Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma yang Familiar
Pagi hari, Renata terbangun dengan merasakan tangan yang melingkar di perutnya. Membuat wanita itu enggan untuk beranjak dari kasur dan dekapan hangat sang suami.
Namun, wanita itu tersentak dan bangun dengan terburu-buru menyebabkan pandangannya sedikit buram. Renata diam sejenak, untuk memulihkan rasa terkejutnya. Kemudian menatap ke arah anak dan suaminya yang masih berada dalam dunia mimpinya.
Renata menggeleng kecil dengan tingkah suaminya, yang bisa-bisanya menggeser Ghea agar bertukar posisi dengannya. Entah kapan suaminya itu melakukannya, karena seingatnya saat dia terbangun tadi malam, posisi tidurnya masih sama.
“Anak dan Papa sama persis tidurnya,” gumam Renata ketika menyadari posisi tidur sang anak dan Bagas yang sama-sama miring sedikit telungkup.
Wanita itu pun bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk membuat sarapan. Meninggalkan suami dan anaknya yang masih lelap.
...****************...
“Masak apa hari ini?” bisik Bagas dengan memeluk tubuh Renata dari belakang. Membuat si empunya sedikit terlonjak kecil.
Wanita itu memukul pelan tangan suaminya yang dengan tiba-tiba sudah melingkar di perutnya. “Kamu ngagetin aja,” gerutunya, yang hanya ditanggapi kekehan kecil dari Bagas.
Bukannya pindah, justru pria itu semakin mengeratkan pelukannya dan menaruh kepalanya di pundak Renata. Dengan pandangan yang fokus melihat masakan yang tengah di buat oleh istrinya.
Renata membiarkan saja, selagi suaminya itu tidak banyak tingkah. Meskipun sedikit kesulitan dalam memasak, namun wanita itu cukup menikmati sikap manja sang suami. Jarang-jarang suaminya akan bersikap seperti ini, jika tidak ada waktu senggang seperti sekarang.
Bahkan, rambut basah Bagas yang membasahi bajunya, tak membuat Renata terganggu. “Tumis cumi sama papcoy bawang putih. Mas suka?” tanya Renata dengan sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.
Bagas sedikit berpikir, membuat Renata mengerutkan kening penasaran. Cukup lama Bagas berpikir sampai Teresa melengos kesal dibuatnya.
Sontak saja Bagas terbahak, karena telah berhasil mengerjai istrinya yang terkenal sabar itu. “Apa pun yang kamu masak. Mas pasti suka, Sayang?” terang pria itu lembut.
“Kalau aku masak serangga, Mas bakal mau juga?” tanya Renata iseng yang mendapat dengusan kesal dari sang suami.
“Itu jorok, Sayang.” Bagas menyahut dengan ekspresi jijiknya.
Renata tertawa terpingkal melihatnya. Kemudian sepasang suami istri itu melanjutkan dengan candaan-candaan lainnya yang mereka lontarkan bergantian. Ya, memang seperti itulah keduanya sejak dulu, suka bercanda dengan lawakan yang satu frekuensi. Hal itu pula lah yang menjadi salah satu alasan bagi Renata mau melangsungkan hubungan yang lebih serius bersama Bagas. Karena wanita itu beranggapan, keluarga kecilnya akan terasa lebih hangat dan ramai dengan sikap random yang kurang lebih sama dengannya.
...****************...
Selesai dengan sarapannya dan mengantarkan Bagas berangkat kerja hingga depan rumahnya. Renata melanjutkan kegiatannya dengan membangunkan sang anak yang tidur begitu nyenyaknya hingga papanya berangkat. Biasanya putrinya itu selalu bangun pagi. Namun, Renata memaklumi, karena Ghea dalam masa penyembuhan setelah terkena flu. Jadi, anak itu butuh istirahat yang banyak.
Mengganti pakaian dan juga memberi makan Ghea telah Renata lakukan. Niatnya wanita itu akan membereskan tempat tidur di setiap kamar yang ada di rumahnya. Rumahnya tidak terlalu besar memang. Namun, memiliki 3 kamar tidur dan 2 toilet. Satu yang berada di dekat dapur dan satu lagi berada di kamarnya dengan Bagas.
Akan tetapi, anaknya yang meminta untuk ditemani bermain membuatnya urung melakukan niatnya itu. Dia lebih memilih bermain dengan sang anak meski harus membuat rumahnya berantakan kembali. Renata hanya bisa menghela nafas lelah, jika sudah seperti itu.
“Ma ... mbar kan,” ucap Ghea dengan kosa kata yang belum benar. Lalu menyodorkan pensil kepada Renata beserta menunjuk buku kosong yang ada di depannya.
Sedikit mengerti dengan ucapan sang anak. Lantas Renata menggambar ikan sesuai permintaan Ghea. Membuat anak kecil itu berbinar senang di tengah ingusnya yang kerap kali keluar. Renata terkekeh geli melihatnya. Antara kasihan dan menggemaskan secara bersamaan.
...****************...
“Anak Papa sudah sehat?” ucap Bagas kepada Ghea yang berada di pangkuannya dengan menciumi anaknya gemas.
Ghea mengangguk dengan terlonjak kecil, merasa senang karena papanya mengajaknya bercanda. Anak kecil itu, bahkan sudah menepuk-nepuk wajah papanya dengan antusias. Seolah meminta untuk kembali menciuminya, yang langsung di turuti oleh Bagas. Hingga Ghea terkikik geli saat Bagas juga menciumi sekitar perut gembul sang anak.
Kegiatan itu sangat indah dilihat oleh Renata dengan sangat betah. Wanita itu menjadi tersenyum lebar merasa ingin waktu berhenti sejenak untuk menikmati lebih lama kegiatan yang membuat hatinya menghangat dan tentunya bahagia.
Namun, jarum jam yang menunjukkan pukul 20.30 membuat Renata mau tidak mau harus menghampiri anak dan papa itu untuk bersiap-siap istirahat. Terlebih Ghea yang harus banyak-banyak istirahat, walaupun flunya sudah mulai membaik.
Meski sempat sulit mengajak Ghea untuk tidur, karena keasyikan main dengan papanya. Akhirnya anak itu mau di ajak tidur dengan harus bersama Bagas, tidak dengan Renata, membuat wanita itu mencebik kesal. Karena seolah tak di anggap.
Malam semakin larut, keluarga kecil itu tidur dengan lelapnya. Hingga kaki Ghea yang mengenai wajah Renata menyebabkan wanita itu terjaga lagi dari tidurnya.
Renata membenarkan posisi tidur Ghea. Lantas mengernyit, karena lagi-lagi tak menemukan Bagas di sampingnya. Dia menjadi penasaran, ke mana gerangan sang suami tengah malam begini. Namun, suara air dari arah kamar mandi membuat Renata bernafas lega. Menandakan suaminya tengah berada di dalam kamar mandi tersebut. Kemudian wanita itu kembali tidur, karena esok pagi harus bangun untuk membuat sarapan.
...****************...
Meski sama-sama bangun kesiangan. Beruntung Bagas membangunkannya, karena suaminya lah lebih dulu terbangun di saat jarum jam menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Kedua pasangan itu sama-sama melesat untuk ke kamar mandi dan juga ke dapur untuk menyiapkan sarapan ala kadarnya agar suaminya tidak telat untuk masuk kantor.
Tak peduli cepolan rambut yang berantakan, dengan wajah yang belum sempat tersentuh air. Renata secepat kilat menyiapkan bekal makanan agar bisa di makan saat tiba di kantor nanti. Karena dia sangat yakin, jika waktunya sudah cukup mepet untuk sarapan di rumah.
Benar saja, dengan pakaian yang masih kurang rapi, Bagas keluar dengan memakai dasinya dengan kesulitan, belum juga tas yang berada di tangannya. Renata segera menghampiri suaminya dan membantu memasangkan dasi dengan cepat dan rapi. Kemudian menjulurkan kotak bekal sarapan sang suami.
“Aku berangkat dulu. Hati-hati di rumah, Sayang.” Bagas pamit terburu-buru tanpa lupa untuk mencium kening istrinya.
“Iya, kamu juga hati-hati,” balas Renata yang berlari kecil mengikuti suaminya ke depan rumah.
Akhirnya Renata bisa bernafas lega tatkala sang suami telah berangkat. Kemudian wanita itu memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu mumpung sang anak masih belum bangun.
...****************...
Renata tersenyum lebar tatkala anaknya sudah sembuh dari flunya. Lebih-lebih, Ghea sudah bisa dia tinggal untuk membersihkan rumahnya. Membuat susunan rencana bersih-bersih yang sempat tertunda, bisa segera dia eksekusi.
Di mulai dari kamar dirinya dan Bagas, kemudian kamar yang biasa di tempati mertuanya saat berkunjung, tak luput di bersihkan oleh Renata. Dengan membawa seprei-seprei itu ke dalam mesin cuci untuk dia cuci.
Sembari menunggu cuciannya, Renata memutuskan untuk membersihkan kamar tidur Ghea agar bisa kembali di tempati oleh anaknya. Dengan kasur yang kurang lebih sama, namun posisi berada di bawah tanpa ranjang. Renata menjadi lebih mudah untuk mengambil seprei itu.
Akan tetapi, dirinya mengernyit bingung. Tatkala kasur yang kamar anaknya itu sedikit berantakan, seolah pernah ditiduri. Padahal anaknya hampir seminggu ini tidur bersamanya.
Saat dirinya mengambil selimut, kerutan di dahinya semakin banyak, karena mencium aroma aneh yang tidak asing di indra penciumannya. Seperti aroma sper*ma.
Pikiran buruk mulai menyerang otak Renata. Tatkala bau yang sama namun lebih pekat tercium di seprei kasur anaknya. Renata menarik seprei itu dan mendapatkan ponsel suaminya ke tarik yang berada di balik bantal.
“Apa mungkin, Mas Bagas,—“ gumamnya yang tak dia selesaikan. Namun segera dia menggelengkan kepala guna menepis kemungkinan-kemungkinan yang muncul di kepalanya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Renata mengambil ponsel suaminya. Peluh mulai berjatuhan, jantung yang berdegup kencang, dan hati yang gugup. Tak membuat Renata menghentikan jarinya untuk membuka ponsel suaminya.
Perlahan ponsel itu terbuka dengan memasukkan beberapa digit sandi yang sudah sangat Renata hafal, karena itu adalah tanggal pernikahannya.
Mata Renata sontak membola tatkala kunci ponsel itu terbuka dan langsung masuk ke dalam aplikasi yang sangat di kenalnya. Terlebih masih berada di dalam satu room chat yang membuat hati Renata mencelos seketika.
Seolah belum cukup dengan apa yang dia dapat. Tangan itu masih terus bergulir di ponsel itu mencari hal yang seharusnya tidak dia tahu. Demi rasa ketengan hatinya. Namun, lagi-lagi di menemukan hal yang semakin membuat hatinya perih. Seketika itu pula, Renata membekap mulutnya sendiri guna meredam jeritan perihnya yang sudah tak kuasa dia tahan.
Air matanya luruh bersamaan dengan tubuhnya mendapati sang suami yang melakukan hal yang tidak senonoh di belakangnya, tanpa sepengetahuannya. Padahal istrinya masih ada dan selalu berada di sisinya. Sungguh, hatinya saat ini sangat sakit hingga wanita itu menepuk-nepuk pelan dadanya guna menghilangkan rasa sakit itu yang sangat mencabik-cabiknya.
“Renata.”
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲