Aku mencintai suami sahabatku
Nur bertekad menjadi noda dalam pernikahan Reza dan Tanti. Reza adalah mantan kekasihnya, sedangkan Tanti adalah sahabatnya.
Nur rela menceraikan suaminya atas perintah Reza. Namun, Reza mengingkari janjinya. Ia tak mau melepaskan Tanti dan tak ingin kehilangan Nur dua kali.
Apakah Nur akan tetap menjadi noda dalam perkawinan Reza dan Tanti? Atau justru menyerah dan melepaskan cinta pertamanya bersama wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pov Tanti
Aku tahu Mas Reza berbohong. Dia pasti akan menemui Nur, bukan pergi ke kantor untuk bekerja. Mana mungkin dia akan bekerja dengan pakaian yang sudah dipakai sejak kemarin. Bahkan ia belum mandi. Aku tidak sebodoh itu, Mas!
Hatiku tak sekuat baja. Ibarat sebuah kertas yang sudah diremas-remas, kau mencoba untuk merapikannya pun akan tetap terlihat kusut. Begitu juga kepercayaan di antara mahligai rumah tangga kita. Aku tidak tahu sejak kapan kau menghianatiku. Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri perselingkuhan itu yang membuatku tak percaya lagi denganmu.
Aku mencoba tegar menghadapi masalah rumah tangga ini. Seolah-olah aku kuat dan terima jika Mas Reza telah berkhianat. Tetapi hatiku sangat sakit, begitu sakit sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku kira rasamu juga sama. Tapi setelah aku melihat dia begitu mesra dengan Nur, perasaanku mulai memudar. Meski pun tak ku pungkiri masih ada sisa cinta di hatiku untuknya. Tapi rasa kecewa ini terlalu besar, bahkan mungkin bisa membuat rasa cintaku padanya menjadi rasa benci sampai ingin sekali menghancurkan hidupnya agar tidak pernah merasakan bahagia.
Terkadang aku berpikir Mas Reza mencintaiku. Buktinya dia merasa cemburu ketika aku membahas tentang Fadli. Tetapi di sisi lain tiba-tiba saja sikapnya berubah. Seperti saat ini. Mana ada suami yang tega meninggalkan istrinya sendirian di rumah ketika istrinya baru saja pulang dari rumah sakit dengan kondisi yang belum fit, lemah, pucat dan setelah merasakan kehilangan yang luar biasa setelah keguguran untuk yang ketiga kalinya.
Tanpa terasa air mataku meluncur membasahi pipi. Aku terduduk di sofa seraya mengingat kejadian di rumah sakit. Di mana Mas Reza dan Nur saling merangkul dengan mesra.
Aku masih penasaran apa yang terjadi dengan Nur, sampai Mas Reza membawanya ke poli kandungan. Apakah benar dugaan Fadli jika Nur hamilm Entahlah, masalah ini harus diselidiki.
Suara deru motor yang berhenti di halaman membuatku segera menghapus air mataku. Aku menoleh ke arah pintu yang masih terbuka. Rupanya ibu dari Fadli yang datang.
Aku bahagia memiliki orang-orang yang baik terhadapku. Seperti Fadli dan ibunya. Orang yang sama sekali awalnya tidak ku kenal, tapi mereka tulus membantuku karena iba dengan kisahku.
Tuhan Memang adil. Di saat dua orang yang sangat dekat denganku menghianatiku. Dia kirimkan lagi orang yang membantuku untuk mengatasi masalah ini. Terima kasih Tuhan!
Aku berjalan menghampiri ibu Fadli. Bahkan aku tidak tahu siapa namanya, tapi aku merasa nyaman ketika berbincang dengannya.
"Ibu benar-benar datang?" kataku seraya menjemputnya di depan teras.
"Tentu saja, Tanti. Entah kenapa ibu merasa ingin terus dekat denganmu. Padahal ibu baru mengenalmu kemarin malam kan?"
"Iya, Bu. Tanti juga merasa nyaman sekali dengan ibu. Terima kasih sudah membantuku, Bu."
"Aku bosan mendengar ucapan terima kasih darimu. Sudah berapa kali kamu katakan itu?"
Aku terkekeh mendengar jawaban Ibu dari Fadli. Lantas ia memberiku makanan yang tersimpan rapi dalam rantang susun.
"Apa ini, Bu?" tanyaku setelah menerima rantang susun itu.
"Makanan bergizi untuk kamu. Di mana suamimu yang brengsek itu?"
"Dia baru saja pergi. Sepertinya akan menemui selingkuhannya."
"Dia pergi ketika istri baru pulang dari rumah sakit? Laki-laki macam apa dia yang lebih mementingkan selingkuhannya daripada istrinya yang sedang sakit?"
"Itu baru dugaanku saja, Bu. Tapi sepertinya memang iya. Karena mana mungkin suamiku pergi ke kantor tanpa mandi dan mengganti pakaian yang sudah dipakai sejak kemarin."
"Astaga! Kasihan sekali kamu, Tanti. Sepertinya kisahmu lebih tragis dari kisah ibu dulu."
"Ayo masuk, Bu!" Aku mengajak Ibu Fadli masuk ke dalam rumah. Lantas aku membuka rantang susun itu yang ternyata berisi makanan-makanan yang membuatku langsung merasa lapar.
"Apa Ibu tidak membawa nasi?" tanyaku setelah membuka semua rantang itu dan ternyata tidak ada nasinya.
"Jangan bilang kamu tidak punya nasi, Tanti!"
"Aku kan baru pulang, Bu. Aku belum sempat memasak."
"Ya ampun, kasihan sekali kamu. Kamu masih pucat, pasti kamu masih lemah. Di mana dapurmu? Biar ibu saja yang masak."
"Tapi apa tidak merepotkan?"
"Sama sekali tidak, Tanti. Sudah lama Ibu ingin memiliki anak perempuan. Ibu sudah bertahun-tahun hidup berdua dengan Fadli setelah ayahnya menghianati ibu. Bahkan di saat usia Fadli sudah 30 tahun, dia belum juga memiliki istri. Itu membuatku semakin kesepian."
Ibu Fadli benar-benar baik. Dia mengurusku layaknya anaknya sendiri. Bahkan ia terus menemaniku hingga sore datang dan Mas Reza tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Berkali-kali aku melihat layar ponselku. Tak ada pesan atau pun panggilan dari suamiku.
Ingin rasanya aku mencoba menghubungi salah satu teman kerjanya di kantor untuk menanyakan keberadaan suamiku. Tapi ku urungkan niatku. Aku memilih untuk diam dan mencoba mengabaikannya hari ini. Karena semakin aku memikirkannya, hatiku semakin sakit. Membayangkan hal yang tidak-tidak antara Mas Rezaa dan Nur.
Ibu Fadli sedang membicarakan masalah perselingkuhan bertahun-tahun yang lalu yang membuatnya hidup menjanda dan kesepian. Tiba-tiba saja Fadli datang. Rupanya dia ingin menjemput ibunya pulang.
"Fadli, masuklah!" kataku ketika melihat Fadli berdiri di teras rumah.
"Apa kau hanya dengan ibu di rumah?"
"Iya, setelah mengantarku ke rumah, suamiku langsung pergi dan belum kembali sampai saat ini. Kenapa kau berdiri saja di situ? Ayo sini masuk! Duduklah bersama ibu."
"Tidak, Tanti. Di rumah ini tidak ada suamimu. Aku tidak enak jika harus masuk."
"Lalu bagaimana dengan sandiwara kita jika kau selalu tidak enak hati, Fadli? Bukankah kita akan berpura-pura berselingkuh dibelakang Reza dan Nur?"
"Jadi tidak apa-apa aku masuk?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Ayolah masuk! Kita harus menyusun rencana untuk ke depannya bukan?"
"Ya sudah, aku masuk. Tapi tidak jadi, ah."
"Sini masuk!"
"Tidak, Tanti!"
"Masuk!"
"Tidak!"
"Masuk!"
"Tidak!"
"Cukup! Jika kau terus menolak untuk masuk, ibu akan menyeretmu, Fadli! Cepat sini masuk!" Ibu Fadli sedikit membentak putranya, sampai akhirnya pria dengan gigi gingsul itu masuk dan duduk di samping ibunya.
"Jangan kau ajak ibumu pulang dulu, Fadli. Biarkan dia menemaniku sampai suamiku pulang," kataku seraya memohon.
"Jika suami tidak pulang apa kau akan membiarkanku menginap juga di rumahmu?"
"Iya."
Mendengar jawabanku, Fadli hanya menepuk jidatnya dengan tangannya. Membuatku dan ibu Fadli tertawa.
"Meski pun kalian hanya berpura-pura berselingkuh, tapi ibu merasa kalian itu cocok. Tingkah kalian sungguh menggemaskan. Mengingatkan ibu saat muda dulu," kata ibu Fadli.
"Ibu ini bicara apa? Jangan membuatku malu. Tanti sudah bersuami, Bu," jawab Fadli.
"Sebentar lagi Ibu yakin Tanti akan jadi janda. Ibu sudah memberikan lampu hijau jika kalian benar-benar jadian."
Kata-kata Ibu Fadli membuatku tersipu dan Fadli yang terlihat salah tingkah. Aku belum memikirkan hal itu. Tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Jika pun Fadli jodohku, aku berharap agar dia menjadi suami yang baik. Jika pun dia bukan jodohku, aku tetap berterima kasih karena Tuhan telah mempertemukan dan memperkenalkannya kepadaku sebagai malaikat yang membantuku menyelesaikan masalah perselingkuhan Mas Reza dan Nur.
Kami bertiga terus bercanda membahas hal-hal yang tidak penting. Yang jelas aku tahu Fadli dan ibunya mencoba menghiburku. Sampai akhirnya mobil Mas Reza tiba-tiba memasuki halaman.
Candaan kami terhenti seketika. Aku menatap ke arah pintu yang terbuka, menatap langit yang mulai senja dan juga menatap Mas Reza yang mulai keluar dari mobil dengan raut amarahnya.
Apa yang akan Mas Reza lakukan dengan Fadli?
Bersambung
Like dan komen dong! Biar aku semangat ....
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu