Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kedatangan Fanny
🍃🍃Pukul 07:30 pagi. 🍃🍃
Selesai memasak nasi goreng kampung buat sarapan aku dan Pak tua, aku duduk di kursi meja makan, kedua mata menatap lurus ke depan, tangan kanan menciduk dan memasukkan nasi goreng ke dalam mulutku yang tetap respon. Aku masih terus teringat ucapan Pak tua kemarin sore, saat dirinya tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping ranjang sambil berkata :
“Apakah wanita itu menghantui Anda?”
“Tidak mungkin! Tidak mungkin. Berhentilah berfikir yang aneh Vivana.” Gerutuku, kedua tangan memukul pelan kepala yang aku geleng 'kan.
“Assalamualaikum. Pagi Vivana, sayangku.”
Terdengar suara Fanny menggema memasuki ruang makan. Aku segera menoleh ke sisi kanan, kedua mata melihat Fanny kucir dua, topi pantai, baju kodok, dan tak lupa senyum manis menyapa diriku.
“Fanny!” Aku segera berdiri, kepala aku miringkan ke sisi kanan, melihat tubuh seorang pria di penuhi sayur-sayuran. Petai yang melingkar di jenjang leher, kedua tangan di penuhi plastik belanjaan yang terisi sayur dan berbagai macam ikan segar. “Baskara!” Aku segera melangkah mendekati Baskara yang terlihat susah payah membawa semua bahan belanjaan pesanan milikku buat Pak tua selama aku pergi meninggalkan dirinya.
Meski Pak tua terlihat aneh dan dingin kepadaku, tapi aku merasa tidak enak jika meninggalkan Pak tua sendirian di rumah tanpa memberinya stok makanan. Jika ingin membeli makanan jadi, pastinya sangat jauh dari sini dan butuh beberapa menit sampai ke warung makan.
Aku mengambil beberapa bungkus plastik dari tangan Baskara. “Kalian kenapa cepat sekali datang menjemput 'ku?” Tanyaku berjalan menuju kulkas pintu dua, dengan cepat kedua tangan menyusun sayur dan bahan masakan lainnya buat stok 1 atau 2 minggu khusus buat Pak tua.
“Karena aku sudah tak sabar untuk melihat kamu.” Sahut Fanny.
“Iya. Apa kamu tahu, Vivana? Jika Fanny ini sangat bawel dan terus saja bertanya tentang kamu, bilang rumah ini berhantu, suami kamu menyeramkan, dan juga ja…”
“Hei! Anak muda. Berhentilah membicarakan arwah orang yang sudah tiada. Jika kalian berdua tidak ingin terlibat, maka tetap diam dan berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang kejadian yang sebenarnya kalian ketahui.” Sambung Pak tua tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
Kami tercengang mendengar ucapan Pak tua, dan yang membuat kami bertiga sedikit tegang, dari mana dan sejak kapan Pak tua jalan melewati kami menuju khusus kamar mandi umum.
Pak tua benar-benar sangat misterius?
Aku segera menutup kulkas, kedua mata menatap Pak tua tanpa berkedip, ku langkahkan kedua kaki mendekati Fanny dan Baskara yang sedang duduk di kursi makan. Dimana Pak tua sedang berdiri di belakang mereka.
“Maksud Bapak apa ya? Kenapa Bapak selalu berbicara seolah Bapak mengetahui banyak hal tentang wanita itu?” Tanyaku, tubuh sedikit aku miringkan ke samping kiri.
“Tidak ada, aku hanya ingin mengingatkan kalian saja. Aku permisi pamit keluar dulu.” Sahut Pak tua sekali lagi menolak memberitahu diriku tentang dirinya yang seperti mengetahui tentang janda kembang yang sudah meninggal dunia.
Aku berjalan mendekati Pak tua, mengulurkan tangan kananku. “Pak! Tunggu.” Panggilku berusaha menahan Pak tua agar mau menceritakan sebagian peristiwa yang dia ketahui. Namun, Pak tua sudah melangkah cepat dengan kaki pincang.
Pak tua tidak menggubris panggilan ku, ia malah berjalan cepat dengan kaki pincangnya.
“Sudahlah Vivana, bagaimanapun Pak tua itu tidak akan memberitahu hal yang ia ketahui kepada kamu. Intinya sudah aku katakan jika rumah ini berhantu.”
Aku menarik kursi di sisi kiri Fanny, dagu ku menopang di kedua tangan yang aku letakkan di atas meja, kedua mata menatap lurus ke arah Fanny yang terlihat serius menatapku. “Kamu benar Fanny. Semenjak aku tinggal di rumah ini aku terus di teror oleh setan wanita itu, wajahnya pucat dan.... seram pokoknya.” Aku memegang punggung tangan kanan Fanny yang terletak di atas meja. “Fan! Bantu aku untuk menyelidiki semua ini, karena aku tidak tahan di teror oleh setan wanita yang selalu berkata ‘KEMBALIKAN’, aku beneran tidak tahu barang apa yang harus aku kembalikan padanya.”
Aku tak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi, kecuali sama Fanny, dan Baskara. Aku hanya bisa berharap sama mereka yang selalu menerima dan membantu diriku.
Fanny mengangguk, tangan kirinya membalas pegangan tanganku. “Kamu tenang saja.”
“Iya, Vivana. Kamu tenang saja, kami akan selalu siap membantu diriku kamu. Itulah gunanya sahabat+teman.” Sambung Baskara ikut meletakkan telapak tangan kanannya di atas punggung tangan kanan Fanny.
Aku mengulas senyum tipis, air mata bahagia keluar seakan turut serta bahagia melihat diriku bahagia.
“Kenapa jenjang leher kamu memerah Vivana?” Tanya Fanny tak sengaja menatap jenjang leherku yang memerah bekas genggaman kedua tangan Barra yang hendak mencekik diriku saat tak sadarkan diri sewaktu dirasuki setan wanita tersebut.
Aku segera menutup bekas tersebut dengan rambut panjang 'ku. “Oh! Ini hanya alergi saja, maklumlah rumah lama.” Sahutku berbohong. Aku tak ingin Fanny kepikiran saat melihat semua bekas luka yang aku dapatkan. Aku segera berdiri, tangan kanan mengarah ke anak tangga. “Mari bantu aku mengambil barang yang berada di dalam kamarku.” Ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Ok.” Sahut Fanny semangat, tangan kanan menepuk bahu kiri Baskara. “Kamu tunggu di sini saja ya, sayang.”
"Hem." Sahut Baskara mengangkat, bibir tersenyum manis.
Aku dan Fanny melangkah meninggalkan Baskara yang masih duduk di kursi ruang makan. Sebenarnya aku sudah mengemas barang milikku tadi malam, cuman ada barang yang membuat aku bingung, jadi aku putuskan menunggu bertanya kepada Fanny dulu sebelum membawanya. Barang itu adalah kotak perhiasan pemberian Barra.
“Dasar wanita.” Gerutu Baskara pelan. Baskara menaikkan bahu kanannya, tangan kanan mengelus lembut bagian tekuk dengan bulu kuduk naik. “Kenapa aku merasakan ada hawa dingin dan kenapa bulu kuduk ku merinding.” Ucap Baskara menatap sekeliling ruang makan, tapi tak melihat siapa pun. Baskara semakin bergidik ngeri, ia langsung berdiri. “Sebaiknya aku pergi saja.” Ucapnya meninggalkan dapur dalam wajah ketakutan.
Saat Baskara meninggalkan ruang makan, terlihat setan wanita berdiri di dekat kulkas, setelah itu menghilang.
.
.
.
🍃🍃Di dalam kamar. 🍃🍃
Aku mengambil kotak perhiasan yang cukup besar dengan pahatan yang terukir indah di sekeliling kotak, aku berjalan mendekati Fanny yang sedang duduk di atas lantai marmer, kedua tangan menyusun barang milikku yang belum aku rapihkan.
“Fanny.”
“Iya.” Sahut Fanny menolehkan wajahnya ke sisi kanan, di mana aku sedang jongkok, kedua tangan memegang kotak perhiasan. Jari telunjuk tangan kanan Fanny mengarah ke kotak perhiasan yang aku pegang. “Apakah di dalam kotak itu semuanya berisi perhiasan yang di berikan Barra pada kamu sebagai mahar pernikahan?” Tanya Fanny serius.
Aku menggeleng. “Tidak mahar saja yang ada di dalamnya, tapi ada beberapa kado spesial yang di berikannya kepadaku.”
“Kado spesial?”
“Iya.” Aku membuka kotak perhiasan, terlihat kilauan terpancar dari dalam kotak perhiasan. Aku dan Fanny menatap sangat dekat, bibir Fanny menganga melihat semua perhiasan mewah yang berada di dalamnya.
“Mahar Mewah.”
...Bersambung...
makanya datang terus meneror
sereeeemmm