“Ed, kamu jangan macam-macam. Jangan lupa posisi kita! Kamu belum lulus sekolah, belum siap menghadapi dunia ini!”
Edgar menghela napas panjang, namun tetap mendekat. Ia menatap Ana dalam-dalam. “Saya sudah siap bu. Saya sudah menjadi suami anda. Apa itu nggak cukup untuk membuktikan kedewasaan saya?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter
Setelah selesai makan semuanya kembali masuk ke dalam kamar kecuali Ana yang bersikeras mau membereskan bekas makan mereka, walaupun Ita sudah melarangnya. Ana baru tahu jika rumah itu memiliki seorang pegawai yang setiap hari datang untuk membereskan rumah dan pekerjaan lainnya.
“Sisanya biar saya aja nak Ana.” ucap Enik pembantu rumah itu.
Ana tidak mengenal Enik, baru saja berkenalan. Ternyata wanita setengah paruh baya itu datang dari desa lain dan berkerja di rumah Edgar baru satu bulan. Akibat pembantu lama mengundurkan diri untuk mengurus orangtuanya yang sudah lanjut usia.
“Iya sudah kalau begitu aku ke kamar dulu ya bu.” jawab Ana setelah meletakkan piring yang sudah ia cuci di atas meja.
”Iya nak.” jawab Enik.
Ana berjalan kembali menaiki tangga untuk menemui Edgar dan menjelaskan semua yang terjadi hari ini. Ia tidak tahu bahwa Edgar pulang karena melihat dirinya di lamar oleh orang lain.
Ana melihat Edgar sedang fokus belajar dengan duduk di depan meja. Ia baru sadar bahwa di hadapan Edgar penuh dengan rak buku yang berbaris memenuhi dinding di hadapan lelaki itu. Setelah di perhatikan kamar itu bukan saja seperti museum melainkan juga seperti perpustakaan.
Ada satu lagi tempat yang belum Ana masuki, tapi ia takut tempat itu adalah ruang pribadi Edgar.
Edgar sudah menyadari istrinya memasuki kamar dan melihat kamarnya penuh dengan kebingungan. “Ibu ganti baju dulu sebelum tidur. Bajunya di ruangan itu.” perintah Edgar yang juga tahu kalau wanita di sampingnya sangat penasaran dengan ruangan itu.
Ana tanpa menjawab langsung keruangan yang sedari tadi membuatnya penasaran. Bukan lagi sebuah keanehan pandangan itu pancarkan, melainkan ia tidak tahu harus berkata apalagi saat melihat ruangan itu menjadi tiga tempat dengan satu tempat lagi bagaikan toko pakaian di tengah kota.
Ana melihat perlengkapan pakaian wanita di sana merasa bingung. “Apa ini semua barang mama ya?” ia menduga itu semua milik sang mertua. Ana tidak mau menggunakan pakaian itu sebelum mendapatkan izin, lebih baik ia meminta izin dulu sebelum menggunakan.
“Kamar mama dimana Ed?” Ana ingin menemui mertuanya.
“Buat apa bu?” Edgar menoleh ke Ana.
“Aku mau meminjam baju mama sebelum di gunakan.” jawab Ana.
“Emang kenapa dengan baju di dalam sana?” Edgar bingung dengan barang yang memang sudah di sediakan oleh ibunya itu.
“Itukan baju milik mama Ed. Harus izin dulu.” jawab Ana tidak mau menggunakan yang bukan miliknya.
Edgar baru menyambung. “Itu semua barang milik anda. Tadi pagi mama yang mempersiapkan itu semua. Katanya biar barang yang di rumah ibu enggak perlu di bawa ke sini.” jelas Edgar dengan ucapan ibunya tadi sore sebelum ia berangkat ke masjid.
“Banyak banget Ed.” ucap Ana keberatan dengan tingkah laku mertuanya itu.
“Kata mama, anggap aja sebagai bentuk mahar yang di cicil. Yang lainnya di serahkan waktu kita kembali mengadakan acara.” jelas Edgar kembali.
“Tapikan Ed—”
“Ibu mau saya bantu gantikan bajunya?” tanya Edgar yang tidak mau mendengar penolakan istrinya itu.
“Omongan kamu kurang etika tau nggak.” ucap Ana dengan perasaan kesal. Perkataan anak muridnya itu kurang di didik agar tidak berpikiran negatif terus di dalam otaknya. Ia langsung masuk dan mengunci pintu dengan segera menggantikan pakaiannya secepat mungkin.
“Etika ya! Perasaan gue enggak salah deh.” bisik batin Edgar sembari mencari buku tentang etika dalam berumah tangga.
Ana keluar dari dalam ruangan, ia berpikir sebelum menjelaskan masalah lamaran itu, ia harus mengajarkan anak muridnya agar tidak memikirkan sesuatu yang merusak akal sehatnya. Akan tetapi Ana melihat Edgar membaca buku yang cukup tebal.
“Baca apa kamu?” tanya Ana mendekati Edgar.
Edgar menoleh ke Ana. “Baca buku etika yang di katakan ibu tadi. Soalnya saya baca etika dalam berumah tangga—”
“Kamu harus ingat ya Edgar! Buku itu untuk orang yang telah dewasa. Kamu nggak perlu memikirkan hal yang menyangkut itu semua. Kamu harus fokus pada masa depan kamu dan belajar supaya kamu lulus dengan nilai terbaik. Kamu juga harus masuk ke perguruan tinggi agar kamu bisa mendapatkan pekerjaan terbaik.” oceh Ana ingin Edgar fokus pada masa depannya.
“Terus kalau saya memikirkan masa depan dan cita-cita, kapan saya memikirkan rumah tangga kita, bu? Bukannya ini juga tanggung jawab saya juga. Apalagi tadi anda sempat di lamar gus Fakhri. Apa saya sebagai suami hanya diam aja? Apa di mata anda saya enggak layak menjadi suami anda?” tanya Edgar butuh penjelasan dari istrinya itu.
Ana terdiam dengan pertanyaan Edgar yang terus mengunci keinginannya untuk mengajarkan Edgar menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orangtuanya. Di mana juga pertanyaan Edgar terletak sebuah sindiran agar ia harus segera memperjelaskan itu semua.
“Ibu lebih baik duduk di ranjang, dan tolong jelaskan kepada saya tentang ini semua.” perintah Edgar memutar kursinya agar bisa berhadapan dengan Ana.
Ana berjalan duduk di tepi ranjang, ia bagaikan di hadapkan pada dosen killer yang sedang mengujinya untuk menampilkan sebuah penjelasan tentang skripsi yang ia buat. “Bukannya gue yang gurunya ya! Kenapa jadi gue yang kayak menjadi anak muridnya?” bisik batinnya sedikit kebingungan.
“Ayo jelaskan! Jangan diam aja!” Edgar ingin mendengar keputusan dari istrinya itu.
“Gus Fakhri adalah saudara kembar mantan kekasih ibu Ed. Mereka pikir dengan menikahkan gus Fakhri pada ibu, mereka bisa menyambung silaturahmi yang hampir putus itu.” jelas Ana agar Edgar bisa mengerti.
“Saya tahu gus Fahmi adalah mantan ibu. Siapa sih yang enggak tau dengan beliau yang sangat di hormati di kampung ini? Yang saya ingin tau bagaimana keputusan ibu saat lelaki lain ingin melamar anda, sedangkan status saya sebagai suami aja enggak di anggap oleh anda?” tanya Edgar penuh dengan penekanan.
“Tapi ibu sudah memberitahukan status kita kepada mereka, dan menolak lamaran itu Ed. Ibu sudah bilang sama kamu. Kamu itu hanya fokus aja pada sekolah. Jangan memikirkan hal lainnya. Kamu harus ingat Ed, status suami kamu saat ini masih di pegang oleh saya.” Ana kembali menjelaskan apa yang ia inginkan terhadap anak muridnya itu.
“Tapi dalam agama enggak ada yang kayak begitu bu, walaupun usianya masih sangat kecil. Shalat aja enggak akan sah jika imamnya wanita dewasa sedangkan makmumnya bayi laki-laki. Apalagi saya yang hanya berstatus pelajar kayak begini.” jelas Edgar tentang hukum yang ia baca.
Ana tidak bisa membantah lagi dengan ucapan Edgar yang terus saja tidak mengizinkannya untuk mendidik anak muridnya itu. “Baiklah jika memang kamu menyatakan sudah dewasa, maka buktikan bahwa kamu bisa memimpin rumah tangga ini dengan enggak menganggu pelajaran kamu dan masa depan kamu Ed.” Ana ingin melihat bagaimana anak muridnya akan menjalankan kehidupan barunya yang sangat sulit di jalankan makhluk hidup termasuk dirinya.
Edgar malahan tersenyum tipis, ia bisa membuktikan bahwa apa yang di takutkan istrinya itu tidak akan pernah terjadi.
Guru hlo itu tp skeptisnya ya Allah...