Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Musim Hamil
Akhir-akhir ini Klara sering pusing, badannya lemas dan muntah di pagi hari. Klara tidak berani minum obat apapun, datang bulannya telat. Ia takut sedang ngisi.
Meskipun curiga ngisi, tapi Klara tidak berani bilang ke Kyos. Dia hanya bilang sedang tidak enak badan saja. Kecapean mengurus dua anak.
Kyos menyuruhnya ke dokter, pria itu sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia minta maaf karena tidak bisa menemani Klara.
Wanita itu tahu suaminya sibuk, dia tidak memaksa atau meminta ditemani. Klara bersikeras bahwa dia baik-baik saja. Dia tidak mau membuat Kyos khawatir.
Klara tahu kerjasama dengan VIVA membuat Kyos sangat sibuk, dia tidak ingin menambah beban pikiran suaminya itu.
"Pengasuh belum datang, tapi Mama harus pergi sekarang, kalian Mama titipin ke rumah Om Jovan ya?" tanya Klara pada kedua anaknya.
Bocah yang sedang bermain itu mendongak ke atas, melihat wajah Mamanya yang pucat, Chika berdiri. Dia memegang perut Mamanya.
"Mama sakit?" tanya Chika. Mata polosnya berkedip.
Klara tersenyum, ia berjongkok.
"Iya sayang, Mama mau ke dokter bentar. Nggak papa ya, kalian Mama tinggal?"
Chika mengangguk, ia terlihat khawatir dengan Mamanya. Begitu juga Arsel.
"Ika boleh ikut?" tanya Chika.
Klara menggeleng, di rumah sakit banyak hantu. Klara takut terjadi sesuatu jika Chika ikut, sekarang saja Chika belum sembuh total.
"Chika sama Kak Arsel di rumah saja ya, Mama cuma bentar kok."
Chika cemberut, hawa di sekitarnya terasa berubah. Klara merinding, suasana hati Chika akan mempengaruhi suasana rumah. Aura Chika memang sangat kuat. Mirip dengan neneknya.
"Kak Arsel bisa jagain Dek Chika 'kan?" tanya Klara.
Arsel mengangguk. "Bisa."
Klara tersenyum dan segera menyiapkan hal-hal perlu dibawa, ia juga menarik kedua tangan anaknya keluar dari apartemen, menuju apartemen sebelah, milik Jovan.
Karena masih saudara, Klara berpikir bahwa lebih baik menitipkan anak-anak pada Jovan dibandingkan orang lain.
"Kalian berdua jangan nakal oke? Mama mau pergi bentar," ucap Klara ketika menitipkan Chika dan Arsel pada Jovan.
"Mama, Ika pingin es klim," pinta Chika.
"Iya nanti Mama beliin. Kalo Kak Arsel mau Mama beliin apa?" tanya Klara pada Arsel.
"Nggak pingin apa-apa, Arsel jagain Dek Ika aja," jawab Arsel, dia begitu dewasa dan pengertian untuk anak seusianya.
Jovan mengacak gemas rambut Arsel, "kamu harus cepet besar biar bisa jagain adekmu."
"Aku minum susu terus kok Om, bentar lagi aku bakal tumbuh besar." Kepala Arsel mendongak menghadap ke arah Jovan.
"Om percaya," ucap Jovan sembari tersenyum. "Cepat Klara berangkat, keburu siang." lanjutnya
"Iya ... tolong jaga anak-anakku ya." Klara mencium kedua anaknya sebelum berjalan meninggalkan mereka.
Anak-anak melambai mengiringi kepergian Klara, wanita itu bersyukur karena Jovan mau dititipi anak-anaknya.
Perjalanan ke rumah sakit tidak membutuhkan waktu lama, Klara sengaja memilih rumah sakit paling dekat, ia tidak mau meninggalkan anak-anaknya terlalu lama.
Dia menunggu di depan ruang dokter setelah melakukan pemeriksaan umum, matanya terkejut melihat seseorang keluar dari ruang dokter.
Wanita yang dia kenali, sahabat dekatnya sebelum menikah. Sekarang wanita itu akan menjadi adik iparnya, Reni.
Badan Reni lemas setelah keluar dari ruang dokter, tangannya berpegang pada kursi agar tidak terjatuh.
"Reni? Ngapain kamu di sini?" tanya Klara tiba-tiba. Reni yang terkejut hampir jatuh kebelakang.
"Ng ... Ngak ada apa-apa Mbak," jawabnya berbohong. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu ada praktek ya ...." Klara mencoba menebak.
"Hehe ... iya." Reni berbohong lagi, "Kalau Mbak ngapain ke sini?"
"Cuma mau periksa, beberapa hari nggak enak badan," jawab Klara.
Dia melihat baju Reni, mahasiswi kedokteran itu hanya mengenakan baju biasa. Ditambah sekarang bukan masanya Reni untuk praktek di dokter.
Pasti Reni ke sini untuk periksa, tapi melihat Reni berbohong, Klara tidak berani bertahan lebih lanjut.
"Oo gitu, yaudah Mbak kalau gitu aku duluan." Reni buru-buru pergi sebelum Klara menjawab.
Klara tidak tahu apa yang terjadi pada Reni, gadis itu mencurigakan. Klara kembali menunggu, ia melihat Reni keluar dari rumah sakit.
Sementara itu di rumah, Reni merasa sangat gelisah, apa yang harus dia lakukan. Ia juga tak berani mengangkat telepon dari Sean, pacarnya itu akan langsung sadar bahwa Reni dalam masalah ketika mendengar suaranya.
Hingga akhirnya Sean mengirim pesan bahwa jika Reni tetap tidak menganggkat teleponnya, ia akan langsung pulang ke Indonesia. Reni tak bisa membiarkan Sean repot bolak-balik Indo-USA lagi
"Hallo Ren, loe baik kan? Kenapa loe nggak ngangkat telepon gue?" tanya Sean di telpon.
"I ... iya, aku baik kok," jawab Reni.
"Ada masalah apa? Kok loe gugup gitu?" tanya Sean mulai curiga.
"Nggak, aku nggak kenapa-napa."
"Ren, gue tau loe. Kita kenal udah lama, loe pasti ada masalah. Cerita sekarang atau gue pulang ke Indo sekarang!" ancam Sean.
Reni meneteskan air mata, satu-satunya tempat bergantung adalah Sean. Dia tidak tahu harus bicara masalah ini pada siapa lagi kalau bukan padanya, akan tetapi di sisi lain, Reni juga tidak ingin membebani Sean dengan masalahnya terus menerus.
"Ren, please jawab gue!"
"Sean, aku hamil. Aku harus gimana? Aku pingin gugurin janin ini tapi aku takut dosa .... Hiks," jawab Reni kemudian. Dia menangis tersedu.
Sementara itu, Sean masih syok dengan jawaban Reni. Hampir saja dia menjatuhkan ponselnya.
"Tunggu Ren, gue pulang ke Indo sekarang. Jangan lakuin hal bodoh, ngerti!" perintah Sean dari balik telepon.
Sean buru-buru menutup telepon dan memesan tiket pesawat. Hidupnya untuk Reni, karena tanpa Reni di dunia ini dia hanya akan menjadi mayat berjalan. Bagi pria berambut lebat itu, Reni adalah cahaya. Ke mana pun cahaya itu pergi, dia akan mengikutinya. Seperti babi ngepet, tugas Sean untuk menjaga lilin tetap menyala.
Sean berani berkorban apapun untuk Reni, ia tidak mau kehilangan Reni hanya karena dosen gila yang sudah dia musnahkan.
"Sean! Kamu nggak perlu balik lagi, aku mau gugurin anak ini aja."
Sean tidak percaya, bisa jadi Reni bunuh diri. hati wanita itu terlalu lembut untuk menyakiti orang lain.
"Nggak! Gue bakal tanggung jawab, gue bakal nikahin Lo, jadi jangan gugurin anak itu. Dan jangan sakiti diri sendiri, ngerti?"
Telepon ditutup, berkali-kali Reni panggil tapi Sean tak menjawab, saat Reni coba hubungi kembali pun, tidak diangkat. Sean sungguh bersiap untuk pergi ke Indonesia lagi.
"Akh! Bodoh banget sih dia! Kenapa harus berkorban buat aku sampai segininya?!" Kesal Reni. Dia merasa bersalah.
nyimak aah