Hai ini karya terbaru saya, dukung saya dengan meninggalkan komentar like dan ikuti agar saya lebih semangat membuat cerita tentang hubungan Sashi yang panas dan penuh konflik.
Terimakasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lakuna Amerta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13, Pertama kali
Jam menunjukan pukul 3 siang, Sashi dibangunkan oleh adik kecilnya itu. Sashi cukup lelap tidurnya, sepertinya ia kecapean menangis terus dari tadi. Memang kebiasaan Sashi adalah tidur ketika selesai menangis. Saat bangun pun itu karena perut kosongnya meraung-raung.
“Mbak bangun, udah siang," panggil Luna.
“Eh iya…” Sashi bangun dan mengucek matanya. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam segini, dia beranjak dan turun ke bawah.
Rupanya dibawah, semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, tampak suasana disana sangat hangat. Semua anggota keluarga saling bantu membantu menyiapkan makanan.
Terlihat Nenek yang duduk dan mengupas buah untuk hidangan pencuci mulut sambil mengawasi si kecil Luna yang sedang menata sendok garpu. Dan Nino menyiapkan air, ia bertugas menuangkan minuman ke gelas-gelas kosong. Sedangkan Bu Isabel dan Kika menyiapkan makanan dan nasi. Disana ada pembantu rumah tangga. Namun masak tetap tugas Bu Isabel, hanya sesekali beliau dibantu oleh pembantunya.
“Mbak Sashi, ayo sini," panggil Kika yang sudah menyadari keberadaan kakaknya itu.
“Iya sayang sini duduk dekat Luna." Ucap Nenek sambil menunjukan kursinya yang sebelahnya duduk gadis kecil yang menunggunya dengan penuh senyum itu.
“Mbak duduk sini?” tanya Sashi ke Luna.
“Iya! mulai sekarang ini kursi Mbak Sashi.” jawabnya lantang.
Semua pun tertawa melihat tingkah adik kecilnya itu. Sashi dan yang lainnya pun mulai bersiap duduk untuk makan.
Makanan selesai di hidangkan dan Bu Isabel pun mengambilkan nasi untuk semua anggota keluarganya, begitupun ke Sashi. Sashi merasa dia seperti anggota keluarganya.
Suasana makan terasa hangat, tidak pernah sekalipun Sashi merasakan suasana seperti ini. Dia sangat bersyukur dan bahagia oleh ayahnya.
*********
“Halo sayang," suara Sashi dalam telepon.
“Iya sayang,” sahut Rio. “Ada apa?”
“Aku enggak bawa mobil jadi nanti kamu jemput aku ya.”
“Di rumah Papa ya? Tapi malem pulangku. Nggak papa ya…”
“Oke nggak papa yang penting jangan lupa jemput ya sayang.”
“Oke! Yaudah bye aku mau meeting sama anak-anak.”
“Oke bye!” Rio menutup telepon dari kekasihnya lanjut menyelesaikan pekerjaan, Agatha yang selesai membuatkan minuman untuk Rio pun menghampirinya.
“Mbak Sashi minta jemput?” tanya agatha penasaran.
“Iya.” jawab Rio. “Nggak papa ya sayang, aku pulang cepet?”
“Oh nggak papa Pak, toh setelah itu kita bisa have fun.” Goda Agatha sambil mengelus dagu tak berjenggot itu. Rio hendak meraih bok*ng semok Agatha namun di tepis pemiliknya.
“Eitsss abis ini kita meeting. Jangan nakal.”
Rio ter seringai, Agatha benar. Apalagi mereka tadi pagi sudah melakukan beberapa permainan untuk santapan pagi. Segila itu Rio selama beberapa bulan ini setelah tahu bahwa asistennya bisa menjadi mainannya.
Dulu beberapa bulan yang lalu, Rio mencari asisten baru di karenakan asisten dia yang lama melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Namun asisten lamanya dulu berusaha mencarikan penggantinya. Dikenalkanlah Agatha itu pada Rio, karena Ia tahu Rio sangat menyukai wanita seksi yang high value.
Agatha adalah adik tingkat si asisten lama selama dulu kuliah. Jadi sesuai, karena agatha kuliah di bagian arsitektur pula. Saat awal-awal mendaftar Agatha sudah menampilkan profilnya sebagai wanita seksi. Namun berkesan ‘tidak bisa disentuh’, karena beberapa kali laki-laki di kantor Rio bahkan di kantor lain yang masih 1 gedung dengannya pun banyak yang melirik wanita itu.
Selain seksi, wanita cantik dengan tubuh tinggi itu juga cukup pintar dan cekatan. Bahkan semua pekerjaan di bidangnya selalu tepat sasaran, apa yang dibutuhkan Rio selalu terpenuhi. Begitu pula dengan nafs*nya, cinta gila mereka pun bersemi begitu cepat.
*****
Pertama kali mereka bermain gila ketika suatu ketika mereka ada di luar kota untuk survey proyek. Agatha mengatur semua kebutuhan dan akomodasi selama disana. Rio hanya terima jadi, bahkan dia tidak tahu apa yang dipilih oleh Agatha.
Sampai di kota yang dituju, saat itu mereka sampai sekitar pukul 6 sore. Mereka lalu memutuskan untuk langsung menuju ke hotel dan berencana untuk makan pun di hotel tersebut. Karena beberapa hari yang lalu Rio agak sibuk sehingga dia kecapekan, dan tidak ingin kemana-mana.
Agatha yang saat itu menyetir seharian pun juga kelelahan dan mengikuti arahan Bosnya untuk langsung ke hotel. Mereka sampai di hotel tidak lama kemudian, dan Agatha langsung menuju resepsionis.
Terlihat Rio sangat lelah dan sedikit lesu, dia duduk di sofa lobby dengan lunglainya. Bahkan saat Agatha menghampiri bersama petugas hotel yang membantu pun dia terlihat sangat kelelahan dan tak berdaya beranjak.
Memasuki lift, Rio bersandar di bahu Agatha yang saat itu berdiri di sampingnya. Rio memejamkan mata, tanpa sadar Agatha salah tingkah karena ulah bosnya itu.
“Besok kita ke proyek jam berapa Tha?” tanya Rio sambil memejamkan mata.
“Siangan aja pak, biar ketemu pak Theonya. beliau ada di proyek jam 2 an," jawab Agatha dengan tetap menjaga ekspresinya.
Mereka pun sampai di lantai dimana kamar mereka berada, petugas hotel membantu mereka sampai di tujuan. Kamar Agatha dan Rio bersebelahan. Rio selalu meminta untuk berpisah kamar dengan asistennya. Ia bisa bersenang-senang dengan selingkuhannya, atau bahkan membawa Sashi.
“Jangan bangunin aku ya Tha, aku lagi bener-bener capek," ujar Rio sambil menuju ke kamar dan mengabaikan Agatha.
“Oke Pak! Selamat beristirahat.” Ucap Agatha dan di balas dengan lambaian tangan Rio yang sudah berlalu.
Kayaknya Pak Rio nggak enak badan deh.
Agatha sedikit khawatir namun dia juga tidak ingin mengganggu bosnya, karena Rio terkenal galak ketika dia sedang capek. Dia memutuskan untuk mandi dan berendam setelah membereskan barang-barangnya.
Selesai mandi, Agatha melihat jam. Saat itu sudah pukul setengah 8, ia lapar. Agatha bergegas merapikan diri dan pesan makanan online saja. Karena di enggan untuk pesan makanan di hotel karena bosnya tidak ikut makan saat itu.
Agatha memesan beberapa menu, tidak lupa dia memesan untuk Rio. Siapa tahu bosnya nanti lapar dan terbangun. Tak beberapa lama makanan yang ia pesan tiba, dan Agatha mengambilnya di lobby sambil pergi ke minimarket terdekat untuk membeli rokoknya. Selesai semua itu dia naik ke kamar dan makan malam seorang diri di kamarnya.
Selesai makan Agatha keluar lagi untuk merokok di rooftop, Ia keluar dan menengok pintu kamar Rio yang tertutup rapat. Agatha sedikit khawatir namun ia ingat pesan Rio untuk tidak membangunkannya.
Agatha pun membiarkan bosnya istirahat, dan ia berjalan menuju lift. Sesampainya di rooftop Agatha menyalakan rokoknya. Dia menikmati malam yang berhawa panas namun agak sedikit dingin karena angin semilir berhembus. Untung saja Agatha memakai pakaian yang sesuai untuk cuaca malam yang dingin namun agak membuatnya kegerahan. Dia mengenakan atasan tank top crop top dan cardigan rajut serta celana pendek berbahan katun.