Martini Salsabila Utari.
Dia adalah istri seorang preman terkenal bernama Gres Sandy.
Ini adalah kisahnya dan juga isi diarynya sejak masih di bangku SMP.
Kisah cinta juga persahabatannya yang penuh gejolak rasa serta dilema berwarna.
Kisah perjalanan hidupnya hingga menjadi istri dari seorang preman yang penuh suka serta duka pastinya.
Selamat membaca🙏🙏🙏Semoga tulisan sederhana author amatir ini mendapat kesan di hati para reader🙏🙏🙏
Mohon dukungan like, komen serta votenya jika berkenan🙏🙏🙏 Terimakasih banyak🙏🙏🙏😍😘💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBARAN KESEMBILAN
Hi My Dear Diary...
Apa kabarmu hari ini? Kabarku?... Kuharap baik-baik saja seperti hari kemarin.
Kenapa?... Karena akupun tak tahu, Dear!Hhhhhh...
Kenapa beban hidupku terasa semakin berat ya, setelah tinggal bersama nenek?... Entahlah!! Ini baik atau buruk!
Tapi asli, aku ingin menangis, Dear! Aku lelah! Sangat lelah! Hingga tubuh ini tak lagi bisa merasakan kesakitannya karena sudah 'mati rasa'.
Tuhanku, Allah Azza Wazzalla... Andai saat ini kau ambil nyawaku pun aku ikhlas Lillahi Ta'ala. Daripada aku harus hidup menderita, sendirian didunia. Tanpa ada kawan apalagi orangtua yang menyayangiku.
Haruskah aku menggantung diriku dengan mengikatkan leherku pada seutas tali rafia agar puaslah mama dan papa juga nenekku?
Tuhanku,... tolonglah aku ini kenapa!! Pleaseee... Kenapa hidupku tidak sama seperti kebanyakan orang diluar sana?? Mereka terlihat begitu bahagia. Sedang aku,... jangankan bahagia... satu orangpun yang bertanya tentang keadaanku pun tak ada!
"Maaaaar... Sini keluaaar!!! Ada bang Dodi niiiih!!!"
Dear! Itu suara 'Amih', nenekku. Beliau memanggilku, Dear! Ada bang Dodi katanya. Dan aku,... harus duduk manis menemani sowannya dirumah ini.
Deaaaaar...! Amih ingin aku menerima lamaran bang Dodi lepas aku tamat SMP ini.
Memang bukan pria tua. Terlihat rapi, necis dan ganteng pula. Duda umur 26 tahun beranak satu kata Amih.
Oh My Dear Diary...!!! Aku ingin sekolah! Bahkan usiaku belum genap 16 tahun. Adakah dilema seorang anak baru gede macam aku yang dipaksa menikah muda di kota Jakarta ini?Kalaupun ya, itu karena mereka kecelakaan. MBA, ya tentunya sama orang yang mereka cintai, Dear!
Tapi aku?.... Harus menikah dengan bang Dodikarena Mama dan Amih menyetujuinya bahkan cenderung mendorongku kearah itu.
"Martiniiiiiiii...!!!"
"Iya Amiiih!!! Sebentar!"
"Bikinin kopi item buat bang Dodiii!!!"
"Iya!"
Tuh Dear, dengar khan apa perintah Amih? Ayo, jangan dibantah! Aku keluar dulu ya Dear Diary! Doakan aku bisa buat alasan agar tak berlama-lama duduk diam diruang tamu Amihku.
Aku datang membawa segelas kopi hitam panas yang mengepul. Menaruh diatas meja ruang tamu.
"Salim dong! Masa' kudu disuruh dulu!!" kata Amih membuatku kikuk menyodorkan jemari dan mencium punggung lengannya bang Dodi yang terlihat senyum sumringah.
"Maaf, bang! Mar masih banyak tugas sekolah! Maaf ya, Mar masuk kamar lagi!"
"Kaga sopan amat sih kamu! Duduk!! Temenin dulu barang seperempat jam, Mar! Gimana sih, anak sekolahan kurang tata krama!" Amih menyemprotku membuatku hanya bisa menelan saliva. Mataku jadi sedikit berkaca-kaca.
"Sini!! Duduk sini disamping abang!"
Aku menatap seraut wajah oval yang coklat. Manis memang. Tapi aku tak suka! Maaf, bang Dodi! Aku tidak bisa cinta!
Tapi yang ditatap malahan senyum-senyum tak jelas membuatku menunduk menghela nafas. Kesal.
"Ujiannya masih lama khan? Ga apa-apa, temenin abang bentaran doang! Cuma pengen nikmatin kopi buatan neng Mar tersayang! Abang lanjut lagi keliling nengokin konter-konter abang yang di Pademangan, Rajawali, Elang ama Surya! Mar kapan-kapan abang ajak deh!"
Hhhhhh... Deaaaar!!! Bang Dodi pede abis banget sih! Memang sih, dia punya beberapa counter hape dan pulsa.
Duduk diam disamping orang yang tidak kita sukai itu rasanya seperti 'ANJING'. Andai aku bisa berubah menjadi orang pintar yang bisa menghilang. TING.
"Abang Dodi pamit deh! Mar belajar yang rajin yaa, biar cepet lulus! Hehehe..., Mak, Dodi pamit yak!"
"Oh iye, Dod! Makasih yeee martabaknye! Manteb ini!"
"Iya mak! Hehehe... Syukur deh kalo mak suka!"
Hhhh...!!!! Amiih, Amih! Tibang martabak doang, seneng banget romannye(tuh khan... saking kesalnya bahasaku pun jadi mirip Fahmi dan Dudi)
Aku bergegas hendak masuk kamar. Tapi Amih menarik tanganku keras.
"Jangan gitu didepan Dodi! Sopan dikit!! Mamamu juga pasti bakalan marah, kalo kamu begitu! Udah syukur ada yang mau sama kamu! Terima nasib baik ini!"
Amih? Amih bicara begitu padaku? Kenapa Amih??? Apa aku anak broken home? Apa karena kedua orangtuaku tak menginginkanku? Lantas ketika bang Dodi memintaku untuk jadi istrinya pada Amih lalu dianggapnya nasib baik?
Amih!!! Akupun ingin memiliki 'nasib baik', Amih! Aku ingin melanjutkan sekolah! Bukan hanya tamat SMP saja! Aku pun ingin bisa segera bekerja dan mencari uang!
Akupun tak ingin terus-terusan menyusahkan Amih dan Mama. Sedang Papa entah kemana.
Lagi-lagi perkataan Amih melukai hatiku hingga tersayat nadi putus asaku.
Aku masuk kamar, mengunci pintu.
Aku mencari-cari, barangkali ada B*drex atau Par*mex sisa kemarin untuk kuminum semuanya.
SEMUANYA. KARENA KUINGIN MATI. KUINGIN MATI SAJA.
Tidak ada. NIHIL.
Kucari kerudung pasminaku. Mungkin bisa untuk mengikat leher jenjangku ditiang pintu.
Kuacak-acak lemariku. Keluar berhamburan semua isinya...Airmata ini mengaburkan pandanganku.
🎶...Walau kau menghapus, menghempas diriku, mengganti cintaku...🎶
Suara hapeku berdering seiring ring back tone-nya mengalun merdu.
Fahmi calling?
Kuhapus airmataku segera. Menarik nafas agar kembali kedunia nyata. Tak ingin terdengar sedang sedih ketika mengangkat telponnya.
📱"Gi pain, Mar?"
Aku diam. Bingung mau jawab apa.
📱"Gue didepan rumah kamu, Mar! Tapi sepi. Gelap pula! Bisa keluar ga bentar?"
Ya Tuhaaaaan...!!! Kamu ada didepan rumahku yang lama?
📲"Aku udah pindah, Mi! Ga tinggal disitu lagi! Aku tinggal dirumah nenekku!"
📱"Oh, gitu ye!? Mmmmh... jauh ga dari rumah lama? Bisa ketemuan ga?"
Fahmi ngajak aku ketemuan lagi? Aku mau, Fahmi!!! Mauuuu... Aku ingin keluar cari angin bersamamu! Dibonceng motor olehmu keliling manapun dibawa kamu! Supaya hilang sesak nafasku ini, Fahmi!!
📱"Martini? Bisa ga?"
📲"Bisa, Mi! Aku shareloc ya... nungguin depan gang ntar!"
📱"Oke! Meluncur!"
Aku berdiri mematung. Menatap diriku sendiri didepan kaca lemariku yang setengah badan.
Wajah lusuhku... harus kucuci segera! Bergegas aku menuju kamar mandi yang letaknya didapur. Mencuci muka berkali-kali, berharap wajah butek ini kembali terlihat berseri.
Tetap saja, sepertinya! Hhhhhh...
Aku berganti baju. Baju yang sama ketika keluar bersama Fahmi juga. Karena aku tak punya baju bagus lainnya. Hanya kaos-kaos oblong dan celana pendek selutut saja kebanyakan.
Tak apalah! Moga Fahmi tak memperhatikan penampilanku juga.
Kusapu wajahku dengan bedak tabur seadanya. Sudah. Sedikit lipgloss biar tak terlihat pucat karena habis menangis.
Tinggal mikir, bagaimana caranya minta izin keluar pada Amih. Hhhhh...Moga berhasil.
"Amih! Mar mau beli pulsa dulu di konter bang Aming depan jalan sana!"
"Kenapa tadi ga bilang sama si Dodi? Hadeeuh ni anak, ga bisa memanfaatkan yang ada!!"
Amih mendengus marah. Begitulah beliau. Uang sungguh berharga dimatanya.
"Mar berangkat dulu ya, Amih! Assalamualaikum!"
Aku segera bergegas keluar rumah. Menunduk-nunduk mencari sendal jepitku yang hanya sepasang saja. Hhhhhh... Cepat, cepat! Sebelum Amih cegat!
"Maaaar... Sekalian ke warung babah Ong ya? Beli gula ama kopi kapal api kedemenannya si Dodi! Besok sore kalo kemari lagi udah ada stok kopinya!"
"Mana duitnya, Amih?"
"Nih!!"
Aku mengambil uang lembaran 20 ribuan dari tangan Amih. Bergegas pergi angkat kaki seraya bernafas lega.
Fahmi kemungkinan sebentar lagi sampai dilokasi depan gang Murbei tempat Amih dan aku tinggal. Meski cukup jauh, tapi tak terlalu jauh juga. Karena masih wilayah Jakarta Pusat lokasinya. Dengan motor hanya butuh waktu 15-20 menit saja, tanpa kemacetan. Entah bila terjebak macet diujung persimpangan pos Penerbad sana.
-Bersambung-