Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Dua jam yang lalu, Nina dan Iki telah resmi menjadi pasangan suami istri. Duduk di antara keluarga, Nina dan Iki dinasehati oleh keluarga mereka. Sementara mendengarkan nasehat, perut Iki berbunyi namun tidak nyaring sehingga keluarga tidak tahu bahwa Iki sudah lapar.
"Aku lapar," bisik Iki dekat Nina.
"Tunggu sebentar lagi," balas Nina pelan.
Selesai menasehati Nina dan Iki, keluarga mulai mempersilahkan Iki dan Nina untuk berdiri. Masuk ke kamar, Iki membantu Nina melepas kebaya silver yang Nina kenakan. "Tutup matamu, Iki!" seru di 1 Nina.
"Kamu pikir aku memiliki indera ke enam? Nggak, Nina. Kalau kamu malu, kamu saja yang tutup mata," ujar Iki dengan santai. "Lagian, kamu malu kenapa? Bukankah kamu sering berpakaian seksi saat di rumah."
Walau Kesal, Nina tetap membiarkan Iki membantunya menurunkan resleting gaun pada bagian belakang. "Sudah?" tanya Nina.
"Sudah," balas Iki kemudian menjauh dari Nina. Iki merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang sudah ditaburi oleh bunga. "Untuk apa kamar ini di hias, kek orang mau malam pertama saja!" Iki terkekeh setelah menyadari dirinya adalah pengantin.
Nina ikut terkekeh. "Iki, tolong ambilkan aku pakaian ganti," pinta Nina.
Menghela napas panjang, Iki beranjak dari tempat tidur. Ia mengeluarkan pakaian untuk Nina. Bahkan Iki juga mengeluarkan penutup gunung kembar juga penutup gua hantu. Lalu memberikannya pada Nina.
"Iki tutup matamu," pinta Nina lagi.
Kembali Iki menghela napas panjang. Memejamkan mata, ia menunggu Nina selesai mengganti kebaya dengan pakaian yang tadi dia ambilkan. Selesai, Nina menghampiri Iki. Perut Nina keroncongan, dan itu di dengar oleh Rifki. Mengumpat dalam hati, Nina memejamkan mata kesal. "Kenapa aku jadi pemalu seperti ini? Ini bukan Nina, Nina bukan wanita pemalu di hadapan Iki. Melainkan wanita keras kepala," batin Nina.
Terkekeh, Iki mengelus pelan rambut Nina. "Tunggu sebentar, aku ganti pakaianku dulu. Setelah itu kita keluar makan."
Nina tersenyum mengangguk. Dia menatap Iki yang sementara melepas satu persatu pakaian yang dikenakannya. Melihat tubuh Iki, Nina terdiam dan mulai menghayal. Senyum senyum sendiri, Nina seperti orang gila.
"Ayo kita pergi." Iki meraih tangan Nina. Berpamitan pada keluarga, keduanya pun ke Labuha mencari makanan yang enak di makan. Boleh di kata, di rumah banyak makanan.
"Iki, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Kita mau tinggal dimana?" tanya Nina serius saat mereka dalam perjalanan ke Labuha.
"Aku akan mencari pekerjaan. Ya ... untuk memenuhi kebutuhan kita. Untuk tempat tinggal, kita akan tinggal di rumah yang aku tempati tinggal," jawab Iki serius. Keduanya dalam mode serius sehingga tidak ada canda dan tawa di atas motor.
Rumah Makan Dani, itulah Rumah Makan yang dipilih oleh Nina. Nina sengaja ke Rumah Makan Dani karena ada nasi kuning dan ayam palekko yang di jual di sana. Ada juga warung lain yang menjual nasi ayam palekko namun rasanya tak selezat di Rumah Makan Dani.
Setelah makan, Iki mengajak Nina duduk di kursi taman dekat pantai. Keduanya duduk dengan pikiran masing-masing. Hingga hawa dingin menyapa Nina yang duduk tak berjarak dengan Iki. Nina melirik Iki sekilas, dia yakin, Iki sedang stres.
"Maaf," lirih Nina.
Iki menoleh Nina sejenak kemudian kembali menatap lautan yang gelap. "Untuk?" tanyanya.
Nina menunduk. "Karena aku, kamu jadi suamiku," lirih Nina.
Tersenyum, Iki melingkarkan tangan di leher Nina. "Lebih baik menjadikanmu istri daripada melihatmu disakiti oleh pria-pria bangsat di luaran sana."
"Iki, ayo kita pulang, di sini dingin," ajak Nina yang sedari tadi menahan dinginnya malam.
Belum sempat beranjak dari kursi, hujan tiba-tiba turun. Nina dan Rifki segera bertedu di depan ruko yang ada tak jauh dari tempat mereka duduk. Membuka jaketnya, lalu menutupi tubuh Nina dengan jaket tersebut. Semakin larut, frekuensi hujan semakin menambah. Dan Nina sudah mengantuk. Untuk pulang ke Amasing Kali rasanya sudah tidak mungkin.
"Nina, kita pulang ke rumah saja, ya. Nanti besok baru kita ke rumah Paman ngambil koper," ujar Rifki.
"Iya, Iki. Bagaimana ini? Apa kita akan terus di sini? Aku dingin," Nina memasukan tangannya ke dalam jaket.
"Kita pulang saja, nanti sampai di rumah aku buatkan teh. Bagaimana?" Menatap Nina, dan Nina mengangguk.
Kembali ke rumah dalam keadaan hujan, Nina dan Rifki basa kuyup. Setibanya di rumah, keduanya bergegas ke kamar mandi. Nina mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar sementara Rifki mandi di kamar mandi yang Di kamar sebelah. Lalu keduanya bertemu di dapur setelah mengenakan pakaian.
"Biar aku yang buatkan teh," kata Iki seraya mengambil gelas. Memasukkan gula ke dalam gelas kemudian mengambil sari wangi.
Nina memeluk tubuhnya, rasa dingin membuatnya tak ingin menginjak lantai. Walau begitu, dia tetap harus menginjak lantai karena dia sendiri tidak mungkin meminta bantuan Rifki membawanya ke kamar. Menerima teh dari Iki, segera ia menyeruputnya dengan pelan.
"Huf! Hujannya awet, Ki. Gila! Baru kali ini Bacan diguyur hujan sederas tadi." kembali menyeruput teh, Nina merasa sedikit hangat.
Berulang kali menguap, Nina mengajak Rifki ke kamar. Sesampainya di kamar, dia melirik tempat tidur. Pikirannya kembali berkelana, sejenak dia bergidik. Entah apa yang membuatnya melakukan gerakan itu. Rifki yang melihat pun tersenyum sejenak.
"Aku nggak bakalan aneh-aneh, jadi tidur saja kalau mau tidur," jelas Iki seraya mengeluarkan selimut tebal dari dalam lemari.
"Janji? Kamu nggak akan macam-macam kan saat kita tidur nanti?" Nina menatap penuh selidik.
Rifki mengangguk. Naik ke atas tempat tidur, lalu membenarkan bantal. Bahkan dia memberi pembatas agar dia dan Nina tak saling bersentuhan. Melihat itu, Nina tersenyum dan segera naik di atas tempat tidur. Menarik selimut, ia mulai memejamkan mata. Walau sudah mengenakan selimut, dia masih tetap dingin.
"Iki, kamu sudah tidur?" tanya Nina berbalik menghadap Iki. Mata, hidung, bibir, ketiga bagian tubuh itu ditatap lama oleh Nina. "Pantas saja Sinta dan yang lain tergila gila padanya, nyatanya dia jauh lebih tampan dari pada Haikal dan Zeto," batin Nina.
"Ayo tidur, besok sekolah," ucap Iki tanpa membuka mata.
"Aku nggak bisa tidur, dingin sekali." Nina membenarkan selimutnya. Bahkan dia mulai menggigil.
Membuka mata, Rifki memindahkan bantal pemisah antara dirinya dan Nina. Tanpa izin, dia menarik Nina, membawa wanita itu dalam pelukannya. "Kalau mau marah, nanti besok saja," kata Iki semakin membawa Nina dalam pelukannya.
Nina tersenyum kecil, tanpa ragu, dia berlindung dalam pelukan Rifki. Pagi keesokan harinya, Rifki sudah tidak ada di tempat tidur, Nyatanya dia di dapur sedang memanggang roti. Bahkan roti yang dia panggang adalah roti kesukaan Nina. Roti tawar ditaburi mesis di atasnya kemudian di panggang menggunakan pemanggang listrik.
Sementara Nina di atas sedang menyelinap ke rumah mereka. Dia mengambil seragam sekolahnya kemudian kembali ke kamar Rifki. Menemui Rifki di dapur, dia mendapati sahabatnya itu sedang membuat teh. Dia menghampiri kemudian memulai sarapan bersama.
Usai sarapan, Iki dan Nina ke sekolah. Tiba di sana, mereka disapa oleh Sinta dan Clara yang kebetulan baru saja datang. Tersenyum, Nina dan Iki membalas sapaan teman mereka itu. Belum juga masuk ke dalam kelas, tangan Nina ditarik oleh Zeto.
"Ikut aku sebentar," kata Zeto membawa Nina pergi.
"Kenapa kamu ikut?" tanya Zeto kesal.
"Karena kamu membawa sahabatku!" Iki menekan kalimatnya.
Cis! Zeto berdecih. "Sana masuk kelas! Ini urusanku dengan Nina, jadi jangan ikut campur!" tegas Zeto.
"Lepas nggak!" bentak Zeto.
"Iki, biarkan aku berbicara sebentar dengan Kak Zeto. Kamu duluan saja di kelas," ucap Nina.
Walau marah, Iki tetap meninggalkan Nina yang pergi dengan Zeto. Dia tak menyangka, Nina akan memilih Zeto daripada ikut dengannya. Masuk ke dalam kelas, Iki mengintip lewat jendela. Rahangnya mengeras saat melihat pemandangan di depan kelas dua jurusan Sekretaris.
tpi keren ceritanya tingkat kan