𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥 𝐚𝐧𝐝 𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐚𝐳𝐲.
𝐁𝐮𝐭 ... 𝐒𝐡𝐞 𝐥𝐨𝐯𝐞𝐬 𝐡𝐢𝐦.
Bagaimana perasaanmu ketika dipaksa menjadi istri dari pria yang tidak dikenal?
Diperlakukan kejam, diklaim sebagai miliknya, dan dihina dengan kalimat-kalimat sarkas.
Elva mengalami semua hal itu setelah menikah dengan CEO sosiopat bernama Zeyan Kai.
Awalnya Elva berpikir akan segera bebas dari belenggu pria itu jika ia memberitahukan hal yang sebenarnya---kalau dia bukan lah perempuan yang seharusnya menikah dengan Zeyan.
Akan tetapi semua ucapannya selalu dianggap omong kosong belaka di mata pria tersebut. Elva menerima kenyataan jika identitasnya dianggap sebagai orang lain oleh Zeyan. Tapi kenyataannya ... pria itu sudah mengetahuinya segalanya tentangnya.
Zeyan berbohong dengan alasan kalau pria itu menyukai Elva setelah beberapa bulan tinggal bersama.
Di satu sisi Elva merasa kecewa dan marah, namun di sisi lain dia juga merasakan perasaan tabu padanya. Terlebih lagi masalah selalu berdatangan dan menentang mereka untuk hidup bersama.
Kesalahpahaman, ego, dan latar belakang menjadi tembok pemisah di antara mereka berdua.
(JUDUL AWAL ISTRI TAWANAN)
Genre : Romance, Young adult, Action.
copyright©2020
By : Kadewa Gregoria Hanum/Gege Hanum
Ig @i_kadewa
#KARYA HANYA ADA DI NOVELTOON/MANGATOON!!
#TIDAK MENOLERANSI SEGALA BENTUK PLAGIARISME
#JADWAL UP SESUAI MOOD PENULIS!!
[ KALO MAU CEPET UPDATE, VOTE+HADIAH DAN KOMEN BANYAK-BANYAK 🐣🐥 ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gege Hanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MWS : PART XIII
...◉✿🦋✿◉...
Zeyan menopang dagunya sambil memantau pergerakan Elva dari kamera CCTV. Sekitar dua belas jam Zeyan terus diam terduduk tanpa beranjak ke manapun. Pak Zhang sudah menawari makan dan minum, akan tetapi Tuan mudanya ini malah menolak.
Zeyan tidak bekerja hari ini, bukan libur, tapi dia memilih memperhatikan keadaan Elva. Bagaimana pun, jika perempuan itu kembali kabur darinya lagi, Zeyan akan sigap menangkapnya dengan cepat. Pintar bukan?
“Makan siang telah siap Tuan,” ujar pak Zhang bersama dengan kedua pelayan wanita yang membawa senampan piring makanan.
“Pergilah, aku akan memakannya nanti,” balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Pak Zhang menyuruh kedua pelayan itu pergi kemudian ia menghampiri Zeyan.
“Begini Tuan, bagaimana dengan gadis yang membantu Nyonya untuk pergi?”
“Aku sudah memberitahumu tentang hukumannya, kan?”
“Saya tahu, tapi pelayan itu terlihat sudah sangat kelelahan Tuan. Apakah sebaiknya—”
“Kau ingin menolongnya?” Zeyan menyela. Pak Zhang membenarkan kacamatanya saat Zeyan mulai berdiri. “Katakan pak Zhang, kau mau menolongnya? Ataukah kau mengasihaninya lagi seperti kau mengasihani perempuan ini?” tunjuknya ke arah layar di mana Elva tengah meringkuk di depan pintu.
“Bukan seperti itu Tuan.” Pak Zhang menjelaskan, “Pelayan itu masih muda, dia sudah berdiri di halaman depan cukup lama. Jika kita membiarkannya berdiri sampai matahari terbenam, saya takut pelayan itu tidak bisa menahannya dan tidak sadarkan diri.”
“Itu memang tujuanku,” balas Zeyan dingin. “Aku tidak melihat tua maupun muda ketika memberi hukuman pada mereka yang salah. Kau juga tahu itu kan, pak Zhang? Dan itu adalah salahnya. Dia pantas mendapatkan hukuman sekecil itu.”
“Tapi setidaknya biarkan dia minum Tuan. Jika tidak boleh makan, setidaknya jangan biarkan dia kehausan.” ujar pak Zhang mengasihani.
Bukannya apa-apa. Pak Zhang cuma kasihan saja dengan gadis itu. Dia masih dibawah umur dan pak Zhang juga kenal dengan orang tuanya. Mia itu anak dari salah satu pelayan di rumah ini. Mia juga lahir di rumah Zeyan. Saat itu, bila Zeyan tidak bermurah hati untuk memanggil dokter saat ibu dari Mia akan melahirkan, Mia mungkin tidak akan selamat.
Pak Zhang tahu Zeyan masih memiliki rasa kasihan dan tahu yang salah dan benar.
“Kenapa kamu sangat mengkhawatirkannya?” Zeyan memutar kursi untuk melihat pria itu.
“Saya tidak khawatir,” jawab pak Zhang kalem. “Memang benar Nyonya kabur bersama dengannya. Tetapi menghukumnya seperti ini tidak lah baik dan manusiawi.”
Hembusan napas keluar dari bibir tipis Zeyan. Pria itu keluar dari ruangan meninggalkan pak Zhang sendirian. Sudah pak Zhang duga, Zeyan memang tidak sekejam itu.
Laki-laki berhidung mancung itu pergi ke tempat di mana Mia berada. Tentu saja Zeyan masih memiliki sikap manusiawi. Walau kadang-kadang stigmanya selalu mendorongnya berbuat hal yang diluar kendalinya.
“Siapa namamu?” tanyanya setelah sampai di depan Mia yang dalam keadaan tidak baik.
Pelayan kecil itu mendongak menatap majikannya yang berdiri. Tangan dan kakinya diikat, Mia juga tidak memakai sandal. Beruntung pijakannya adalah rumput dan bukan aspal. Jika tidak, telapak kakinya pasti akan kepanasan dan melepuh.
“Nama saya Mia, Tuan.”
“Kenapa kau berani membantunya pergi dari rumah ini?”
“Aku …,” Mia menggigit bibir bawahnya gugup. “Aku cuman kasihan dengan Nyonya. Dia tidak bahagia tinggal bersamamu Tuan.”
“Hanya itu?”
“Tidak, aku percaya pada Nyonya. Dia bukan orang yang seharusnya menikah denganmu,” imbuhnya lagi. Sekejap wajah Zeyan berubah menjadi gelap mendung. “Hanya dengan melihat matanya aku bisa merasakan jika dia berkata jujur.”
“Kau tahu apa yang kau bicarakan?” Zeyan mengepalkan tangannya. Mia menunduk dengan perasaan takut. “Aku kemari untuk membawakan mu minum karena ada seseorang yang mengasihanimu. Tetapi melihat reaksimu yang tidak menyesal dengan apa yang sudah kau perbuat, aku rasa aku tidak perlu berbaik hati kepadamu,”
Zeyan menyuruh pelayan yang membawa air mineral untuk kembali ke dalam. “Aku ingat kau bekerja dari kecil di sini dengan ibumu. Lalu kenapa kau mengkhianati tuanmu sendiri?”
“Aku tidak mengkhianatimu, Tuan.” ucap Mia lirih. “Aku hanya berusaha … menolong orang yang seharusnya tidak berada di sini. Aku selalu mendengar tangisannya saat malam. Nyonya terus memanggil ibunya. Dia selalu tersiksa dan tak bahagia berada di sini. Tolong lepaskanlah Nyonya, Tuan.”
“Aku menikahinya bukan untuk membuatnya bahagia,” Zeyan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatap pelayan rumahnya yang masih muda, sedetik kemudian menekan kedua pipi Mia. “Aku menikahinya … untuk melampiaskan amarahku.”
“Tapi Nyonya bukan istrimu yang sesungguhnya Tuan,” kata Mia membela.
Tangan Zeyan menekan lebih erat hingga kukunya menancap di permukaan pipi Mia. Urat di leher dan dahinya menegang menandakan ia kembali marah.
Memangnya kenapa jika bukan istri yang sesungguhnya? Apa Zeyan peduli akan hal itu?
“Tuan, gawat!”
Pak Zhang berlari menghampiri mereka. Zeyan melepaskan tangannya yang berada di kedua pipi Mia. Meninggalkan noda darah di pipi pelayan itu dan juga lebam merah keunguan.
Zeyan membersihkan tangannya dan menatap pak Zhang penuh tanya, “Ada apa?”
“Nyonya, dia … aku melihatnya di ruang CCTV mu tadi …,” Pak Zhang masih mengatur napasnya. Sedangkan Zeyan mengerutkan alisnya tak sabar. “… Nyonya, dia pingsan di dalam Tuan.” lanjutnya kemudian.
Mendengar hal itu Zeyan langsung berlari cepat. Dia melangkahi anak tangga menuju ruangan paling atas. Setelah sampai di sana, Zeyan menendang pintu itu sampai jebol. Mungkin sudah hobinya membuat pintu jebol. Sabarkan pak Zhang untuk memanggil tukang service untuk memperbaiki pintu yang kedua kalinya.
Zeyan berdecak melihat Elva terbaring di lantai. Bibirnya terlihat pucat. Zeyan mengusap wajah Elva lalu kemudian membopongnya keluar.
“Panggilkan dokter secepatnya pak Zhang!” teriak Zeyan dari atas.
Pak Zhang mengacungkan jempolnya dari bawah. Pria berkeriput tipis itu langsung menelepon. Tak butuh waktu lama, seorang lelaki dengan jas putih datang. Pak Zhang menuntun dokter itu menuju arah kamar milik Zeyan.
“Apa dia ada masalah?” tanya Zeyan setelah dokter itu memeriksanya. Zeyan menatap Elva dan dokternya secara bergantian.
“Dia tidak apa-apa Tuan. Nona ini hanya kelelahan dan kurang makan,” jawab dokter itu sambil melepaskan stetoskopnya. “Tapi, jangan membuatnya bekerja dengan sangat berat. Dari hasil pemeriksaan ku, Nona ini memiliki asma dari kecil.”
“Asma?” ulang Zeyan dengan alis yang menyatu.
“Iya Tuan, sebaiknya jangan membuatnya terkejut yang bisa membuat dadanya sesak. Asma memang bukan penyakit yang serius, tetapi perlu perhatian lebih. Tolong jauhkan asap dari indra penciumannya juga, terutama asap rokok.”
Zeyan memperhatikan Elva yang terbaring di kasurnya. Dia ingat pernah membangunkan Elva dengan bentakan saat mengira ada pria yang memberikan tanda kemerahan di lehernya. Zeyan juga sudah membuatnya bekerja tanpa bantuan seorangpun di rumahnya yang besar ini.
Dipikir-pikir ternyata ia kejam juga ya?
“Kalau begitu, saya pamit dulu Tuan,” ujar dokter itu. Zeyan menganggukkan kepalanya singkat. Pak Zhang menyuruh pelayan lain mengantarkan dokter itu keluar.
“Tuan,” panggil pak Zhang. “Apa kau baik-baik saja?”
“Hum, aku baik-baik saja,” Zeyan mengusap wajahnya pelan.
Pak Zhang menepuk bahu Zeyan dan berkata, “Tuan, seperti yang kita tahu, putri keluarga Surya tidak memiliki asma. Apa yang dikatakan Nyonya Elva selama ini benar. Mungkin kita harus membawanya pulang ke—”
“Aku sudah tahu dia bukan istriku pak Zhang,” potong Zeyan membuat pria berkeriput itu menganga kecil. “Dia memang bukan dari keluarga Surya.”
“Jika Tuan sudah tahu, kenapa tidak membiarkannya pergi?” Pak Zhang tidak mengerti jalan pikiran Zeyan.
“Kau tidak perlu mengetahui apapun,” sorot mata Zeyan dingin. Pria itu mengalihkan pandangannya lurus.
“Tapi Nyonya selama ini—”
“Jangan berdebat denganku!” Zeyan mengangkat telapak tangannya ke atas. Suasananya berubah menegang, pak Zhang mengusap dahinya yang berkeringat. “Besok, panggil tuan Surya datang ke sini.”
Pak Zhang mengangguk, “Akan saya lakukan.”
“Satu lagi, jangan bicarakan hal ini padanya.” Zeyan menunjuk Elva dengan dagunya.
“Saya mengerti,” balas pak Zhang lalu keluar dari sana.
Zeyan terdiam sebentar. Maniknya menatap wajah Elva yang terlelap. Semenit kemudian, dia keluar dan menutup pintunya perlahan.
...BERSAMBUNG...
Pengen tau dong dari mana aja asalnya?><
semoga makin seru dan tx ad pelakor..!! yaa aku berharap alur di novel ini sedikit berbeda dr novel lainnya..!!🙏
senangnya liat anak muda yg berprestasi...
kutunggu up nya thor....