Zayn Adzriel, pria berumur 30 tahun yang sulit jatuh cinta karena pernah mengalami gagal percintaan sebab kurang gerak cepat mengungkapkan isi hati ke gadis pujaan. Hingga membuat Zayn akhirnya memilih menjomblo selama bertahun-tahun lamanya.
Hingga pertemuannya tak diduga dengan Lusy Fernandez, membuat cinta tumbuh di hati Zayn.
Namun, ada masa lalu yang membuat Zayn ragu. Akankah Zayn memperjuangkan perasaannya? Ataukah mundur saat tahu Lusy seorang singel Mom?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mudah digoda
Zayn dan Mila baru saja selesai makan siang, keduanya kini berjalan di lobi menuju lift untuk naik ke lantai tempat ruangan Zayn berada.
Sherly—model baru yang sejak kemarin tertarik dengan Zayn, terus memperhatikan pria itu. Bahkan kini dengan sengaja berjalan cepat ke arah Zayn yang akan masuk ke lift.
“Aduh!” Sherly pura-pura terkilir dan memegangi betisnya. Dia berhenti tepat di samping Zayn yang belum masuk lift.
Zayn dan Mila menoleh, melihat Shirly yang tampak merintih kesakitan. Wanita itu berpegangan pada dinding, sedangkan satu tangannya mengusap betis.
“Kenapa ini sakit sekali,” rintih Sherly. Saat satu tangan mengusap betis, ekor matanya melirik Zayn, berharap pria itu mau membantu dengan cara memapahnya, agar Sherly bisa menggoda.
Namun, sikap Zayn yang tak acuh dengan wanita, tentu membuat Sherly harus kecewa. Sherly tidak tahu jika Zayn bukanlah tipe pria yang mudah digoda atau jatuh hati sembarangan.
“Mil, bantu dia ke klinik, lalu ingatkan untuk berjalan dengan hati-hati, atau dia akan kehilangan kesempatan mendapatkan job.” Zayn bicara dengan nada suara datar, sebelum kemudian masuk lift.
“Baik, Pak.” Mila yang tahu betul bagaimana sifat Zayn, tentu saja tidak merasa jika atasannya itu kejam terhadap wanita.
Sherly terkejut mendengar ucapan Zayn, bagaimana bisa pria itu mengabaikan dirinya begitu saja, kemudian malah meminta orang lain untuk membantunya. Sherly ingin mencebik kesal, dirinya sudah berdandan cantik juga menyemprotkan parfum yang memikat, tapi gagal karena pria itu tak acuh.
“Saya bantu ke klinik,” ucap Mila sambil membantu Sherly.
Sherly mau tidak mau akhirnya menerima bantuan Mila, jangan sampai dirinya ketahuan jika berbohong karena mau ditaruh mana mukanya. Dia pun dipapah Mila dan berpura-pura jika kakinya sakit menuju klinik.
“Bagaimana bisa pria itu tidak tertarik sama sekali denganku. Apa jangan-jangan dia gay? Nyatanya dia masih sendiri di umurnya sekarang?” Sherly bergumam dalam hati karena merasa aneh dengan Zayn.
Mila pun membantu Sherly, sedangkan Zayn memilih menuju ruang kerjanya.
“Apa sangat sakit?” tanya Mila ke model perusahaan itu.
“Lumayan,” jawab Sherly sedikit ketus.
“Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Pak Zayn tidak suka dengan model yang ceroboh,” ucap Mila tanpa menoleh Sherly karena sebenarnya sudah bisa menebak jika model itu pasti berpura sakit hanya untuk menggoda Zayn.
Sherly melirik tajam Mila, semakin tidak senang karena dirinya harus berpura-pura sakit tapi yang membantu malah bukan pria yang diinginkan.
**
Zayn kembali ke ruangannya, hingga melihat jika pintu ruang kerjanya terbuka. Pemuda itu pun menyipitkan mata, lantas memilih masuk untuk melihat siapa yang ada di ruangannya.
“Hm … aku pikir kamu tidak jadi belajar menjadi model,” ucap Zayn saat melihat Zahra duduk di kursi kerjanya.
Zahra nyengir kuda, lantas berdiri dan menghampiri sang kakak yang baru saja masuk.
“Tadi aku ketemu teman sebentar,” kata Zahra menanggapi ucapan sang kakak.
“Teman? Cowok brengsek itu lagi?” tanya Zayn terlihat tidak suka.
Zahra mencebik, merasa kalau Zayn selalu saja curiga.
“Mana ada! Aku sudah ogah melihat wajahnya, bahkan nomor ponselnya pun aku blokir,” sanggah Zahra menjawab pertanyaan sang kakak.
Zayn tersenyum mendengar ucapan Zahra, lantas mengusap kasar rambut adiknya itu.
“Bagus, itu baru namanya adikku.” Puji Zayn sambil mengusap kasar pucuk kepala Zahra.
Zahra tersenyum lebar, lantas meminta tolong Zayn untuk menemaninya pergi ke bagian agency karena dia masih bingung. Mereka pun pergi ke bagian agency, lantas meminta agar Zahra bisa mendapatkan pelatihan khusus.
“Kamu benar-benar sudah yakin menjadi model?” tanya Zayn memastikan sekali lagi.
“Sangat yakin, hanya merasa jika pekerjaan menjadi model lebih terasa bebas,” jawab Zahra. Gadis itu mengalungkan tangan ke lengan Zayn.
“Hm … tapi ingat, bebas bukan berarti bergaul dengan bebas juga. Kamu harus tetap memiliki batas-batasan yang Mama dan Papa ajarkan,” ujar Zayn mengingatkan.
“Iya, aku tahu, Kak.” Zahra bergelayut manja di lengan Zayn, hingga membuat beberapa model dan staf melongo melihat keduanya.
“Apa itu kekasihnya?”
“Muda sekali?”
“Bisa saja, suka-suka pria tampan dan mapan mencari kekasih, ‘kan?”
Beberapa model yang baru saja terjun di perusahaan itu, saling bisik bergosip tentang Zahra yang begitu dekat dengan Zayn, serta tidak tahu kalau Zahra adalah adik direktur mereka.
Zayn mengantar Zahra sampai keluar gedung untuk mencari taksi dan memastikan sang adik pulang dengan selamat, hingga Sherly melihat keduanya dan memandang penuh rasa kesal sebab Zahra terus menggandeng lengan Zayn.
“Siapa gadis itu? Apa informasi kalau dia jomblo tidak benar?” Sherly bertanya-tanya dalam hati dengan tatapan masih terus tertuju ke Zayn dan Zahra.
tapi belum tentu juga sih itu penyebabny, tinggal nunggu hasilnya dulu berarti 🏃🏃
yang sabar, mungkin ga semudah itu
kali aja bisa sekalian jodohnya zahra hahahah
bodyguard++(++nya itu maksutnya suami) hihihihi
nah, bagus sih kalau Zahra masih mau model dikasih bodyguard.
tapi semoga aga Zahra ga khilaf pergi ke club lagi mentang² udah ada bodyguard, karna kan kita ga tau orang² yang iri dengan kita bakalan berbuat apa
🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀
my bodyguard my lovely