Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya diejek dan ditindas orang lain karena menyembunyikan identitasnya?
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADIK SI IKAN PARI
"Apa kamu tidak malu memperlakukanku yang belum tentu bersalah seperti ini?"
"Tidak salah katamu? Ini juga hasil perbuatanmu." Menunjuk pada luka dikeningnya akibat lemparan kaleng. "Orang miskin yang kuliah di kampus ini memang seperti sampah yang suka membuang sampah sembarangan."
"Lalu ini.... Kamu sudah mencakarku sampai seperti ini." Melvin menunjukkan lengannya.
"Kamu juga tadi mencekikku!"
"Sampai aku tahu kalau pemilik buku itu adalah kamu, aku bersumpah akan mencekikmu sampai mati."
"Dasar gila!" teriaknya.
Ruby merasa seperti kue lemper yang menempel pada tiang bendera. Orang-orang sudah mulai memperhatikannya. Bahkan ada dosen yang lewat juga hanya menoleh sebentar lalu berjalan pergi seperti tak tertarik untuk ikut campur. Benar-benar luar biasa kampus yang satu ini. Ia ingin terkekeh jadinya.
"Ada apa ini?"
Reino yang baru datang masih belum tahu duduk permasalahannya. Ia heran saja saat keluar dari perpustakaan, orang-orang ribut membicarakan tentang kakaknya dan lapangan. Ternyata ada orang yang hari ini membuat kakaknya marah.
Melvin mendekati adiknya, "Kamu lihat ini? Ini? Dan ini?" ia menunjukkan luka-luka yang baru saja ia terima. "Ini perbuatan wanita bar-bar di belakang sana." Melvin menunjuk ke arah Ruby.
Reino melirik ke arah sana. Ia sampai menyipitkan mata karena sepertinya ia pernah melihatnya. Dia mirip dengan seseorang yang sudah sering ditemuinya. Tapi, ia belum yakin karena penampilannya sangat berbeda. Ibaratnya ini versi miskinnya. Jadi tidak mungkin rasanya si ratu pesta yang hobi kabur itu berpenampilan lusuh seperti itu. Mungkin mereka memang hanya mirip.
Sementara, Ruby juga kaget melihat Pangerannya ada di sana. Matanya sampai dibulatkan agar lebih jelas melihatnya. Tidak bisa dipercaya ternyata Pangerannya adalah adik dari Si Ikan Pari tak berakhlak. Mana bisa orang selembut dia punya kakak yang berhati iblis. Ruby pasti salah lihat.
"Baca ini." Rafa memberikan buku itu kepada Reino.
Lalu, buku itupun dibuka. Reino membuka beberapa lembar terakhir dari buku itu dan membacanya. Dia sudah bisa mengira kalau kakaknya bertingkah seperti itu lagi karena hal itu. Ada lagi yang membahas tentang keluarganya. Kenapa orang sangat suka mengurusi kehidupan orang lain?
"Ayo kita pergi. Kelas kita akan dimulai." ajak Melvin.
Sebelum pergi Reino sempat menoleh ke belakang. Matanya sempat bertemu dengan Ruby. Keduanya saling berpandangan dalam diam. Lalu, Reino memalingkan wajahnya dan kembali berjalan pergi bersama kakak dan teman-temannya.
Ruby tersenyum getir. Ia merasa bodoh sudah menganggap orang itu benar-benar Pangeran dan akan menolongnya.
Langit tiba-tiba menjadi sangat mendung sementara tubuhnya masih terikat kencang di tiang bendera. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu waktu hukumannya habis. Katanya jam 12 siang baru ia akan dilepaskan. Hari ini sudah dapat dipastikan ia tidak bisa mengikuti kuliah perdananya.
Dari arah depan, terlihat Yorin berlari terburu-buru ke arahnya.
"Ruby.... Oh, Ya Tuhan.... ” ucapnya dengan ekspresi kecemasan di wajahnya.
Ingin sekali ia melepaskan Ruby dari sana. Tapi, di situ ada selembar kertas "TAHANAN DKK". Dia akan ikut mendapatkan masalah kalau menentang mereka.
"Sudah aku bilang kan, jangan kemana-mana.... Malah kamu bertemu mereka.... Sekarang aku harus bagaimana?"
"Hahaha.... "
"Kok kamu malah tertawa....?"
"Hahaha.... Tidak apa-apa, aku hanya merasa lucu saja. Hari pertama kuliah langsung jadi mummi seperti ini."
Sebenarnya dia tertawa sekaligus menangis dalam hati. Kecewa karena Pangeran yang ia kenal selama ini jauh dari ekspektasi.
"Sudah sana, masuk kelas. Sebentar lagi jam kuliah kan dimulai."
"Ruby.... Kamu membuatku merasa bersalah."
"Aku tidak apa-apa. Pergilah.
Yorin memandangi wajah temannya dengan seksama, ada rasa iba melihat teman baiknya terikat seperti itu, ”Langit mendung, bagaimana kalau nanti turun hujan? Bagaimana kalau kamu sakit?”
”Aku orang yang kuat, jangan cemas.”
”Teman seperti apa aku ini kalau tidak mencemaskan temannya yang sekarang sedang diikat seperti tahanan yang akan dieksekusi!” ujar Yorin dengan kesal karena tak dapat berbuat apa-apa untuk temannya.
”Pergilah sebelum Si Ikan Pari tahu. Aku akan baik-baik saja, percayalah.... "
"Maafkan aku." Yorin menunduk. Ia berbalik lalu berjalan pergi meninggalkan Ruby dengan perasan bersalah.
Ruby tetap berusaha tersenyum, meskipun sebenarnya ia sangat malu menjadi tontonan hingga rasanya ingin menangis. Betapa aneh keadaannya sekarang. Seperti binatang yang dicancang pada sebuah tiang. Langit yang mendung seperti keadaan hatinya sekarang. Sedih, malu, kesal, dan marah bercampur menjadi satu.
Sementara itu, dari balik kaca jendela ruang perkuliahan di lantai lima, Reino terus memandangi gadis yang sedang terikat di tiang bendera halaman kampus. Dosen yang sedang menerangkan di depan kelas sama sekali tak ia dengarkan. Pandangannya terus tertuju pada gadis itu. Hasil perbuatan kakak dan teman-temannya itu bukannya membuat ia senang, tapi justru membuatnya iba. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Bukan tanpa alasan ia tak mau menolong gadis itu. Tapi ia sungguh terkejut hingga hampir tak bisa bernapas ketika melihat gadis itu ada di kampusnya. Gadis yang sangat ia kenal. Gadis yang selalu ia temui dengan cara yang unik. Gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya meskipun sudah sekitar delapan tahun saling mengenal.
Ia begitu kaget hingga seluruh tubuhnya seakan kaku tak berdaya. Ia hanya bisa mematung melihat kakak dan teman-temannya memperlakukan sahabat rahasianya dengan kasar. Tak mungkin ia terang-terangan membela gadis itu di depan anak-anak DKK yang selalu melindunginya. Mereka bersikap seperti itu kepada gadis itu juga untuk membelannya, seperti yang sering terjadi. Meskipun sebenarnya cara mereka tak membuatnya merasa lebih baik.
Reino terus melihat ke luar jendela. Gadis itu tampak kecil di matanya. Gadis yang dulu sangat suka menangis karena jatuh dari pohon dan selalu ia beri coklat setiap kali ia menangis itu kini sedang tersiksa di bawah sana. Ingin ia mendekati gadis itu, tapi tak mungkin. Ia masih belum siap mendengarkan apa yang nanti akan dikatakan Melvin jika ia menolong gadis itu.
Langit semakin kelam diselimuti awan hitam. Titik-titik hujan mulai turun, lama kelamaan semakin deras. Perasaannya terhenyak melihat hujan mengguyur tubuh gadis yang terikat di tiang bendera. Pikirannya kacau oleh suara-suara yang berasal dari hati dan egonya. Di satu sisi tentu saja ia ingin menolong gadis yang pastinya kini sedang merasa kedinginan itu. Di sisi lain, ia masih belum siap melihat ekspresi wajah teman-temannya jika mengetahui apa yang dilakukannya.
Guyuran hujan semakin deras. Suara sang dosen juga semakin terdengar keras. Otaknya serasa ingin meledak.
”Brak!” Reino memaksa dirinya berdiri. Semua orang memandang ke arahnya, termasuk sang dosen.
”Reino, ada apa?” tanya sang dosen.
Reino terdiam membisu seperti patung. Ia tak memikirkan kalau ia sedang menjadi pusat perhatian. Dilema dalam pikirannya semakin membuncah. Tanpa berkata apapun, akhirnya ia keluar dari ruang perkuliahan. Semua orang yang berada di sana memandang penuh keheranan dengan seribu tanya di benak mereka. Reino memang terkenal pendiam. Namun belum pernah dia berlaku kurang sopan dengan keluar kelas tanpa ijin seperti sekarang.
calon mertua/Tongue/