Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Langit kota tampak kelabu dari balik jendela tinggi itu.
Dewangga berdiri diam.
Tubuhnya tegap, dibalut setelan jas rapi yang memberi kesan sempurna.
Di tangannya, sebuah gelas berisi minuman berwarna amber berputar perlahan. Jemarinya memutar gelas itu tanpa sadar. Gerakan kecil, berulang, seperti pikirannya yang tidak pernah berhenti di satu tempat.
Tatapannya lurus ke luar.
Ke jalanan kota yang padat. Kendaraan berlalu lalang. Orang-orang berjalan cepat, sibuk dengan hidup mereka masing-masing.
Semua terlihat berjalan.
Semua… kecuali dirinya.
Matanya tajam.
Dingin.
Namun di balik itu… ada sesuatu yang retak.
Perasaan Frustasi yang selalu membuat dirinya serasa seperti dicekik setiap harinya.
Di belakangnya, suasana jauh berbeda.
Seorang pria berdiri di dekat meja kerja besar milik Dewangga .
Tubuhnya kaku. Tangannya menggenggam erat sebuah map hitam.
Napasnya tidak teratur.
Ia melirik sekilas ke arah Dewangga… lalu menunduk lagi.
Ragu.
Takut.
Lelah.
Sudah tiga tahun… dan hasilnya tetap sama.
Kosong.
"Katakan"
Suara Dewangga tiba-tiba memecah keheningan.
Datar.
Tanpa emosi.
Namun justru itu yang membuat Riko semakin gugup dan ragu.
Riko menelan ludah.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka map hitam itu.
"Ma… maaf, Tuan," suaranya pelan, nyaris tidak terdengar. "Kami sudah menyisir beberapa kota besar… termasuk data kependudukan baru, rumah sakit, dan sekolah-sekolah…"
Kalimatnya menggantung.
Ia menarik napas, tapi terasa berat.
"Namun sampai saat ini kami belum menemukan keberadaan Nona Zeya."
Hening.
Sangat hening.
Putaran gelas di tangan Dewangga berhenti.
Jemarinya mengencang.
Tatapannya masih lurus ke luar jendela, tapi kini terlihat lebih tajam.
Lebih dingin.
Lebih berbahaya.
"Belum… menemukan?”
Suaranya pelan.
Terlalu pelan.
Riko langsung menunduk lebih dalam.
"Kami akan terus..."
PRANG!
Suara kaca pecah memotong kalimatnya.
Gelas di tangan Dewangga hancur.
Pecah begitu saja di genggamannya.
Cairan di dalamnya tumpah, bercampur dengan darah yang mulai mengalir dari sela jemarinya.
Asisten itu refleks mundur satu langkah.
Panik.
"Pak! Tangan Anda"
"Diam."
Suara itu rendah.
Tapi penuh tekanan.
Langsung membuat Riko spontan menutup mulutnya dengan tangannya, kembali menunduk dalam saat melihat Dewangga menatapnya tajam dan penuh amarah.
Dewangga perlahan menurunkan tangannya.
Pecahan kaca jatuh satu per satu ke lantai.
"Kalian tidak pernah becus."
Suaranya datar.
Namun setiap katanya terasa seperti tekanan yang menghimpit untuk Riko.
"Bahkan mengerjakan pekerjaan kecil seperti itu saja kalian tidak bisa."
Asisten itu tidak berani mengangkat kepala.
Tubuhnya kaku seperti dirinya terkunci dalam posisi yang sama terus menerus tak berani bergerak se inci pun dari tempatnya, bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya.
"Ini sudah berlalu tiga tahun."
Langkah Dewangga mendekat perlahan.
Setiap langkahnya terdengar jelas seperti ancaman di ruangan yang sunyi.
"Mau sampai kapan kalian selalu gagal?"
Satu langkah lagi.
Riko mengusap pelipisnya yang dipenuhi keringat.
Aura Dewangga saat ini sangat menakutkan, membuat dirinya yang sudah lama bekerja untuk Dewangga dibuat ketakutan da ingin berlari keluar dari ruangan.
"Gagal"
Langkah Dewangga semakin dekat, membuat Riko semakin gemetar.
"Dan gagal."
Ia berhenti tepat di depan meja.
Tatapannya tidak berpindah.
"Pergi."
Suaranya tegas.
"Cari terus dia."
Jeda.
Singkat.
Tapi cukup untuk membuat udara terasa berat.
"Dan ingat"
Tatapannya menajam.
"Saya tidak ingin mendengar kata gagal lagi."
"As siap, Tuan."
Asisten itu langsung membungkuk cepat.
Tanpa berani menatap.
Ia berbalik, melangkah cepat keluar ruangan.
Riko menutup pintu pelan, dia menghela nafas lega, setelah berhasil keluar ruangan, dengan gerakan cepat dia berlari menjauh dari depan ruangan.
Tingkah Riko yang berlari ketakutan membuat beberapa karyawan yang ingin masuk ruangan Dewangga mengurungkan niat mereka, mereka semua saling menatap dan berbalik badan menuju meja kerja mereka sendiri dengan wajah ketakutan.
Suasana hening kembali menguasai ruangan Dewangga.
Lebih sunyi dari sebelumnya.
Tubuh Dewangga sedikit merosot dikursi.
Tangannya terangkat, memijat pelipisnya pelan.
"Zeya"
Namanya keluar begitu saja.
Suaranya kecil hampir seperti bisikan.
Matanya terpejam.
Napasnya tertahan beberapa detik.
"Di mana kamu sekarang"
Suaranya serak.
Tidak ada lagi dingin.
Tidak ada lagi tegas.
Yang tersisa hanya lelah dan perasaan rindu.
Tangannya turun perlahan.
Menatap kosong ke meja di depannya.
" Kalian baik-baik saja kan?"
Pertanyaan itu menggantung.
Tidak akan pernah mendapat jawaban.
Senyum kecil terbit.
Tipis.
Tapi pahit.
"Anak kita"
Suaranya semakin pelan.
"Sudah sebesar apa sekarang"
Matanya berkaca-kaca.
Namun tidak ada air mata yang jatuh.
Seolah ia sudah terlalu sering menangis… sampai tidak tersisa lagi.
"Tiga tahun"
Ia tertawa kecil.
Hampa.
"Aku bahkan tidak tahu dia laki-laki atau perempuan."
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk pelan.
Tangannya mengepal di atas meja.
"Maaf"
Lirih.
"Sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan kalian."
Hening.
Lama.
Dewangga membuka matanya perlahan.
Tatapannya kembali berubah.
Dingin.
"Aku pasti akan menemukan kalian."
Suaranya pelan.
"Di mana pun kalian bersembunyi"
Jemarinya mengetuk pelan meja.
Sekali.
Dua kali.
"Sekalipun harus mengaduk seluruh dunia"
Ia terdiam sejenak.
Napasnya ditarik dalam.
"Aku akan menemukan kalian"
...****************...
"Mah, di mana Linda?"
Dewangga yang baru masuk ke rumah langsung menghentikan langkahnya di ruang tamu. Tatapannya menyapu sekitar, mencari sosok adiknya yang tidak terlihat di mana pun.
"Eh, Mas tumben kamu cepat pulangnya. Biasanya juga tengah malam.”
Rissa menatap heran. Jam di dinding baru menunjukkan pukul lima sore, waktu yang terasa asing untuk melihat Dewangga sudah berada di rumah.
"Aku belum pulang, Mah. Aku ke sini cuma mau cari Linda."
Dewangga mendekat, memeluk ibunya sebentar.Pelukan hangat, tapi singkat. Setelah itu, ia langsung melepaskan pelukan, matanya kembali bergerak, menelusuri setiap sudut ruang tamu berharap menemukan keberadaan adiknya.
"Aku ada urusan kantor yang harus dibicarain sama dia. Mamah tahu dia di mana?" lanjut Dewangga setelah pelukan mereka terlepas.
"Loh, Mas kamu nggak tahu?"
Kening Dewangga langsung berkerut.
"Maksudnya, Mah?" tanyanya bingung
"Kan Linda pergi ke luar kota."
"Lagi?"
Dewangga terdiam beberapa detik, mencoba mencerna. Raut wajahnya berubah. Bukan hanya heran, tapi ada sesuatu yang mulai mengganggu pikirannya.
"Tumben dia suka jalan-jalan biasanya dia paling malas."
Rissa menghela napas pelan.
“Mamah juga nggak tahu, Mas. Akhir-akhir ini adik kamu itu suka sekali keluyuran keluar kota sampai berminggu-minggu bahkan pernah sampai tiga bulan lebih. Mama sendiri tidak tahu dia pergi ke mana."
Kening Dewangga semakin mengerut.
Ia menatap Mamahnya dengan senyum tipis.
Kepalanya kini seperti sedang menyusun sesuatu.
Sebuah kemungkinan yang perlahan muncul di kepalanya.
"Apa jangan-jangan" batinya.
"Ya sudah, kalau gitu Dewangga pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik. Langkahnya cepat meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Rissa yang hanya bisa menatap punggung anaknya sebelum kembali pada majalah di tangannya.
Langkah Dewangga terdengar cepat menaiki tangga.
Lorong lantai atas terasa lebih sunyi. Hanya suara langkahnya yang menggema pelan di antara dinding.
Ia berhenti di depan kamar.
Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel. Jarinya bergerak cepat mencari satu nama.
Riko.
Tanpa ragu, ia langsung menekan tombol panggil.
Tidak butuh waktu lama panggilan itu tersambung.
"Halo, Pak."
Suara dari seberang terdengar jelas.
"Cari tahu ke mana saja Linda sering pergi selama tiga tahun terakhir ini, dan tempat apa saja yang selalu dia kunjungi selama pergi. Saya mau semua informasinya… hari ini juga."
Nada suaranya tegas.
Tanpa menunggu jawaban dari Riko, Dewangga langsung menutup telfonnya.
Dewangga menurunkan ponselnya perlahan.
Napasnya tertahan beberapa detik.
Tatapannya kosong… tapi pikirannya berisik.
Jika benar apa yang ia pikirkan
Jika selama ini
Linda tahu sesuatu.
Tangannya mengepal pelan.
Rahannya mengeras.
Namun di balik itu
ada harapan yang tiba-tiba semakin besar dalam dirinya.
Kuharap…
Matanya sedikit meredup.
"Gue bisa nemuin kamu kali ini sayang." gumam Dewanga pelan
Ia terdiam cukup lama di depan pintu kamarnya.
Tidak langsung masuk.
Seolah sedang menenangkan sesuatu di dalam dirinya yang kembali bergejolak.
Tiga tahun.
Dan untuk pertama kalinya…
arah itu terasa sedikit lebih jelas.