Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.
Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Sekarang tidak terdengar apa pun lagi selain kesunyian, tapi Jenaka tetap tidak bisa beristirahat hingga memastikan Lingga baik-baik saja. Jenaka turun dari ranjang, memakai kimononya, dan berjalan tanpa suara ke kamar sebelah.
Setelah membuka pintu untuk melongok ke dalam, ia melihat Lingga masih berbaring dalam posisi yang sama, ketika Jenaka hendak melangkah pergi, ia melihat Lingga mencoba berguling miring, namun kakinya menolak sebab tak bisa ia gerakkan di saat itulah Lingga mengeluarkan suara erangan menggerutu.
'Apakah tak pernah ada yang terpikir mengganti posisi Lingga?' batin Jenaka, kalau Lingga terus berbaring telentang selama dua tahun, tidak heran temperamennya segalak Banteng.
Dengan lembut Jenaka membantu menyesuaikan posisi Lingga tanpa harus membuatnya terbangun. Jenaka melakukan hal itu kepada sebagian besar pasiennya, sebagai bentuk perhatian yang biasanya tidak pernah pasiennya sadari.
Mula-mula Jenaka menyentuh ringan bahu Lingga, membiarkan alam bawah sadarnya terbiasa dulu dengan sentuhan, setelah itu Jenaka menambah kekuatan tekanan tangannya dan Lingga menuruti tekanan itu, mencoba berbaring miring, sehingga menghadap ke arah Jenaka.
Dengan lembut dan perlahan, Jenaka membantu Lingga, menggeser kakinya. Disertai embusan napas lembut, Lingga membenamkan wajah ke bantal, irama napasnya makin dalam dan pria itu berangsur rileks.
Sambil tersenyum, Jenaka menarik selimut hingga menutupi bahu Lingga, lalu kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Jenaka baru bisa tertidur sekitar jam dua. Dan ia bangun sebelum matahari terbit dengan perasaan harap-harap cemas. Meski kurang tidur, Jenaka dipenuhi energi. Ia mencoba membakar sedikit energi dengan melakukan olahraga rutin cepat-cepat, tapi acara mandi setelah itu begitu menyegarkan hingga rasanya seolah ia mampu menaklukkan dunia. Yah, setidaknya menaklukkan Sakalingga Ibra!
Hari masih lebih pagi dari pada kemarin saat Jenaka berjalan ringan ke kamar Lingga, masuk sambil menyalakan lampu karena masih gelap.
“Selamat pagi,” kicau Jenaka.
Lingga masih berbaring miring, tak lama kemudian ia membuka matanya, mengamati Jenaka dengan ekspresi ngeri, lalu mengucapkan sepatah sumpah serapah, namun Jenaka tak peduli, ia tetap tersenyum manis ke arah Lingga. “Kau siap memulai?” tanya Jenaka tanpa beban.
“Brengsek, tidak!” bentak Lingga. “Nona, ini masih tengah malam!”
“Tidak juga. Sekarang hampir fajar.”
“Hampir? Berapa lama lagi mendekati hampir?”
“Hanya beberapa menit lagi,” sahut Jenaka menenangkan, ia tertawa sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh Lingga. “Apakah kau tidak ingin menyaksikan matahari terbit?”
“Tidak!”
“Matahari terbit di Bandung pasti indah,” bujuk Jenaka sambil menurunkan kaki Lingga dari ranjang. “Ayo, temani aku menyaksikan matahari terbit.”
“Aku tidak ingin menyaksikan matahari terbit, bersamamu atau bersama siapa pun,” bentak Lingga. “Aku ingin tidur!” teriak Lingga.
“Kau sudah tidur berjam-jam, dan aku yakin kau tak ingin melewatkan matahari terbit. Ini akan menjadi matahari terbit yang istimewa.”
“Apa yang membuat matahari terbit kali ini istimewa? Apakah ini menandai permulaan hari kau menyiksaku hingga mati?” tanyanya dengan kesal.
“Hanya kalau kau tidak menyaksikannya bersamaku, maka kurang istimewa.” ucap Jenaka sambil tersenyum riang, ia memegang tangannya dan menariknya paksa supaya bangkit.
Jenaka membantu Lingga pindah ke kursi roda dan menutupi tubuhnya dengan selimut, sadar bahwa udara akan terlalu dingin bagi Lingga. “Di mana tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit di Bandung?” tanya Lingga.
“Aku tidak ingin keluar dari rumah ini, jadi kita lihat di taman rumahku di dekat kolam renang saja,” gerutu Lingga sambil mengusap wajah dengan dua tangan, "Kau sinting, Jenaka. Kau orang sinting yang berijazah."
Jenaka merapikan rambut Lingga yang acak-acakan, dengan menggunakan jemarinya sambil menunduk dan tersenyum lembut. “Oh, aku tidak tahu jika ada orang sinting yang memiliki prestasi,” gumamnya. “Apakah tidurmu tidak nyenyak tadi malam?”
“Tentu saja nyenyak!” ucap Lingga dengan ketus. “Kau membuatku lelah luar biasa hingga aku tidak bisa mengangkat kepala," ucapnya begitu saja, namun kemudian ia mengeluarkan ekspresi malu-malu yang melintas di wajah Lingga. “Baiklah, tadi malam adalah tidurku paling nyenyak selama dua tahun ini,” Lingga mengakui dengan gusar, setidaknya dia mengaku.
“Sudah lihat seperti apa dampak terapi yangku berikan?” canda Jenaka, lalu mengubah topik sebelum kemarahan Lingga berkobar lagi. “Kau harus memimpin jalan menuju kolam renang. Aku tidak ingin berjalan melewati halaman dalam, karena pekerja meletakkan banyak perkakas mereka di sana. Pasti sulit berjalan di sana dalam keadaan gelap.”
"Ya," ucapnya tanpa semangat, lalu Lingga nggerakkan kursi roda dan mendahului Jenaka melintasi rumah yang sunyi senyap menuju pintu belakang. Ketika mereka mengitari belakang rumah menuju kolam renang, seekor burung berkicau menyanyikan lagu merdu menyambut hari baru, dan suara itu membuat Lingga mendongak.
Sudah dua tahun berlalu sejak insiden kecelakaan itu, Lingga tak pernah mendengar kicauan burung?
Sambil duduk di samping kolam renang, mereka duduk membisu, menyaksikan semburat kelabu pertama ketika fajar menyingsing. Lalu akhirnya sinar terang pertama sang surya mulai. Tidak ada awan-awan yang mewarnai langit dalam nuansa merah muda dan emas yang tidak terhitung jumlahnya, hanya ada langit biru dan matahari keemasan bercampur putih, tapi kedamaian hari baru membuat pemandangan itu seindah pemandangan matahari terbit paling semarak yang pernah Jenaka saksikan. Dalam waktu singkat tubuhnya mulai hangat, dan Lingga menurunkan selimut yang menutupi bahunya.
“Aku lapar,” ucap Lingga
Jenaka menatap Lingga kemudian tertawa kecil, lalu ia beranjak berdiri. “Aku bisa melihat betapa kau menghargai hal-hal indah dalam hidup,” ucap Jenaka.
“Kalau kau terus-menerus membangunkanku tengah malam, jelas saja aku kelaparan saat fajar datang. Apakah hari ini aku mendapatkan sampah yang sama seperti kemarin pagi?”
“Ya,” sahut Jenaka dengan tenang. “Sarapan bergizi, tinggi protein, tepat yang kaubutuhkan untuk menaikkan berat badan.”
“Yang kemarin kau manfaatkan dengan baik untuk mengalahkanku,” Lingga kembali kesal.
Jenaka menertawakan Lingga, ia begitu menikmati bagaimana mereka berdua terus beradu argumen. “Kau tunggu saja,” ucapnya. “Miinggu depan, kau akan berpikir terapi kemarin tidak ada apa-apanya.”