Winda adalah seorang wanita berumur 32 tahun yg sudah menikah dengan Ardi yg berumur 38 tahun.
Pernikahan mereka sudah memasuki umur 7 tahun, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak.
Winda merasa bahwa hidupnya tidak lengkap bila belum menjadi seorang Ibu.
Keinginannya untuk mempunyai anak sampai membuatnya putus asa.
Sampai suatu saat dimana dia diperkenalkan suaminya denga orang yang bernama Mina....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon green veil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XIII MANTAN
Ardi menuju ke rumahnya, sambil
menghela nafas panjang dia memikirkan para karyawannya. Dia tidak tahu apa yang
menjadi perbincangan mereka. Sebelumnya, Ardi selalu tahu apa yang dibicarakan
para karyawannya, keluhan maupun pembicaraan tentang orang atau apapun yang
mereka bicarakan di belakang Ardi, karena mereka akan bicara atau mengadu
kepada Winda kemudian Winda yang akan menyampaikannya kepada Ardi. Sekarang,
sumber informasi Ardi tentang karyawan sudah tidak ada lagi. Mina juga tidak
dekat dengan mereka, seolah ada dinding pemisah diantara mereka. Mina juga
tidak mau dekat dengan para karyawan selayaknya teman, begitu juga sebaliknya.
Ardi menghempaskan tubuhnya ke sofa
sambil mendengus dengan keras sehingga orang yang mendengarnya akan mengira
kalau Ardi lagi marah.
Mina yang melihat hal itu malas bertanya
apa yang terjadi. Dia masih bermain dengan Hpnya. Mina merasa sudah jenuh
dengan tingkah Ardi belakangan ini. Mina merasa bahwa Ardi selalu marah-marah
tidak jelas, tapi tiba-tiba baik kemudian marah-marah lagi dan itu membuatnya
menjadi semakin jengkel kepada Ardi. Dia pernah meminta orangtuanya untuk
menjemputnya, akan tetapi orangtuanya tidak mau menjemputnya karena takut kalau
Mina di rumah tambah stress karena tetangga masih membicarakan perihal Mina
menjadi perempuan yang merebut suami orang lain, sikap tetangga juga terkadang
sinis terutama tatapannya. Akan tetapi tetangga Mina di depan Mina dan
orangtuanya terlihat baik karena mereka cukup terpandang di daerah mereka
karena termasuk orang yang sukses dan kaya.
Ardi melirik Mina, dan tiba-tiba
merasa jengkel karena merasa Mina adalah sumber semua masalah, tetapi Mina
dilihatnya tidak peduli akan masalah yang dihadapinya sekarang ini. Tetapi Ardi
menekan amarahnya karena Ardi takut Mina pulang ke rumahnya karena dulu ketika
mereka bertengkar Mina langsung minta dijemput oleh orangtuanya. Beda sekali
dengan Winda, pikirnya. Ketika bertengkar dan sikap Ardi kepada Winda sangatlah
jahat, Winda tidak pernah meminta orangtuanya untuk menjemputnya.
“Yang” kata Ardi memanggil Mina,
berharap Mina meletakkan Hpnya kemudian menenangkan dia. Ardi ingin
bermanja-manja dengan Mina. Tapi Mina hanya menoleh kemudian melihat Hpnya
lagi.
“Ada apa Yang?” jawab Mina dengan
santai sambil bermain Hp.
“Diletakkan Hpnya dulu dong, aku
pengen ngobrol nih. Banyak masalah di toko. Aku pengen kamu temenin aku ngobrol”
Mina menoleh lagi tetapi tetap masih
bermain HP,
“ Apa sih Yang manja banget. Aku
capek ngurusin Bimo, pergi belanja ke supermarket. Jangan nambahin pikiran aku
lagi dong. Aku kan juga pengen santai”, jawab Mina sambil cemberut.
Ardi yang mendengar itu seketika
marah, akan tetapi ditahannya amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun.
“Ke supermarket? Ngapain?” tanya
Ardi terdengar agak ketus.
“Ya belanjalah masa tiduran” jawab
Mina jengkel.
Ardi yang mendengar hal itu berusaha
keras untuk menahan amarahnya supaya tidak terjadi pertengkaran hebat. Ardi berpikir
semakin jelas perbedaan Winda dengan Mina. Mina selalu berani menjawab
perkataannya, akan tetapi Winda masih menjaga atau bahkan tidak menjawab dengan
nada yang akan membuatnya tambah marah. Kenapa dengan Winda dulu aku kasar
tetapi dengan Mina aku terlalu lembut, apakah memang dulu cintanya kepada Winda
nggak sebesar cintanya kepada Mina?
Ardi menghembuskan nafas panjang
kemudian,
“Aku pergi sebentar ke tempat Mitha
ya Yang”, kata Ardi. Ardi berpikir untuk meredakan amarahnya di tempat Mitha.
........................................
Sampai di tempat Mitha, seperti
biasa Ardi melihat Mitha yang bermain dengan Hpnya.
“Bundamu ke mana Mit?”, tanya Ardi
ke Mitha supaya tidak ditanya kenapa dia datang ke rumah Mitha.
“Kerja dong Mas” jawab Mitha masih
melihat Hpnya.
“Mit, masih nyimpen foto bayi yang
lucu kemarin nggak?” tanya Ardi tiba-tiba teringat foto bayi yang diperlihatkan
Mitha dulu, yang nggak lain adalah Arjuna.
“Masih dong Mas. Ih kangen ya sama
bayi itu?” goda Mitha.
“Apaan sih Mit”
Mitha tidak segera memberikan Hpnya
kepada Ardi, Ardi tidak sabar menunggu
“Lama amat Mit”
“Bentar ah kan nyari dulu. Ini dah
tak kirim ke Hpnya Mas Ardi” kata Mitha.
“Mas Ardi nggak bawa HP Mit. Lagian
ngapain dikirim ke Mas Ardi. Mas Ardi kan Cuma pengen lihat aja”
“Udah ah, biar Mas Ardi puas kalo
kangen sama dedek bayi tinggal lihat Hp” jawab Mitha.
Ardi menyerah berdebat dengan Mitha,
kemudian dia melihat TV yang menyala sampai tertidur pulas.
“Ardi bangun, udah sore. Pulang sana!”
Tiba-tiba ada suara yang
membangunkan Ardi. Perlahan-lahan Ardi membuka mata dan dilihatnya kakaknya
duduk di sampingnya dan berusaha membangunkan Ardi supaya pulang ke rumahnya
karena hari sudah mulai malam.
“Bangun Di. Udah malah” kata
kakaknya yang tak lain adalah Bundanya Mitha.
“Hm” jawab Ardi.
Begitu terbangun, Ardi langsung
duduk dan menatap keluar. Sudah malam rupanya, batin Ardi.
“Ada apa? Ada masalah sama Mina?”
tanya kakaknya ingin tahu, karena setelah menikah dengan Mina Ardi jarang ke
rumahnya dan tidur sampai larut malam begini.
“Nggak ada apa-apa Mbak. Tadi Cuma ketiduran
aja pas main ke sini”
“Kata Mitha kamu nyariin kakak ya?”
“Nggak Kak, Cuma basa basi aja. Hehe.
Aku langsung pulang ya Kak. Kasihan Mina sendirian di rumah” kata Ardi yang
langsung beranjak dari duduknya kemudian pulang.
Sesampainya di rumah dilihatnya Mbok
Inem pembantunya sedang mengasuh Arjuna.
“Mina di mana Mbok?” tanya Ardi
kepada Mbok Inem.
“Di kamar Mas” jawab Mbok Inem.
Ardi menuju kamar dan dilihatnya
Mina sedang bermain Hp. Ardi yang amarahnya sudah mereda kini dibuat jengkel
kembali oleh tingkah Mina.
“Yang, kok di kamar?” tanya Ardi.
Mina hanya menoleh dan masih asyik
bermain Hp.
“Nggak ngasuh Bimo? Kasihan Mbok
Inem udah kerja seharian” kata Ardi lagi berusaha bersabar.
“Aku juga capek Mas. Apalagi Mas Ardi
marah-marah terus tanpa tahu salahku apa” kata Mina jengkel.
“Iya, maaf ya. Soalnya akhir-akhir
banyak pikiran di toko”
“Ya jangan dibawa-bawa pulang dong
jengkelnya. Apalagi malah marah-marah di depanku. Aku kan capek, masih harus
denger orang marah-marah lagi”.
“Iya maafin ya Yang. Yuk keluar,
kasihan Mbok Inem biar dia istirahat. Aku yang jagain Bimo. Kamu main Hp di
luar aja ya” bujuk Ardi lagi.
“Mas, kayaknya kemarin kamu juga dah
minta maaf tapi diulangin lagi deh. Kali ini aku maafin tapi jangan diulangin
lagi ya. Aku udah capek” kata Mina merajuk.
“Iya sayang. Yuk keluar”
Mina dan Bimo keluar dari kamar dan
menyuruh Mbok Inem menyiapkan makan malam. Setelah makan malam Mina menidurkan
Bimo.
Tlililing..... Hp Mina berbunyi,
tanda ada pesan masuk.
Mina membuka Hpnya. Dilihatnya pesan
yang masuk dan ternyata itu adalah pesan dari mantannya, Jaya. Pesan itu
berbunyi
‘Apa kabar?’
Hati Mina berkecamuk, ada perasaan
aneh di hatinya. Antara suka, benci bercampur jadi satu.
mending bobo...
bikin kesel/eneg dehhh..