Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Hore! Om, kita mau beli gado-gado sama nasi kuning, sama makanan enak lainnya toh!" seru Jayan dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
Di usianya yang hampir menginjak tiga tahun, Jayan memang sudah sangat lancar berbicara dan aktif menanggapi apa saja. Begitu kami sampai di pasar, suasananya sudah teramat ramai dan berdesak-desakan. Khawatir akan keselamatan putra kecilku, aku dengan sigap mengeluarkan seutas tali dari kain halus. Kuikatkan tali itu ke badan Jayan, lalu ujung satunya lagi kulilitkan erat di pergelangan tanganku. Aku benar-benar takut jika sewaktu-waktu dia terlepas dari jangkauanku dan hilang di tengah keramaian pasar.
"Mama, kenapa ikat aku begini? Aku mau jalan sendiri saja!" protesnya, mendongak menatapku dengan wajah cemberut yang lucu.
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya, lalu berlutut untuk menyejajarkan tinggiku dengannya. "Heh, dengar dulu Mama bicara. Kalau Jayan tidak diikat begini, nanti Jayan hilang. Kalau Jayan hilang, tidak akan ketemu Mama lagi itu! Mau kah begitu?" kataku pelan, mencoba memberikan pengertian.
Bocah itu mengerjap, lalu dengan patuh dia menganggukkan kepalanya dengan raut wajah pasrah.
Perjalanan berburu takjil dan makanan kami pun dimulai. Di sepanjang koridor pasar, banyak ibu-ibu maupun gadis-gadis yang gemas dan sengaja menggoda putraku. Aura wajah Jayan memang sangat memikat; kulitnya bersih dan pupil matanya berbeda dari anak-anak lokal karena berwarna biru laut yang indah—warisan genetik yang diam-diam selalu mengingatkanku pada sosok di Bandung. Mata indah itu sukses menyita perhatian setiap orang yang berpapasan dengan kami.
Sampai akhirnya, ada seorang ibu-ibu bertubuh gempal mendekati kami sambil membelalak kagum. "Ooh, orang luar kah bapaknya ini? Orang luar?" tanyanya, merujuk pada keturunan asing atau Timur Tengah.
"Iye, Orang luar, Tanta," jawabku ramah, memilih menggunakan istilah singkat untuk menghindari pertanyaan yang lebih dalam.
"Hedeh... pantas ganteng sekali! Siapa namanya anak pintar ini?" tanyanya lagi, gemas ingin mencubit pipi Jayan.
"Abang, ditanya sama Tanta, siapa namanya? Jawab apa?" ucapku pada Jayan, memancingnya bersuara.
Dengan suara imut dan gaya khas anak-anaknya, Jayan mendongak tegak. "Halo, Nenek! Aku namanya Jayan... Aku mau beli nasi kuning sama gado-gado!"
Celotehan polos dan panggilan "Nenek" yang terlontar dari bibir mungilnya seketika memecah tawa setiap orang di sekitar lapak yang mendengarnya. Di tengah tawa riang itu, aku memeluk erat bahu kecil Jayan, bersyukur atas hadirnya malaikat kecil yang kini menjadi alasan terbesarku untuk terus bertahan hidup.
Aku menuntun tubuh mungil Jayan menuju lapak penjual mainan yang berada di sudut pasar. Langkah kecilnya mendadak terhenti, matanya berbinar-binar.
"Mama, aku mau itu?" Jayan menunjuk sebuah mainan mobil truk besar yang dipajang di rak paling depan.
Aku tersenyum, lalu berlutut di sampingnya sambil mengangguk. "Boleh saja Mama belikan. Tapi Jayan harus janji, harus dirawat dan dijaga nah? Jangan dirusak dan dibiarkan begitu saja kalau sudah bosan. Ingat, Mama beli ini pakai uang. Uang yang dicari dengan kerja keras, okey?" ucapku lembut, mencoba menanamkan pengertian sejak dini agar dia bisa menghargai barang miliknya.
Jayan mengangguk mantap dengan wajah serius yang menggemaskan. Setelah membayar mainan itu, kami kembali berjalan menuju penjual nasi kuning dan sayur matang.
Dasar anak kecil yang memang hobi makan, Jayan langsung tertawa girang begitu melihat deretan baskom penuh makanan yang menggugah selera. Dengan suara lucunya, dia kembali berceloteh nyaring. "Wah, Mama! Banyak sekali makanannya! Mama, aku mau semua! Aku mau itu, itu, dan itu!" pekiknya sambil menunjuk-nunjuk antusias.
Orang-orang yang sedang mengantre di lapak seketika menoleh ke arah Jayan lalu tertawa gemas.