Layani aku kapan pun di mana pun aku mau sebagai mana layak nya seorang istri yang baik sampai waktunya tiba aku akan menceraikan mu.
Arinda Maharani gadis 18 tahun, yang terpaksa menggantikan mempelai wanita untuk menikah dengan anak majikan ibu nya.
Bagas Airlangga Kusuma 30 tahun pria arogan ,keras kepala dan juga tempramen. Mau tidak mau ia harus menikah dengan anak dari pembantu karena di tinggal kan kekasih nya di saat pernikahan mereka kurang dua hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhauna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
luar biasa
Kini Arin mendekat ke arah Bagas namun ia tetap menggulung diri nya menggunakan selimut.
"Buang selimut itu."
"T-tapi A-arin dingin ,pak. Arin gak biasa dengan suhu ruang yang terlalu dingin." kilah nya padahal di kampung nya udaranya sejuk bahkan menjurus ke dingin.
"Jangan banyak alasan, saya yang buang atau kamu."
"B-baik pak ,tapi jangan di buang pak , Arin lepas saja."
Bagas menarik nafas nya dalam-dalam. Memanglah arti yang bagas ucapkan buang adalah melepas kan lilitan selimut tersebut dari tubuh nya bukan di buang dalam arti buang ke tempat sampah. Arin saja yang memang lambat.
Kemudian kini Arin benar-benar melepaskan selimut tersebut. "Arin tarok di sini ,ya pak." seru nya setelah melipat selimut tersebut.
Tentu Bagas menelan ludah nya kasar melihat Arin yang nampak seksi dalam balutan lingerie berwarna merah menantang
Astaga benar-benar Bagas menikahi seornag bocah ingusan yang masih polos.
"Cium saya!"
"Ha??"
"Kamu tuli? Cium saya sekarang juga. Sebagai mana seorang istri mencium suami nya."
Kini jantung Arin berdetak lebih cepat bahkan rasa nya jantung nya sudah bergeser dari tempat yabg seharus nya.
Kemudian Arin menempelkan bibir nya pada bibir Bagas selayak nya kecupan.
"Itu bukan ciuman, tapi kecupan."
"Apa beda nya pak?"
"Jelas beda. Begini cara yang benar." Seru Bagas sembari menarik tengkuk Arin lalu mulai mengecap bibir manis berwarna pink natural tersebut. Arin yang masih kaku hanya terdiam dan masih tetap menutup bibir nya. Lantas Bagas mengigit Bibir Arin dan membuat Arin otomatis membuka mulut nya. Baru lah lidah Bagas mulai menjelajahi rongga mulut Arin sampai Arin mulai kehabisan napas.
Setelah Bagas melepas kan ciuman tersebut lantas Arin mulai meraup oksigen banyak-banyak.
Berbeda saat malam pertama beberapa hari lalu yang kasar dan buas layak nya predator yang tengah menikmati mangsa ny, kini Bagas memperlakukan Arin dengan lembut saat berciuman membuat Arin sedikit luluh dan sempat mengalungkan tangan nya ke arah pinggang Bagas.
Kemudian Bagas kembali meraup bibir Arin lalu merebah kan nya. Tak tinggal diam tangan Bagas kini menyelusuri dada Arin lalu memainkan nya membuat Arin meloloskan suara erotis.
Lantas ciuman tersebut turun dan Bagas memberikan banyak jejak di setiap jengkal tubuh Arin.
Dan Kini Bibir Bagas telah sampai pada dua bukit indah nan cantik namun berukuran di bawah rata-rata para wanita yang pernah menjadi teman ranjang nya lalu menghisap dan memainkan secara adil namun tidak beradab.
"P-paaakkkk.....ughhhh......g-geli....pakk....arggh." Kata tersebut lolos begitu saja dari bibir mungil Arin di iringi jambakan halus pada rambut Bagas.
Kemudian tangan nakal Bagas kembali meraba turun mencari sesuatu yang beberapa hari lalu memberinya suatu nikmat yang baru pertama ia rasakan kemudian lagi-lagi ia memain kan nya sampai-sampai menggelinjang dan mengangkat pinggulnya saat merasa ada sesuatu yang hendak meledak dari dalam diri nya.
"P-paaakkk...B-agasssshhhhh...arrrrrrgggghh"
Bagas menyeringai licik ,ia merasa bahwa ia sudah berhasil memancing gadis tersebut.
Lantas Bagas yang tak tahan mendengar suara horor Arin langsung menuju permainan utama membenamkan dirinya pada Arin. Tentu yang kali ini terasa beda bagi Arin dengan yang pertama beberapa hari lalu.
Walaupun masih awal nya sedikit sakit namun seiring pergerakan Bagas rasa sakit tersebut hilang di ganti dengan rasa yang luar biasa yang tak bisa Arin ungkap kan dengan kata-kata.
Sungguh si pemain handal yaitu Bagas berhasil membuat si polos Arin berkali-kali menjerit. Sampai akhirnya jeritan terakhir bersamaan dengan erangan Bagas saat keduanya berhasil menggapai bulan bersamaan.
"Mengapa bapak mengajak Arin melakukan nya lagi, bukan nya bapak tidak suka pada Arin?" tanya Arin polos sepolos tubuh nya yang tanpa sehelai benang.
"Yang penting mau sama mau kenapa harus ada rasa suka dan yang lain."
Benar-benar Bagas ini adalah manusia titisan kerak neraka yang tak berperasaan mampu mengatakan hal tersebut.
"Kamu tidak perlu banyak tanya, toh kamu juga menikmati nya ,kan?"
Tidak munafik apa yang Bagas katakan benar ada nya. Permainan kali ini Arin benar-benar membuat Arin gila.
****
Pukul delapan pagi mereka belum juga terjaga. Dan hak tersebut membuat mama Vina kegirangan ia yakin sudah berhasil membuat Bagas dan Arin melakukan apa yang ada di otak nya.
Kalau begini kan cepet aku punya cucu. jadi gak kalah sama temen-temen arisan yang lain yang suka pamer cucu nya. hihihihi. Mama Vina menyeringai membayangkan sebentar lagi ia yakin akan segera memiliki cucu.
"Bagas....Arin... bangun udah jam delapan, ayo sarapan." seru mama Vina sembari mengetuk pintu kamar mereka. Namun keduanya benar-benar tak terusik.
Dengan keisengan di otak nya lantas mama Vina membuka perlahan pintu kamar Bagas dan benar ada nya Bagas dan Arin masih tertidur pulas dalam keadaan saling memeluk.
Ihh...si Arin seperti bantal guling Bagas. kecil banget. Batin nya sembari terkekeh geli.
"Ah..biarlah mereka makan sebangun-bangun nya saja ,biar mereka semakin dekat." lalu menutup kembali pintu kamar bagas perlahan.
Kemudian ia turun untuk menemani sang suami sarapan "Bagas sama Arin mana ,ma kok belum turun juga?"
"Biasa pa, masih hangat-hangat nya pengantin baru. Jadi mereka masih kelelahan dan belum bangun."
"Kok papa jadi iri sama mereka ,ya? Setelah Bagas mengambil alih perusahaan ,kita liburan yuk ma...mengulang malam-malam pertama kita dulu." ucap Danu menggoda Vina.
"Papa ,ih.... bukan nya walau pun papa udah setua ini ,kita jarang libur ,ya kecuali mama berhalangan."
"Emang papa udah tua ,ya ma?"
"Lah, lupa diri dia. Udah umur lima puluh delapan lho ,pa... Inget kita beda delapan tahun. Kalau mama sih ,masih muda ya ,pa."
"Halah... tua-tua begini Mama juga masih kewalahan ngelawan papa."
"Ih...papa apaan sih ,pa." cebik mama Vina sembari mencubit lengan papa Danu.
"Jadi gimana, mau gak liburan yang lama??"
"Memang nya mau kemana ,pa??"
"Papa mau sementara tinggal di pedesaan di eropa ,ma... contoh nya kepulauan Faroe di Denmark kita sebulan di sana, terus Murren di Swiss sebulan juga kita di sana Bibbury di Inggris. Setiap negara yang kita singgahi kita akan tinggal dalam satu bulan, gimana?"
"Mama mau ,pa....?" mama Vina antusias. "Tapi kapan papa mau serahkan perusahaan kepada Bagas?"
"Tunggu ,ma...papa gak bisa begitu saja menyerahkan kepada Bagas Perusahaan yang di bangun oleh ke dua orang tua kita dengan susah payah terhadap Bagas, sebelum anak kita satu-satunya itu benar-benar berubah. Dan papa Berharap sekali Arin mampu merubah Bagas.
"Iya , pa...Mama juga berharap demikian. Semoga mereka bisa seperti kita, Walaupun hasil perjodohan tapi bisa saling mencintai." harapan mama Vina kepada anak dan menantu nya.
"Tapi walaupun kita di jodohin, papa kan emang udah suka sama mama dari mama kecil ,ya kan?"
Danu tersenyum menanggapi todongan Vina. Karena memang benar ada nya Danu kecil sudah menyukai Vina. Orang tua mereka sering bertemu dalam urusan bisnis. Di situlah keakraban orang tua mereka terjadi dan mereka sepakat menjodohkan Vina dan Danu.
"Mama juga gak nolak ,kan pas tau orang tua papa meminta mama jadi menantu nya?"
"Iyaa...mama pernah lihat papa di bawa sama Om Deni ke rumah, dan mam suka sama papa." sahut mama Vina malu-malu layaknya abg yang baru saja di tembak.
"Ya udah lah ,pa ,ayo sarapan dulu."
"Marni ,mana ,ma? kok gak sarapan sama kita?"
"Dia mau perpisahan sama teman-temannya katanya ,pa di belakang. Jadi mereka makan di teras belakang."