Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romantic Dinner No, Overthinking Dinner Yes 2
Sesaat kemudian ku lihat Rafka duduk di sebelahku dengan tangannya terus menepuk pundakku.
Dia layaknya sahabat yang baik dan bertanggung jawab jika diberi amanah oleh sahabatnya untuk menjaga kekasih hatinya ketika sang sahabat tak mampu menjaganya sendiri.
"Mba, gue boleh tahu apa yang membuat lu menangis?" Tanya Rafka.
"Gak ada mas, tadi sempat menonton drama Korea dulu niatnya daripada suntuk nunggu mas Rafka datang, eh malah ikutan baper." Jelas ku.
Mengingat jam yang sudah larut malam, aku mengajaknya segera pulang agar ayah dan bunda tidak mengkhawatirkan ku.
Kita berjalan menuju mobil dengan posisi Rafka berjalan di belakangku, kami sengaja tidak berjalan beriringan karena untuk menghindari jika ada kolega atau orang yang kami kenal melihatnya dan menceritakan sekilas kepada Celo.
Rafka mengemudikan mobil dengan kecepatan yang normal, sepanjang perjalanan tentu saja kami sama-sama terkesan canggung karena sejak pertemuan kami beberapa minggu lalu inilah pertemuan kami dengan interaksi paling lama.
Walaupun dia adalah sahabat dari laki-laki yang saat ini sedang menjalin hubungan denganku tentu saja rasanya segan jika harus terlalu friendly dengannya.
''Oh iya mba, sebenarnya Celo ada urusan apa?" Tanyanya.
"Entah mas, gw juga bingung tiba-tiba dia pergi begitu saja dan hanya mengabari lewat sebuah pesan WhatsApp jika dia sudah meminta lu untuk menjemput gue."
Jawabku terkejut karena yang semula aku pikir dia mengetahui apa yang terjadi dengan Celo, tetapi ternyata dia menanyakan hal yang sama.
Mendengar pertanyaan dari Rafka hati dan pikiranku semakin tak menentu hingga tak ku sadari sikapku berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya sehingga membuat suasana didalam mobil menjadi beku.
Ku rasa semua wanita akan bersikap hal yang sama jika mengalaminya.
Saat memasuki sebuah persimpangan jalan kami terjebak lampu merah, disana Rafka menyalakan musik mobilnya untuk mencairkan suasana.
Aku sebenarnya tak enak hati dengannya yang sudah bersedia di minta pertolongan oleh sahabatnya itu untuk menjemput ku, tetapi justru ku hadiahi mimik muka dengan mulut terkunci.
"Maaf mba, jika kurang suka dengan lagunya boleh kok diganti." Katanya.
"Suka kok aman, gue rasa gak perlu lagi ya panggil mas atau mba di antar kita, bukankah sahabat pacar adalah sahabat kita juga." Jelas ku.
"Hahaha... Gue setuju, by the way di perhatikan lu diam saja dari tadi, apa ada yang sedang dipikirkan?" Imbuh Rafka menanggapi.
"Gue khawatir dengan kondisi Celo, tetapi jika ditelaah lebih jauh lebih ke marah karena coba lu bayangkan cewek mana yang bisa terima ditinggal begitu saja di restoran, terus pulangnya dijemput sama cowok lain meskipun itu sahabat dari pacarnya sendiri." Cetus ku.
"Gue paham, bukannya mau membela Celo karena dia sahabat gw, tetapi selama kita berteman dia dikenal sebagai seorang pria dengan karakter pekerja keras dan bertanggung jawab."
"Jadi bisa dipastikan jika sikapnya hari ini bukan tanpa sebab dan nantinya pasti sudah ada rencana yang di siapkan sebagai permintaan maaf." Imbuhnya.
"Gue gak berharap apapun, jika memang benar sikapnya malam ini karena pekerjaannya aku justru gak tega melihatnya karena dia sampai tidak punya waktu untuk me time, tetapi jika karena hal lain aku pastinya akan kecewa." Tutur ku.
"Hal lain maksudnya?" Tanya Rafka.
Mendengar tanggapan Rafka yang menanyakan hal yang aku maksud membuatku hanya menggelengkan kepala.
Untuk saat ini aku tidak boleh menceritakannya kepada siapapun sebelum aku memastikan sendiri ke Celo jika yang aku dengar hanyalah salah paham ku saja.
Lampu lalu lintas berubah dari merah menjadi hijau, mobil kami kembali melaju kali ini suasana sudah mencair karena sedikit banyaknya kami sudah berbincang.
Aku melihat sekeliling barangkali ku dapati mobil Celo diantara banyaknya mobil yang melintas hari ini, akhirnya kami sampai juga di rumah ku.
"Mampir ke rumah, raf." Sapaku sembari turun dari mobilnya.
"Next time saja, Kat. Jam sudah sangat malam untuk bertamu, istirahat saja dan salam untuk ayah dan bundamu." Jawabnya dengan tak lupa diiringi senyum di bibirnya.
Tak lama setelah dia menanggapi ajakanku itu mobilnya kembali melaju kencang, sementara aku berjalan masuk ke dalam rumah karena aku yakin ayah dan bunda pasti sudah menungguku.
Kondisiku juga sudah sangat lelah sehingga sepertinya aku harus melepas rinduku pada kasur.
Benar saja dugaanku ayah dan bunda rupanya sudah berdiri di balik pintu, mereka menyeringai ke arahku seakan penyidik yang sudah ingin sekali mengintrogasi buronannya, aku mencoba tenang dengan senyum simpul.
"Bunda... Ayah, ada apa kalian melihatku seperti itu?" Tanyaku dengan tetap menunjukan sisi centil ku.
"Tolong jelaskan siapa yang baru saja mengantarmu, kenapa perginya sama Celo dan pulangnya dengan laki-laki lain, bagaimana jika para tetangga melihatmu?!" Kata ayah yang justru berbalik bertanya padaku.
"Bisa gak ayah itu kalau ada yang tanya di jawab dulu, bukannya justru diberi pertanyaan bertubi-tubi." Tutur ku.
"Tentunya pertanyaan-pertanyaan ayah itu wajib di tanyakan karena kami adalah orang tua yang bertanggung jawab atasmu." Tegas bunda.
"Aku tahu kok, pertama aku pulang di antar Rafka yang tak lain adalah sahabat Celo, kedua justru aku juga bingung kenapa Celo meminta Rafka yang menjemput ku di restoran, sementara dia pergi tanpa sepatah katapun, ketiga aku yakin tetangga-tetangga kita sudah tidur karena ini sudah jam istirahat malam." Tutur ku sembari melempar senyum.
"Maksudnya bagaimana, kenapa Celo sampai pergi meninggalkanmu begitu?" Respon ayah kebingungan dengan penjelasanku.
"Aduh ayah dan bunda tanyakan saja masalah itu ke calon menantu kesayangan kalian itu, aku capek dan aku mau tidur." Jawabku dengan nada sedikit membentak.
"Bisa gak kalau berbicara sama orang tua gak usah bentak-bentak, dasar...." Pekik ayah.
Aku menutup telingaku dan terus berjalan menuju kamar sehingga aku tidak mendengar lebih jelas apakah ayah masih ngomel atau tidak, yang jelas pikiranku sedang kacau sehingga aku tidak ingin berdebat lagi dengan siapapun, ayah dan bunda tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi.
Sesampainya di kamar aku melemparkan tas ke kasur kemudian aku segera masuk kamar mandi untuk mengisi bathub dengan air dingin hingga penuh.
Saat pikiran dan hati ini sedang dalam keadaan yang panas pelampiasanku adalah mandi ataupun berendam karena aku meyakini jika air dingin membasahi tubuhku maka mampu juga mencairkan rasa panas dalam diriku.
''Aku benar-benar muak hari ini, dinner yang aku pikir sebagai romantic dinner justru malah menjadi overthinking dinner, atau memang Celo mengidolakan selebgram majalah dewasa yang sedang viral itu, sehingga dia menciptakan istilah yang terinspirasi darinya (Romantic Dinner No, Overthinking Dinner Yes).'' Gumamku.
..