"Siapa bilang hidup tak seindah drama Korea. hidup jauh lebih indah dari drama ketika memiliki cinta"
ini adalah lika-liku kehidupan seorang gadis untuk menemukan jodoh/cinta sejatinya. karena terlalu terobsesi dengan karakter oppa-oppa yang ada di drama Korea, ia sampai tidak bisa jatuh cinta pada laki-laki yang ada di kehidupan nyatanya hingga usia ke 26 tahun. usia yang sudah cukup matang untuk menikah.
lalu suatu hari, sang Ibu berinisiatif untuk menjodohkannya dengan seorang pemuda, anak dari teman arisannya. padahal Yuna tidak menginginkan perjodohan, ia berharap bisa menemukan cinta sejatinya sendiri. namun, mengingat bahwa hidup tak seindah drama Korea, alhasil ia memutuskan untuk menerima perjodohan itu.
apakah Yuna berhasil menemukan jodohnya melalui perjodohan itu?
yuk! ikuti kisahnya 💃.
oh iya, jangan lupa tinggalkan jejak. like, komen, vote dan hadiah ☺️
bila berkenan berikan kritik dan saran juga ✌️
jazakumullahu khairan 🙏
🌹🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lztari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan maaf
Jam pulang kantor, seluruh karyawan satu persatu meninggalkan gedung tersebut. Yuna masih di mejanya menenggelamkan wajah. Kerjaan telah rampung, namun ia masih takut jika nanti bertemu dengan Lio di halte.
“Nungguin apa? Kok belum pulang?.” Kasim memperhatikan.
“Cim. Aku nebeng kamu ya? Aku lagi malas naik bus.” Pinta Yuna.
“Tumben. Kamu sakit?.”
“Enggak sih! Lagi malas aja naik bus. Pengen naik motor, dibonceng.”
“Gak usah ngadi-ngadi. Pulang aja naik bus. Aku mau ke rumah sakit, udah dua hari nenekku di rawat.” Jelas Kasim. Arah rumah sakit berlawanan dengan arah rumah Yuna, jadi Kasim tidak bisa memberikan tumpangan.
“Hah, beneran? Kok gak bilang nenek kamu sakit? Ya udah aku nebeng biar sekalian jenguk.” Rengek Yuna.
“Gak usah. Udah sana pulang sebelum ketinggalan bus.” Titah Kasim.
“Tega bener!.”
“Oy, ayo pulang. Asyik ngerumpi aja.” Ajak Wanda yang baru saja menghampiri mereka berdua.
“Da, temenin aku nunggu bus ya.” Pinta Yuna pada Wanda.
“Ronald udah nungguin. Kenapa emang minta ditemenin. Biasanya ya juga bisa sendiri!.” oceh Wanda.
“Gak tau nih. Tiba-tiba dia aneh.” Ujar Kasim.
Kedua sahabat Yuna itu tidak ada yang mendengar rengekan Yuna. Mereka menganggap Yuna hanya sedang manja. Pada akhirnya mereka meninggalkan Yuna sambil berkata, “pacarnya Ji chang wook gak boleh manja. Sana pulang!.”
Hm, sungguh mereka tidak mengerti jerit hati Yuna yang takut bertemu atasan barunya di halte.
Karena tidak ada lagi alasan dan cara untuk menghindar, akhirnya Yuna membulatkan tekad untuk ke halte. Karena belum tentu juga ada Lio di sana. Bisa jadi ia pulang lebih awal atau malah akhir. Lagi pula ia akan memberanikan diri jika memang bertemu Lio. Ia sudah melewati berbagai macam hal di depan Lio, mulai dari hal tidak mengenakkan bahkan memalukan, sudah dilaluinya. Lalu apalagi yang akan ia takutkan. Tinggal minta maaf saja karena ketidaktahuannya kemarin. Beres kan?.
Setelah mendekati halte, benar saja, ia melihat sudah ada Lio di sana. Tekat yang tadi sempat kuat kini tiba-tiba meleyot, kakinya terasa lemas. Belum sempat meninggalkan tempat itu, Lio sudah menoleh ke arahnya. Hancur sudah harapannya untuk melarikan diri.
“Yuna.” Sapanya.
Gadis itu pun beringsut mendekati Lio. Menarik napas dalam, ia mencoba lebih tenang.
“Pak Lio. Maafkan saya, saya sudah lancang kepada anda sebelumnya. Saya benar-benar tidak tahu bahwa anda adalah atasan baru kami.” Yuna menundukkan wajah tidak berani menatap Lio.
Pemuda bertubuh jangkung itu tergelak, tawanya pecah.
“Kau ini kenapa?. Memangnya aku mempermasalahkan itu?.”
“Tapi tetap saja saya lancang. Saya memperlakukan anda seperti teman. Saya tidak sopan.” Jelas Yuna, wajahnya masih menunduk.
“Sudahlah, jangan seperti ini. Aku lebih senang kau bisa menganggapku sebagai teman.”
“Mana bisa begitu Pak.”
“Sudahlah Yuna. Aku serius. Aku lebih senang caramu memperlakukanku tadi pagi ketimbang sekarang. Aku maklum kalau kau tidak tau siapa aku. Sebenarnya salahku karena tidak memberitahumu sejak awal. Lagi pula apa pentingnya aku memberitahu?.”
“Tentu saja penting. Itu akan membuat saya lebih hormat kepada anda.”
“Yuna, cukup! Baiklah, kau boleh sehormat dan seformal ini dalam kantor, tapi di luar kantor, bicaralah santai kepadaku. Anggap aku sebagai teman dan tetangga kompleksmu.” Pinta Lio.
“Oya, jangan menunduk lagi. Lehermu pasti pegal.”
“Tapi aku malu. Aku banyak melakukan keteledoran padamu.” Setelah mengangkat wajah, kini Yuna menutup wajah mungilnya itu dengan sling bag. Bagaimana ia tidak malu, jika teringat kejadian tadi pagi, Lio pasti akan ngakak brutal di tempatnya, saat dirinya pamit untuk turun lebih dahulu di depan kantor, padahal dia adalah orang penting di perusahaan tersebut. Sungguh memalukan.
“Tidak apa-apa, kalau kau seperti ini terus, malah kau akan merasa semakin canggung setiap bertemu denganku di tempat ini.”
“Sudah santai saja. Aku janji tidak akan membahas apalagi menertawakan masalah itu.” Ucap Lio meyakinkan.
“Serius?.”
“Ya. Aku serius.” Setelah mendengar itu, Yuna akhirnya menurunkan sling bagnya. Dan tas kecil itu kembali bergantung di bahunya. Pipinya yang merah merona masih meninggalkan bekas. Senyum malu-malu pun tersemat.
Lio menggelengkan kepala sambil beberapa kali ber-istighfar karena sempat larut dalam menatapi wajah Yuna.
“Ya sudah. Mending kamu duduk dulu.” Lio menawarkan tempat duduk yang ada di belakang tempatnya berdiri.
Yuna menurut lalu duduk. Itu lumayan membuat Lio lega karena tidak perlu menatap wajah Yuna lagi.
Sambil menunggu bus, Yuna menatap punggung Lio yang berdiri di hadapannya itu. Meskipun masih canggung tapi rasanya menyenangkan juga memiliki teman ngobrol saat menunggu bus di halte. Ralat, ada atasannya yang sama-sama menunggu di halte.
“Oh iya, kenapa kamu naik bus?.” Tanya Yuna penasaran.
“Karena aku suka. Tidak perlu repot-repot mengemudi.” Jawabnya kemudian.
“Tapi, kamu kan seorang Direktur. Apa gak malu naik bus.?”
Lio membalikkan tubuhnya menghadap Yuna sejenak, “memangnya, mereka yang ada di bus itu tau kalau aku direktur?.” Pemuda itu balik bertanya.
Yuna ternganga, benar juga katanya. Ia pun awalnya tidak tahu bahwa Lio yang ia temui di halte akan menjadi direkturnya di kantor, apalagi orang lain!.
“Tapi, kenapa kau tinggal di kompleks? Bukannya pak Hendi tinggal di kawasan elit?.” Yuna akhirnya bangkit dan berdiri di samping Lio.
“Maaf, aku lancang.” Belum mendapat jawaban. Yuna buru-buru menyadari kelancangannya.
“Karena, aku terbiasa mandiri.” Jawab Lio.
Yuna terdiam, meskipun belum puas untuk mengorek informasi tentang Lio, namun ia sadar pertanyaannya sudah terkesan lancang kepada orang yang baru dikenal.
Lio yang menyadari itu pun tersenyum gemas dengan Yuna yang tampak dirundung bingung. Lio pun akhirnya mulai bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya. bahwa Ibunya telah meninggal sejak ia SMP, lalu sang Ayah menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki seorang putra, dialah Denis yang menjabat sebagai direktur keuangan.
Kemudian ia memisahkan diri dari keluarga karena tak ingin membuat keluarga baru Ayahnya itu merasa terintimidasi olehnya. Makanya sejak SMA ia belajar mandiri saat tinggal bersama pamannya di kota sebelah.
“Sepertinya aku sudah terlalu lancang menanyakan ini semua.” Yuna menyadari diri.
“Maaf ya Lio, kau jadi harus menceritakan semua hal menyedihkan itu padaku.”
“Tidak kok. Aku malah bersyukur memiliki teman yang mau bertanya tentangku.” Balas Lio.
“Memangnya selama ini kau tidak punya teman?” tanya Yuna, “ah sudahlah, tidak perlu dijawab. Kenapa juga aku harus bertanya tentang itu semua.” Makinya pada diri sendiri. Lio hanya terkekeh karena tingkahnya.
Tak lama berselang, apa yang mereka tunggu pun akhirnya datang. Lio mengajak Yuna untuk segera masuk bus. Lagi-lagi mereka terpisah. Tapi itu jauh lebih baik, agar tidak ada fitnah di antara mereka. Yuna duduk bersama seorang wanita yang sedang hamil, sedangkan Lio tak mendapat kursi dan akhirnya harus berdiri bersama penumpang pria lain.
Saat bus mulai berjalan, Yuna mulai merasa iba pada sosok pemuda bersetelan jas itu. Meskipun ia seorang direktur di kantor, tapi melihatnya berdiri diantara penumpang bus yang lain ia tampak kasihan. Terlebih setelah mendengar cerita tentang keluarga baru Ayahnya, ia merasa tidak adil dengan keadaan itu. Meskipun bukan dia yang merasakan kehidupan Lio, tapi hatinya ikut teriris, tapi anehnya pemuda itu malah bersikap santai.
“Lio ... Lio.” Dengan lirih Yuna memanggil pemuda itu. Lio pun menoleh sambil menaikkan alisnya isyarat pertanyaan.
“Duduklah, biar aku yang berdiri.” Tawar Yuna. Alangkah baiknya jika sang direktur itu bisa duduk di tempatnya. Karena ia sudah terbiasa naik bus dan pernah tidak mendapatkan kursi, jadi ia tidak akan merasa risi untuk turut berdiri.
Lio tidak menjawab dengan ungkapan. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa, tidak usah, duduklah. Yuna jadi semakin iba dibuatnya.
aku mampir niih, jangan lupa mampir juga di karyaku yaa..
semangat Wanda, sekuntum 🌹 untukmu😍
kutunggu lagi updatenya😍🫰