Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Misi 2 Selesai
Jawaban atas pertanyaan itu tidak datang malam itu.
Keira sudah menunggu layar ponselnya menyala lagi sampai hampir tengah malam, tetapi setelah story dengan emoji hati merah itu, Xavier tidak mengirim apa pun. Tidak ada penjelasan. Tidak ada chat sok santai seperti, `Kamu sudah lihat?` Tidak ada juga kalimat menyebalkan yang bisa Keira balas dengan pura-pura marah.
Yang ada hanya jantungnya sendiri yang ribut.
Maka tiga hari kemudian, ketika ia duduk di kelas Psikologi Hubungan untuk pertemuan kelima, Keira datang dengan dua hal di kepala.
Pertama, hari ini tugas Sistem Imitasi seharusnya selesai.
Kedua, Xavier Sia benar-benar orang paling menyebalkan di seluruh Bandung karena bisa membuat satu emoji hati terasa seperti ujian hidup.
"Lo dari tadi lihat jam terus," bisik Celine dari bangku belakang. "Takut sistem lo kedaluwarsa?"
Keira hampir tersedak air mineral.
"Cel," bisiknya tajam, "pelan."
Celine mengangkat kedua tangan, wajahnya datar seperti tidak bersalah. "Maksud gue deadline tugas Bu Ratna. Kenapa lo panik?"
Keira menatapnya beberapa detik, lalu memilih menyerah. Dengan Celine, berdebat kadang hanya membuat dirinya terlihat makin bersalah.
Di sebelahnya, Xavier baru datang. Kemeja putihnya digulung sampai siku, rambutnya agak basah seperti habis mencuci muka sebelum kelas. Ia meletakkan laptop di meja, lalu melirik botol air di depan Keira.
"Sudah makan?"
Pertanyaan itu pendek. Sangat Xavier.
Namun setelah pekan olahraga, pertanyaan pendek itu tidak lagi terdengar biasa.
"Sudah," jawab Keira. "Roti."
Alis Xavier turun sedikit. "Roti saja?"
"Roti itu makanan juga, Pak Dosen Gizi."
"Nanti habis kelas makan."
Keira membuka mulut, berniat membalas. Tetapi Bu Ratna sudah masuk, membawa map cokelat dan senyum yang membuat seluruh kelas mendadak duduk lebih rapi.
"Selamat siang semuanya. Hari ini pertemuan terakhir kita sebelum penilaian akhir kecil-kecilan," kata Bu Ratna. "Setiap pasangan akan menyampaikan rangkuman observasi. Bukan teori dari internet, ya. Saya mau dengar apa yang benar-benar kalian lihat dari partner kalian."
Beberapa mahasiswa langsung mengeluh pelan.
Kevin, yang duduk dua baris di depan, menoleh ke arah Xavier dengan senyum jahat. Xavier hanya menatapnya satu kali. Kevin langsung menghadap depan lagi, meski bahunya masih bergetar menahan tawa.
Keira menelan ludah.
Mereka memang sudah menyiapkan slide sederhana. Lebih tepatnya, Keira membuat desainnya, Xavier merapikan poin-poinnya, lalu mereka berdebat hampir satu jam hanya untuk memilih warna latar. Xavier bilang warna krem lebih aman. Keira bilang kelas psikologi bukan dokumen legal. Akhirnya mereka memilih hijau sage karena Xavier diam-diam mengakui itu cocok dengan gambar kecil Mochi di pojok slide.
Masalahnya, isi presentasi mereka terlalu nyata.
Bu Ratna memanggil beberapa pasangan lebih dulu. Ada yang kaku membaca teks. Ada yang terlalu banyak bercanda. Ada pula yang mengubah tugas menjadi sesi saling sindir sehingga satu kelas tertawa.
Ketika nama mereka dipanggil, Keira merasa telapak tangannya langsung dingin.
"Keira dan Xavier, silakan."
Xavier berdiri lebih dulu. Sebelum maju, ia menoleh dan mengulurkan tangan, bukan untuk menggenggam, hanya menunggu Keira berjalan di sampingnya.
Gerakan kecil itu tidak mencolok.
Tetapi cukup membuat dada Keira menghangat.
Di depan kelas, ia menancapkan flash disk ke laptop Bu Ratna. Slide pertama muncul. Judulnya sederhana: `Pola Kecil yang Tidak Selalu Terlihat`.
Keira mendengar beberapa orang berbisik.
"Aduh, judulnya sudah niat."
"Pasangan favorit Bu Ratna nih."
Keira pura-pura tidak dengar. Xavier jelas mendengar, karena sudut bibirnya bergerak sangat tipis.
"Kami memilih fokus pada kebiasaan kecil," mulai Xavier, suaranya tenang. "Karena menurut kami, orang sering menjelaskan dirinya lewat hal besar, tapi justru terlihat jujur lewat hal yang tidak disadari."
Bu Ratna mengangguk pelan.
Keira melanjutkan, "Contohnya, Xavier kelihatan cuek, tapi sebenarnya dia memperhatikan detail. Dia ingat siapa yang tidak bisa makan pedas, siapa yang mudah pusing kalau berdiri terlalu lama, bahkan posisi kursi yang paling dekat dengan jendela tapi tidak terlalu kena angin."
Kelas langsung mengeluarkan suara menggoda.
"Wuuu."
"Spesifik banget, Kei."
Telinga Keira panas.
Xavier menatap layar seolah-olah slide itu hal paling menarik di dunia. Tetapi ia tidak membantah. Tidak juga menjauh.
"Itu observasi," ucapnya datar.
"Iya, observasi mendalam," sahut Kevin dari depan.
Bu Ratna mengetuk meja ringan. "Kevin, nanti kalau mau jadi objek penelitian, daftar dulu."
Kelas tertawa.
Keira memanfaatkan tawa itu untuk bernapas. Lalu Xavier mengambil giliran.
"Keira terlihat banyak bercanda," katanya. "Tapi biasanya itu cara dia menutup sesuatu. Kalau dia takut, dia akan membuat lelucon. Kalau dia sakit, dia bilang cuma lapar. Kalau dia bingung, dia memilih menggambar atau mengalihkan topik."
Senyum Keira tertahan di bibir.
Satu kelas tiba-tiba menjadi lebih hening.
Xavier tidak melihat Keira saat mengatakan itu. Ia menatap slide, seolah sedang membacakan poin biasa. Namun suaranya lebih rendah daripada sebelumnya.
"Tapi dari tugas ini, saya belajar bahwa memperhatikan seseorang tidak selalu berarti mencari kelemahannya. Kadang itu berarti tahu kapan harus memberi ruang, dan kapan harus tetap berdiri di sana walaupun dia bilang tidak apa-apa."
Keira menggenggam ujung lengan kardigannya.
Kalimat itu masuk terlalu dekat.
Terlalu dalam.
Bu Ratna menatap mereka bergantian. Tatapannya tidak menggoda seperti teman-teman lain, tetapi hangat, seperti dosen yang melihat sesuatu lebih jauh dari nilai tugas.
Keira memaksa dirinya melanjutkan bagian penutup.
"Kesimpulan kami, hubungan bukan cuma soal komunikasi besar, tapi juga konsistensi kecil. Orang bisa bilang dia peduli, tapi yang lebih kelihatan adalah apakah dia tetap datang, tetap ingat, dan tetap memilih memperhatikan saat tidak ada yang menyuruh."
Ia berhenti.
Baru setelah suara tepuk tangan terdengar, Keira sadar presentasi mereka selesai.
Xavier mengambil flash disk, lalu berjalan di sampingnya kembali ke kursi. Bahu mereka hampir bersentuhan. Hampir saja. Namun kali ini Keira tidak menghindar.
Bu Ratna menulis sesuatu di catatannya, lalu tersenyum.
"Kalian berdua," katanya, membuat Keira menegakkan punggung, "observasinya sangat... mendalam."
Satu kelas kembali riuh.
Keira ingin menghilang ke dalam tas.
Xavier hanya berkata, "Terima kasih, Bu."
Tenang sekali.
Seolah Bu Ratna tidak baru saja mengubah kelas menjadi ruang interogasi hubungan.
Setelah semua pasangan selesai, Bu Ratna menutup pertemuan dengan pesan singkat tentang empati, batas, dan keberanian memahami orang lain tanpa memaksakan diri masuk ke hidup mereka. Keira mendengarkan sambil menatap layar laptop yang sudah mati.
Kelas ini selesai.
Lima pertemuan selesai.
Misi kedua selesai.
Ketika bel informal berbunyi dari ponsel salah satu mahasiswa, suasana kelas langsung pecah. Kursi bergeser, tas ditutup, suara obrolan memenuhi ruangan.
Xavier berdiri, tetapi tidak langsung pergi.
"Makan?"
Keira menatapnya.
"Kamu ini kalau ngajak makan selalu bentuknya interogasi, ya?"
"Kalau aku buat kalimat panjang, kamu tetap akan mencari alasan."
Keira tidak bisa membantah karena itu benar.
Mereka keluar dari kelas bersama. Celine sudah menghilang lebih dulu setelah mengirim satu pesan WA: `Gue pulang dulu. Jangan lupa sadar diri, kalian sudah kayak pacaran.`
Keira hampir menjatuhkan ponselnya.
Xavier melirik. "Kenapa?"
"Nggak. Celine sedang... menjadi Celine."
"Dia benar?"
Langkah Keira nyaris tersandung.
"Benar apanya?"
Xavier menatap lurus ke depan, wajahnya tenang, tetapi ujung telinganya sedikit merah. "Tidak jadi."
Keira menoleh cepat. "Eh, jangan begitu. Kalau sudah mulai, selesaikan."
"Kamu juga sering tidak menyelesaikan jawaban."
Serangan itu telak.
Keira menutup mulut.
Mereka berjalan sampai area parkir tanpa membahasnya lagi. Bandung siang itu mendung tipis. Udara lembap, bau aspal setelah gerimis semalam masih tertinggal. Xavier membuka pintu mobil untuknya, dan Keira duduk sambil pura-pura sibuk memasang seatbelt.
Selama perjalanan ke The Springs, lagu pelan mengalun dari speaker. Tidak ada obrolan panjang. Hanya Xavier yang sesekali bertanya apakah AC terlalu dingin, dan Keira yang menjawab tidak meski sebenarnya ia menarik lengan kardigan sampai menutup punggung tangan.
Lima menit kemudian, Xavier menurunkan suhu AC.
Keira menatap kaca jendela, menahan senyum.
Di lobi The Springs, Xavier berhenti di depan lift.
"Aku masak nanti malam," katanya. "Kalau kamu belum ada rencana."
Keira menekan tombol lift. "Aku mungkin harus mengerjakan tugas DKV."
"Bisa makan dulu."
"Kamu ini sekarang hobi menyuapi tetangga?"
"Tetangga tertentu."
Pintu lift terbuka.
Keira masuk lebih dulu, lalu berbalik. Xavier ikut masuk dan berdiri di sampingnya. Pantulan mereka muncul di dinding lift yang mengilap. Dua orang dengan jarak satu telapak tangan. Tidak cukup dekat untuk disebut berpelukan. Tidak cukup jauh untuk disebut biasa saja.
Ponsel tua di tas Keira tiba-tiba bergetar.
Tubuhnya menegang.
Xavier melirik. "Ponsel kamu?"
"Iya. Notifikasi... lama."
Ia menunggu sampai lift berhenti di lantai enam belas. Begitu pintu terbuka, Keira hampir melangkah terlalu cepat ke koridor. Xavier mengikutinya dengan tatapan bertanya.
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku masuk dulu sebentar."
"Keira."
Panggilan itu membuatnya berhenti di depan pintu apartemennya.
Xavier tidak mendekat. Ia hanya berdiri di depan pintu unitnya sendiri, satu tangan di saku celana, mata menatapnya lebih lembut dari yang sanggup Keira hadapi.
"Nanti malam," katanya, "jangan pesan makanan pedas."
Keira tertawa kecil, napasnya belum sepenuhnya rapi. "Iya, Pak Pengawas Lambung."
Baru setelah masuk dan mengunci pintu, ia mengeluarkan Nokia tua itu dari tas.
Layar kecilnya menyala dengan huruf hitam yang terlalu jelas.
`Misi 2 selesai.`
Keira menahan napas.
`Poin Kehidupan bertambah: 2 bulan.`
Kedua lututnya melemas sampai ia harus bersandar pada pintu.
Dua bulan.
Bukan dua hari. Bukan satu minggu seperti rasa takut yang selalu menempel di tulangnya.
Dua bulan.
Matanya panas begitu cepat sampai ia marah pada dirinya sendiri. Ia menekan punggung tangan ke bibir, mencoba menahan suara yang keluar. Di luar pintu, jarak antara apartemennya dan apartemen Xavier hanya beberapa langkah. Namun di dalam kepalanya, dua bulan terdengar seperti jembatan yang tiba-tiba muncul di atas jurang.
Layar berkedip lagi.
`Nilai Replika: 66%.`
Keira tertawa pelan.
"Enam puluh enam," bisiknya. "Aku sudah lebih dari setengah jalan."
Untuk pertama kalinya sejak diagnosis itu, angka di layar tidak terasa seperti hukuman. Angka itu terasa seperti kemungkinan.
Kemungkinan untuk menyelesaikan semester.
Kemungkinan untuk membuat webtoon yang selama ini hanya tersimpan di folder laptop.
Kemungkinan untuk menjawab pertanyaan Xavier tanpa merasa sedang menipunya dengan harapan palsu.
Namun layar Nokia itu belum selesai.
Satu pesan baru muncul.
`Misi 3: Pakai outfit couple bersama target, minimal 3 kali.`
Senyum Keira berhenti.
Ia membaca ulang pesan itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali, sampai kata `outfit couple` seperti menempel di matanya.
Outfit couple.
Bukan sekadar baju mirip.
Bukan kebetulan warna sama.
Bukan tugas pertama yang bisa ia sembunyikan dengan alasan selera fashion yang aneh.
Outfit couple berarti niat. Berarti terlihat. Berarti orang lain boleh menebak. Berarti Xavier harus tahu, atau setidaknya setuju.
Keira menatap pintu apartemennya.
Di balik dinding seberang, Xavier mungkin sedang membuka kemeja, mencuci tangan, atau mengecek isi kulkas untuk makan malam. Orang itu baru saja berdiri di sampingnya di lift, cukup dekat untuk membuat pikirannya kacau. Orang itu juga baru saja berkata `tetangga tertentu` dengan wajah seolah kalimat itu tidak berbahaya.
Keira menggigit bibir.
"Outfit couple," gumamnya, menatap layar kecil di telapak tangan.
Masalahnya, ia bahkan belum tahu mereka ini sebenarnya apa.