NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Masa Lalu

Angin malam berhembus dingin menyusup lewat celah jendela yang hanya tertutup tirai tipis. Langit di luar masih gelap gulita, sesekali disambar kilat tipis yang memancarkan cahaya samar ke dalam kamar, diikuti suara guntur yang bergemuruh pelan di kejauhan. Hujan rintik-rintik masih turun, membasahi atap dan menciptakan suara gemerisik yang kontras dengan keheningan di dalam ruangan.

Demam Vira sudah mulai turun sedikit demi sedikit berkat perawatan teliti yang ia berikan sejak sore tadi. Gadis itu kini sudah tidur pulas di balik selimut tebal, napasnya terdengar teratur dan tenang. Rona merah yang sempat menyala hebat di pipinya perlahan memudar, digantikan oleh warna kulit yang kembali ke keadaan semula.

Farzhan duduk di tepi kasur, punggungnya tegak dan sikapnya tenang seolah tidak ada beban. Matanya menatap wajah istrinya dengan tatapan tajam namun diam, tidak ada senyum atau ekspresi lembut yang terlihat. Meski rasa lelah akibat bekerja seharian mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, ia tetap duduk di sana, memastikan kondisi Vira benar-benar membaik. Rasa lega memang ada di hatinya, tapi ia menyimpannya rapat-rapat tanpa menampakkannya sedikit pun.

Karena tidak ingin mengganggu tidur Vira, Farzhan bangkit perlahan dari duduknya. Ia berniat keluar kamar untuk membiarkan istrinya beristirahat lebih leluasa, namun langkah kakinya terhenti sejenak. Di sudut ruangan, di atas lemari kayu tua yang berdiri kokoh, matanya menangkap sebuah kotak kardus tebal yang tertutup rapi dan terlihat disimpan dengan sangat hati-hati.

Rasa penasaran mulai muncul di benaknya. Ia tahu Vira adalah tipe wanita yang sangat menyayangi kenangan masa lalu, tapi selama ini ia sama sekali tidak pernah mengetahui apa saja yang disimpan gadis itu di dalam kotak tersebut.

Dengan gerakan halus dan tanpa suara, Farzhan melangkah mendekati benda itu. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tidak terbaca. Ia meraih kotak itu lalu membuka penutupnya secara perlahan.

Di dalamnya, tersusun rapi beragam barang kenangan. Ada foto-foto lama yang kertasnya mulai menguning, kartu ucapan, pita pembungkus kado, hingga benda-benda kecil yang terlihat sudah berumur cukup lama namun terawat dengan sangat baik, seolah dijaga seperti harta paling berharga.

Farzhan mengambil satu per satu benda itu dengan tangan besarnya, memeriksanya dengan pandangan yang teliti dan kritis. Semakin lama ia melihat, kerutan halus mulai terbentuk di keningnya, dan sorot matanya yang tajam sedikit melebar karena rasa tidak percaya, namun ekspresi wajahnya tetap dingin dan terkendali.

Benda pertama yang ia ambil adalah sebuah gelang manik-manik sederhana berwarna biru.

Farzhan terdiam sejenak. Ia sangat ingat benda ini.

Flashback... 18 Tahun yang lalu...

Waktu itu mereka masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Saat itu adalah hari ulang tahun Farzhan, dan ia menerima banyak sekali hadiah mewah — mainan robot canggih, mobil-mobilan kendali jarak jauh, dan benda-benda mahal lainnya yang membuat anak-anak lain iri.

Namun Vira, dengan wajah polos dan mata berbinarnya, menyodorkan gelang sederhana itu kepadanya. "Ini untuk Zhan! Aku buat sendiri menggunakan manik-manik ini! Kuat dan awet, kok!"

Waktu itu, Farzhan hanya merasa malu dan sedikit jijik. Teman-temannya memberikan barang-barang bagus, sementara ia hanya diberi gelang buatan tangan yang terlihat sederhana sekali. Ia pun menerima benda itu dengan sikap acuh tak acuh, lalu meletakkannya sembarangan di atas meja, dan akhirnya benda itu hilang entah ke mana dari rumahnya.

Namun sekarang... gelang itu ada di sini. Masih utuh, manik-maniknya masih berkilau, bahkan talinya sudah diganti dengan yang baru agar tidak mudah putus.

"Dia menyimpannya selama ini..." gumam Farzhan pelan, suaranya rendah dan datar, meski rasa heran mulai menyelinap di hatinya.

Benda berikutnya yang ia ambil adalah sebuah buku catatan kecil dengan sampul yang warnanya sudah mulai pudar dan kusam dimakan usia.

Farzhan membuka halaman pertamanya. Ternyata ini adalah buku tulis yang pernah ia gunakan saat duduk di bangku SMP. Di sana terlihat tulisan tangannya yang rapi namun tegas, serta coretan-coretan sketsa gambar yang ia buat saat merasa bosan di dalam kelas.

Ia ingat betul kejadian itu. Dulu ia pernah memarahi Vira dengan sangat hebat, hanya karena gadis itu tidak sengaja menumpahkan sedikit tinta ke seragam barunya. Karena merasa sangat kesal, Farzhan melempar buku ini ke dalam tong sampah dan berkata dengan nada dingin dan keras, "Orang sepertimu sebaiknya di buang saja! Aku tidak membutuhkanmu lagi! Kamu sama seperti barang ini, tidak berguna!"

Padahal buku itu sebenarnya masih sangat layak pakai, ia hanya sedang dikuasai emosi semata waktu itu.

Namun kenyataannya... Vira mengambilnya kembali, membersihkan noda dan debu yang menempel, merawatnya dengan sabar, dan menyimpannya hingga saat ini. Bahkan di halaman paling belakang, terdapat tulisan kecil tangan Vira yang tertulis rapi: Buku kesayangan Zhan, supaya dia selalu mengingatku.

Jantung Farzhan berdetak lebih cepat dari biasanya. Dadanya terasa sesak, namun ada rasa hangat yang perlahan menjalar, meski ia tetap mempertahankan raut wajah dinginnya.

Masih banyak lagi benda-benda lain yang tersimpan di dalam kotak itu.

Sebuah pulpen yang pernah ia gunakan lalu hilang tanpa jejak, ternyata Vira temukan dan simpan baik-baik.

Sebuah pita sisa pembungkus kado yang pernah ia berikan saat acara wisuda sekolah, terlipat rapi di antara kertas lain.

Bahkan hingga bungkus permen karet yang dulu pernah ia belikan saat mereka pulang sekolah bersama, disimpan di dalam amplop kecil seolah itu adalah benda paling berharga.

Semua benda itu, yang bagi Farzhan hanyalah sampah atau barang tidak berguna yang sudah lewat waktunya, bagi Vira adalah harta karun. Disimpan dengan rapi, dibersihkan berkala, dan dijaga kondisinya selama bertahun-tahun lamanya.

Farzhan berdiri diam di tengah kamar yang dingin itu, suara hujan di luar semakin terdengar jelas. Ia menatap ke arah Vira yang masih tidur pulas, ekspresinya masih tenang dan dingin, namun ada perubahan halus di dalam pandangan matanya.

"Vira..." bisiknya pelan, suaranya rendah dan berat. "Kamu... menyimpan semua ini sejak dulu?"

Ia teringat kembali betapa banyaknya kesalahan yang pernah ia buat di masa lalu. Sering membentak, sering meremehkan, bersikap dingin, dan sering membuat gadis itu menangis sendirian. Ia selalu berpikir Vira pasti membencinya, atau setidaknya sudah melupakan hal-hal kecil yang pernah terjadi di antara mereka.

Ternyata dugaan itu salah sama sekali.

Wanita ini, sejak mereka masih kecil hingga kini menjadi istrinya, menyimpan setiap hal kecil yang memiliki hubungan dengannya. Menyimpan bukti bahwa kehadiran Farzhan Ibrahim sangat berarti dan penting baginya. Bahwa rasa sayang itu tidak pernah memudar sedikit pun, meski ia sering diperlakukan dengan tidak adil dan dingin.

"Dasar perempuan bodoh..." ucap Farzhan pelan, nada bicaranya tetap datar meski sudut matanya mulai terasa panas. "Padahal aku sering bersikap jahat kepadamu. Mengapa kamu sebaik ini..."

Ia menutup kembali kotak kenangan itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya kembali di tempat semula seolah tidak ada yang pernah disentuh. Tidak ada perubahan sikap yang terlihat secara kasat mata, namun perasaan di dalam hatinya sudah berubah sepenuhnya.

Semua pertanyaan yang selama ini mengganjal kini terjawab sudah. Mengapa Vira bisa bertahan mendampinginya, mengapa Vira selalu bersabar menghadapi sifat dinginnya, dan mengapa Vira bersedia menerima pernikahan ini.

Karena rasa sayang itu sudah tertanam sejak lama. Tersimpan rapi, dijaga dengan setia, sama persis seperti barang-barang di dalam kotak itu.

Farzhan kembali duduk di tepi kasur, sikapnya masih sama tegak dan tenang seperti sebelumnya. Kali ini, ia meraih tangan Vira dan menggenggamnya dengan erat, namun sentuhannya terasa hangat dan lembut.

"Terima kasih..." bisiknya tepat di telinga istrinya, suaranya rendah dan bertekad. "Terima kasih sudah menyimpan namaku dan keberadaanku di hatimu selama ini. Mulai sekarang... giliran aku yang akan menjaga dan menyimpan setiap kenangan kita dengan lebih baik lagi. Aku berjanji."

Di luar, hujan masih turun dengan tenang, membasahi bumi yang kedinginan. Namun di dalam kamar itu, Farzhan baru saja menemukan jejak masa lalu yang membuka matanya. Ia sadar betapa beruntungnya ia memiliki wanita sebaik Vira. Dan di dalam hatinya yang dingin itu, ia bertekad tidak akan pernah ia sia-siakan wanita ini lagi, selamanya.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!