Dinikahi Roylando yang hobi bermain judi dan berselingkuh, membuat hidup Tara penuh dengan penderitaan.
Tara terpaksa berjuang sendiri untuk menafkahi anak nya dan menghidupi keutuhan rumah tangga nya.
Dibalik kegelapan hidup Roylando ternyata masih banyak rahasia yang ia sembunyikan dari Tara.
Perlahan rahasia itu pun terungkap bersama kehadiran seorang pria misterius yang mengaku sebagai pengagum rahasia Tara.
Kehadiran pria itu dalam hidup Tara, mampu membangkit kan semangat hidup Tara yang nyaris putus asa.
Tara pun berhasil menguak seluruh tabir rahasia keluarga Roylando yang selama ini di tutupi.
Siapakah sebenar nya pria misterius itu? Bagaimana ia bisa tahu semua hal tentang Tara? Apa hubungan Roylando dengan pria itu?
Bagaimana cerita hidup Tara yang penuh tantangan dan dipenuhi intrik kejahatan dari seorang perempuan jahat bernama Karla dan seorang pria jahat bernama Dika?
Apakah Tara bisa selamat dari rencana pembunuhan yang di rangkai mereka berdua?
Cuss Baca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak sakit
Hari Minggu yang terlihat cerah.
Mentari bersinar terang menyeruak dari kisi kisi jendela kamar Tara. Bias mentari yang sedikit hangat menerpa tubuhnya yang tertidur nyenyak disamping Sania.
Sesaat tubuhnya menggeliat, tatkala biasnya mentari pagi mengenai kelopak matanya yang terpejam rapat. Perlahan Tara membuka matanya yang terasa berat. Semua sendi tubuhnya terasa pegal dan ngilu. Kepalanya pun terasa pusing.
'Sepertinya masuk angin.' Pikir Tara dalam hati.
Dengan lesu dan tak bersemangat Tara turun dari pembaringan menuju meja rias.
"Sepertinya, aku menaruhnya disini." Gumam Tara sambil membuka satu persatu laci di meja rias.
Tara tersenyum tipis saat menemukan kotak obat-obatan yang terletak di laci paling bawah. Dia mengeluarkan botol minyak kayu putih dari dalam kotak dan menaruh kotak itu kembali ke dalam laci bawah.
"Hatsyiii...!"
Tiba-tiba hidungnya terasa gatal, membuatnya jadi bersin.
Suara bersinnya yang keras, tak sengaja membangunkan Sania dari tidurnya.
"Mama...!" suara Sania terdengar memanggil Tara.
"Iya sayang, mama make obat bentar ya!"jawab Tara lembut.
Sania pelan-pelan turun dari ranjang, berjalan menuju ke arah Tara.
"Sania jangan kesini dulu, Mama lagi flu. Nanti ketularan flunya mama!" Tara melarang Sania untuk mendekat.
Sania anak yang penurut. Ia berbalik dan duduk menanti Tara di pinggir ranjang dengan patuh. Tara tersenyum menatap anak perempuan nya dari jauh.
Anak pintar, Tara memuji kepatuhannya dalam hati.
Sejam kemudian.
Tuuut... Tuuut... Bunyi dering ponsel di atas meja rias terdengar bergetar, membuat mata Tara berpaling dari Sania.
Tara meraih handphone android itu dan melihat nomor tak dikenal muncul di layarnya. Seingatnya, yang tau nomor ponsel itu cuma Maya, pekerja resto dan..., Arya.
'Ya, Arya! Mungkin Arya yang menelpon.' Pikir Tara dalam hati.
Kemarin, saat Arya mengantar pulang. Tara sengaja memberinya nomor ponselnya pada Arya. Mendadak Tara teringat perkataan Dokter Adrian. Kata beliau, Arya tak suka pakai ponsel.
"Apa mungkin? Arya yang menelponku sepagi ini?" Tara jadi ragu.
Penasaran dengan penelpon tak di kenal itu, Tara pun mengangkat panggilan lewat ponsel itu tanpa mengeluarkan suara.
"Halo, Tara. Ini aku, Arya!" suara Arya terdengar menyapa Tara lewat ponsel.
Seketika perempuan itu menarik nafas lega. Karna yang menelpon ternyata memang Arya.
"Pagi-pagi, kamu sudah menelpon aku!" sungut Tara manja.
Tawa Arya terdengar senang, membuat telinga Tara terasa gatal. Tara menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya.
"Aku sudah tak sabar, mencoba handphone baru ku Tara... Nomor mu adalah kontak pertama di Hp ku. Semalam, Aku buru-buru beli Handphone ini ke counter, cuma demi kamu." cerita Arya menggebu-gebu.
Sepertinya Arya terdengar sangat bahagia.
Tara tersenyum mendengar kepolosannya. Terkadang jiwa polos dan ke kanak-kanakan Arya yang tersembunyi dari sifat kedewasaannya membuatnya sedikit terhibur.
Ternyata, awal pertemuan Tara dengan Arya menyisakan kenangan manis yang sulit untuk ia lupakan. Sikap Arya yang sabar dan sangat baik padanya, membuat Tara merasa nyaman dan bahagia setiap kali bersamanya.
Andai saja, Arya bukan siapa-siapanya Roy. Keluh Tara dalam hati.
Arya hampir saja mengisi kekosongan hatinya dengan pernyataan cintanya yang nyaris membuat Tara lupa diri.
"Tara, kamu dengar tidak?" panggil Arya yang seperti menyadari dirinya sedang bicara sendiri lewat ponsel.
Lamunan Tara tentang Arya, buyar seketika.
"Oh, eh, ya, kenapa?" jawab nya gugup.
"Kamu dengar tidak, sayang, tadi aku bicara apa?" ucap Arya mesra.
DEG!
Jantung Tara seketika berdegup kencang.
Panggilan sayang dari Arya membuatnya jadi gelagapan.
"Hatsyiii... Hatsyiii, Hatsyiii!" Lagi-lagi Tara bersin.
Dan kali ini, bersinnya lebih dari sekali. Berulang-ulang, membuat hidung Tara jadi berair dan matanya terasa panas memerah.
"Kamu sakit?" nada suara Arya terdengar khawatir.
"Hhh... aku cuma flu!" suara Tara mulai terdengar sengau.
Tara meraba lehernya sendiri. Suhu tubuhnya mulai terasa panas. Bergegas ia menghampiri meja rias, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Dia mengambil kotak obat yang tadi di taruh dalam laci paling bawah mencoba mencari obat flu di dalam tumpukan obat yang tersimpan dalam kotak obat. Namun tak menemukan satu pun obat flu yang tersisa di sana.
"Tara, tunggu Aku di rumahmu. Aku akan membawamu ke dokter!" ucap Arya tiba-tiba mengejutkan Tara.
"Jangan, aku tidak...!" kalimat Tara menggantung seketika.
Tuut... Tuut... Tuut!
Arya langsung memutuskan pembicaraan lewat ponsel tanpa mendengarkan kalimat Tara hingga selesai.
Tara memukul jidatnya pelan. Ia jadi pusing dan bingung dengan kelakuan Arya yang makin sembrono. Ada perasaan cemas yang menerpanya. Khawatir, Roy tiba-tiba pulang dan memergoki Arya datang ke rumah tanpa sepengetahuannya.
Beberapa saat kemudian.
Tok...tok...tok!
Suara bunyi pintu di ketuk, membuat Tara terperanjat kaget.
Jangan-jangan Roy pulang? Tara semakin cemas.
Bergegas Tara membuka pintu rumah dan yang lebih mengejutkannya bukan Roy yang datang.
"Arya!" Tara terkejut melihat kehadiran Arya yang datang secepat kilat di rumahnya.
Pria itu sudah berdiri di depan pintu sambil mengembangkan senyuman manis.
"Kamu?" Mata Tara melotot marah sekaligus senang.
Arya memang nekat. Buru-buru Tara menarik tangan Arya agar cepat masuk ke dalam rumah. Khawatir ada tetangga yang melihat kehadirannya.
"Kamu benar-benar nekat, bagaimana kalau Roy tahu, kalau kamu kesini tanpa sepengetahuannya?" ucap Tara kesal, sambil melepaskan tangan Arya segera.
Arya tertawa cengengesan melihat reaksi Tara yang terlihat panik dan cemas.
"Jangan khawatir Tara, aku ini saudaranya. Aku punya seribu satu alasan agar Roy tidak curiga padaku. Kapan lagi, aku sebagai saudara berkunjung ke rumah kakakku sendiri!" jawabnya enteng.
Tara menghembuskan nafas lega. Arya benar, ia bisa datang berkunjung kapan saja dia mau. Karna bagaimanapun juga, ia dan Roy adalah saudara meski tak sedarah.
Tiba-tiba tangan Arya telah menempel di jidat dan leher Tara. Ia bagai seorang dokter yang mengecek suhu tubuh pasien yang terasa makin panas.
"Kamu demam!" nada suara Arya terdengar mencemaskan Tara.
Tara menghindar, mencoba menjauhkan tubuhnya dari Arya. Risih, karna di rumah cuma ada mereka berdua. Kebetulan, Sania sudah ia titip kan pada Maya. Setelah mengetahui kondisinya yang lagi flu berat, Maya pun tadi melarang Tara masuk kerja. Ia menyuruh Tara beristirahat untuk beberapa hari, hingga Tara sembuh.
"Cuma demam sedikit, besok pasti sembuh." Ujar Tara cepat.
Tara tak ingin merepotkan Arya.
"Aku tahu, kamu tak'kan mau ku bawa berobat ke dokter. Makanya sebelum kesini aku mampir dulu ke apotik, membelikan kamu obat dan juga nasi goreng untuk sarapan. Kamu pasti belum sarapan kan? Nih, sarapan dulu. Terus minum obat, biar lekas sembuh!" kata Arya sambil menyodorkan bungkusan yang sedari tadi dipegangnya.
Tara tertegun menatap bungkusan yang di sodorkan Arya ke tangannya. Tanpa sadar, dia membandingkan sikap Arya dan Roy terhadapnya. Selama ini, Roy tak pernah memperlakukan Tara seperti ini.
Air matanya hampir jatuh, saking terharu diberi perhatian seperti itu oleh Arya. Andai saja, Roy bersikap seperti itu mungkin hidupnya akan jauh lebih bahagia.
"Buruan! malah melamun." Desak Arya setengah memaksa.
Buru-buru Tara mengambil bungkusan dari tangan Arya dan membiarkannya duduk sendiri diruang tamu.
"Tara !"
Suara Roy terdengar jelas memanggil namanya dari luar rumah. Suaranya yang terdengar lantang, seketika membuat Tara terkejut . Dia baru saja selesai sarapan dan meminum obat pemberian Arya. Rasa cemas dan khawatir kembali datang memenuhi batinnya.
"Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana reaksi Roy pas melihat Arya berada dirumah berduaan denganku? Alasan apa yang harus ku katakan?" Tara menceracau dalam hati seketika kebingungan.
Tara jadi ketakutan sendiri.
.
.
.
BERSAMBUNG