Briana Gemaliel, seorang aktris papan atas sekaligus model ternama yang terkenal dengan sifat arogan dan sombongnya, membuat ia fi juluki sebagai 'Wajah Para Antagonis'.
Briana yang dalam perjalanan menuju lokasi syuting film, mobilnya mengalami kecelakaan beruntun. Briana sempat di larikan ke rumah sakit, tapi ia meninggal dalam perjalanan dan menjadi topik paling hangat di perbincangan.
Briana yang mati dalam kecelakaan, tak di sangka malah terbangun di sebuah tubuh orang lain, ia yang awalnya mengira itu hanya mimpi sebelum kematiannya, memilih untuk tidak terlalu ambil pusing.
Tapi ternyata, kejadian itu bukanlah mimpi, ia mendapat ingatan dari tubuh barunya. Nama dari tubuh itu adalah Emeline Cynthia Bagaskara, anak bungsu dari keluarga Bagaskara yang tidak pernah di anggap.
Lalu, bagaimana jadinya, jika Emeline, gadis yang sangat penakut dan tidak memiliki kepercayaan diri, di ambil alih oleh seorang Briana yang adalah aktris arogan dan manipulatif? Tentunya akan seru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kelliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Memalukan ...
Saveri membawa Emeline dalam pangkuan bridal-nya ke rooftop, Emeline sendiri tampak tak melawan ataupun mencoba untuk protes, gadis itu sendari tadi hanya diam.
Saat sampai di tempat tujuan, Saveri yang heran menatap Emeline sambil menunduk. "Pantesan diem, tidur ternyata." Ujarnya lirih.
Tanpa membuat suara yang berisik, Saveri mendudukkan dirinya di sebuah sofa yang terletak di sudut rooftop, entah milik siapa sofa itu. Yang pasti, itu sudah ada sejak lama.
Saveri tetap memangku Emeline, seprtinya gadis itu sangat lelah, dia bahkan tidak terganggu dengan suara kicauan burung yang agak berisik.
Saveri sendiri hanya tersenyum, dia mengelus surai hitam pujaan hatinya. Membuat Emeline nyaman dan semakin menelusupkan dirinya di dalam pelukan lelaki yang membuat otaknya bekerja ekstra selama satu minggu terakhir.
"Maaf, aku tidak mempertimbangkan hal ini. Kamu pasti sangat bingung dan stres, harusnya aku kasih clue yang ringan dulu." Saveri berujar dan merapihkan anak rambut Emeline yang menghalangi wajahnya.
Bagaimanapun Saveri melihat, Emeline memang sangat cantik, dia menyukai Emeline yang manis tapi juga tegas. Ini mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka, sebuah insiden yang membuat keduanya terikat secara batin. Bahkan, saat tubuh atau jiwa mereka berganti, ikatan itu akan selalu membawa mereka bersama.
"Liel ... kamu adalah segalanya bagiku, bagi Abel ini. Kamu adalah alasan aku tidak menyerah, dan kamu adalah pengekang untukku agar tidak lepas kendali."
Sebuah kecupan manis di daratkan di kening gadis yang tengah tertidur. "Karena itu, tolong ... segera ingat aku, agar kita bisa bersama seutuhnya."
*
*
*
Di kelas XI-1, Silvia tak henti-hentinya mengkhawatirkan tentang sahabatnya. Dia takut, Saveri akan melakukan sesuatu pada sahabatnya itu.
"Udah lah Sil, gue yakin, Emeline bakalan baik-baik aja." Entah sudah berapa kali Bara berkata seperti itu untuk menenangkan temannya itu. Tapi bahkan Silvia tidak menggubsirnya.
"Gimana kalo si baj*ngan itu ngapa-ngapain Elin? Gimana kalo Elin ternyata di culik sama si baj*ngan itu? Gimana kalo ... "
Semua anak sekelas menatap datar Silvia yang bulak-balik di dekat bangkunya dan Emeline, gadis itu bahkan bergumam tak jelas dan sesekali mengumpati kakak kelas yang terkenal kutub itu.
Kebetulan sekarang sedang jamkos, jadi kelas ini bisa bersantai sedikit. Mereka memang khawatir pada Emeline, tapi mereka berfikir positif, karena melihat bagaimana lembut nya perlakuan Saveri pada Emeline, membuat mereka percaya, jika kakak kelas kutub itu tidak akan berbuat macam-macam pada teman mereka. Yah, semoga saja.
Di saat suasana tak jelas itu, tiba-tiba pintu kelas di buka dengan kencang, membuat semua orang terlonjak kaget, apalagi Silvia. Beberapa dari mereka melatah tak jelas sambil memegang dada karena saking terkejutnya.
"Eh! Ayam!"
"Upil kadal!"
"Setan masuk masjid!"
"Allahu!"
"Yaiissh Shibal!"
Semua mata kini menoleh ke sumber suara, dan mereka melihat, gadis yang sendari tadi merek khawatirkan tengah berdiri di ambang pintu dengan kepala menunduk. Silvia yang melihat itu langsung berlari mengamapiri sahabatnya.
"El! Ka-kamu gak papa kan? Gak di apa-apaun sama si baj*ngan Sapi itu kan?"
Emeline tidak menjawab, dia hanya berjalan menuju bangkunya dan langsung duduk diambil menelusupkan wajahnya pada liputan tangan.
Semua yang melihat itu tentu heran, mereka mulai berpikiran aneh. "El, lo gak papa?" Kali ini Bara yang bertanya. Tapi Emeline juga tak nerespon.
"Pasti si Sapi gila itu yang bikin sahabat gue kel gini, liat aja, gue bakalan kasih dia pelajaran." Silvia menyingsingkan lengan bajunya dan hendak beranjak dari sisi sahabatnya, tapi langsung terhenti saat sebuah tangan mencekal ujung bajunya.
Silvia menoleh, dan dia seketika menahan nafas, begitupun anak-anak kelas yang lain. Bagaimana tidak? Mereka melihat dengan jelas, Emeline yang menampilkan wajah memelas, bahkan wajahnya terlihat sedikit memerah, mata abu-abu yang kebali cerah tapi dengan sedikit berkaca-kaca. Itu terlihat menggemaskan, pikir mereka.
"Jangan ... nanti aku yang malu ... " Ujarnya dengan pelan, tapi masih bisa di dengar.
"Hah? Kenapa kamu yang malu? Harusnya dia yang malu." Silvia menatap Emeline heran.
"Jangan ... " Kali ini suara yang keluar dari bibir tipis Emeline terdengar memelas.
Silvia gelagapan sendiri, ia menatap teman-temannya yang lain, mereka malah melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Hei! Selama hampir satu tahun lebih mereka mengenal Emeline, ini adalah kali pertama mereka melihat sisi gadis itu yang seperti ini.
"I-iya, aku gak bakalan nyamperin si Sapi, tapi kamu beneran gak di apa-apain kan?" Silvi akhirnya menyerah dan kembali bertanya dengan serius.
Emeline mengangguk, tapi sedetik kemudian gadis itu langsung memeluk sahabatnya. Silvia kaget, begitupun yang lain. "Aku malu banget ... " Cicit gadis itu, suaranya agak teredam karena dia memeluk Silvia sambil menyembunyikan wajahnya pada perut Silvia yang tengah berdiri.
"Kamu dari tadi bilang malu, emang kamu abis ngapain sama si Sapi itu?" Tanya Sania yang sudah kepalang kepo.
Emeline lalu menoleh pada Sania dan teman-temannya yang ada di depannya, dia menetap mereka serius. "Jangan ketawa tapi." Ujarnya.
Mereka heran, tapi tak ayal mengangguk. "Iya, cerita aja." Jawab Bara.
Emeline lalu mulai bercerita, gadis itu bahkan tidak melepaskan pelukannya pada Silvia yang sekarang telah duduk di sebelahnya.
Kejadiannya saat di rooftop, Emeline yang merasa jika dirinya telah lama tertidur akhirnya bangun. Ia merasa aneh, karena tidur dalam posisi berbaring, bahkan sekarang ia merasakan elusan di kepalanya.
'Perasaan tadi bukankah aku sedang di kantin?' Batin gadis itu, dia bangun, tapi belum membuka matanya.
"Udah bangun?"
Suara seseorang menyusupi indra pendengarannya, dan jelas sekali, suara bariton itu adalah milik laki-laki. Dan dia mengenali suara itu.
Dengan cepat, Emeline membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan seorang lelaki yang membuatnya stres selama seminggu ini, Saveri.
Lelaki itu tersenyum dan sedikit menunduk, membuat jarak wajah mereka hanya berjarak sekitar satu jengkal. "Gak mau balik ke kelas? Jam pelajaran ke empat hampir mau habis." Ucapnya.
Plak!
Gadis itu dengan refleks langsung menjauhkan wajah Saveri dengan kedua tangannya, ia bahkan langsung berdiri dan menatap Saveri yang merasakan sakit di area wajahnya, maklum saja, dorongan gadis itu sedikit kuat, bahkan kukunya hampir mengenai mata Saveri.
"A-apa yang kau lakukan?!" Emeline bertanya dengan wajah sedikit memerah.
"Hm? Aku gak ngapa-ngapain. Aku cuman nemenin kamu yang tidur di pangkuan aku." Jawab lelaki itu enteng, matanya menatap main-main pada Emeline yang sekarang wajahnya sudah memerah.
"Tapi kan tadi aku di kan-" Belum selesai dengan ucapannya, wajah gadis itu sudah menjadi lebih merah, bahkan Saveri berfikir jika mungkin wajah Emeline akan meledak.
"Aaa ... Apa yang ku lakukan ... " Emeline berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di antara lutut, dia mengingatnya. Saat dimana dia di tenangkan oleh Saveri karena berpikir terlalu keras, saat Saveri membawanya dari kantin dengan gendongan bridal-nya, dan saat dia malah memeluk leher Saveri dan berakhir tertidur karena merasa sangat nyaman.
'I must be out of my mind!' Teriaknya dalam hati. Ia merutuki kebodohannya karena tertidur di pangkuan pria asing itu.
Sedangkan Saveri? Lelaki itu malah mati-matian menahan tawanya saat melihat Emeline yang malu. 'So cute!' Pekiknya dalam hati.
Saat Saveri hendak menghampiri Emeline, gadis itu sudah lebih dulu bangun dan menatap Saveri dengan tatapan tajam, tapi karena wajahnya yang memerah dan mata yang sedikit berkaca-kaca, itu malah terlihat imut.
Dan tanpa sepatah katapun, gadis itu berlari keluar dari rooftop hingga ia tiba di kelasnya dan mengagetkan semua orang.
"Fft-"
Emeline menatap tajam Silvia yang tengah menahan tawa. begitupun teman-temannya yang lain. "Jangan ketawa!" Ucapnya.
Bukannya berhenti, mereka malah semakin ingin ketawa, bahkan beberapa sudah ada yang tertawa keras, mereka merasa sangat lucu. Mereka yakin, itu adalah pertama kalinya Emeline berada di situasi seperti itu, membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.
"Maaf Maaf ... " Silvia akhirnya berhenti tertawa dan menatap Emeline yang sekarang berwajah masam.
"Tapi syukur deh, kamu gak di apa-apain sama si Sapi itu. Lanjutnya.
Emeline menatap heran, "Dari tadi kamu ngomongin Sapi mulu, emang apa hubungannya?" Taanyanya.
Kali ini semua orang tertawa keras, mereka pikir Emeline mengerti dengan kata itu saat dari tadi Silvia menanyainya. "Bukan Sapi, tapi sebenarnya Saveri. Cuman ... aku gedek kalo harus panggil di agitu, jadi aku panggil di Sapi aja, cocok." Jelas Silvia.
Emeline cengo, jadi Sapi itu Saveri? Tapi kok ... "Cocok sih."
•
•
•
Bersambung ....
perfect lah thor /Good//Good/
up
up
up