti tidak akan ada lagi rasa sakit, tidak akan ada lagi beban tanggung jawab, dan tidak akan ada lagi ketakutan akan kegagalan.
Namun, di tengah kegelapan itu, Kael mendengar suara lain. Bukan suara dari dalam pikirannya, melainkan suara detak jantung yang samar namun konisten. Detak jantung Liora yang terhubung melaui sisa-sisa benang energi Celestial Void.
Di dalam ingatan Kael, kata-kata Liora di atas runtuhnya Celestia kembali bergema: “Aku mencintaimu, Kael... bahkan jika kau adalah kehampaan itu sendiri.”
Kael mendongak. Mata manusianya kembali menyala di dalam ruang kesadarannya. "Jika aku menyerah padamu, Umbra... maka pria yang dicintai Liora akan benar-benar mati. Dan aku lebih memilih hancur sebagai manusia yang mencoba, daripada hidup abadi sebagai monster yang melupakan cara mencintai."
Kael mencengkeram tangan wujud palsu itu, bukan untuk menerimanya, melainkan untuk menghancurkannya. Wujud Umbra itu menjerit saat tubuhnya retak dan kembali menjadi kabut hitam biasa yang tersedot masuk ke dalam inti mananya.
"Aku adalah penguasa dari takdirku sendiri," ucap Kael tegas.
Di dunia nyata, Aethelgard berjalan mendekati Kael yang masih terkapar di reruntuhan pilar. Ia mengangkat pedang emasnya, mengarahkannya tepat ke atas jantung Kael.
"Selamat tinggal, Kael Ravenhart. Kau adalah lawan yang terhormat di era yang salah," ucap Sang Penguasa Akhir.
Namun, sebelum bilah pedang itu turun, sebuah siluet perak melesat di antara mereka.
Liora, yang entah bagaimana berhasil memecahkan belenggu gravitasi Aethelgard dengan membakar seluruh esensi kehidupan yang tersisa di dalam Inti Mananya, berdiri di depan Kael. Ia tidak memiliki senjata untuk menahan pedang dewa tersebut, maka ia menggunakan satu-satunya hal yang ia miliki: tubuhnya sendiri.
STAB!
Pedang emas kusam Aethelgard menembus dada Liora.
Waktu seolah benar-benar berhenti di dalam palung tersebut. Kael membelalakkan matanya. Ia melihat darah merah segar mengalir dari dada Liora, menetes ke atas wajahnya. Senyum tipis yang penuh kedamaian masih terukir di bibir gadis itu saat tubuhnya mulai lemas dan jatuh ke dalam pelukan Kael.
"Liora... tidak... tidak..." suara Kael pecah, berubah menjadi raungan keputusasaan yang belum pernah terdengar sepanjang sejarah Archeon.
Aethelgard menarik pedangnya kembali, menatap pemandangan itu dengan tatapan datar di balik topengnya. "Pengorbanan yang sia-sia. Cinta adalah kelemahan terbesar dari makhluk ciptaan."
Namun, Aethelgard salah.
Keputusasaan yang dirasakan Kael kali ini tidak membawanya kembali ke dalam kegelapan Void yang merusak. Keputusasaan ini lahir dari cinta yang murni—sebuah emosi tertinggi yang menjadi kunci utama dari penciptaan.
Garis ketujuh di tangan Kael—Void Genesis—yang sebelumnya telah memudar, mendadak meledak dengan cahaya putih transparan yang begitu menyilaukan hingga seluruh palung terdalam bumi itu mendadak berubah menjadi putih bersih, menghapus semua kegelapan Abisal dalam radius ribuan mil dalam sekejap mata.
Harmoni yang Terkoyak: Wujud Sempurna Genesis
Tubuh Liora yang mulai dingin di dalam pelukan Kael mendadak melayang di udara, dikelilingi oleh untaian energi berbentuk rantai DNA ganda yang terbuat dari cahaya murni dan kehampaan.
Kael berdiri perlahan. Zirah kain hitamnya lenyap, digantikan oleh jubah yang terbuat dari jalinan bintang-bintang kosmis dan kegelapan ruang angkasa. Retakan di wajah dan tubuhnya tidak lagi mengeluarkan darah atau energi bocor; retakan itu kini dipenuhi oleh cairan emas transparan yang merekatkan kembali fisiknya ke dalam wujud yang melampaui batas dewa—The Genesis Arbiter.
"Kau..." Aethelgard melangkah mundur untuk pertama kalinya, tangannya yang memegang pedang mulai gemetar saat merasakan tekanan eksistensial dari Kael. "Kau telah menyatu dengan kehendak asli dari para Pencipta..."
Kael tidak mengucapkan sepatah kata pun. Suara manusianya telah hilang, digantikan oleh harmoni jutaan suara kosmis yang berbicara secara serentak di dalam ruangan tersebut.
Ia mengangkat tangan kanannya ke arah Aethelgard.
"GENESIS NULLIFICATION: RESTORATION OF CODE."
Aethelgard mencoba mengangkat pedangnya untuk bertahan, namun sebelum ia sempat mengaktifkan sihir apa pun, zirah emasnya mulai terkelupas menjadi partikel debu putih. Topeng peratnya retak dan pecah, menampakkan wajah seorang ksatria kuno yang dipenuhi oleh kedamaian yang tiba-tiba.
"Ah..." Aethelgard tersenyum tipis saat tubuhnya mulai memudar menjadi cahaya murni. "Jadi ini... wujud akhir dari keseimbangan... Indah sekali..."
Sang Penguasa Akhir lenyap dari keberadaan, mengembalikan esensinya yang telah terkontaminasi kepada siklus alam semesta yang bersih.
Kael kini beralih ke arah Gerbang Abisal yang besar. Zat hitam yang terus berputar di dalam gerbang itu mulai bergejolak ketakutan saat merasakan kehadiran wujud baru Kael.
Kael berjalan mendekati gerbang tersebut, menggendong tubuh Liora yang jiwanya masih melayang di antara hidup dan mati dalam gelembung energi Genesis. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk menutup gerbang ini selamanya. Ia tidak bisa menyegelnya dari luar; ia harus masuk ke dalam pusaran tersebut, membawa serta sisa-sisa energi anti-materi ini kembali ke dalam inti ketiadaan yang sejati.
Ia meletakkan Liora dengan lembut di atas Altar Primordial yang kini telah bersih dari korosi. Kael menempelkan dahinya ke dahi Liora untuk terakhir kalinya, menyalurkan setengah dari kekuatan Void Genesis-nya ke dalam jantung gadis itu untuk menyembuhkan luka tusukannya dan mengembalikan fungsi kehidupannya.
"Hiduplah, Liora..." sebuah bisikan hangat terdengar di dalam pikiran Liora yang mulai sadar kembali. "Jaga matahari perak kita. Biarkan dunia melihat bahwa malam panjang ini telah benar-benar berakhir."
Liora membuka matanya perlahan, tepat pada waktunya untuk melihat siluet Kael Ravenhart melangkah mundur ke dalam pusaran hitam Gerbang Abisal.
"Kael! TIDAK! JANGAN TINGGALKAN AKU!" teriak Liora, mencoba menjangkau tangan Kael.
Namun, pintu gerbang geometris itu mulai melipat ke dalam diri sendiri. Sebelum sepenuhnya menghilang dari dimensi Archeon, Kael memberikan sebuah senyuman—senyuman tulus dari seorang pemuda Eldravale yang akhirnya berhasil menepati janjinya untuk melindungi orang yang ia cintai.
SHUUUUU—
Gerbang Abisal itu lenyap, menyisakan keheningan yang sempurna di dasar dunia. Air samudera yang dulunya kental dan membusuk mulai mengalir masuk kembali, namun kali ini air tersebut jernih, membawa kehidupan baru bagi palung yang telah lama mati.
Di Bawah Langit yang Baru
Beberapa jam kemudian, di permukaan pantai Barat, sisa-sisa pasukan Aliansi Archeon berdiri diam menatap laut yang kini telah kembali biru bersih. Pusaran air raksasa dan pilar cahaya hitam telah lenyap sama sekali dari cakrawala.
Sesosok tubuh perak melayang naik dari dalam ombak yang tenang, mendarat dengan lembut di atas pasir pantai. Itu adalah Liora Ashveil. Di tangannya, ia memegang pedang kuno milik Kael yang telah patah menjadi dua bagian.
Captain Jaina dan Ratu Elara segera berlari mendekatinya. "Liora! Apa yang terjadi di bawah sana? Di mana... di mana Kael?"
Liora tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendongak, menatap matahari perak yang kini bersinar dengan kehangatan yang sangat sempurna, tanpa ada lagi kabut abu-abu atau bayangan ketakutan yang menghalanginya. Di punggung tangan kanannya, sebuah tato kecil berbentuk lingkaran dengan tujuh garis transparan muncul samar—sebuah tanda warisan yang ditinggalkan Kael untuk menjaga keseimbangan dunia.
"Dia tidak pergi," bisik Liora, air matanya jatuh ke atas bilah pedang Kael yang patah. "Dia ada di mana-mana sekarang. Di dalam setiap berkas cahaya matahari ini, dan di dalam setiap bayangan yang melindungi kita saat malam tiba."
Di kejauhan, di reruntuhan Eldravale, tunas pohon Yggra yang ditanam Kael mendadak mekar, mengeluarkan daun-daun hijau emerald pertama yang menandakan bahwa Era Keseimbangan yang sejati telah benar-benar lahir di atas tanah Archeon. Perang besar telah berakhir, dan kisah tentang Sang Kaisar Kehampaan kini telah berubah menjadi legenda tentang seorang pria yang merobek langit hanya untuk memberikan dunia sebuah fajar yang abadi.