Menjadi Ibu susu anak dari sepupu mantan suami!! sanggupkah Aeril bertahan menjadi ibu susu dari pria dingin dan kejam, apa lagi majikannya adalah sepupu dari mantan suami, dan itu membuat kenangan pahit hadir kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nafisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cari muka berujung tragis
''Bagus banget kamu ya enak-enakan jalan sama pak Abi kemarin, sampai malam lagi,'' oceh Sari ketika Aeril tengah menyiapkan air mandi untuk Naira.
''Maksud kamu apa sih Mbak Sari?'' tanya Aeril kesal. Pagi-pagi sudah mengoceh tak jelas dan membuat telinga panas.
''Pakai nanya lagi, kan kemarin udah aku bilang biar aku yang ikut Pak Abi. Eh malah kamu yang sok kecakepan ikut Pak Abi, dasar muka dua.''
''Mbak Sari kenapa sih kalau ngomong selalu kasar? Kemarin aku udah bilang kalau aku nggak bisa ikut dan Mbak Sari yang harus ikut, tapi Pak Abi yang maksa,'' elak Aeril.
''Halah kamunya aja yang kecentilan pingin banget berdua-duaan sama Pak Abi, iyya kan?''
''Mbak Sari tuh makin ngawur aja ya.''
''Halah sok suci juga kamu tuh ya, bilang aja kamu juga suka kan sama Pak Abi dan selalu cari kesempatan buat berdua-duaan iyya kan?'' Sari terus saja memojjokkan Aeril dan itu membuat Aeril marah dan ingin membalas Sari tapi Aeril urung karena suara deheman seseorang.
''Ehem.'' Tiba-tiba Abi datang dan membuat Sari begitu gelagapan dan amarah Aeril meredam.
''Eh Bapak, ada yang Sari bisa bantu Pak?'' tanya Sari dengan ekpresi yang menggelikan mrnurut Aeril.
''Oh enggak, ini saya cuma mau memberikan Naira kepada Aeril untuk di mandikan.'' Abi baru saja akan menyerahkan Naira kepada Aeril tapi Sari dengan sigap merebutnya.
''Biar saya saja Pak, saya juga bisa kok mandiin Naira. Aeril kamu jemurin baju-bajunya Naira ya di belakang udah aku cuci tadi,'' perintah Sari.
Karena malas berdebat akhirnya Aeril melaksanakan perintah Sari yang sejatinya bukan tugas Aeril.
Abi menggaruk pelan belakang kepalanya melihat tingkah Sari. Dengan senyum yang selalu mengembang ke arah Abi, Sari membuka satu per satu pakaian yang melekat pada tubuh Naira lalu saat Sari menaruh tubuh Naira ke dalam bak air tiba-tiba Naira menangis kencang, karena kaget Sari melepaskan tangannya dari Naira dan itu membuat Naira terlentang di dalam air.
''SARI!!!!'' teriak Abi seraya menggendong Naira yang masih menangis kencang.
''Aduh maaf Pak, maaf saya nggak sengaja.'' Sari mulai panik karena Abi sepertinya sangat marah.
''Ini airnya masih panas Sari makanya Naira menangis dan bisa-bisanya kamu melepaskan pegangan tangan kamu dari Naira, keterlaluan kamu.''
''Maaf Pak, saya benar-benar minta maaf.'' Sari sudah ingin menangis gara-gara mendengar kemarahan Abi. Niat hati ingin mengambil hati Abi dengan memandikan Naira malah berujung kemarahan Abi. Sungguh sial nasib Sari.
''Ada apa pak?'' Aeril datang dengan nafas yang sedikit tersengal juga sangat khawatir karena mendengar suara jeritan dan juga kemarahan Abi.
Abi tak menjawab tapi langsung membawa Naira pergi ke kamar lalu membungkusnya dengan selimut.
''Naira kenapa Mbak Sari?'' tanya Aeril kepada Sari karena tak mendapat jawaban dari Abi.
''Ini semua tu gara-gara kamu!!!
Kamu pasti sengaja kan nggak bilang kalau air mandi Naira masih agak panas biar aku di marahin sama Pak Abi, iyya kan?''
''Kamu ngomong apa sih Mbak Sari? Aku emang belum sempat meriksa air Naira karena Mbak Sari udah keburu nyuruh aku ke belakang. Aku kira pasti Mbak Sari bakalan meriksa airnya.''
''Alah ngeles aja kamu itu, aku yakin kamu pasti memang sengaja.''
''Apa kamu udah gila? nggak mungkin aku mau ngerjain kamu tapi membahayakan keselamatan Naira.''
''Halahhh ya bisa aja lah, Naira kan bukan anak kamu jadi kalau Naira kenapa-kenapa kamu nggak akan merasa bersalah.''
''MBAK SARI!!!!'' Aeril benar-benar sudah tak tahan lagi dengan sikap Sari yang terus menyalahkannya.
Sari cukup kaget mendengar teriakan Aeril, karena yang ia tahu Aeril adalah sosok yang lembut dan pendiam, selama ini kalau Sari memarahinya Aeril hanya akan diam dan menuruti semua perkataannya tapi tak di sangka kali ini Aeril bisa marah.
''Apa Mbak Sari udah mulai gila, meskipun Naira bukan anak aku tapi aku nggak mungkin mau membahayakan keselamatannya, wanita macam apa yang tega menyakiti anak bayi.'' Aeril benar-benar murka dan itu membuat Sari menelan ludah dengan susah payah, tak menyangka jika Aeril bisa melawan juga.
''AERIL!!!!!.'' teriak Abi dari dalam kamarnya. Aeril tersentak kaget kala mendengar suara Abi yang menggelegar.
''Mampus kamu pasti Pak Abi bakalan marahin kamu, sukurin!!!'' ejek Sari. Sari mengira Aeril akan di marahi oleh Abi karena suara teriakan Abi sudah jelas karena dia marah tapi Aeril tak menggubris kata-kata Sari, Aeril bergegas menuju ke kamar Abi karena takut terjadi apa-apa dengan Naira.
''I,,,,iyya Pak,'' ucap Aeril terbata-bata.
''Cepat tenangkan Naira, dari tadi sudah saya coba untuk menenangkannya tapi Naira terus saja menangis.'' Abi begitu panik karena Naira tak juga berhenti menangis. Segera Aeril mengambil Naira dari Abi lalu mencoba menenangkannya.
Ajaibnya Naira seketika diam saat Aeril mulai memeluknya penuh kasih sayang.
''kenapa sayang, apa ada yang sakit hem?'' Aeril membelai kepala Naira lalu menciumnya.
Setelah tenang Aeril meletakkan Naira di kasur Abi lalu membuka selimut yang membungkus tubuhnya untuk memeriksa tubuh Naira.
''Apa ada yang serius Ay?'' tanya Abi.
Aeril merasa aneh di panggil Ay karena selama ini tak pernah ada pria yang memanggilnya Ay.
''Ay ... Aeril!!!''
''Iyya Pak.''
''Kamu di tanyain malah bengong.''
''Maaf Pak.''
''bagaimana Naira, apa ada yang serius?
Saya panggil dokter ya?'' Tanya Abi panik.
''Nggak pa-pa kok Pak, ini nggak serius.
Naira cuma kaget karena airnya agak panas tapi bukan yang lumayan panas, kalau airnya lumayan panas pasti kulit Naira merah-merah tapi ini enggak, Bapak nggak usah khawatir.'' Akhirnya Abi bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan Aeril.
''Syukurlah, saya sangat panik tadi takut Naira kenapa-kenapa.'' Abi kini duduk di samping Naira dan mengajak putrinya berbicara dan Naira pun menanggapinya dengan senyuman.
''Terima kasih Ay,'' ucap Abi.
''Emmm Pak bisa nggak jangan panggil saya Ay.''
''kenapa?'' tanya Abi heran.
''Ya nggak apa-apa sih Pak, cuma saya dengarnya aneh, Panggil Aeril aja.''
''Nama kamu itu susah.''
''Apanya yang susah, cuma dua kata Ae ... Ril, di mananya yang susah?''
''Pokoknya bagi saya susah,'' kukuh Abi karena Abi merasa menyebut nama Aeril memang agak susah.
''Terserah Bapak saja.''
Aeril kini hanya mengelap tubuh Naira menggunakan lap basah karena takut Naira masih trauma jika di mandikan.
''Ay,'' panggil Abi.
''Iyya Pak.'' Aeril menoleh ke arah Abi.
''Kamu sangat pintar menenangkan Bayi, apa sebelumnya kamu pernah mengurus Bayi?''
Aeril terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaan Abi.
''Ini pengalaman pertama saya Pak, saya baru pertama kali mengurus Bayi,'' ucap Aeril dengan sedikit sedih.
''Maaf saya tidak bermaksud untuk membuat kamu bersedih, saya cuma ... ''
''Nggak pa-pa kok Pak.''
''Baiklah, sepertinya saya harus segera bersiap-siap untuk ke kantor karena sudah siang.'' Abi tak melanjutkan pertanyaannya karena takut Aeril sedih.
Aeril membawa Naira keluar dari kamar karena Abi akan bersiap-siap untuk ke kantor, tak enak rasanya jika Aeril tetap berada di dalam kamar.
''Kamu nggak di marahin sama Pak Abi?'' tiba-tiba Sari menghampiri Aeril saat membawa Naira bermain di taman.
''Kenapa harus marah, bukan saya yang salah kok.''
''Oh .... jadi maksud kamu aku yang salah gitu?'' ucap Sari sengit.
''Udah deh Mbak Sari, bisa nggak sih jangan selalu ngajakin ribut, ini masih pagi dan bisa-bisa Naira nangis kalau mendengar suara berisik.''
''Halah kamu itu sok pinter, baru bisa nenangin Naira aja udah sombong. Inget ya Aeril saya nggak bakalan biarin kamu buat mengambil hatinya Pak Abi, kamu itu nggak pantes buat Pak Abi.''
''Terserah kamu lah Mbak, saya nggak perduli.
Yang jelas di sini saya kerja nggak lebih.'' Aeril pun segera berbalik hendak pergi dan menghindari pertengkaran dengan Sari tapi tiba-tiba Sari menarik rambut Aeril dan hampir saja Aeril terjengkang jika saja tak ada Abi yang menangkap tubuhnya dari belakang.
Sari pucat pasi saat melihat Abi menolong Aeril. Tubuhnya gemetar kala melihat Abi menatapnya dengan tajam.
''Ini terakhir kalinya saya lihat kamu membahayakan anak saya.''