Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Gerobak di Padang Sunyi
Asap yang dilihat Wang Hao dari kejauhan bukan berasal dari pemukiman. Setelah berjalan hampir setengah jam, bentuk di balik gundukan tanah itu semakin jelas. Sebuah gerobak kayu besar dengan roda-roda berlapis besi tua berhenti miring di tengah padang rumput. Dua ekor kuda roh berwarna cokelat gelap meringkik ketakutan di sisi depan gerobak, sementara tali kekangnya telah putus sebagian.
Di sekeliling gerobak, lima ekor binatang buas bertubuh serigala dengan bulu abu-abu kotor bergerak mengitari dengan liar. Mata merah mereka berkilat memantulkan sinar matahari siang, sementara air liur kental menetes dari taring-taring panjang yang mencuat keluar. Salah satu dari mereka sedikit lebih besar dari yang lain, berdiri di atas batu dengan sikap mengawasi seperti pemimpin kawanan.
Serigala Batu Lapar.
Binatang iblis tingkat rendah yang biasanya berburu di padang rumput pinggiran. Kekuatan mereka setara dengan kultivator Kondensasi Qi lapisan kedua hingga ketiga.
Wang Hao berhenti di balik sebongkah batu besar sekitar tiga puluh zhang dari gerobak itu. Kedua matanya menyipit pelan sambil mengamati situasi dengan saksama.
Di atas gerobak berdiri dua orang dengan pedang terhunus.
Seorang pria paruh baya berjubah cokelat lusuh memegang pedang lebar dengan kedua tangan gemetar. Peluhnya mengucur deras dari pelipis, sementara napasnya sudah tersengal-sengal seperti baru bertarung cukup lama. Di belakangnya, seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun menggenggam pedang pendek dengan posisi kaku. Wajah gadis itu pucat dan matanya sembab karena menahan tangis.
"Tahan, Yue'er!" teriak pria paruh baya itu sambil mengayunkan pedang lebarnya ke arah seekor Serigala Batu yang mencoba melompat naik. "Jangan biarkan mereka naik ke gerobak!"
Gadis yang dipanggil Yue'er mengangguk cepat, tetapi kedua tangannya gemetar hebat hingga pedangnya hampir terlepas dari genggaman.
Serigala Batu terbesar yang berdiri di atas batu tiba-tiba melolong panjang.
Auuu!
Suara lolongan itu menggema melintasi padang rumput, lalu empat serigala lainnya langsung meningkatkan serangan secara bersamaan. Dua ekor melompat dari sisi kiri, satu ekor menyerang dari depan, dan satu lagi mencoba naik dari belakang gerobak.
Pria paruh baya itu mengayunkan pedangnya dengan putus asa. Tebasannya mengenai satu serigala di bagian bahu, tetapi pedangnya hanya meninggalkan luka dangkal di kulit tebal binatang itu. Serigala itu mundur selangkah lalu kembali menyerang dengan ganas.
"Ayah!" Yue'er menjerit ketika seekor serigala berhasil mencengkeram tepi gerobak dengan cakar depannya.
Wang Hao tetap diam di balik batu. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun sambil terus memperhatikan gerakan-gerakan serigala itu. Serangan mereka tidak acak, melainkan terkoordinasi dengan baik. Setiap serigala tahu kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus mengalihkan perhatian mangsa.
"Binatang ini punya pemimpin yang cerdas..." gumamnya pelan.
Matanya beralih ke serigala terbesar yang masih berdiri di atas batu. Binatang itu belum bergerak sama sekali, hanya mengawasi dengan mata merah yang penuh perhitungan. Wang Hao langsung mengenali pola itu.
Serigala pemimpin sedang menunggu.
Menunggu mangsanya kelelahan, lalu ia akan masuk sendiri untuk menghabisi.
Pria paruh baya itu kini sudah terengah-engah. Ayunan pedangnya semakin lambat, sementara kakinya mulai goyah di atas pijakan gerobak yang miring. Satu serangan lagi dan ia mungkin akan jatuh.
Yue'er melihat kondisi ayahnya dan air matanya akhirnya jatuh. Ia menggenggam pedang pendeknya dengan putus asa, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan binatang sebesar itu.
Wang Hao menghela napas pendek. Kemudian dia melangkah keluar dari balik batu dan berjalan ke arah gerobak dengan langkah tenang.
Pria paruh baya itu melihat Wang Hao lebih dulu. Matanya membelalak lebar, lalu ia langsung berteriak keras, "Hei, pemuda! Jangan mendekat! Binatang-binatang ini berbahaya! Lari! Cepat lari!"
Wang Hao tidak berhenti. Ia terus berjalan mendekati gerobak tanpa mempercepat atau memperlambat langkahnya.
Salah satu Serigala Batu menyadari kehadiran Wang Hao. Binatang itu berbalik dan menggeram rendah sambil memperlihatkan taringnya yang tajam. Air liurnya menetes ke tanah, sementara kedua kaki depannya merendah seperti bersiap menerkam.
Wang Hao menoleh ke arah serigala itu. Kedua matanya bertemu langsung dengan mata merah binatang tersebut.
Lalu ia berhenti.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu jari telunjuknya menggores udara di hadapannya dengan gerakan ringan. Sebuah simbol kecil terbentuk dari energi spiritual tipis yang berkumpul di ujung jarinya, berkedip samar lalu menghilang seketika.
Simbol itu adalah bagian dari Formasi Pengusir Binatang tingkat rendah yang pernah Wang Hao ciptakan ribuan tahun lalu. Dengan kultivasinya saat ini yang hanya berada di Kondensasi Qi lapisan pertama, ia tidak bisa membuat formasi utuh. Namun menggambar satu fragmen simbol saja sudah cukup untuk binatang tingkat rendah seperti Serigala Batu.
Serigala yang menggeram tadi tiba-tiba terdiam. Telinganya menciut ke belakang, lalu ekornya turun ke bawah perut. Binatang itu mundur selangkah, lalu selangkah lagi, sebelum akhirnya merengek pelan seperti anak anjing yang ketakutan.
Tiga serigala lainnya langsung berhenti menyerang. Mereka memandang Wang Hao dengan mata merah yang kini dipenuhi kebingungan, seolah naluri mereka mengatakan ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan manusia di hadapan mereka.
Serigala pemimpin di atas batu menegakkan tubuhnya. Matanya yang merah menatap Wang Hao dengan tajam, lalu hidungnya mengendus-endus udara beberapa kali. Tiba-tiba binatang itu melolong pendek, dan keempat serigala lainnya langsung berlari menjauh dari gerobak.
Wang Hao mengalihkan pandangannya ke serigala pemimpin. Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik dalam keheningan.
Lalu Wang Hao menggerakkan jarinya lagi, menulis satu simbol tambahan di udara. Simbol itu melesat tanpa suara ke arah serigala pemimpin.
Serigala itu mundur selangkah. Kemudian binatang itu berbalik dan berlari menuju padang rumput, diikuti oleh keempat serigala lainnya. Dalam beberapa tarikan napas, kawanan Serigala Batu itu lenyap di balik gundukan tanah di kejauhan.
Keheningan kembali menyelimuti padang rumput.
Pria paruh baya itu terdiam di atas gerobak dengan pedang masih tergenggam kaku. Mulutnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia memandang Wang Hao seperti melihat sesuatu yang sulit dipercaya.
Yue'er menurunkan pedang pendeknya perlahan. Kedua matanya yang masih sembab menatap Wang Hao dengan campuran rasa lega dan keterkejutan.
Wang Hao berjalan mendekati gerobak dengan langkah santai. Ia berhenti sekitar lima langkah dari sisi gerobak, lalu mengamati pria paruh baya dan gadis itu dengan tatapan datar.
Pria paruh baya itu akhirnya menelan ludah. Ia melompat turun dari gerobak dengan kaki sedikit gemetar, lalu menyarungkan pedangnya ke punggung. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan membungkuk hormat.
"Terima kasih, Tuan Muda... terima kasih banyak! Jika bukan karena Tuan Muda, aku dan putriku mungkin sudah mati dicabik-cabik binatang itu."
Yue'er ikut turun dari gerobak dan membungkuk di samping ayahnya. "Terima kasih, Tuan Muda..." suaranya masih bergetar.
Wang Hao mengangguk kecil tanpa mengubah ekspresi. Matanya beralih ke gerobak di belakang mereka. Beberapa peti kayu bertumpuk di bagian belakang, beberapa di antaranya terbuka dan memperlihatkan gulungan kain serta bungkusan kecil yang tersegel.
"Pedagang kain?" tanyanya singkat.
Pria paruh baya itu mengangguk cepat. "Benar, Tuan Muda. Namaku Lu Zheng, pedagang kain dari Kota Lanyu. Ini putriku, Lu Yue." Ia menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju. "Kami dalam perjalanan pulang setelah berdagang di wilayah selatan, tetapi kuda roh kami ketakutan dan berlari keluar jalur. Kami tersesat sampai akhirnya dikepung binatang-binatang itu."
Wang Hao mendengarkan dengan tenang, tetapi pikirannya sudah bekerja ke beberapa langkah ke depan. Seorang pedagang dari kota lain yang sedang dalam perjalanan pulang adalah kesempatan yang baik untuknya. Ia butuh informasi tentang dunia ini, dan pedagang selalu memiliki lebih banyak informasi dibandingkan orang biasa.
"Kota Lanyu," Wang Hao mengulangi nama itu pelan. "Berapa lama perjalanan ke sana?"
Lu Zheng memandang ke arah barat laut sambil menghitung. "Jika menggunakan kuda roh, sekitar setengah hari. Tapi kuda kami..." ia menoleh ke arah dua ekor kuda roh yang masih gemetaran, "...sepertinya butuh waktu untuk tenang dulu."
"Kota Lanyu... kota kultivator?"
Pertanyaan itu membuat Lu Zheng sedikit terkejut. Ia memandang Wang Hao lebih saksama, seolah baru menyadari sesuatu.
"Tuan Muda bukan dari sekitar sini?"
"Aku berasal dari tempat yang sangat jauh."
Lu Zheng mengangguk pelan, meskipun raut wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan.
"Kota Lanyu adalah kota kultivator kecil di bawah perlindungan Sekte Awan Ungu. Di sana ada beberapa klan kultivator dan satu balai lelang. Energi spiritual di sana cukup baik untuk ukuran kota pinggiran."
Informasi itu langsung diserap oleh Wang Hao. Sekte, klan, balai lelang, semua adalah tempat di mana ia bisa mulai membangun kembali fondasi kultivasinya. Kota Lanyu tampaknya adalah tujuan yang lebih masuk akal dibandingkan berkeliaran tanpa arah di padang rumput.
"Aku akan ikut ke Kota Lanyu," kata Wang Hao datar.
Itu bukan permintaan atau pertanyaan, melainkan pernyataan.
Lu Zheng terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar. "Tentu saja, Tuan Muda! Kami berutang nyawa kepada Tuan Muda. Akan menjadi kehormatan jika Tuan Muda berkenan ikut bersama kami. Bahkan... jika Tuan Muda membutuhkan tempat tinggal di Kota Lanyu, aku punya kenalan di penginapan Kota Lanyu."
"Tidak perlu." Wang Hao sudah berjalan ke arah gerobak. "Aku akan mencari penginapan sendiri."
Lu Zheng tidak berani membantah. Ia segera membantu Yue'er membereskan kembali peti-peti yang berantakan di atas gerobak, sementara Wang Hao berdiri di samping gerobak dengan pandangan menerawang ke arah barat laut.
Yue'er melirik ke arah Wang Hao beberapa kali sambil membereskan barang. Ada rasa ingin tahu yang jelas di matanya, tetapi ia tidak berani bertanya apa pun. Cara Wang Hao mengusir lima Serigala Batu hanya dengan gerakan jari masih membekas jelas di ingatannya.
Setelah beberapa saat, Lu Zheng selesai menenangkan kuda-kuda rohnya. Ia naik ke kursi kusir di depan gerobak, sementara Yue'er duduk di sampingnya. Wang Hao duduk di bagian belakang gerobak, di antara tumpukan peti kain.
Gerobak mulai bergerak perlahan melintasi padang rumput.
Wang Hao menutup matanya dan mulai menyerap energi spiritual dari udara sekitar. Gerakan gerobak yang berguncang-guncang tidak mengganggu konsentrasinya sedikit pun. Ia telah berkultivasi dalam kondisi jauh lebih sulit daripada ini.
Satu jam berlalu dalam keheningan.
Lu Zheng sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Wang Hao baik-baik saja. Setiap kali ia melakukannya, ia melihat pemuda itu duduk bersila dengan punggung tegak dan napas teratur, sepenuhnya tenggelam dalam meditasi.
"Yue'er..." bisik Lu Zheng pelan. "Jangan ganggu Tuan Muda itu. Dia... sepertinya bukan orang biasa."
Yue'er mengangguk kecil. "Ayah, apa dia kultivator dari sekte besar?"
"Ayah tidak tahu. Tapi cara dia mengusir Serigala Batu tadi..." Lu Zheng menggeleng pelan. "Ayah belum pernah melihat yang seperti itu."
Gerobak terus melaju melintasi padang rumput dengan kecepatan stabil.