NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bos Baru

“Rin, ayo makan dulu supnya!” ujar Elang dengan manis.

Jika ada sang ibu, sikap pria itu memang berubah drastis. Elang selalu romantis, ketika berada di depan Bella.

“Ayo! Aaa …” Elang membuka mulutnya, mengajak Rindu untuk melakukan hal yang sama.

“Buka mulutnya, Sayang! Ayo makan, supaya kamu cepat sembuh,” ujar Bella yang juga berada di dalam kamar anak dan menantunya.

Rindu pun membuka mulut. Ia hendak memakan makanan dari sendok yang sudah disodorkan suaminya. Namun, gerakannya tiba-tiba terhenti.

“Tidak ada racunnya, kan?” tanyanya menyipit.

Sontak, wajah manis Elang berubah masam. “Apa maksudmu?”

“Rindu, kok ngomongnya gitu?” Bella pun menyelah.

Rindu terpaksa tersenyum tipis. “Becanda, Ma.”

Bella tertawa dan menggeleng. “Ada-ada aja kamu.”

Sementara, Elang tidak bisa tertawa sama sekali. Ia mencoba menelaah sikap Rindu yang berubah sejak kemarin dan pertanyaan ini.

“Gimana, enak?” tanya Bella, setelah makanan itu masuk ke dalam mulut menantunya. “Tadi pagi, Elang menelepon Mama terus panik menceritakan kamu yang habis kecelakaan di Jogya. Dia minta resep membuatkan krim sup kesukaanmu.”

“Putra Mama, romantis ya!” tambah Bella diiringi pujian untuk sang putra.

Bos baru

Rindu menatap kedua mata Elang. Batinnya memaki pria itu, hingga tatapan Rindu berubah tajam. Elang pun merasakan tatapan tajam itu, karena ia juga membalas tatapan istrinya.

“Lagi?” tanyanya dengan kembali menyodorkan sendok yang berisi sup ke depan mulut Rindu.

“Sudah, Lang.” Rindu menggeleng. “Aku sudah kenyang.”

“Ya ampun, Rin. Makan kamu sedikit sekali. Pantas saja kurus,” sahut Bella.

“Kurus apa, Mama? Rindu malah lagi naik dua kilo,” jawab menantunya.

Bella ikut duduk di tepi ranjang. “Perempuan itu kalau sekel enak dilihat, Rin. Enak dipegang juga.”

Bella tertawa dan melirik putranya. “Iya kan, Lang?”

Elang hanya tersenyum. “Apa sih, Ma.”

“Oke, berhubung kamu lagi sakit, jadi Mama ga akan tanyakan tentang momongan. Mama mau ke dapur aja, nemuin Bibi untuk menyiapkan makan siang nanti.”

Bella bangkit dan hendak meninggalkan pasangan suami istri itu. Pasangan suami istri itu pun mengangguk patuh, membiarkan sang ibu melakukan apa yang dia mau, karena memang seperti itu. Tiap kali datang ke rumah ini, Bella selalu mengecek bahan makanan. Ia memaklumi kelupaan Rindu untuk mengisi kebutuhan rumah tangga, mengingat sang menantu juga bekerja.

Meski Bella ingin menantunya di rumah saja, tapi ia juga tidak bisa mengekang Rindu, mengingat putranya juga sibuk bekerja. Bella pun mengerti dengan kebosanan Rindu yang selalu ditinggal Elang yang hobby bekerja.

“Kamu ga kerja kan?” tanya Elang pada Rindu, usai pintu kamar itu kembali ditutup Bella saat keluar.

Rindu mengangguk. Wanita itu kembali meraih ponselnya dan membuka pesan.

“Rin, cepet sembuh ya. Kangen nih!”

Pesan itu datang dari Lita, sahabat sekaligus teman kantornya.

Rindu pun mengulas senyum. Sementara, Elang yang masih berada di depan sang istri sembari memegang mangkuk sup itu, kembali merasa diabaikan. Bahkan, Rindu tak bertanya tentang dirinya yang masih berada di rumah hingga jam segini.

Merasa diperhatikan oleh Elang sedari tadi, Rindu pun menoleh ke wajah itu.

“Kamu ga kerja?” tanyanya.

“Memang kamu bisa ditinggal? Bukannya kalau sakit begini, kamu manjanya ga ketulungan!” jawab Elang ketus.

“Sekarang ngga. Berangkat saja. Aku tidak apa-apa,” jawab Rindu tegas dengan mata yang kembali mengarah pada layar ponselnya.

Wanita itu benar-benar terlihat cuek. Elang menatapnya tak percaya. Rindu yang baru pulang setelah tiga hari menghilang dengan alasan tugas kantor itu tampak sangat berbeda.

Dahi Elang mengernyit. Namun, ia menepis perubahan itu. Tingkat kepercayaan dirinya masih dipasang tinggi.

“Aku sudah terbiasa sendiri, Lang. Jadi kamu ga usah khawatir,” kata Rindu lagi.

Dahi yang mengernyit itu berubah menyipit.

“Kamu berubah. Ada apa?”

“Hm!” Rindu menoleh lagi ke arah Elang. “Tidak ada yang berubah. Semua sama. Kamu yang berjanji akan berubah, juga sama kan?”

Perkataan itu membuat Elang membeku.

“Baiklah, istirahatlah!”

Elang menyerah dan memilih bangkit dari sisi sang istri.

“Aku temani Mama dulu,” ucapnya lagi dengan mengusap kepala Rindu sebelum pergi.

Sayangnya, sikap Elang yang seperti itu, tidak merubah sikap Rindu yang sudah berubah. Elang, pria yang membuatnya terpesona sejak pandangan pertama dan membuatnya jatuh cinta, juga membuatnya terluka.

Usai kepergian Elang, Rindu pun kembali meneteskan airmata. Rasanya, ia tidak bisa berlama-lama melihat keberadaan Elang. Rindu pikir, suaminya akan tetap berangkat ke kantor meski ia sedang sakit, karena memang seperti itu biasanya. Alih-alih ingin istirahat dan sendirian di rumah, nyatanya di rumah ini justru ada Bella dan putranya.

Rindu berusaha bangkit dan menguatkan tubuhnya untuk pergi ke kantor. Ia merasa hari-harinya akan jauh menyenangkan jika berada di sana, dibanding di rumah ini.

Bertemu Lita yang cerewis dan lucu, lebih menyegarkan kepala dan mengubah hidupnya yang semu.

“Rindu, kamu mau kemana rapih begini?” tanya Bella bingung ketika melihat menantunya keluar kamar dalam balutan blazer berwarna dongker.

Sontak, Elang yang sedang berdiri di kitchen set ikut menatap ke arah istrinya.

“Rindu mau ke kantor, Ma. Ada data yang hanya Rindu yang bisa buka. Yang lainnya ga bisa. Dan Pak Dirga membutuhkan data itu.”

Elang menyudahi aktifitasnya dan mendekati dua wanita beda usia itu.

“Kamu kan masih sakit, Sayang! Masa’ bosmu tidak mengerti,” ujar Bella kesal.

“Kalau begitu, aku yang akan telepon Pak Dirga. Sini, berikan ponselmu!” Elang membentangkan tangannya di depan Rindu.

“Tidak usah, Lang. Aku sudah menyanggupi untuk datang.”

“Tapi kamu butuh istirahat. Dahimu saja masih diperban kan?” Elang mengarahkan matanya ke kening Rindu. Tapi perban itu sudah berganti dengan plester.

“Aku sudah membuka perbannya. Tidak masalah,” sanggah Rindu.

Kemudian, wanita itu mendekati sang ibu. “Rindu tidak apa – apa, Ma.”

Rindu memasang senyum yang teramat manis untuk ibu mertua yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya, karena Bella teramat baik padanya.

Bella pun menarik nafasnya malas. “Kamu itu, keras kepala. Sama seperti Elang. Makanya, sampai sekarang kalian belum juga dapat momongan.”

Rindu tersenyum. Tiap kali sang ibu mertua merajuk meminta momongan, Rindu hanya membalas rajukan itu dengan senyuman. Karena nyatanya, senyuman itu memang mampu meluluhkan Bella.

“Jangan senyum! Karena itu pasti senjatamu,” rajuk Bella lagi.

Rindu tetap tersenyum. Hanya Bella yang membuatnya tetap bertahan mengarungi biduk rumah tangga dengan Elang.

“Maaf, Mama. Rindu tetap berangkat ya.”

Biasanya, wanita itu akan luluh dan tidak akan pergi jika Bella sudah memintanya, tapi kini ia mulai bersikap.

Bella menarik nafasnya kasar. “Jadi kamu tetap berangkat ke kantor, meski Mama sudah berada di sini?”

“Maaf,” jawab Rindu manja.

“Ya sudah lah. Kalau begitu, Mama juga pulang saja lagi.”

“Rindu, kamu tidak menghargai Mama yang sudah datang pagi–pagi sekali untuk melihatmu,” celetuk Elang.

Rindu hanya menatap Elang sekilas, lalu mendekati ibu mertuanya lagi. “Setelah pekerjaan Rindu selesai, Rindu janji akan mampir ke rumah Mama. Oke!”

Bella menggeleng. “Tidak perlu, kamu cepat pulang saja dan istirahat. Mama akan menunggumu di sini.”

Rindu pun tersenyum dan pamit, lalu menghilang.

Sikap Rindu yang berbeda segera ditangkap oleh Bella. “Kamu apakan Rindu? Mengapa dia berbeda sekali?”

Bella benar–benar tidak mengetahui jejak putranya yang di luar batas.

Elang mengangkat bahunya. “Entahlah. Dia sudah seperti itu sejak pulang dari Jogja.”

Melihat Rindu yang tak lagi ada di rumah, Elang pun memilih untuk ikut berangkat ke kantor.

“Rindu!” seru Lita saat melihat teman dekatnya datang. “Lah, katanya mau izin istirahat lagi satu hari, kok masuk?”

“Aku datang karena ada yang kangen,” jawab Rindu.

“Oh ya? Siapa?” Lita balik bertanya.

“Emang siapa yang ngirim chat? Terus bilang kangen?”

Lita tersenyum. “Itu alasan gue, supaya lu masuk dan pekerjaan gue ga numpuk.”

Bugh

Rindu memukul pelan tangan sahabatnya.

“Dasar licik!”

Lita tertawa. Rindu pun ikut tertawa. See! Ternyata benar, berada di kantor jauh lebih menyenangkan, ketimbang di rumah Elang.

“Rindu!” Dirga pun menyeru saat melihat sekretarisnya duduk di tempatnya. “Kamu sudah sehat?”

“Alhamdulillah, Pak.” Rindu mengangguk.

“Ah, kebetulan sekali. Aku tidak bisa menunggu. Bos barumu akan datang hari ini dan sekaligus, hari ini adalah hari terakhirku di sini.”

“Hm! Pak Dirga. Saya pasti akan merindukanmu,” ucap Rindu sedih, karena baginya Dirga adalah atasan panutan.

“Saya juga akan merindukanmu. Rindu memarahimu.” Dirga tertawa, sementara Rindu malah cemberut.

“Dirga!”

Tak lama kemudian, nama pria berwibawa itu dipanggil namanya. Dirga langsung menoleh dan tersenyum lebar.

“Rayen.”

Deg

Rindu yang semula mengarahkan tubuhnya pada Dirga, segera mengarahkan matanya pada pria yang dipanggil sang bos yang akan menjadi mantan bosnya.

Rindu melihat kedua pria itu saling berpelukan.

“Akhirnya, gue ponsiun juga.”

Pria tampan dengan tubuh tegap itu tersenyum. “Terima kasih sudah membantu mengelola perusahaan ini.”

“Dengan senang hati, demi saham dua puluh persen,” gurau Dirga pada pria yang usianya lebih muda darinya.

Pria itu tertawa. Dirga dipercaya memegang perusahaan ini sejak pertama kali dibangun. Pria itu juga memberikan sebagian sahamnya demi dedikasi Dirga yang dikenal ulet dan jujur. Perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor ini pun semakin berkembang pesat di tangan Dirga.

“Oh iya, ini sekretaris yang akan membantumu nanti.”

Setelah pelukan terlerai, Dirga hendak memperkenalkan Rayen dan Rindu.

“Rindu, dia yang akan menggantikanku.”

“Rindu!” Mata Rayen menyipit memastikan wanita yang di depannya adalah wanita yang tiga hari ia rawat kemarin.

Karena merawat Rindu, Rayen pun menunda kedatangannya di perusahaan ini.

Rindu tidak kalah kaget. Ia tidak menyangka bahwa pria yang akan menjadi bosnya nanti adalah Rayen, ayah dari anak yang telah merusak rumah tangganya dengan Elang.

Ayah dari anak remaja yang berhasil membuat hatinya luluh lantah.

Rayen mengulurkan tangannya lebih dulu. “Senang bekerjasama dengan orang dekat.”

“Jadi, kalian saling kenal?” tanya Dirga.

Rindu menyambut uluran tangan itu sembari Rayen bercerita tentang kedekatannya dengan keluarga suami Rindu.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!