Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.
Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.
Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.
Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Tak Tertulis
Sudah dua hari sejak Sherly muncul di kantor YukBelanja, dan tanpa disadari, sesuatu di antara Al dan Cika mulai berubah. Bukan karena pertengkaran, bukan pula karena kata-kata yang menyakitkan, melainkan karena jarak yang perlahan terbentuk.
Jarak yang tidak pernah mereka ucapkan.
Namun terasa.
Jarak yang lahir dari perasaan yang sama-sama belum mereka pahami sepenuhnya.
Al menjadi lebih sering pulang larut malam. Alasannya selalu terdengar logis—pekerjaan yang menumpuk, rapat yang tidak bisa ditinggalkan. Namun entah kenapa, Cika bisa merasakan ada hal lain di balik itu.
Seolah Al sedang berusaha menjaga sesuatu.
Atau mungkin… menghindari sesuatu.
Dan Cika tidak menuntut.
Ia juga tidak bertanya.
Bukan karena tidak ingin tahu.
Melainkan karena terlalu takut dengan jawaban yang mungkin ia terima.
Di kantor, situasi pun tidak jauh berbeda.
Bisik-bisik yang sebelumnya hanya samar kini mulai terdengar lebih jelas. Beberapa rekan kerja bahkan tidak lagi menutupinya.
“Kamu dekat ya sama Pak Al?”
“Kalian tinggal bareng, ya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan dengan nada setengah bercanda, namun cukup tajam untuk membuat Cika kehilangan kenyamanan.
Ia hanya tersenyum tipis, menjawab dengan kalimat yang menggantung.
Tidak membenarkan.
Tidak juga menyangkal.
Karena ia sendiri tidak tahu harus menempatkan dirinya di posisi apa.
Suatu malam, Al pulang lebih cepat dari biasanya.
Namun yang ia temukan bukanlah pemandangan yang biasa menyambutnya.
Apartemen itu sepi.
Tidak ada suara dari dapur.
Tidak ada langkah kaki di balkon.
Tidak ada kehadiran Cika di mana pun.
Di atas meja makan, hanya ada secarik kertas kecil.
“Mas, aku butuh waktu sendiri. Aku ke rumah Syifa. Jangan khawatir, aku akan pulang besok pagi. —Cika.”
Al membaca kertas itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Tangannya tidak bergerak.
Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa bergeser.
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu terakhir—
sunyi itu terasa tidak nyaman.
Di tempat lain, Cika duduk di sofa kecil milik Syifa.
Ia memeluk bantal, menatap layar televisi yang menyala, tetapi tidak benar-benar ia perhatikan. Pikirannya terlalu penuh untuk sekadar mengikuti alur cerita yang bahkan tidak ia dengar.
“Kenapa kamu nggak cerita dari awal?” tanya Syifa pelan.
Cika menghela napas.
“Aku juga baru sadar… dia bukan orang biasa,” jawabnya pelan. “Waktu aku lihat cara dia menatap Al… aku ngerti.”
Syifa menatapnya serius. “Kamu takut Al masih punya perasaan?”
Cika mengangguk.
“Dan aku nggak mau jadi pengganggu,” lanjutnya lirih. “Aku nggak punya apa-apa. Dia punya segalanya. Kalau dia balik ke masa lalunya… aku bisa apa?”
Syifa menggenggam tangan Cika erat.
“Cik,” ucapnya lembut. “Kamu itu jauh lebih kuat dari yang kamu kira. Kamu mungkin nggak punya segalanya, tapi kamu punya satu hal yang nggak semua orang punya.”
Cika menatapnya.
“Hati yang tulus.”
Cika terdiam.
“Tapi jangan lari,” lanjut Syifa. “Kamu harus tahu… Al itu benar-benar menginginkan kamu, atau cuma… butuh kamu.”
Kalimat itu menggantung.
Dan menancap.
Pagi harinya, saat Cika kembali ke apartemen, suasana terasa berbeda.
Al sudah bangun.
Ia duduk di ruang tengah, mengenakan pakaian santai, dengan sebuah proposal di tangannya yang entah sejak kapan tidak benar-benar ia baca.
“Pulang?” tanyanya singkat.
Cika mengangguk pelan, melepas sepatu.
“Maaf… aku nggak pamit baik-baik.”
“Gak apa-apa,” jawab Al. “Tapi aku perlu tahu.”
Ia meletakkan berkas di tangannya.
“Kamu pergi karena Sherly?”
Cika terdiam.
Namun kali ini, ia tidak menghindar.
“Aku pergi karena aku bingung,” ujarnya jujur. “Karena aku takut.”
Al menatapnya.
“Takut apa?”
Cika menarik napas panjang.
“Takut aku jatuh terlalu dalam… ke orang yang mungkin nggak bisa membalas,” jawabnya pelan. “Takut semua ini cuma peran. Dan aku… nggak tahu bagaimana cara menyelamatkan diriku kalau aku berharap terlalu jauh.”
Suasana hening.
Al berdiri perlahan, lalu mendekat.
“Cika…” suaranya lebih rendah dari biasanya. “Aku juga bingung.”
Cika mengangkat kepala.
“Tapi satu hal yang pasti,” lanjut Al, “aku nggak pengen kamu pergi.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat pertahanan Cika runtuh.
“Kemarin malam… waktu aku pulang dan kamu nggak ada,” ucap Al pelan. “Rasanya beda.”
Ia berhenti sejenak.
“Sepi.”
Cika menunduk.
Air matanya hampir jatuh.
“Sherly bukan siapa-siapa lagi,” lanjut Al. “Dia bagian dari masa lalu. Dan kamu…”
Ia menatap Cika.
“Kamu ada di masa sekarangku.”
Cika terdiam.
“Di tempat yang seharusnya bukan cuma dihuni… tapi diisi,” tambahnya pelan. “Sama kamu.”
Cika menghela napas panjang.
“Aku nggak butuh janji, Mas,” ucapnya lirih. “Aku cuma butuh kejujuran.”
Al mengangguk.
“Aku nggak bisa janji semuanya akan sempurna,” katanya. “Tapi aku akan berusaha. Bukan karena kontrak.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi karena aku nggak mau kamu jadi orang asing di hidupku.”
Malam itu terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, jarak di antara mereka benar-benar menghilang.
Tidak ada lagi bantal pembatas.
Tidak ada lagi rasa canggung yang berlebihan.
Mereka duduk lebih dekat, berbagi ruang, berbagi keheningan yang kini terasa hangat.
Percakapan mereka sederhana.
Tentang masa kecil.
Tentang makanan favorit.
Tentang hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah mereka bahas.
Bukan tentang kontrak.
Bukan tentang status.
Hanya tentang mereka.
Saat lampu dimatikan, suasana kamar menjadi hening.
Namun kali ini, hening itu terasa… nyaman.
“Kalau suatu hari kamu ingin tetap tinggal,” ucap Al pelan dalam gelap, “bukan karena kontrak… tapi karena kamu mau…”
Ia berhenti sejenak.
“Aku akan tetap di sini.”
Cika tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Al di bawah selimut.
Erat.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya—
tidur mereka terasa lebih tenang dari sebelumnya.