Mahalini Lembong menatap tajam Rae Sitha Dewi. ia berjalan memutar menuju ke meja Rae dan menulis cek seratus juta rupiah. Rae mengambil cek itu acuh dan memasukkan ke kantong celana jeannya. Ia berharap dengan uang ini ia bisa mengobati ibunya yang lagi butuh pertolongan.
Dengan senyum licik Mahalini menyodorkan selembar kertas putih untuk ditandatangani oleh Rae. Walaupun agak ragu, Rae dengan cepat menggores kan pulpen hitam itu diatas kertas.
Mahalini Lembong adalah gadis kaya berusia dua puluh lima tahun. Dia putri pemilik Cafe Gaul tempat Rae mengais rejeki setiap hari. Kebetulan postur tubuh mereka juga hampir mirip yang membuat Mahalini lebih leluasa menguasai Rae. Ia punya rencana jitu untuk bertukar posisi dan mengelabui ibunya, serta calon suaminya.
Apakah rencana Mahalini Lembong dibalik pemberian uang seratus juta?
***
Hallo guys, ini buku baruku. Jangan lupa like, comment dan gift. Trimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMPIR JEBOL
Setelah nyonya Fransiska pulang, Rae merasa semakin terperosok. Ia menahan tangisnya saat Dewa mengejeknya. Pria itu selalu saja marah-marah tidak karuan. Kalau di depan nyonya Fransiska mulutnya mingkem. Dasar pengecut.
"Aku heran, kamu sudah sarjana, tapi gaya bicaramu dan penampilanmu seperti anak lulusan SMA. Aku jadi ragu, apa kamu Mahalini atau wanita liar yang berkeliaran dijalanan."
"Orang yang merendahkan atau menghina orang lain, sejatinya orang itulah yang lebih rendah akhlak nya dari orang yang dihinanya."
"Jangan bersembunyi dibalik kata-kata mutiara. Akuilah bahwa kau berada disini demi harta."
"Apapun tuduhanmu aku tidak akan menyanggahnya, aku berterimakasih atas kejelianmu melihat dan menilai sifatku. Aku sendiri kadang tidak faham dengan sifatku sendiri." ucap Rae diplomatis.
"Aku punya akal dan pikiran, bisa melihat setiap gerak gerikmu."
"Salut kepadamu, bisa sedetail itu menilai tingkah lakuku."
"Bawel, sini bawa surat-suratnya aku yang simpan, kalau kau simpan takutnya dijual."
"Aku tidak peduli surat-surat ini, apapun yang kau punya aku tidak kagum. Semua itu tidak akan merubah apapun, nasibku tetap begini. Kecuali hartamu bisa merubah nasib ku baru aku salut."
Rae menyerahkan file itu ke tangan Dewa, kemudian ia beranjak menuju kamarnya. Dewa tidak mengira Rae menyerahkan begitu saja semuanya. Seandainya ia jahat dengan gampang ia memanipulasi surat itu belum ada jadi sertifikat.
Dewa ikut menuju kamarnya, ia penasaran dengan tingkah istrinya. Mungkin Mahalini tertawa bisa mengibuli keluarga besar. ia pusing memikirkan semua ini. Kenapa nyonya Fransiska dan yang lainnya tidak menyadari kalau Mahalini berbeda. Atau dia menjadi baik karena mau meninggal. bathin Dewa.
Rae mengunci pintu kamarnya, tidak tahu kenapa ia sangat sedih malam ini. Jujur ia kasihan melihat nyonya Fransiska. Cinta kasihnya terlalu besar kepada Mahalini. Bagaimana kalau dia tahu?
Jika Mahalini mengkhianati ibunya, ia tidak boleh diam menunggu nasib buruk. Ia akan mendekat dan menyayangi nyonya Fransiska, layaknya seperti anaknya.
"Dreettt...Dreettt.."
Ponselnya bergetar, ia meraih dan membukanya. Wajah Benedictine lizarazu terpampang di layar ponselnya. Sungguh tampan pria ini, sebelas dua belas dengan Dewa. Ia heran kenapa orang-orang ini udah kaya raya, ganteng lagi.
"Hallo beb... kamu lagi ngapain?"
"Jangan panggil aku beb, aku sudah punya suami, nanti Dewa marah lagi."
"Basi, aku sering memanggil temanku "beb" hanya orang picik yang berasumsi negatif. Katakan pada suami palsumu kalau aku hanya ingin menghiburmu."
Rae tersenyum, Benedictine memang lucu dan selalu menghibur. Ia lebih senang bicara dengan Bened daripada dengan Dewa.
"Kenapa kamu diam, apakah kamu sulit bernafas?"
"Kamu tahu, aku ingin menjadi anak berbakti kepada nyonya Fransiska, dia begitu cinta dan sayang kepada anaknya. Aku tersenyum melihat ketulusan hatinya. Ingin aku memeluknya saat ini."
"Kamu orang baik, wajar kamu berpikir begitu. Sepertinya kamu ngomongin orang lain yang durhaka pada ibumu."
"Aku minim ejaan EYD, makanya aku sering salah omong. Maklum aku nggak sekolahan."
"Hahaha...bagaimana keadaanmu hari ini, apakah kamu tidak menemui suamimu?"
"Tidak hari ini dan seterusnya, biarkan aku menua sendiri, tanpa terjamah. Aku tidak ingin menjadi sasaran rudalnya haha."
"Wkwkwk...lebih baik kamu ganti server, cari yang lebih oke."
"Ngaco kamu, biarkanlah apa adanya."
"Aku ingin kamu membawakan satu îagu untukku."
"Oke, lagu apa?"
"Lagu call out my name dari the weeknd."
Benedictine lizarazu terpesona saat ia mendengar suara Rae yang serak-serak basah. Ia tidak mau mengedipkan matanya barang sedetikpun.
"Aku jatuh cinta dengan suaramu."
"Tookk..tookk..."
Rae kaget mendengar ketukan di pintu, ia cepat mematikan ponselnya. Dadanya bergemuruh. Ia kaget ketika membuka pintu.
"Mana hape mu!"
"Apa-apaan ini." Rae merebut hape yang dirampas Dewa.
"Dewa, sini bawa hapeku...awas pecah."
Rae menutup pintu dan berusaha merebut hape kentang ya dari tangan Dewa. Pria itu tambah erat memegangnya.
"Kau tidak tahu salah, bisa-bisanya ngobrol dengan Bened. Kau ini istriku, kalau ingin jadi ****** sekarang juga aku anterin ke pinggir jalan. Jual dirimu disitu."
"Dia vidio call, tidak mungkin aku matiin. Lagi pula aku butuh teman ngobtol, tidak ada apa-apa."
"Jadi kau juga menginginkan. Murahan, tidak tahu malu. Semasih kau berada di rumahku jangan bikin ulah. Lagi sekali kau berhubungan dengan Bened, aku bunuh kau."
Amarah Dewa memuncak, ingin sekali ia memukulnya tapi ia tahan. Ia berjanji pada dirinya supaya tidak main tangan.
"Bunuh, aku sudah bosan hidup." tantang Rae membusungkan dadanya.
Tangannya kembali merebut hape yang dipegang Dewa. Mereka bergulat ditempat tidur. Rae termasuk wanita strong yang bisa melawan Dewa. Perlawanan Rae membuat Dewa tambah jengkel. Ia ikut merobek daster Rae, saat Rae menarik piyamanya.
"Kurang ajar kau." bentak Rae setelah menyadari gunung kembarnya tanpa penutup. Rae nyaris telanjang, ia mau turun dari ranjang tapi tangan Dewa memeluknya. Ntah setan apa yang masuk ketubuh Dewa, ia malah mencium Rae dengan liar.
Rae yang tumben berciuman merasa seperti di sengat listrik, darahnya mengalir ke seluruh tubuh. Panas ohh panas...lidah Dewa menjalar dibibir Rae dengan lincah. Lidah Dewa mulai pindah ke leher, Rae spontan memeluk Dewa.
"Ohh...." Rae terangsang saat bibir Dewa menempel di toketnya. Dewa melahap kedua benda itu dengan sentuhan lidah yang indah.
Rae belingsatan, antara ingin menolak atau melanjutkan. Karena ia sendiri tahu bahwa ini salah. Masalahnya ia bukan Mahalini.
"Sudah, hentikan!" Rae menolak tubuh Dewa dengan keras.
"Sudah terlanjur!!"
"Aku AIDS...nanti menular." kilah Rae.
Dewa seketika melepaskan pelukannya, ia memandang tubuh Rae yang telanjang. Gairahnya meledak-ledak, tangannya kembali menyentuh tubuh Rae, mengelus dengan lembut.
"Kau jangan bohong."
"Kau boleh menjamah semua tubuhku, asal jangan menembak rudalmu." ucap Rae malu.
Saat ini posisinya telentang, hanya tersisa pengaman sensitifnya, sama keadaan nya dengan Dewa. Rae merasa senang karena Dewa hanya mengelus tubuhnya.
"Kau yang membangunkan, sekarang kau harus menidurkannya." Dewa meraih tangan Rae dan mengarahkannya ke pusakanya.
"Pegang yang benar, jangan gemetaran." perintah Dewa membuka segitiga pengamannya.
"A..ku..aku...." Rae tidak bisa berkata-kata ia sangat grogi dan malu. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Dewa menarik tubuh Rae supaya duduk.
"Tumben melihat yang segede ini ya." bisik Dewa kembali ******* bibir Rae. Dewa baru menyadari kalau Rae tidak bisa berciuman.
"Kau belum pernah berciuman?" tanya Dewa semakin curiga. Mahalini wanita liar, banyak lelaki telah menjamahnya. Tapi gadis ini kaku dan gemetaran.
"Ini ciuman pertama mu?"
Rae mengangguk samar. Dewa mengerti bahwa istrinya bukan Mahalini, tapi siapa?
"Aku akan mengajari kamu ciuman."
Dewa mendorong tubuh Rae supaya kembali telentang, kemudian ia meniban tubuh mulus itu dengan gairah tertunda.
Bibirnya ******* bibir Rae, berusaha mengajari gadis itu cara berciuman. Tidak sulit seperti belajar matematika, perlahan Rae bisa mengimbangi, walaupun ia masih merasa sesak nafas.
"Kita tidak boleh melanjutkan, karena kamu tertular penyakitku." bisik Rae, walaupun ia ingin melakukannya.
"Hemm...kau yang membuatnya bangun, sekarang kau harus menidurkannya." kata Dewa memegang tangan Rae.
"Apa tidak ada cara lain, tanpa harus di pegang?" wajah Rae memerah kala memegang pusaka Dewa.
"Ada..." jawab Dewa menarik tubuh Rae supaya duduk.
"Buka mulutmu.. "
Rae membuka mulutnya dan "havpszsss..." benda itu begitu saja masuk membuat Rae kaget luar biasa. Mau muntah tidak bisa, karena tangan Dewa mencekram kepalanya sambil bergerak maju mundur.
"Lakukan apa yang aku mau, kau harus banyak belajar sebelum menjadi istri sesungguhnya."
"Haa...hoo...kau hebat...."
"Jilat seperti es cream." perintah Dewa terus meluncur dari bibirnya.
Setelah Rae menuruti perintah Dewa, tidak berapa lama Dewa melenguh nikmat. Seluruh badannya mengejang dan Rae kelayakan menerima muntahan lahar dari suaminya.
"Trimakasih kau membuatku melayang."
Rae bergegas turun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia memuntahkan apa yang ia dapat dari Dewa. Ia tidak pernah membayangkan kalau tugasnya menjadi istri gadungan seberat ini. Seluruh tubuhnya di uwel-uwel, seolah Dewa gregetan melihatnya.
Ia membuka kran air hangat dan sekalian mandi di shower, segar rasanya, apalagi hujan begini. Baru dua hari hidup bersama, Dewa sudah curiga. Bisa-bisa kedoknya terbongkar. Jika itu terjadi ia kembali ke jalanan atau ke penjara.
Apakah Mahalini pernah menjadi pacar Dewa? Sehingga Dewa bisa membedakan antara dirinya dan Mahalini. Ia betul-betul stres dengan keadaan dirinya. Tadi hampir saja ia pasrah menghadapi Dewa, untung Dewa mau mengerti. Seharusnya setiap malam ia pindah tidur supaya Dewa tidak memaksanya.
Harta satu-satunya adalah kesuciannya, ia harus mempertahankannya. Itu untuk calon suaminya. Ingat kejadian tadi ia seketika merinding disko. Ternyata Dewa lelaki jantan. Rae tersenyum sendiri. Ia membayangkan pelukan dan ciuman Dewa.
Habis mandi Rae mengambil baju tidur di walk in closet, ia tidak mendapatkan Dewa di kamarnya. Rae naik ketempat tidur dan berusaha memejamkan matanya.
Pukul 07.25 WITA, Rae baru bangun. Ia cepat-cepat mandi. Hari ini ia akan mulai bertugas mengemban ritual yang harus terlaksana tiap hari. Bibi Nur berjanji akan mengantarnya keliling.
Rae memakai kain batik yang sudah jadi dan baju kebaya modern, bodynya terlihat sexy. Pinggangnya yang ramping dililit selendang merah. Rae terlihat seperti peri.
"Selamat pagi nona, silahkan sarapan dulu nyonya dan Tuan sudah berada di ruang makan."
"Pagi bibi, maaf saya telat bangun. Ini hari pertama saya untuk berkeliling, semoga saya bisa."
"Semangat nyonya, karena kami tidak boleh mengambil alih. Nona sudah tahu alasannya?"
"Sudah bibi, karena ini Puri, hanya orang kasta tinggi yang boleh naik turun disini."
"Begitulah nona, kita tidak boleh melanggar aturan, semua ini sudah baku. Jika nona bersalah para tetua akan memberi sanksi."
"Aoa hukumanya bi?" tanya Rae ketar-ketir.
"Kalau dulu disuruh keluar dari Puri dan tidak boleh kembali. Tapi tergantung kesalahannya."
"Semoga saya bisa mengemban pekerjaan dengan baik." ucap Rae bersemangat.
****