Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.
Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.
Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awas kamu, Ri.
Jam yang sama di setiap makan malam keluarga. Rinjani menatap kegaduhan yang di timbulkan Nanang dan Arunika. Mereka mendebatkan perihal siapa yang boleh dan tidak boleh berdekatan dengan Nanang secara epik seolah mereka hanya ada berdua.
“Pokoknya Bapak aku bilangin ke guru agamaku kalau dekat-dekat Budhe terus apalagi bobok sekamar!” seru Arunika dengan nada sewot.
“Bilang saja, nanti Bapak buatkan kopi dan pisang goreng!”
“Oke. Awas kalau Bapak kabur dari rumah. Runi marah, Runi bakal ikut Mas Jalu ke rumah nenek.”
“Habis ini Bapak antar kamu ke rumah nenek sekalian antar baju Mas Jalu.” goda Nanang. “Gimana, mau sekalian?”
“Bapak lho ngusir aku?” tukas Arunika.
“Daripada kamu ke rumah nenek sendiri, mendingan Bapak antar biar tidak hilang!”
“Bapak kok gitu toh!” Arunika nampak hampir menangis, tetapi tidak jadi karena Rinjani tepuk tangan.
“Kalian ini meributkan apa?” tanya Rinjani.
Eits... Arunika langsung menghalangi Bapaknya dari kehadiran Rinjani. Dia merentangkan kedua tangannya sampai Nanang geleng-geleng kepala sambil menatap Swastamita.
“Budhe mau apa?” tanya Arunika.
“Mau makan.”
“Tidak usah makan, puasa saja.”
Rinjani tertawa sambil mengelus kepalanya. “Budhe hanya mau menyiapkan makan Bapakmu kok. Budhe diet.”
‘Alasan, nanti tahu-tahu pesan nasi Padang dan gofood.’ batin Nanang.
Arunika melirik Bapaknya yang tetap diam. Tidak membelanya atau membela Rinjani.
“Biar Runi saja yang menyiapkan makan Bapak! Budhe sama adik saja.”
“Oke, good luck girls.” Dengan senang hati, wanita itu pergi dari ruang makan. Meninggalkan Nanang mengeluh dalam hati.
“Priyayi cilik ini harus di beri hukuman juga.”
Nanang menatap Arunika yang membalikkan piring arahnya dan mengisinya dengan nasi.
“Tidak usah, Bapak bisa sendiri.”
Arunika mematuhi. “Berarti besok Bapak ambil makan sendiri, tidak perlu di siapkan Budhe!”
Rinjani tertawa lagi sampai kuping Nanang terasa panas saking tidak bisa berkutik.
“Sekarang kamu makan terus belajar. Bapak tidak mau nilaimu jelek karena memikirkan Bapak.”
Arunika menghela napas dan duduk, dia mengambil makan sendiri, tetapi sebagai akhir dari momen peringatannya, dia menaruh ayam goreng di piring bapaknya.
“Terima kasih.” Nanang mengelus puncak kepalanya. “Mita juga makan.”
“Itu jelas, Pak. Aku butuh energi untuk mendengar Runi ngoceh terus.”
Nanang tersenyum sambil menyantap tiga centong nasi dan oseng buncis yang di siapkan Arunika. Untuk ayam, dia perlu mencuilnya kecil-kecil biar mudah di kunyah karena giginya sudah tidak ampuh lagi.
‘Bisa dibayangkan waktu mereka masih kecil bagaimana dan Sakila tidak ada? Riri yang mengambil peran sebagai ibu bagi mereka dan kini setelah mereka cukup besar dan cukup mandiri, kelakuannya bikin gemas.’
Nanang menghabiskan makannya, kenyang sekali sampai perutnya terlihat membesar.
“Ambil susu kotak langsung ke kamar, nonton tv setelah belajar.” seru Nanang.
Anak kembarnya bergantian mengambil susu kotak di kulkas dan gegas pergi ke kamar. Tidak bisa membantah karena kalau sampai nilainya jelek-jelek Bapaknya benar-benar akan mengikuti sesi belajar. Di tunggu sampai di tanya sampai ke akar pembahasannya dan guru lesnya bakal di panggil, di tanya-tanya kenapa nilainya turun, salahnya di mana? Ribet pokoknya.
Nanang beranjak setelah pintu kamarnya tertutup.
“Kamu makan dulu.” Nanang menyentuh bahu Rinjani yang sibuk memperagakan boneka tangan beruang madu.
Rinjani menoleh. “Beruang tidak mau makan, Pak. Beruang sudah gendut.” Boneka tangan itu menggeleng ke sana kemari, dan sekarang baru megap-megap. “Sudah kenyang.”
“Kenyang makan hati?” celetuk Nanang.
Dua pengasuh kembara cilik tersenyum dan menundukkan kepala.
“Kamu makan, bawa anak-anak sekalian.”
“Kenapa Bapak beruang tidak yang membawanya ke sini? Beruang madu lelah.” Rinjani memberikan ekspresi murung, dan wajah boneka itu tertekuk.
Nanang melengos pergi, kembali ke dapur lagi. Terdengar denting piring dan sendok ketika dia menyiapkan makan malam untuknya.
“Minta di manja saja pakai banyak acara. Perempuan.”
Nanang menaruhnya di meja seraya menarik boneka tangan itu dari tangan Rinjani. Tersenyum dia pada kembar cilik.
“Kamu makan dulu, biar mereka bersamaku.”
“Kebetulan. Cari aku di setelah kamu selesai wayangan.”
“Di mana?”
“Kamar.”
“Wah.” Wajah Nanang berbinar-binar, kendati demikian, dia tidak begitu bahagia karena pasti bukan sesuatu yang menyenangkan. Pasti ada hubungannya dengan anak-anak.
“Mau di buatkan kopi dulu?” tanya Rinjani setelah makan.
Nanang menggeleng. “Aku lagi nggak butuh kopi. Aku mau tidur cepat.”
“Baguslah kalau begitu. Stok kopi dan gula aman malam ini.” Rinjani pergi. Dan Nanang ingin sekali segera mengikutinya masuk ke kamar, sayang, Anjana dan Anjani masih ingin bersamanya sampai tidur.
“Pastikan mereka aman. Pembicaraan dengan Riri pasti lama dan saya tidak ingin ada gangguan.”
“Baik, Pak.” Dua pengasuh kembar cilik mengangguk sebelum melihat Nanang menjauh.
“Pasti mau itu.” ucap pengasuh satu.
“Nggak mungkinlah.” pengasuh dua menggeleng. “Bu Riri cinta mati sama Pak Kay, nggak mau pasti gitu-gitu sama Pak Nanang.”
Pengasuh satu pun meringis. “Benar-benar, kalau sampai gitu-gitu, paling Pak Nanang babak belur dulu.”
Nanang mengetuk kamar Rinjani setelah memastikan Arunika dan Swastamita berada di tempat tidur, masih menggambar.
“Sudah?” Rinjani bertanya tanpa membuka penuh pintu kamarnya.
“Aman.” Nanang memajukan satu kakinya, menghalangi pintu agar tidak tertutup. “Mau bicara apa?”
Rinjani berbalik tanpa mempersilahkan Nanang masuk. Tetapi pria itu tetap masuk dan menutup pintunya, di tambah menguncinya.
“Kamu benar-benar mengizinkan Runi membawa guru agamanya ke rumah?” Rinjani memberinya kursi kerjanya sementara dua duduk di tepi ranjang.
Nanang melihat tas kremesnya berada di tempat yang seharusnya, di meja kerjanya, bersanding dengan laptop yang menyala, menyiarkan data-data distributor resmi pabrik gula.
“Kalau aku tidak mengizinkan, Runi akan tetap mencecar guru agamanya. Aku kasian gurunya. Ikut stress nanti.”
Rinjani tampak tidak suka. “Kamu yang menghadapinya toh?”
“Beres.” Nanang meringis. “Selain itu, kamu ngajak aku ke kamar, nggak ada maksud lain gitu?”
Rinjani mengambil sapu lidi yang biasa dia gunakan untuk nebahi kasur.
“Tidak ada maksud lain. Wes, sekarang kamu keluar.” Rinjani menunjuk pintu dengan sapunya.
“Kalau aku tidak mau bagaimana?”
“Aku teriak.”
“Coba saja.”
Rinjani dan Nanang saling bertatapan. Dan saking tidak ada yang hendak mengalah, Rinjani berteriak.
“RUNI... RUNI... BAPAKMU...”
Nanang gegas membuka pintu, begitu Arunika. Keduanya bertatap-tatapan di ambang pintu kamar.
Nanang meringis, jantungnya pun berdetak kencang. “Bapak tadi cuma antar berkas penting di perusahaan.”
”Terus kenapa Budhe teriak-teriak? Bapak nakali?”
“Enggak ya. Ngawur kamu.” Nanang mendorong bahu Arunika, mengajaknya ke kamar.
“Bapak tadi cuma ganggu Budhe sedikit, kasian Budhe kesepian. Tidak ada teman.”
Arunika menyuruh Bapaknya melihat tugas menggambarnya selagi dia membetulkan letak bantalnya.
“Bapak kan seniman, coba itu di nilai salahnya di mana?”
Nanang mengamati gambar Arunika. Gambar anak sekolah dasar ya begitu kan?
“Seni tidak pernah mengenal kata salah, Runi. Dan gambaran paling murni adalah gambaran yang tidak perlu di hapus. Bebas, tapi penuh makna.”
Arunika menguap. “Kalau begitu Bapak yang mewarnai. Tanganku capek.”
Nanang berdehem, pokoknya kalau bisa keluar dari kamar anak, rasanya bebas.
“Bapak mewarnai di ruang keluarga.”
“Aku sekalian, Pak.” Swastamita menumpuk buku gambarnya di atas pewarna Arunika. “Makasih, Bapak.”
“Iya.” Nanang mematikan lampu utama seraya keluar kamar. Dia pun mendapati Rinjani mengintip dari celah pintu kamar sambil tersenyum.
“Awas kamu, Ri.”
-