Sistem Harimau Perunggu adalah warisan seorang penguasa sekaligus pelindung dari benua hitam. Seorang pemuda terpilih untuk mewarisi sistem tersebut. Sistem yang akan membuatnya sebagai petarung yang hebat. Bagaimana kisahnya? Apa yang akan di lalui nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ang Bay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketua
'Memungut sampah?'
Kata kata ini segera mengingatkan semua orang dengan situasi Rafael.
"Raf, apa kau sudah tidak mengirimkan paket lagi? Mengapa kau sekarang jadi pemungut sampah?"
"Benar, kita semua lulus dengan sangat baik, jadi tidak perlu melakukan pekerjaan seperti itu, Raf."
"Bahkan menjadi pelayan itu lebih barik dari pada pemungut sampah."
DI sampingnya beberapa pemuda mulai berkomentar.
Rafael juga tercengang.
'Eh? Memangnya sejak kapan aku jadi pemungut sampah?'
Alexa yang duduk di sebelah Rafael, menahan marah dan membelanya.
"Orang orang yang bekerja di daerah Dorpie, dianggap sebagai bagian dari Jangkep Group, walau membersihkan sampah sekalipun. Gajinya sangat bagus dan tinggi. Tidak sama seperti yang kalian bayangkan!"
"Oh iya ya."
"Benar."
Dorpie adalah daerah yang elit dan tidak sembarang orang yang bisa masuk ke sana.
Setelah mendengar dan memikirkan hal ini, mereka berpikir bahwa pekerja kasar di Dorpie seperti pemungut sampah pun juga merupakan karir yang bagus.
Beberapa orang menunjukkan wajah yang cerah dan senang.
Tapi Rafael bahkan menjadi lebih bingung saat ini. Dia benar benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan orang orang ini.
Tapi setelah dia berpikir sebentar.
Rafael segera memahami apa yang sedang terjadi.
Sudah pasti ketika Rafael sedang berjongkok bermain dengan anjing putih kecil itu di dekat tong sampah, mereka salah paham dan menganggapnya sebagai tukang sampah.
"Ini... Mmm, hei, bukan seperti itu, aku tidak mengambil sampah, aku tinggal di sana."
Rafael berkata tanpa daya.
Alexa malah mengangguk lalu memberikan perhatian dan pengertian.
"Ya, aku tahu bahwa semua pekerja di manor bisa tinggal di sana. Pekerjaan ini bagus, bekerjalah dengan baik, dan mungkin kamu bisa menjadi pemimpin tim nantinya."
".........." Rafael benar benar tidak tahu harus menjawab apa.
Tampaknya penjelasan Rafael kurang jelas, tapi dia juga tidak mau repot repot menjelaskan.
Alexa lalu berkata kepada Rafael.
"Awalnya aku ingin mengajak Adnan, di juga bekerja di Jangkep Group. Kabarnya dia menjalani hidupnya dengan baik. Mungkin dia bisa membantumu, tapi sayangnya kemarin dia pingsan dan sekarang di rawat di rumah sakit."
"Oh. Dia sudah keluar kerja kok."
Rafael mengangguk dan berkata bahwa Adnan tidak bekerja lagi di Jangkep Group.
Hal ini membuat orang orang menjadi tambah pusing.
'Ini kenapa topiknya jadi tidak jelas seperti ini.'
'Apa ini berita palsu.'
'Ini kenapa jadi ruwet, siapa yang omong kosong di sini.'
Nash melihat beberapa orang terus mengobrol dengan Rafael. Apalagi semua gadis tidak terpengaruh sama sekali dengan provokasi Nash, mereka bahkan terlihat lebih antusias dengan Rafael karena mendengar penjelasan Alexa.
Walau menjadi tukang sampah tidak bisa di bilang keren.
Tetapi pekerjaan menjadi tukang sampah di Dorpie itu bahkan melampaui kebanyakan dari pekerjaan mereka.
Tukang sampah Dorpie tetap bagian dari Jangkep Group.
"Raf, seperti apa di dalam Jama Manor? Pasti indah ya?" tanya seorang gadis dengan mata yang berbinar.
"Ada lautan bunga di sana, ada lapangan golf nya juga lho."
Rafael berbicara santai dan tertawa.
Alexa berkata bahwa dia sangat ingin bisa ke sana.
"Waaah, bagus sekali, aku bisa membayangkannya. Bahkan jika aku harus jadi tukang sampah di sana, aku akan bersedia melakukannya."
"Eh? Sebegitunya?"
Rafael meliriknya.
"Demi kalian sebagai teman temanku. Aku bukanya tidak bisa mengajak kalian, tapi aku bukan---,,,"
"Ehem!" Nash berdehem menyela perkataan Rafael. Semakin dia berpikir dia semakin marah, dia merasa pusat perhatian di rebut Rafael jadi dia harus membuang pengganggu itu.
"Hahaha, sangat menyenangkan bisa tinggal di dekat Jama Manor. Bukannya apa apa, tapi aku baru saja membeli vila di sana. Bisa di bilang bertetangga, tempat sampahku itu harusnya juga di urus olehmu."
"Oh? Benarkah? Bagus itu. Terima kasih."
'Eh? Kenapa malah berterima kasih?' Nash berpikir dalam hati.
Rafael tidak marah, apa yang di tangkap di otaknya benar benar tidak sejalur. Sudut bibirnya terangkat.
Rafael merasa sampah di manor memang harus di buang secara terpusat agar mudah untuk di angkut, jadi truk sampah tidak perlu berkeliling manor.
Dan Nash baru saja membeli lokasi vila.
Tampaknya lokasinya juga sangat pas.
Rafael menyangka Nash merendah dan merelakan vilanya sebagai tempat sampah.
Kata kata yang luar biasa ambigu.
Tapi bagi teman teman yang lain secara normal mendengar kata kata Nash adalah sebuah pencapaian karena mampu membeli vila di kawasan itu dan terus menjanjungnya.
"Ngomong ngomong, berapa biaya untuk membeli vila di sana, Nash?"
"Di perkirakan yang termurah adalah ratusan juta dollar, bukan?"
"Bolehkah aku berkunjung kapan kapan, itu sangat membanggakan."
Mendengar komentar itu, Nash tertawa terbahak bahak dan wajahnya penuh rasa bangga, mengabaikan ucapan Rafael yang di rasa tidak nyambung.
Di sudut mata Nash, dia melirik beberapa gadis cantik untuk melihat ekspresi mereka.
"Ah, itu tidak seberapa. Kita semua adalah teman. Datanglah ke tempatku, di saat waktu luang."
Mendengar hal ini, orang orang di dekatnya tiba tiba merasa lebih bersemangat.
Ada juga yang menunjukkan tatapan iri.
Tapi bersamaan dengan ini.
Tiba tiba ketukan terdengar dari arah pintu.
"Eh? Siapa itu?"
Suasana ramai di ruangan pribadi itu menjadi sunyi seketika.
"Silahkan masuk saja."
Nash juga sangat bingung dalam hati, karena hampir semua orang yang bisa datang, sudah ada di sini dan tidak ada tamu lain yang di undang.
Mata semua orang menatap ke pintu ruangan itu.
Pintu merah beludru itu terbuka dan seorang pria paruh baya dengan jas dan berdasi muncul di sana. Usianya sekitar 40 atau 50 tahun. Rambutnya hitam bercampur abu abu dan di sisir dengan rapi. Dia tampak sangat cakap.
Sepasang mata cerah, seolah menyala hangat.
Kerumunan yang melihatnya hanya mampu diam dengan tenang.
Karena itu adalah Larry Byzko, bos besar Hotel Belonings.
'Kenapa dia ada di sini?'
Beberapa orang langsung berdiri.
Larry adalah orang terkenal di kota Jama.
Bos besar ada di sini secara langsung dan mereka tidak bisa hanya duduk diam.
'Apakah karena Nash ada di sini?'
"Tadi Nash bilang kenal dia kan?"
"Ini sebuah kehormatan."
Suara bisik bisik terdengar.
***
Nash berdiri, tapi juga merasa sedikit bingung dan takut.
Dia hanya membual tentang mengenal Larry.
Dia hanya pernah melihatnya.
Keduanya bahkan tidak saling mengenal sama sekali.
Tapi semua orang mengira sebaliknya, apalagi orang orang memperhatikan detail detail kecil yang terjadi, Larry tidak langsung masuk tapi mengetuk pintu.
Terlalu sopan untuk seorang bos besar.
"Halo tuan Byzko, saya memang memiliki kartu anggota di sini, tapi saya tidak menyangka anda datang ke sini secara langsung."
Nash tersenyum dan berkata.
Dia hanya bisa memikirkan hal ini dan memakainya sebagai alasan.
Nash menghabiskan 100 ribu dollar untuk membeli kartu keanggotaan ini.
Saat ini dia merasa hebat, tidak ada penyesalan. Apabila dengan kartu itu bisa membuat bos besar datang, harga segitu sangat murah.
Benar saja.
Mendengar kata kata Nash, orang orang di sebelahnya sekali lagi menatap Nash dengan rasa kagum dan hormat.
'Wah dia benar mengenal bos besar ini.'
Tapi jawaban berikutnya sangat mengejutkan.
"Siapa kau? Minggir!"
Larry benar benar mengabaikannya.
Larry tolah toleh melihat sekeliling.
Saat ini semua orang dalam posisi berdiri, tetapi ada seorang pemuda tampan yang duduk bersandar santai di kursi.
Hanya Rafael satu satunya orang yang tidak mengenal Larry sama sekali.
Jadi dia tidak perduli.
DIa hanya berpikir sangat positif.
'Oh ini bos besar hotel ini, apa dia juga mau ikut makan di sini?'
Larry secara alami menerima kabar dari pengawal pribadi bahwa ketuanya datang ke hotel untuk makan malam. Tentu harus menyambut.
Dengan kekuasaan ketuanya yang begitu besar, siapa yang tidak mau berhubungan baik dengan ketuanya.
Larry sama sekali tidak perduli dengan orang lain dan langsung menemui Rafael.
Dia tersenyum dengan sikap hormat.
"Ketua, saya Larry Byzko, pemilik hotel ini. Saya dengar anda ada di sini, jadi saya datang menemui anda secara khusus."
"Ah, iya."
Rafael akhirnya mengerti.
Ternyata Hotel Belonings juga merupakan bagian dari Jangkep Group.
Karena terlalu banyak urusan.
Rafael tidak ingat bahwa dia adalah ketua baru mereka.
Tapi semua orang di ruangan ini langsung membeku melihat pemandangan ini.
'Ketua?'
Mereka mengira bos besar itu datang karena ada Nash, tetapi mereka tidak menyangka bahwa Rafael yang di cari olehnya.
'Tapi kenapa bos besar Hotel Belonings memanggilnya ketua?'
Tapi dengan cepat, orang orang bereaksi dan menyadari.
Orang yang bisa di sebut ketua oleh Larry.
Identitasnya sudah jelas.
Itu harusnya adalah Ketua Jangkep Group.
"Apa!"
Semua orang tiba tiba merasa ada badai menerpa di hati mereka, dan mereka segera memikirkannya.
'Ketua Jangkep Group!'
'Jama Manor jelas adalah rumahnya.'
'Begitu ya..'
'Dia sama sekali bukan tukang sampah.'
'Juga bukan pekerja di Jama Manor.'
'Dia benar benar tinggal di sana.'
Nash membuka mulutnya lebar lebar dan langsung berpikir itu adalah kesalahpahaman sebelumnya. Dia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.
'Apa yang sudah ku katakan?'
Nash merasa ingin menampar dirinya sendiri sekarang.
Larry langsung meraskan bahwa suasananya tidak beres dan berkata.
"Ketua, maafkan saya menganggu makan malam anda. Saya telah menyiapkan meja di ruang pribadi paling mewah di lantai paling atas. Saya harap anda dapat menikmati kehormatan anda."
"Wah? Terima kasih." Rafael berkata dengan sopan, dia melihat kerumunan di sebelahnya, dia melihat apa yang di suguhkan di mejanya sekarang beda dengan yang ada di meja Nash.
Terutama mendengarkan kesombongan Nash tadi.
Kini dia sedikit kesal.
Rafael ingin pergi dari sini dari tadi.
Ketika dia pulang nanti, dia akan segera mengubah vila Nash menjadi tempat pembuangan sampah.