Merelakan orang yang kita cintai demi kebahagiaannya adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan untuk sebagian orang. Namun, tidak bagi laki-laki bernama Lucky Pratama. Dia rela melepaskan wanita yang dia cintai menikah dengan laki-laki lain dan berharap bahwa wanita itu akan hidup bahagia.
10 tahun berlalu, Lucky kembali bertemu dengan mantan kekasihnya. Keadaan gadis itu jauh dari kata bahagia seperti apa yang dia harapkan ketika Lucky melepasnya kala itu.
Apakah Lucky Pratama akan kembali mengejar cintanya yang telah kandas? Atau, dia akan menatap lurus ke depan dan melupakan cintanya seperti yang sudah dia lakukan selama ini?
"Hi, Mantan. Apa Kabar?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HMAK Bab 13
Lucky Pratama dan juga Starla seketika merasa terkejut. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka bahwa Rani bisa bersikap sekeras itu. Tidak cukup dengan menunjukkan penolakan keras, tapi juga melakukan tindakan yang sangat tidak di duga. Gadis itu menatap wajah Lucky Pratama dengan tatapan mata tajam juga dengan bola mata memerah. Kebencian itu kian terlihat dari sorot matanya yang tajam.
"Rani, sayang. Kenapa kamu melempar makanan seperti ini? Tidak boleh, sayang. Tidak baik juga bersikap kasar. Apa Ibu pernah mengajarkan kamu bersikap seperti ini?" tegur Starla benar-benar merasa kesal.
"Iya, Rani. Kamu kenapa? Om Lucky membeli makanan enak ini pake uang. Seharusnya kamu bersyukur bisa makan enak seperti ini, Ayah kita bahkan tidak pernah membelikan makanan seenak ini!" teriak Lucky kecil yang juga merasa kesal.
"Tidak apa-apa, nanti kita beli lagi. Kalian jangan memarahi Rani seperti ini, kasihan dia," imbuh Lucky Pratama seketika menghampiri makanan yang berserakan di atas lantai lalu hendak membersihkannya. Namun, segera di tahan oleh Starla yang merasa tidak enak dengan sikap sang putri.
"Biar aku saja, Luck," cegah Starla berjongkok tepat di depan makanan tersebut.
"Tak apa, lebih kamu tenangkan Rani. Bawa dia keluar dan bicara baik-baik sama dia. Bicara dari hati ke hati, kasihan dia. Sepertinya putrimu merasa tertekan," jawab Lucky berjongkok saling berhadapan dengan Starla.
"Tapi, Luck--"
"Tak apa, Star. Saya baik-baik saja," sela Lucky seraya mengusap bahu wanita itu lembut.
Starla akhirnya kembali berdiri tegak lalu menghampiri putrinya. Sedangkan Lucky benar-benar membersihkan makanan yang berserakan di atas lantai. Rani memasang wajah masam.
"Rani, kita jalan-jalan keluar yu. Ibu ingin berbicara sama kamu sebentar saja," pinta Starla menggendong tubuh mungil Rani.
"Ibu mau berbicara apa? Kenapa kita tidak bicara di sini saja?" tanya Rani.
"Di luar lebih enak, udaranya juga segar sekali di luar."
Rani akhirnya menganggukkan kepalanya samar masih dengan ekspresi wajah yang sama. Starla berjalan keluar dari dalam ruangan bersama Rani di dalam gendongannya.
.
Starla membawa putrinya duduk di sebuah kursi kayu di taman Rumah Sakit. Semilir angin berhembus begitu mengejutkan. Sinar matahari yang hangat pun terasa menyegarkan badan. Starla merapikan helaian rambut sang putri yang tersapu angin. Meskipun dirinya merasa kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Rani, tapi Rani sama sekali tidak bersalah di sini. Dia hanyalah korban perpisahannya dengan Akbar, ayah kandung putrinya.
"Sekarang, katakan sama Ibu kenapa kamu bersikap seperti tadi, sayang? Ibu minta maaf kalau Ibu sudah melukai hati kamu. Ibu benar-benar minta maaf, Nak," lembut Starla mengusap punggung tangan putrinya lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku gak mau punya Ayah baru. Aku gak mau! Ayahku cuma ada satu, titik!" ketus Rani dengan bola mata memerah.
"Siapa yang bilang kalau kamu bakalan punya Ayah baru? Ayah kamu memang cuma ada satu, sayang," tanya Starla.
"Ayah bilang kalau aku akan segera memiliki Ayah baru. Aku gak mau, Bu. Gak mau ..." lirih Rani dengan nada suara memelas.
"Iya, sayang. Iya ... Ibu gak akan pernah memberi kamu Ayah baru, tapi Ibu mohon jangan bersikap seperti tadi. Gak enak sama Om Lucky. Dia sudah membelikan makanan untuk kita, tidak baik membuang-buang makanan seperti itu."
"Aku benci sama Om Lucky. Ayah sama Ibu berpisah gara-gara dia," celetuk Rani.
"Astaga! Sayang, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"
"Benar, kan? Ayah bilang seperti itu semalam."
Starla mengusap wajahnya kasar. Dia pun tersadar, meskipun putrinya ini masih berusia 5 tahun dan belum mengerti apa-apa tentang apa yang terjadi dengan orang tuanya, tapi dia memiliki mata dan telinga. Gadis itu melihat dan mendengar apa yang dibicarakan oleh Ayahnya juga mengerti setiap ucapan sang Ayah. Rani memang cerdas, dia mampu mencerna dengan baik apa yang dia dengar.
"Kenapa Ibu diam saja?" tanya Rani menatap sayu wajah sang ibu.
"Rani, dengarkan Ibu. Tidak akan ada Ayah baru untuk kamu. Om Lucky itu teman lama Ibu, sayang. Beliau telah banyak membantu kita. Apa pantas kita berbuat seperti itu kepada orang yang yang telah menolong kita?" jelas Starla.
"Tapi Ibu harus janji gak akan menjadikan dia Ayah baru aku?"
"Iya, sayang. Ibu janji, tapi kamu juga harus berjanji tidak akan bersikap seperti tadi lagi."
"Iya, aku akan meminta maaf sama Om Lucky, tapi Ibu harus membawa Ayah Akbar kepadaku lagi. Aku gak mau di tinggal sama Ayah."
Starla menarik napas berat lalu menghembuskannya secara kasar. Dia tidak dapat berjanji apapun tentang hal itu. Akbar sudah menjatuhkan talak dan itu sah secara agama. Hubungan mereka sudah bukan sebagai suami istri lagi. Mustahil jika kemudian mereka kembali bersama kecuali Akbar bersedia menikahinya lagi.
"Ibu, kenapa Ibu diam saja?" tanya Rani.
"Akan Ibu usahakan, tapi Ibu tidak berjanji apapun sama kamu. Semua keputusan ada di Ayah kamu," jawab Starla.
"Ya Ibu minta maaf sama Ayah. Bukankah Ibu selalu seperti itu selama ini? Setiap kali Ayah memarahi Ibu, Ibu selalu meminta maaf dan Ayah juga selalu memaafkan Ibu."
Starla tersenyum getir. Dadanya benar-benar terasa sesak. Bahkan sangat sesak. Untuk bernapas saja rasanya berat sekali dia rasa. Namun, wanita itu akan berusaha untuk kuat dalam menghadapi semua ini. Lagi-lagi dirinya mengingat ucapan mantan kekasihnya bahwa, roda kehidupan itu berputar, ada kalanya kita berada di bawah dan ada saatnya kita berada di atas.
Saat ini, kehidupannya sedang berada di bawah, pernikahannya benar-benar tersungkur ke dasar jurang dan tidak mungkin terselamatkan. Namun, dirinya akan berusaha untuk merangkak naik dan bangkit, semua ini dia lakukan demi ke dua anaknya.
"Akan Ibu usahakan. Semoga saja Ayahmu masih bersedia menerima Ibu lagi. Lebih baik sekarang kita masuk, kamu harus makan biar kamu tidak sakit. Oke!"
Rani menganggukkan kepalanya.
"Satu lagi, Ibu mau kamu meminta maaf kepada Om Lucky."
Rani kembali menganggukkan kepalanya.
.
Malam hari, Starla mencari keberadaan suaminya bersama Rani karena anak itu terus saja merengek ingin bertemu dengan sang Ayah. Sedangkan putra sulungnya terpaksa dia tinggal di Rumah Sakit bersama Lucky Pratama. Dia mendatangi sebuah cafe di mana Akbar biasa nongkrong bersama teman-temannya di sana.
"Ibu, apa Ayah ada di dalam?" tanya Rani menggenggam erat telapak tangan sang Ibu.
"Kamu tunggu di sini ya, Ibu mau cari Ayahmu di dalam," pinta Starla dan hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh Rani sang putri.
Baru saja Starla hendak masuk ke dalam cafe tersebut. Dia tiba-tiba saja mendengar suara laki-laki yang sangat dia kenal. Ya, Akbar baru saja tiba bersama seorang wanita yang dia gandeng mesra.
"Starla, Rani? Sedang apa kalian di sini?" tanya Akbar menatap wajah Rani dan juga Starla secara bergantian.
"Mereka siapa, Mas?" tanya wanita tersebut. Sedangkan Starla hanya bisa menatap wajah Akbar dengan perasaan hancur dan hati yang terluka.
"Oh, dia mantan istri saya," jawab Akbar santai.
BERSAMBUNG
tp very good kak . swemangatt 👌