Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rintik Hujan Dan Keputusan Di Ujung Senja
Aku tak ingat sejak kapan air mataku mulai menetes. Yang pasti, tangisan itu sudah berlangsung selama setengah jam belakangan ini, dan entah mengapa, rasanya tak mau berhenti. Aku duduk bersandar di sudut kamar kos yang sempit—hanya berukuran tiga kali empat meter—sambil memeluk kedua lutut rapat ke dada. Daguku kusandarkan di atas lutut, dan mataku—yang pasti sudah bengkak serta kemerahan—terkunci menatap layar ponsel yang bersinar redup di tanganku.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.47.
Di luar, hujan masih mengguyur kota Depok tanpa ampun. Aku bisa mendengar suara air yang jatuh deras dari ujung genting ke selokan di bawah, bunyi yang seharusnya membawa ketenangan, namun malam ini terdengar lolongan panjang yang terasa menyayat hati. Angin bertiup kencang hingga membuat jendela kamarku—yang sudah tidak pas lagi bingkainya—bergetar pelan, mengeluarkan bunyi berirama: krek… krek… krek… persis seperti tulang-tulang yang saling bergesekan.
Aku berusaha menarik napas panjang, namun udara yang masuk terasa berat dan sesak. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada, tepat di sebelah kiri tulang rusukku, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku perlahan namun terus-menerus, hingga terasa perih yang dalam.
Ponselku masih menyala.
Di layarnya terpampang pesan singkat yang sudah kubaca berulang kali selama dua jam terakhir. Pesan itu datang dari Mas Reza—atau lebih tepatnya, dari lelaki yang baru saja kulepas sebagai kekasihku dua jam yang lalu.
Sekali lagi aku membaca tulisan itu, untuk kesekian kalinya:
“Kamu egois, Tari. Selalu begitu.”
Aku menelan ludah, namun terasa ada rasa pahit yang menggenang di tenggorokan.
“Setelah segala hal yang sudah kulakukan untukmu, begini caramu membalasnya? Kamu kira aku tak merasa sakit hati?”
Bibir bawahku gigit pelan hingga nyaris berdarah. Sakit hati? Apakah dia mengira hanya dia yang merasakan rasa sakit itu?
“Tapi sudahlah. Terserah keinginanmu saja. Aku tak mau memperpanjang pertengkaran. Jika itu memang maumu, ya sudah.”
Kalimat terakhirnya—“ya sudah”—terasa seolah aku ditusuk dengan pisau yang tumpul. Tidak langsung menusuk sampai tembus, namun rasa sakitnya terasa luar biasa, menyebar ke seluruh dada.
Dua setengah tahun lamanya aku menjalin hubungan dengannya. Dua setengah tahun aku berjuang mempertahankan hubungan ini dengan segala cara. Dua setengah tahun pula aku menelan beragam perlakuan—mulai dari yang penuh manis, hingga yang paling menyakitkan hati. Namun semuanya berakhir hanya dalam waktu lima menit saja; berakhir di pinggir jalan raya, tepat di depan gerbang kampus, saat rintik hujan belum turun terlalu deras.
Aku masih ingat betul bagaimana semuanya bermula.
***
Waktu itu pukul 16.30 sore, di depan gerbang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Hujan belum turun saat itu. Langit hanya tertutup awan kelabu yang tebal, persis seperti langit-langit kamar kosku yang kini mulai tampak retak dan berjamur di beberapa sudutnya. Aku berdiri di bawah kanopi kecil penahan hujan, memegang payung lipat berwarna merah marun yang warnanya sudah mulai pudar. Mataku tak pernah lepas dari jalanan yang ada di hadapanku, berharap sosok yang kutunggu segera muncul.
Mas Reza sudah berjanji akan menjemputku pukul tiga sore.
Namun jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.30.
Artinya, aku sudah menunggu selama satu setengah jam.
Tiga kali aku mengirim pesan kepadanya: satu jam yang lalu, tiga puluh menit yang lalu, dan sepuluh menit yang lalu pula. Namun tak ada satu pun balasan yang masuk. Aku pun sudah meneleponnya dua kali, namun teleponku sama sekali tak diangkat.
Kembali aku menggigit bibir bawahku—kebiasaan buruk yang tak pernah bisa kutinggalkan. Di dalam dada, bercampurlah rasa khawatir, kesal, dan kekecewaan; perasaan yang sudah sangat sering kurasakan hingga terasa terlalu akrab. Bukan khawatir karena aku takut terjadi hal buruk padanya, melainkan khawatir karena aku tahu persis hal ini pasti akan berakhir dengan pertengkaran lagi.
Sudah berapa kali hal seperti ini terjadi?
Aku pun tak sanggup lagi menghitungnya. Hampir setiap bulan, paling tidak dua atau tiga kali, kami selalu bertengkar karena persoalan yang sama saja: Mas Reza datang terlambat, Mas Reza tak memberi kabar, lalu dia yang marah jika aku berani menegur atau mengeluh.
Namun aku selalu saja memaafkannya. Selalu saja.
Mungkin karena aku terlalu takut kehilangan dirinya. Mungkin karena aku masih terlalu berharap dia akan berubah menjadi lebih baik. Atau mungkin karena aku memang terlalu bodoh untuk menyadari satu hal nyata: orang yang benar-benar mencintaimu tak akan membiarkanmu menangis berkali-kali seperti ini.
Tepat pukul 16.45, sebuah mobil Fortuner berwarna hitam berhenti perlahan di hadapanku.
Mas Reza turun dari kendaraan dengan wajah yang kusut—kusut bukan karena rasa khawatir atau terburu-buru, melainkan kusut persis seperti orang yang baru saja bangun tidur atau baru saja selesai melampiaskan kemarahannya. Rambutnya yang biasanya disisir rapi dan berkilau kali ini tampak agak berantakan. Kemeja batik lengan panjang yang ia kenakan pun terlihat berkerut di bagian kerah, seolah dipakai dengan tergesa-gesa tanpa dirapikan.
“Maaf, tadi jalanan macet,” ujarnya dengan nada bicara yang datar. Tak ada nada bersalah, tak ada sedikit pun rasa empati.
Aku bangkit dari bangku kayu tempatku duduk hampir dua jam lamanya. Bagian belakang rok jeansku sedikit basah terkena percikan air saluran pembuangan di pinggir jalan, dan sepatu Converse putihku—yang baru kubeli bulan lalu—sudah tercoreng noda hitam di bagian ujungnya.
“Macet ya, Mas?” tanyaku dengan suara pelan, berusaha sekuat tenaga agar tetap tenang. “Padahal dari kantor ke sini jaraknya tak jauh, paling hanya butuh waktu setengah jam jika lancar. Ini sudah satu jam empat puluh lima menit lamanya.”
Mas Reza menghela napas panjang—jenis hembusan napas yang sudah terlalu sering kudengar. Itu adalah cara bicaranya yang seolah berkata: “Kamu mulai lagi.”
“Tadi ada rapat mendadak,” jawabnya singkat.
“Rapat mendadak, tapi kenapa Mas tak memberi kabar sedikit pun? Tak kirim pesan, tak angkat telepon?”
“Lho, kalau sedang rapat mana mungkin aku pegang ponsel?”
“Sebelum rapat dimulai, Mas kan masih sempat. Cukup tulis satu kalimat saja: ‘Ta, aku ada rapat dulu, jadi mungkin terlambat datangnya.’ Tak butuh waktu lebih dari semenit pun.”
Mas Reza terdiam sejenak. Matanya—sepasang mata berwarna coklat tua yang dulunya membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama—kini menatapku dengan tatapan yang dingin. Tak ada lagi kehangatan di sana, tak ada lagi jejak rasa cinta yang dulu kurasakan.
“Kamu mulai lagi, ya, Tari,” akhirnya ia bersuara. “Selalu saja ingin mengatur-ngatur.”
Dadaku terasa semakin sesak mendengar ucapan itu. Mengatur-ngatur? Apakah meminta kabar dari orang yang mengaku kekasihku kini dianggap sebagai perilaku mengatur?
“Aku hanya minta satu hal saja, Mas: komunikasi. Itu saja yang kuminta.”
“Sudah kubilang maaf, aku terlambat. Sekarang ayo naik, aku antarkan kamu makan.”
Ia langsung berbalik arah, masuk kembali ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin tanpa menunggu aku bergerak atau sekadar memastikan aku sudah siap. Aku masih terpaku berdiri di tempat, menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik kaca berwarna gelap.
Inilah dia. Kejadian seperti inilah yang selalu berulang. Aku kecewa lalu marah, dia membalas dengan kemarahan pula, kemudian kami diam-diaman berhari-hari. Namun pada akhirnya, akulah yang selalu meminta maaf, akulah yang selalu berusaha memulihkan keadaan, lalu kami berbaikan, dan tak lama kemudian hal yang sama terulang kembali. Sebuah lingkaran yang tak pernah berubah bentuknya.
Aku pun berjalan mendekati mobil, membuka pintu penumpang, lalu duduk di sebelahnya. Udara di dalam kendaraan terasa sangat dingin—penyejuk udara diputar terlalu kencang, persis seperti kebiasaannya yang lain.
“Kita mau ke mana?” tanyaku, berusaha mencairkan suasana yang kaku.
“Makan di pinggir jalan yang dekat sini saja. Aku sudah sangat lelah,” jawabnya pendek.
Kata lelah. Itulah kalimat yang selalu ia gunakan setiap kali ia tak mau bersusah payah. Kata yang keluar setiap kali ia tak mau berusaha mengerti perasaanku. Kata yang menjadi alasan agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya saja, tanpa perlu memikirkan apa yang kurasakan.
“Bagaimana kalau kita ke tempat biasa, Mas? Di dekat pasar itu,” kataku lagi dengan suara yang makin pelan.
Tak ada jawaban dari mulutnya. Ia hanya menginjak pedal gas, dan mobil pun melaju meninggalkan kawasan kampus.
***
Pukul 17.30 sore, kami sudah sampai di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan raya dekat pasar Depok.
Tempat itu sangat kecil, hanya berupa tenda dari terpal plastik berwarna biru yang didirikan di bahu jalan, dilengkapi lima atau enam meja plastik yang warnanya sudah mulai kusam dan pudar. Aroma masakan nasi goreng dan mi goreng bercampur baur dengan asap kendaraan bermotor yang berlalu-lalang tak henti. Lampu minyak tanah yang digantungkan di kerangka atap menerangi ruangan dengan cahaya yang remang dan sedikit berasap.
Kami memilih duduk di meja yang paling pojok. Mas Reza memesan sepiring nasi goreng istimewa dan es teh manis. Aku memesan menu yang sama persis, meski sejujurnya aku sama sekali tak memiliki selera makan. Perutku sudah terasa mual sejak tadi, dan aroma masakan yang seharusnya menggugah selera itu malah membuatku ingin muntah.
“Makanlah, Tari,” kata Mas Reza seraya mengambil sendok, lalu mulai menyantap makanannya dengan lahap—seolah tak ada hal yang sedang terjadi di antara kami.
Aku pun mengambil sendok, menyendok sedikit nasi ke dalam mulut, lalu mengunyahnya perlahan. Rasanya hambar, tak ada kenikmatan sedikit pun di lidahku.
“Mas…” panggilku pelan.
“Iya?” jawabnya tanpa menoleh.
“Aku sudah lelah.”
Gerakan mengunyahnya terhenti sejenak. Ia menatapku dengan alis yang terangkat ke atas. “Lelah kenapa?”
“Aku lelah menjalani hal-hal seperti ini… lelah dengan keadaan kita berdua.”
Mas Reza meletakkan sendoknya ke pinggir piring. Raut wajahnya berubah: dari datar menjadi penuh kewaspadaan, lalu berubah lagi menjadi sikap yang seolah bersiap mempertahankan diri dari serangan.
“Apa maksud perkataanmu itu, Tari? Mau bicara apa sebenarnya?”
Aku menarik napas dalam-dalam. Tanganku yang terlipat di bawah meja mulai gemetar hebat. Aku tahu, kata-kata yang akan kuucapkan sesaat lagi akan mengubah seluruh jalan hidupku. Namun aku pun sadar, jika bukan saat ini aku mengatakannya, mungkin aku tak akan pernah memiliki keberanian untuk mengakhirinya selamanya.
“Aku ingin kita berpisah, Mas. Aku ingin mengakhiri hubungan ini.”
Ia terdiam. Matanya sedikit membelalak, seolah tak menyangka akulah yang pertama kali mengungkapkan hal itu. Biasanya, dialah yang sering mengancam akan pergi, lalu akulah yang berusaha menahan dan memohon agar ia tetap tinggal. Kali ini, akulah yang memulainya.
“Kamu bicara sungguh-sungguh?” tanyanya, nadanya berubah menjadi dingin.
“Sungguh, Mas.”
“Hanya karena aku datang terlambat tadi?”
“Bukan hanya karena hal itu.”
“Terus karena apa?”
Aku menatap tepat ke manik matanya, berusaha menyampaikan segala rasa yang menumpuk di dada selama ini. “Karena aku sudah habis tenagaku, Mas. Aku lelah terus-menerus menunggu kabar dan kedatanganmu. Aku lelah sering diabaikan dan dianggap tak penting. Aku lelah menjadi pihak yang selalu mengalah, yang selalu memaafkan kesalahanmu, dan yang selalu berusaha memperbaiki keadaan—padahal hubungan yang sehat seharusnya tak perlu diperbaiki terus-menerus seperti ini.”
Mas Reza kembali menghela napas, namun kali ini terdengar jelas penuh kekesalan.
“Kamu kira aku tak merasa lelah, Tari? Aku yang bekerja keras, aku yang mencari nafkah, aku yang—”
“Mas, selama kita bersama, aku tak pernah sekali pun meminta uang darimu. Satu rupiah pun tak pernah kuminta,” potong pembicaraanku, suaraku mulai bergetar menahan tangis. “Aku mencintaimu bukan karena harta atau uangmu. Tapi jika rasa cinta ini hanya berjalan satu arah saja, lalu untuk apa lagi kita bertahan?”
Ia terdiam, tak menjawab apa-apa.
“Coba ingat-ingatlah sendiri, Mas. Kapan terakhir kali kamu menjemputku tepat waktu sesuai janji? Kapan terakhir kali kamu mengajakku jalan-jalan atau sekadar bertemu tanpa aku yang harus memintanya duluan? Dan kapan terakhir kali kamu bertanya kabar dan keadaanku, sebelum aku sendiri yang bercerita padamu?”
Mas Reza tetap diam seribu bahasa.
“Nah, itulah jawabannya, Mas. Kamu bahkan tak sanggup mengingatnya sama sekali.”
Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu menggenggam kedua tangannya sendiri dengan erat—seolah berusaha menahan amarah yang meluap agar tak meledak di tempat.
“Kalau begitu, pasti kamu sudah menemukan orang lain, ya?” tanyanya tiba-tiba, dengan nada curiga.
Aku terkejut mendengar tuduhan itu. “Apa maksudmu?”
“Pasti ada lelaki lain yang kamu inginkan. Makanya kamu berani bersikap begini dan minta berpisah.”
“Mas, aku tak pernah—”
“Jangan berani berbohong padaku, Tari!”
Suaranya meninggi hingga terdengar keras dan tajam. Beberapa orang yang sedang makan di warung itu ikut menoleh ke arah kami. Pipiaku terasa panas membara—bukan karena rasa malu diperhatikan orang lain, melainkan karena rasa marah yang meluap. Marah karena ia sama sekali tak pernah menganggap serius apa yang kurasakan. Baginya, pasti selalu ada alasan lain, pasti selalu ada kesalahan di luar dirinya sendiri.
“Aku tak berbohong, Mas. Aku hanya mulai sadar, bahwa hubungan seperti ini tidak baik untuk kesehatanku, maupun untuk dirimu sendiri.”
Mas Reza bangkit berdiri. Ia meletakkan uang kertas di atas meja—berjumlah sekitar lima puluh ribu rupiah, jauh lebih dari cukup untuk membayar dua porsi makan dan minum kami.
“Baiklah, kalau memang begitu keinginanmu,” katanya dengan nada yang sangat dingin, menusuk ke dalam hati. “Aku tak mau memperpanjang pertengkaran yang tak ada gunanya ini.”
Ia pun berbalik badan, berjalan menuju mobil, lalu masuk ke dalam kendaraan tanpa menunggu aku selesai bergerak sedikit pun.
Aku masih duduk diam di tempat, menatap punggungnya yang perlahan hilang di balik kaca gelap mobilnya.
Ia pergi begitu saja.
Benar-benar meninggalkanku di sana.
Setelah menghela napas panjang, aku pun bangkit berdiri, mengambil uang yang ditinggalkannya, lalu menyerahkannya kepada pemilik warung—seorang ibu paruh baya yang mengenakan daster usang dan kerudung yang warnanya sudah luntur.
“Nona, tidak pulang bersama kekasihnya?” tanya ibu itu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Dia bukan kekasihku lagi, Bu,” jawabku tenang.
Aku berjalan keluar menuju pinggir jalan, lalu segera memesan taksi daring lewat ponselku. Saat itu, rintik hujan mulai turun—mulai dari titik-titik halus, lalu makin lama makin deras membasahi bumi.
Sekitar dua puluh menit kemudian, aku sudah sampai kembali di kamar kosku.
Dan selama dua jam sejak saat itu hingga sekarang, aku masih tetap duduk bersandar di sudut ruangan ini, memeluk lutut, dengan air mata yang tak kunjung berhenti menetes.
***
Sekarang sudah pukul 22.15 malam.
Hujan di luar masih turun dengan derasnya.
Aku belum juga beranjak dari sudut kamar ini.
Tiba-tiba ponselku bergetar lagi di sampingku.
Aku menoleh dan melihat nama pengirim pesan yang muncul di layar: Mama.
“Anakku, ingat ya, besok Mama sudah mengatur pertemuanmu dengan anaknya Bu Dewi. Jangan sampai kau malas-malasan atau menolak ya. Biar cepat ada pengganti yang baik menggantikan si Reza itu.”
Aku menatap tulisan pesan itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Jadi Mama sudah tahu? Pasti Mas Reza sudah menelepon ibunya, lalu ibunya menghubungi Mama. Begitulah selalu terjadi dalam lingkaran kehidupan kami; semua orang tahu urusan pribadiku, semua orang ikut campur, dan setiap orang merasa berhak memberi pendapat tentang hidupku.
Aku mengetik balasan dengan singkat: “Iya, Ma. Aku ingat.”
Tak ada lagi tenaga yang tersisa dalam diriku untuk berdebat atau menolak. Tak ada gunanya bertengkar dengan Mas Reza, dengan Mama, maupun dengan siapa pun malam ini.
Aku mematikan layar ponsel, lalu merebahkan tubuh di atas kasur tipis yang hanya dialasi seprei yang sudah agak menipis. Di sebelahku ada satu buah bantal guling yang bentuknya sudah penyok, bekas terlalu sering kupeluk saat kesepian.
Langit-langit kamarku tampak retak-retak. Air hujan merembes turun lewat celah plafon, lalu menetes perlahan ke lantai keramik yang warnanya sudah kusam. Bunyinya berirama: tik… tik… tik… persis seperti detak jam dinding yang terus berjalan tanpa henti, mengingatkanku bahwa waktu terus berlalu—tak peduli apakah aku sedang baik-baik saja atau sedang hancur hatiku.
Besok aku harus berangkat ke sebuah kedai kopi di kawasan Kemang.
Harus bertemu dengan anak lelaki Bu Dewi itu.
Lelaki yang sama sekali tak kukenal, tak tahu rupa dan wataknya seperti apa.
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Namun di balik kelopak mata yang tertutup itu, bayangan Mas Reza masih terus berputar dan menghantui. Terbayang wajahnya yang dingin saat mengucapkan kalimat penutup itu. Terbayang matanya yang kosong tanpa rasa bersalah sedikit pun. Terbayang pula langkah kakinya yang tegas meninggalkanku sendirian di pinggir jalan tempo hari.
Sudahlah, Tari. Cukupkan sampai di sini saja. Besok adalah lembaran hari yang baru.
Aku menggigit bibir bawahku lagi—kebiasaan yang tak bisa hilang—lalu menarik selimut tipis hingga menutupi dagu, berusaha memaksakan diri untuk terlelap.
Namun, kantuk sama sekali tak kunjung datang.
Yang hadir dan menetap bersamaku hanya suara hujan di luar sana, serta rasa sakit yang masih tertahan dan menyesakkan di dalam dada.