Ketika Cinta suaminya terbagi untuk orang lain, maka semua kebiasaannya mulai berubah.
Akankah Nigar akan mempertahankan haknya? Atau dia akan meminta berpisah dari suaminya ketika dia merasa tidak bahagia didalam pernikahan nya.
Ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mona Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Acara tujuh bulanan
Hari berganti bulan. Tanpa terasa kandungan Amora semakin besar. Hal itu semakin membuat Hansel dan ibu mertuanya memanjakannya.
Hari ini, seluruh keluarga besar Hansel diundang untuk merayakan acara tujuh bulanan Amora. Dan Nigar juga diundang di acara madunya tersebut.
Awalnya Nigar tidak mau datang karena sebagian besar keluarga Hansel tidak menyukainya. Tapi Amora sendiri mengundangnya secara langsung melalui telepon.
Mau tidak mau, Nigar akhirnya setuju untuk datang ke acara madunya tersebut.
Amora mengundang Nigar bukan tanpa alasan. Alasan utamanya adalah untuk membuatnya menderita dan mundur dari poligami ini. Sehingga Amora akan memiliki cinta Hansel seutuhnya jika dirinya mundur.
Nigar datang bersama Briana dan susternya. Ibunya tidak ikut karena kemarin kakinya keseleo sehingga dia tidak bisa menemani kesana.
Seluruh keluarga besar berkumpul dan ketika Nigar datang semua yang tadinya berbicara dengan riang terdiam dan menatapnya Briana dan susternya dengan pandangan menghina.
Nigar tetap berusaha tersenyum dan menghormati mereka semua.
Acara belum berlangsung dan semua masih ngobrol dan suasana begitu ramai. Namun Nigar serta Briana merasa tidak nyaman dan seperti terasing di tengah keramaian ini.
Nigar merangkul kedua bahu Briana dan Briana berdiri di hadapannya bersandar pada dirinya. Nigar bisa merasakan kesedihan hati Briana akan ketidakpedulian hampir seluruh keluarga Hansel pada kehadiran mereka.
"Ma...kita pulang saja...." Briana sudah tidak tahan berada disini.
"Jangan. Tunggu sampai acaranya selesai,"
"Mereka tidak peduli pada kita .." mata Briana mulai berkaca-kaca.
"Sabar ya. Itu ada papa Hansel..."
"Papa....." Briana menghambur ke arah papahnya dan tiba-tiba salah satu kakinya tersandung kaki salah satu keluarga Presdir.
"Off. maaf!"
Nigar segera mendekati putrinya yang tersungkur diatas permadani yang indah itu dan tidak ada satupun yang menolong Briana. Mereka semua hanya menampakkan wajah terkejut namun tidak mengulurkan tangannya.
"Bangun sayang....kamu tidak papa....?"
"Ayo kita pulang...."
"Briana...kau tidak papa?" Hansel mendekatinya.
"Pah...aku mau pulang ...."
"Tapi acaranya sudah mau dimulai. Tunggu ya..." Hansel akhirnya menemani Nigar dan Briana.
Dan saat ini Nigar merasa lebih baik, namun tiba-tiba nyonya Dave memanggil Hansel dan menyibukkan dirinya dengan beberapa ritual dan tamu yang datang.
Lagi-lagi Nigar merasa tidak nyaman namun tetap berdiri di acara tersebut.
"Itu istrinya Tuan Hansel kan? Yang janda itu?"
Celetuk salah seorang anggota keluarganya yang baru datang dari luar negeri dan baru pertama kali melihat Nigar secara langsung.
"Iya, itu orangnya,"
"Untuk apa dia datang kemari? Bukankah ini memalukan? Ini acara madunya, dan dia datang untuk kebahagiaan palsu ini...,".
"Sssttt...nanti dia dengar,"
"Jika aku jadi dia, aku tidak akan datang..." ucapnya dan saat itu Amora berdiri disampingnya.
"Aku yang mengundangnya..." ucap Amora lembut seakan dia begitu tulus menjadi madu Nigar.
"Apa? Tapi kau dan dia kan....".
"Aku tahu...aku istri muda dan dia istri pertama. Tapi...dia harus datang untuk melihat kebahagiaan ku. Aku juga harus membaginya denganya bukan?"
"Benar yang menantuku katakan. Kami ingin dia juga datang.." timpal nyonya Dave.
"Tapi aku dengar kau tidak menyukainya. Kau bahkan pernah mengusirnya bukan?"
"Kau benar. Karena itulah aku ingin dia mundur perlahan sebagai istri Hansel...."
"Ohhh ternyata kau masih tidak berubah...."
Mereka lalu tertawa mentertawakan Nigar dan Briana.
"Kau sangat licik!" ucap saudara iparnya.
"Jika tidak, aku tidak akan menjadi menantu disini!" balas Nyonya Dave ketika dia teringat bagaimana duduk dia juga tidak disetujui oleh mertuanya pada awal pernikahan nya.
Nigar semakin merasa asing ketika dia dan anaknya hanya berdiri di sudut ruangan besar itu.
Tidak ada satupun dari keluarga Hansel yang menyapanya dan menyuruhnya mendekat bergabung dengan mereka.
Lalu tiba-tiba, Ibu mertuanya datang dan hanya menyapanya sedikit dan sekarang Nigar sadar jika selama ini ibu mertuanya hanya berpura-pura baik saja padanya.
Merasa jika kehadirannya hanya untuk menjadi bahan tertawaan, Nigar diam-diam menyelinap diantara para tamu dan akan keluar lewat pintu utama.
"Mah....ayo kita pulang...."
Briana menarik tangan Nigar karena takut melihat tatapan semua orang pada mereka. Briana juga takut jika salah satu dari mereka ada yang akan menyakiti mamanya.
"Baiklah, ayo kita pulang,"
Dengan langkah gontai tak bersuara, Nigar mengajak anak serta susternya untuk kembali kerumah.
Hansel saat ini baru saja selesai melakukan sebagian ritual tujuh bulanan dan menoleh diantara semua orang yang hadir, mencari sosok Nigar istri nya.
Amora melirik padanya dan bertanya,"Kau mencari siapa?"
"Nigar. Aku tidak melihatnya...."
Hansel lalu bangun dari duduknya dan berjalan diantara para tamu yang hadir.
Dia berjalan ketempat Nigar tadi berdiri sampai seorang pelayan memberitahu nya jika Nigar baru saja pulang.
"Apa? Pulang?"
Hansel tertegun dan kecewa karena Nigar pulang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
lanjut
jangan lama² kalo bisa sehari 2x upnya