NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Tangisan Andre dan Riko pecah seketika, menggema memilukan di dalam ruang bawah tanah yang dingin.

Mereka menangis histeris, meratapi kebodohan dan keserakahan yang selama ini menutup mata hati mereka.

Rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam dada mereka bertubi-tubi setelah mengetahui rahasia warisan mendiang ibu mereka yang sesungguhnya.

Mereka bersujud dengan tangan terikat, memohon ampunan dari sang ayah yang kini tampak begitu asing di mata mereka.

Namun, Darren tidak bergeming. Wajahnya tetap sekeras batu, tanpa ada sedikit pun gurat belas kasihan.

Tatapannya kosong memandang dua darah dagingnya yang kini merangkak bagai cacing tanah.

Ia menegaskan dengan suara bariton yang dingin bahwa hubungan darah di antara mereka telah putus sejak malam terkutuk itu—malam di mana mereka dengan tega membuang Angela yang masih kecil ke jalanan yang dingin di bawah guyuran hujan lebat.

"Kalian bukan anakku lagi. Anak-anakku sudah mati malam itu," desis Darren tajam.

Darren membalikkan badannya, membelakangi mereka, lalu memerintahkan Deacon untuk bergerak cepat.

Ia meminta Deacon untuk menyerahkan seluruh bukti transaksi perbankan hitam milik Andre dan Riko, beserta rekaman penyiksaan mental dan pengakuan dosa ini, kepada pihak kepolisian khusus yang selama ini sudah didepak dan berada di bawah pengaruh penuh Bramantyo Corporation.

Darren tidak ingin kedua bajingan ini mati dengan cepat.

Ia memastikan kedua anaknya tidak akan mendapat hukuman mati dengan mudah.

Sebaliknya, Darren menginginkan hukuman penjara seumur hidup di sel isolasi paling ketat, tanpa remisi, tanpa kunjungan, agar mereka membusuk dalam kesendirian dan penyesalan yang membakar jiwa hingga akhir hayat mereka.

Saat Andre dan Riko yang terkencing-kencing ketakutan mulai diseret keluar oleh anak buah Deacon, suara deru mesin mobil di luar pangkalan memecah ketegangan. Kedatangan sang Otak Utama telah tiba.

Sebuah mobil taktis lain baru saja masuk ke dalam pangkalan rahasia tersebut.

Pintu besi gudang kembali terbuka lebar. Beberapa anak buah Deacon yang bertubuh kekar melangkah masuk, menurunkan seorang pria dengan kepala tertutup kain hitam.

Pria itu terus memberontak dan memaki dalam bahasa Melayu dan Inggris: Albert, sang mantan kekasih Jihan yang menjadi dalang dari segala petaka, baru saja tiba dari ekstradisi rahasia di Malaysia. Panggung eksekusi terakhir kini telah siap digelar.

Sentakan kasar dari anak buah Deacon membuat pria itu berlutut di atas lantai semen yang dingin.

Dengan satu gerakan cepat, kain hitam yang menutupi kepalanya ditarik lepas.

Cahaya lampu temaram langsung menyorot wajah Albert, menampilkan raut yang penuh peluh dan gurat ketakutan yang samar.

Meski begitu, seulas senyum sinis dipaksakan hadir di bibirnya, mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhan di depan Darren.

Albert mendongak, menatap Darren yang berdiri kokoh layaknya sebuah gunung yang tak tergoyahkan.

Bukannya memohon ampun seperti Andre dan Riko, Albert justru tertawa sumbang, mencoba memprovokasi Darren dengan mengungkit masa lalunya.

"Lama tidak berjumpa, Tuan Besar Bramantyo," desis Albert dengan nada mengejek.

"Kamu pikir kamu sudah menang? Jangan lupa, Darren, Jihan itu milikku lebih dulu. Aku adalah masa lalunya, pria yang pernah memiliki hatinya jauh sebelum kau membelinya dengan hartamu! Dan lihat apa yang terjadi malam itu? Aku hampir berhasil melenyapkan Jihan-mu untuk selamanya. Sesaat lagi, kau akan kembali menjadi orang gila yang merangkak di jalanan!"

Mendengar provokasi murahan itu, Darren sama sekali tidak terpancing.

Ia tidak bergerak, bahkan sepasang matanya tidak berkedip, memandang Albert seolah-olah pria di hadapannya hanyalah seonggok sampah yang tidak berarti.

Deacon melangkah maju dari kegelapan lorong, mematahkan kesombongan Albert dengan sebuah senyuman yang jauh lebih mengerikan.

Ia melempar sebuah tablet digital ke hadapan Albert, menampilkan grafik bursa saham dan laporan mutasi rekening yang bergerak turun dengan drastis hingga menyentuh angka nol.

"Kamu terlalu banyak bicara untuk seorang pria yang sudah jatuh miskin, Albert," ujar Deacon dengan suara beratnya yang berwibawa.

"Seluruh aset pelarianmu di Malaysia, Singapura, hingga akun bayanganmu di Swiss telah kami lacak, disita, dan dikosongkan dalam semalam oleh tim taktisku. Kau tidak punya satu sen pun tersisa di dunia ini."

Wajah Albert seketika memucat, matanya terbelalak menatap layar tablet tersebut.

Seluruh hasil kejahatan yang ia kumpulkan bertahun-tahun lenyap dalam sekejap mata.

Darren kemudian melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk menatap langsung ke dalam manik mata Albert yang mulai digerogoti kepanikan.

Darren tidak menggunakan fisik sedikit pun, karena baginya, darah Albert terlalu kotor untuk mengotori tangannya.

Ia memilih untuk menghancurkan mental Albert berkeping-keping.

"Kamu ingin tahu kabar Jihan?" bisik Darren,

suaranya begitu tenang namun sarat akan racun yang mematikan bagi pendengaran Albert.

"Istriku selamat. Operasinya berjalan sangat lancar, dan saat ini dia sedang tersenyum bahagia dikelilingi oleh keluarga yang mencintainya."

Darren menegakkan kembali tubuhnya, menatap Albert dengan pandangan menghina dari atas ke bawah.

"Rencanamu gagal total, Albert. Kamu tidak mendapatkan Jihan, kamu tidak mendapatkan hartaku, dan kamu kehilangan seluruh hidupmu. Kau tidak memiliki apa-apa lagi sekarang, selain ancaman hukuman eksekusi mati atas kasus pembunuhan berencana, terorisme, dan makar bisnis yang sudah disiapkan oleh kepolisian khusus untukmu. Nikmatilah sisa harimu di dunia ini."

Setelah menyelesaikan urusan yang kelam di sel bawah tanah dan memastikan seluruh dalang kejahatan masuk ke dalam sangkar besi yang tak tertembus, Darren melangkah meninggalkan pangkalan rahasia Deacon.

Di dalam mobil perjalanan kembali, embusan napas panjang keluar dari dadanya.

Perasaan Darren kini jauh lebih lega; beban berat yang selama ini menghantui pikirannya seolah menguap bersama angin malam, meski kewaspadaan seorang kepala keluarga tetap melekat erat di dalam dirinya.

Setibanya di rumah sakit, Darren melangkah menyusuri koridor VIP dengan langkah yang jauh lebih ringan.

Begitu pintu kamar rawat dibuka, sebuah pemandangan yang teramat hangat langsung menyapa indra penglihatannya.

Jonas berdiri tegak dengan sikap siaga, berjaga dengan setia di depan pintu layaknya benteng pertahanan yang kokoh.

Di dalam ruangan, suasana tampak begitu hidup dan penuh tawa kecil.

Angela sedang duduk di tepi ranjang, dengan telaten menyuapi Jihan potongan demi potongan brownies cokelat kesukaan ibu tirinya itu.

Jihan pun menerima suapan tersebut dengan senyuman lembut yang memancarkan rona kehidupan di wajah pucatnya.

Darren melangkah mendekat, membuat atensi ketiga orang di dalam ruangan itu beralih kepadanya.

Dengan guratan ketenangan yang tulus di wajahnya, Darren menggenggam tangan Jihan yang bebas dan menatap putri serta calon menantunya secara bergantian.

"Semua sudah selesai," ucap Darren dengan nada baritonnya yang mantap dan meneduhkan.

"Papa baru saja memastikan bahwa semua pelaku—Andre, Riko, dan juga Albert—telah ditangkap. Mereka sudah berada di tempat yang semestinya dan tidak akan pernah bisa menyentuh kita lagi. Tidak akan ada lagi teror yang mengintai keluarga ini."

Tangis haru Angela kembali pecah, namun kali ini penuh dengan rasa syukur yang mendalam.

Jihan pun memejamkan matanya sejenak, merapalkan doa syukur karena badai besar yang mengombang-ambingkan takdir mereka akhirnya benar-benar telah berlalu.

Darren duduk di sisi ranjang, membawa Jihan ke dalam pelukan hangat yang sangat hati-hati agar tidak menyentuh luka jahitannya.

Di depan mereka, Angela dan Jonas berdiri berdampingan, menatap kedua orang tua mereka dengan penuh hormat.

"Jihan, terima kasih sudah bertahan demi aku dan Angela. Mas berjanji, mulai detik ini, hidupmu hanya akan dipenuhi oleh kebahagiaan yang pantas kamu dapatkan," bisik Darren dengan penuh emosional, mengecup puncak kepala istrinya.

Ia kemudian mendongak, menatap tajam namun penuh kasih ke arah Angela dan Jonas. "Dan untuk kalian berdua, ingat janji Papa tadi. Papa sendiri yang akan mengawasi kuliah kalian dengan sangat ketat. Selesaikan sarjana kalian, dan bangunlah masa depan baru yang cerah bersama."

Di bawah temaram lampu kamar rumah sakit dan sisa kehangatan fajar yang mulai merekah di balik jendela, keluarga Bramantyo akhirnya menemukan kembali kedamaian mereka yang sempat hilang.

Lembaran darah dan air mata telah ditutup, digantikan oleh jalinan komitmen baru untuk melangkah menuju masa depan yang utuh dan tak tergoyahkan.

1
merry yuliana
👍👍👍
merry yuliana
lanjut kak...aku hadir ...cemungud kak sering2 crazy up yaaa💪💪💪
my name is pho: ok kak🥰
total 1 replies
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!