Follow IG : renitaria7796
Zivana adalah seorang pelayan di Rumah besar keluarga Pradipta. Karena memiliki wajah yang sangat cantik, Zivana sengaja menyembunyikan kecantikan wajahnya. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian laki-laki.
Suatu hari karena sebuah insiden, Zivana di kejar oleh seorang penjahat. Zivana di tolong oleh pemuda tampan bernama Sean Pradipta. Zivana tidak mengetahui jika Sean adalah majikannya.
Sean Pradipta mempunyai calon istri bernama Rissa. karena suatu insiden Rissa tidak hadir di acara pernikahannya bersama Sean. Untuk membantu agar reputasi Sean tidak hancur, Ziva lalu mengantikan Rissa menjadi istri dari Sean.
Namun Zivana tidak mengetahui ada rahasia besar yang telah di sembunyikan oleh Sean. Lalu bagaimana nasib pernikahan Sean dan Zivana di saat kehidupan masa lalu Sean dan Ziva muncul menghadang?
Season 2
Menceritakan kisah Angel anak dari Sean Pradipta. Angel menyukai Jimi sang asisten orangtuanya. Namun Jimi mempunyai kekasih dan akan segera menikah.
Bagaimana cara Angel menaklukkan hati Jimi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Mentari pagi menembus celah hordeng jendela kamar hotel. Ziva mengerjap saat sinar mentari menyinari sedikit mengenai wajahnya. Ziva mengeliat, tetapi tubuhnya terasa berat.
Tangan suaminya berada di atas perut. Ziva lalu memindahkan tangan Sean secara perlahan. Ziva tidak mau membangunkan Sean yang tertidur lelap.
Ziva turun dari atas kasur lalu beranjak menuju kamar mandi. Saat sampai di kamar mandi, Ziva membuka kemejanya. Ziva bercermin di depan kaca wastafel.
Ziva begitu kaget mendapati tubuhnya penuh dengan bercak-bercak merah. Ziva mengamati sekujur tubuhnya. dari leher hingga perut penuh dengan bercak merah.
"Apa ini gigitan serangga?" gumam Ziva.
Ziva mengosok-gosok kulitnya tetapi tidak hilang. Ziva bergegas keluar kamar mandi untuk memberitahu Sean. Ziva kembali memakai kemeja miliknya.
"Hubby .... " Ziva menguncang perlahan tubuh Sean.
"Hubby ... ayo bangun. Tempat tidurnya banyak serangga," ucap Ziva.
Sean yang masih bergelung selimut mengeliat. Dia mengucek matanya agar terbuka sempurna. Sean bangkit duduk dari tidurnya.
"Kenapa ... pagi-pagi sudah heboh?"
"Hubby ... ayo bangun. Di sini banyak serangga. Tubuhku di gigit dan meninggalkan bekas merah-merah," tutur Ziva.
Sean melongo dengan penuturan Ziva. "Serangga?"
Ziva mengangguk membenarkan ucapan Sean. Sean masih bingung tidak mengerti. Mana mungkin hotel mewah begini ada serangga. Ziva pasti sudah salah sangka.
"Ziva ... mana ada serangga di hotel mewah begini."
Sean mengeleng kepala, menurutnya Ziva terlalu mengada-ada.
Ziva menunjukkan bekas merah di sekitar lehernya pada Sean. "Ini ... hubby, di leher sampai perutku di gigit oleh serangga itu."
Sean berusaha menahan tawanya. Istri cantiknya begitu polos. Mengapa juga Sean lupa kalau bekas merah itu ulah dia sendiri.
"Sayang ... kamu benar, serangga di sini sangat ganas dan besar."
Mendengar serangga itu besar dan ganas, Ziva langsung membersihkan kasur hotel. "Aku akan membereskan kasur ini. Kamu mandi saja dulu."
Sean menghalangi Ziva yang ingin membersihkan kasur. "Biar aku panggil petugas hotel nanti."
Sean memeluk tubuh Ziva dari belakang. "Sekarang ... kita mandi bersama."
Ziva mendelik, lalu melepas tangan Sean. "Gak mau!"
Sean menyeringai dan tanpa aba-aba, langsung mengangkat tubuh Ziva masuk kedalam kamar mandi. Tubuh Ziva di letakan di dalam bathtub. Sean mulai mengisi air ke dalam bathtub.
Ziva sudah basah oleh air. Pakaiannya menerawang karena terkena air. Sean meneguk ludah melihat pemandangan indah. Sean lalu masuk menyusul Ziva.
"Sayang ... ayo buka pakaiannya."
Ziva mengeleng. "Gak mau ... aku mau mandi sendiri." Ziva menyilangkan kedua tangan di bahunya.
Sean membuka celananya, sekarang dia dalam keadaan polos. Sean menuangkan sabun cair ke dalam bathtub. Sean mendekati Ziva dan memeluknya.
Sean berbisik di telinga Ziva. "Sayang ... tidak bersih kalau mandi dengan memakai baju."
Sean membuka kancing kemeja Ziva. Sean menuangkan sabun cair ke telapak tangan. Sean membalik tubuh Ziva agar membelakanginya. Sean mulai mengosok punggung Ziva dengan tangan.
Sean pindah dari punggung ke lengan. Tangan itu mengosok secara perlahan. Ziva merasa geli tetapi juga merasakan sensasi yang tidak bisa dia jabarkan.
Tangan itu juga menyusuri bagian depan. Ziva melotot saat melihat tangan itu sudah berada di bagian yang men*njol.
"Tuan ... tanganmu jangan ke situ," kata Ziva.
Sean meraih wajah Ziva lalu mencium bibirnya. "Jangan panggil aku, Tuan!"
Ziva terbata-bata. "H-hubby ... tanganmu pindahkan ke arah lain."
"Baiklah ... akan aku pindahkan," kata Sean.
Sean memindahkan tangannya. Tetapi tangan itu meny*suri ke p*rut hingga ke pusat i*ti. Sean memainkan tangannya ke pusat itu.
"Jangan bergerak, kalau kamu bergerak aku akan melakukannya," ucap Sean.
Ziva mengangguk dan membiarkan Sean memainkanya. Ziva menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara des***n. Sean tersenyum puas, memainkan t*buh Ziva.
"Buka tanganmu, aku ingin mendengar suara sexy itu," ucap Sean.
Ziva mengeleng, tetapi bukan Sean namanya jika tidak bisa mendengar suara itu. "Lepaskan tanganmu."
Ziva masih tidak mau membuka mulutnya. Sean menekan tangannya yang berada di bawah. Ziva menjerit lalu membuka mulutnya.
"Keluarkan suara itu, aku ingin mendengarnya," kata Sean.
Sean tersenyum puas, keinginanya terwujud. Ziva mengeluarkan suara-suara sexy yang terdengar indah. Suara itu begitu indah mendayu di telinga Sean.
Ziva lemas saat puncaknya telah sampai. Hanya dengan tangan saja, Sean bisa memuaskan Ziva.
"Kau puas, sayang," ucap Sean.
Ziva terlihat kesal dengan kelakuan Sean. Sedang Sean hanya menyengir. Ziva beranjak dari dalam bathtub, lagi-lagi tanganya di tarik.
" Apa lagi?" tanya Ziva.
"Mandi dulu," kata Sean.
Ziva dan Sean lalu mandi bersama. Wajah Ziva masih cemberut. Ziva keluar terlebih dahulu meninggalkan Sean di kamar mandi. Ziva membuka lemari pakaian lalu mengambil kemeja Sean dan memakainya.
Sean keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Sean membuka lemari, tetapi tidak ada pakaian yang mau dia pakai. Hanya tinggal celana saja. Sean melihat Ziva yang memakai pakaian miliknya.
"Ziva ... pakaianku kenapa masih kamu pakai," ucap Sean kesal.
"Tidak ada yang bisa aku pakai selain ini," sahut Ziva
Kenapa aku lupa, memberitahu Jimi untuk membelikan Ziva pakaian, batin Sean.
Sean mengambil ponsel miliknya. Dia segera menghubungi Jimi untuk menyiapkan pakaian untuk Ziva.
Ziva memegang perutnya. Saat ini dia benar-benar terasa lapar. Perutnya sudah keroncongan. Dia malu untuk mengatakan pada Sean. Selesai memakai celana, Sean duduk di samping Ziva.
Sean mendengar perut Ziva yang berbunyi. Ziva menunduk malu, perutnya berbunyi tidak tahu tempat. Sean hanya tersenyum pada Ziva yang malu-malu.
Seharusnya Ziva tidak usah malu padanya. Sean sudah menjadi suaminya. Katakan saja pada suaminya. Apa pun yang Ziva inginkan, pasti akan Sean kabulkan.
Sean meraih gagang telepon hotel lalu memesan sarapan. Sean memesan sarapan untuk di bawa ke dalam kamarnya. Ziva menyunggingkan senyum, Sean mengerti keinginan perutnya.
"Sebentar lagi sarapannya datang. Kamu bersabarlah," ucap Sean.
"Terima kasih, hubby," ucap Ziva.
Beberapa menit berlalu, pintu kamar Sean di ketuk. Sean beranjak membuka pintu kamar. Pelayan datang dengan membawa kereta dorong makanan. Sean menyuruh agar pelayan itu tidak masuk ke dalam kamar.
Sean tidak ingin tubuh istrinya di lihat orang lain. Sean tadi juga menelepon Jimi agar membelikan Ziva pakaian tertutup. Hanya Sean seorang yang boleh melihat tubuh Ziva. Tidak boleh ada orang lain.
Sean menutup pintu kamar lalu membawa kereta makanan ke meja sofa. Ada banyak sekali makanan yang di pesan Sean. Semuanya mengunggah selera Ziva yang tengah kelaparan.
"Makanlah ... kamu lapar, kan?"
Ziva mengangguk lalu mengambilkan Sean sarapan terlebih dahulu. Setelah itu barulah Ziva mengambil sarapan untuk dirinya. Sean sangat kagum, meski Ziva kelaparan tetapi dia memprioritaskan suaminya terlebih dahulu.
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.