Pernikahan Lusia Mu dan Erald Liu, sebagai bukti konspirasi kerjasama dua perusahaan besar.
Tapi Lusia dan Erald, memiliki karakter yang sangat bertolak belakang, dan hanya saling mengira pernikahan ini hanyalah kontrak selama proyek berlansung. Proyek selesai, pernikahan pun harus berakhir.
Namun ayah Lusia meninggal tidak lama setelah hari pernikahan, dan telah mengubah wasiat pernikahan mereka harus berlangsung untuk selamanya.
Bagaimana dengan cinta baru yang datang? Aaron Shin, yang telah rela meninggalkan tunangannya hanya untuk merebut seorang wanita yang telah bersuami.
**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Dalam Vas Kaca
"Hmm ... karena Tuan meminta buru-buru, jadi aku mengambil acak."
'Acak!' Erald memutarkan bola matanya, menahan ledakan dalam hatinya.
"Mengambil acak? Membawakan seorang wanita tua untukku! kau terlihat sengaja ingin menjatuhkanku." — Erald mengacak pinggangnya— "Perempuan tua itu menyentuhku, bahkan berani mencium leherku ..., bukan hanya sekedar memeluk, seperti yang aku minta. Tetapi dia—" Erald melongos kesal dan memegang keningnya, memejamkan matanya, ingin menyurutkan emosinya jatuh ke dasar.
"Tidak bisakah, kau membawa yang lebih muda? Kau menjatuhkan imageku di hadapan calon istriku, yang bahkan setiap hari dapat menertawaiku di atas tempat tidur!" keluh Erald terlihat berang dan melepas satu kancing kerahya, dia terlihat gerah karena emosi terhadap sekretaris Lim, dan suara ejekan Lusia Mu terdengar membisikinya kembali.
'Seleramu sangat buruk, Erald Liu, jika memilih teman tidur berwajah tua seperti itu.'
Teringat akan satu kalimat itu, raut wajah Erald terlihat lebih hitam dan tatapannya telah memakan sekretaris Lim.
"Maaf ...." Sekretaris Lim menunduk dan sangat menyesal, dia melipat tangannya seperti anak kecil yang merasa bersalah.
"Siapa sih dia?" tanya Erald, jika mengingat dari segala yang dikenakan wanita paruh baya itu, bukanlah sesuatu yang tidak berkelas. Bahkan, Wanita berambut merah itu terlihat sangat kaya raya, dari banyak berlian edisi terbatas yang dia gunakan.
"Di-dia ada-alah ke-ka-kasihku!" lontar Sekretaris Lim terbata dan tidak berani mengangkat wajahnya.
Erald berjalan mendekat pada Sekretaris Lim, dan menepuk-nepuk pipi kiri dan pipi kanan Sekretaris Lim, "Kau belajar memberi bekasmu ..., rupanya kau-"
"Aku belum menyentuh, Ny. Shin ...., bagaimana di sebut memberi bekas dariku ...," sahut Sekretaris Lim.
"Kau!" Erald menaikkan lengan bajunya, dia ingin segera menampar dan memukul Sekretaris Lim.
Erald menghentikan aksinya, ketika ujung telinganya terlihat berkedut, dan samar-samar mendengar teriakan yang saling bersahutan.
"Kyaaaa ...!" teriakan Lusia terdengar familiar.
"Aaaaaaa ...!" si wanita rambut merah merah menjerit.
Erald bergegas keluar ruangannya, di susul Sekretaris Lim. Kala sepasang kaki mereka mencapai garis pintu. Pertarungan dua wanita itu, terlihat sudah usai.
Lusia berdiri dengan wajah angkuh dan aura arogansinya mengitarinya, dan ada satu vas di tangannya yang telah dia pegang bersamanya, hanya tersisa leher vas, sedangkan bagian vas lainnya telah berserak jatuh ke lantai.
"Apa yang terjadi?" Erald bertanya dengan suara yang terdengar membentak.
Gadis front office itu segera menjawab terbata, "No-nona muda Mu, me-me-mukul kepala Nyonya Presdir Shin!"
Presiden Shin.
Erald terlihat sedikit terkejut, ketika Diva Ann, menyebutkan identitas wanita berambut merah tersebut. Keluarga Shin , siapa yang berani berseberangan dengannya.
Lusia meremeh dengan ujung bibirnya yang dia naikan lebih miring ke atas, dan dia baru menyadari nama belakang wanita berambut merah, ternyata merupakan wanita berpengaruh di Asia, setelah suaminya meninggal secara misterius enam bulan yang lalu.
"Sekarang, kau tau identitasku. Maka tamatlah riwayatmu wanita kecil," ujar Elena menahan sesuatu di kepalanya, yang mulai terasa berat, dan menuntunya untuk tidur.
"Aku tidak takut pada Shin, kau hanyalah pewaris di atas kertas yang hanya menerima bunga kertas, bukan pewaris asli," jawab Lusia dan memainkan kukunya di hadapan wanita berambut merah tersebut. Karena menurut ayahnya David Mu, Elena Shin hanyalah singa betina tanpa gigi, kekuasaan Shin sesungguhnya terletak pada adik kandung Tuan Shin, yakni Ayron Shin.
"Kau ini ...," teriak Elena gusar. Tiba-tiba saja Elena memegang kepalanya, ada rasa nyeri di kepala bagian belakang, dan terasa sangat lembab dan basah ketika dia sentuh.
Sekujur tubuh Elena bergetar dan matanya melompat histeris, ketika telapak tangannya terlihat menempel bercak darah merah.
"Kau membuatku berdarah!" jerit Elena ketika membawa telapak tangannya berhadapan dengan sepasang matanya yang melebar seketika melihat bercak merah segar menempel pada telapak tangannya.
Elena terlihat linglung dan akan jatuh pingsan, sekretaris Lim segera pergi mendekat.
"Telepon ambulans sekarang," perintah Erald pada gadis Diva, gadis Front office.
"Seleramu sangat buruk, Erald Liu, jika memilih teman tidur berwajah tua seperti itu, " sindir Lusia pada Erald.
Sekretaris Lim melihat tubuh Elena akan tumbang, dia segera berlari berjaga di belakang tubuh wanita berambut merah tersebut.
"Gadis kecil! Sialan ... a-aku ...." Pandangan Elena, perlahan terlihat kabur, dan menjadi sangat gelap, dalam hitungan detik tubuhnya limbung ke belakang di sambut tangan sigap sekretaris Lim yang telah berjaga di sisi wanita berambut merah.
Lusia hanya menyipitkan matanya, dengan ekor matanya yang terlihat mengintip reaksi dan raut wajah Erald, melihat wanita berambut merah itu telah jatuh pingsan ke pangkuan seorang pria yang terlihat setengah paruh baya, dengan potongan rambut klimis yang terlihat sangat berminyak.
Tepatnya, Erald terlihat tenang, dan tidak memiliki rasa kasihan terhadap wanita berambut merah itu.
'Mengapa dia bisa setenang ini, padahal wanita simpanannya telah terluka? ' heran Lusia dalam hatinya.
"Lusia, apa yang kau lakukan?" Erald terlihat tidak senang melihat reaksi gadis itu pergi memandang tanpa ada potongan rasa bersalah. Tangan Erald mencengkram pergelangan tangan Lusia dengan sangat lembut awalnya, namun berubah menjadi sangat keras mencengkram seperti akan meremukkan tulang tangan gadis itu, sehingga gadis itu menjatuhkan leher Vas ke lantai.
Sinar amarah Lusia dari matanya terlihat surut, ketika vas leher itu jatuh ke lantai, menerbitkan keheningan untuk sementara waktu., dan juga mengungkit kesalahan pria itu dalam benak Lusia.
'Aku tidak akan melakukan hal ini, jika pria itu tidak bermain-main api dengan wanita tua ini,' geram Lusia dalam hatinya, dan sepasang matanya beralih memandang pria itu.
"Erald, apa yang kau lakukan tadi?" tanya Lusia, lalu mengakhiri kalimatnya dengan senyum mengejek dan sepasang mata yang bergantian memandang antara Erald dan wanjta berambut merah itu, "Dia mendapat karmanya, karena menganggu calon suami orang lain."
Lusia menghempaskan tangan pria itu, dan menyindirnya, "Tolong jaga mulut wanita tuamu. Aku tidak akan memukulnya, jika dia tidak mengataiku lebih dulu."
Kemudian, Lusia berjalan dan sengaja melangkahi tubuh wanita berambut merah. Sekretaris Lim mengerjapkan matanya, wajahnya terlihat cemas berubah takut akan kehadiran wanita yang di sebut-sebut sebagai calon istri Tuan muda Liu.
'Ternyata dia bukan calon istri di atas kertas mewah, yang terlihat manis dan penurut. Tuan Erald akhirnya mendapatkan karmanya. Dia monster.'
Lusia berlalu dengan perasaan acuh dan tidak acuh. Erald kembali pada gadis Front Office tersebut, dan bertanya, " Diva, Apa yang membuat Nona Mu, marah?"
Diva—Gadis front office itu terbata menjawab, "Nyo-nya Pr-es-esdir Shin ber-kata, ji-jika No-na muda Mu, hanyalah Bunga dalam Vas kaca, hanya untuk di pajang ... tanpa untuk di nikmati ke-haruman--nya."
(....)
**Bersambung
Noted:
Ada teman Jeje, yang meminta namanya masuk dalam peran novel ini. Welcome Diva Ann, akhirnya masuk dalam novel😁**