Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, akan tercium juga. Begitulah kata pepatah.
Meira Andana, gadis cantik yang baru menginjak kelas 3 SMA. Harus menikahi CEO tampan yang sifatnya random sekali.
Karena unsur persahabatan Papanya dengan Papi CEO, ia pun setuju untuk menikah. Ekonomi keluarga menurun karena sang Papa meninggal dalam kecelakaan tabrak lari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siska febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Anak kelas 12 IPS 3 saat ini sedang berolahraga sesuai jam yang ditentukan dan mata pelajaran juga. Meira dan kedua temannya keluar dari ruang ganti seraya tertawa saat menceritakan hal lucu.
"Apa lo yakin?" tanya Tasya menggoda Meira.
"Iyalah! Lagian mulai hari ini Mas Reyhan sibuk. Jadi, gue sendirian dirumah."
"Gimana kalo kita main kerumah lo?" usul Arnetta.
Meira memutar bola matanya malas. "Udah dari seminggu yang lalu gue suruh main kerumah," ketusnya.
Tasya dan Arnetta menyengir kuda. Memang sudah lama ia tidak bermain dirumah besar Meira itu, lebih tepatnya rumah Reyhan.
"Tugas lagi numpuk," kata Arnetta.
"Benar banget," celetuk Tasya menjentikkan jarinya.
Berada di lapangan dan mulai berbaris sesuai yang di perintahkan Pak Jos pada mereka. Memulai pemanasan terlebih dahulu, dipimpin Syahrul dan Rizwan saat ini.
"Angkat tangannya!" teriak Syahrul.
Mereka pun mulai mengangkat tangannya dan bergantian untuk menghitung saat pemanasan seperti ini.
Setelah rasa cukup. Pak Jos memperbolehkan mereka bermain bebas sembari mengambil nilai basket untuk mata pelajaran hari ini.
Anak kelas 12 IPS 1 juga sedang jam olahraga. Sebenarnya jam olahraga mereka siang, sengaja diganti pagi karena Pak Fadli ada urusan ke capil di siang hari.
"Mei, Jason tuh," goda Tasya.
Meira malah menghela napasnya pelan. Menatap ke arah anak kelas IPS 1 itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Capek gue," keluh Meira yang hanya melakukan pemanasan tanpa bermain.
Gadis itu malah asik duduk di koridor bersama anak kelasnya. Arnetta dan Tasya kompak mengedikkan bahunya acuh saja dan menghampiri Meira dengan duduk di tepi lapangan.
"Jason ganteng gitu lo anggurin, Mei," tutur Parida.
"Iya, kalo kita jadi lo sih nggak bakalan anggurin," celetuk Novi.
"Tipe lo kayak gimana, sih. Lelaki tampan kayak Jason aja lo tolak terus-menerus," sahut Rima.
Meira memandangi Jason yang tak jauh darinya. Lelaki itu tersenyum sambil melambaikan tangan. Rasanya tak enak sekali.
Mau mengatakan kalo ia sudah menikah nanti malah dikeluarkan dari sekolah. Karena tidak lama lagi mereka akan ujian juga.
Hanya bisa mengedikkan bahunya acuh saja. "Tipe gue...." Meira sengaja menggantungkan ucapannya, membuat teman perempuan sekelasnya penasaran.
"Tipe gue kayak Chance Perez aja sih."
"Yee, anak dugong!" maki teman Meira.
"Ngapain juga harus usil banget sama gue!" pungkas Meira.
"Bukan usil, lebih tepatnya mereka penasaran!" terang Arnetta diangguki yang lain.
"Tapi gue nggak penasaran!"
"MEIRA ANDANA!" panggil Pak Jos saat nama Meira sudah mendapatkan giliran.
Gadis itu berdiri di tengah lapangan, menghadap ring bola basket dan siap untuk mengambil nilai pelajaran.
Dalam hal olahraga begini. Meira memang tidak jago, berkali-kali ia mengulang hingga bisa. Memang batasnya hanya bisa mencoba lima kali saja, kalo nilai rendah biasanya Pak Jos akan menyuruh mengerjakan soal di buku LKS.
Lebih baik mengerjakan soal saja sih menurut Meira.
"MEIRA SEMANGAT!" teriak Jason dari kejauhan.
Meira menoleh ke belakang saat mendengar teriakan Jason. Lelaki itu mengacungkan kedua jempolnya.
Siswa kelasnya pun mulai bersiul riuh menggoda Meira yang kini malah tidak berkonsentrasi.
"Ciee Meira! Cieee!"
"Diam napa!" sungut gadis itu malah semakin di goda oleh teman kelasnya.
Jason hanya tersenyum lebar saja. Tak bosan memperhatikan Meira, lagian kelasnya juga hanya mengambil nilai bulutangkis saja.
"Kejar terus, Jason!" Dio merangkul bahu sahabatnya, menyemangati lelaki itu yang tak pernah menyerah.
"Saat promnight nanti. Gue bakal ungkapin rasa suka gue."
"Mau ditolak lagi?" tanya Dio.
Jason memukul pelan perut sahabatnya itu. Malah menjatuhkan, tadi saja memberi semangat.
"Ungkapin dengan ngajak lamaran."
"Halah sia boy!"